My Buku Kuning Center : MEMBERKATI BUMI DENGAN SARANA KENYAMANAN:

Wednesday, November 07, 2012

MEMBERKATI BUMI DENGAN SARANA KENYAMANAN:

Serial Tafsir Al-Quran Berdasarkan Dokumen Lauhil Mahfudz (05)

Menyambut Tahun Baru Hijriah 01 Muharram 1434 H/ Nop. 2012 M.
 بَارَكَ فِيهَا
(Dia Memberkahi Bumi)
Oleh: Med HATTA
Mukaddimah:
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبعد!
Berkah Allah:
Kalimat “baaraka” (memberkahi) pada ayat kajian; dari kata dasar bahasa Arab “al-barakatu” (berkah atau kebaikan), yaitu tercurahnya kebaikan Allah pada sesuatu berupa pertumbuhan dan perkembangannya tanpa ada sebab tertentu yang diperhitungkan. Dan orang Arab juga sering menyebutkan “al-mubarak” (melimpahkan kebaikan), yaitu tersalur kebaikan Allah padanya. Maka sering kali kebaikan Allah itu timbul dari sisi-sisi yang tidak dirasakan, dan dalam bentuk yang tidak terduga serta tidak diusahakan.

Oleh karena itu sering dikatakan bahwa segala sesuatu yang kita saksikan selalu bertambah tanpa terasa maka itu adalah berkah, dan padanya terdapat keberkahan. Maka jika dikatakan “baaraka” (memberkahi) seperti pada konteks ayat kajian di atas, berarti Dia memberikan kebaikan tanpa diminta, misalanya dalam ungkapan sehari-hari yang kita sering ucapkan: Allah memberkahi kamu, Dia memberkahi padamu, Dia memberkahi atasmu dan Dia memberkahimu; yaitu Dia memberikan kebaikan-Nya kepadamu.

Lipahan Berkah dan Kebaikan Allah Yang Menyeluruh Di Bumi:
Allah berfirman:  
وَبَارَكَ فِيهَا
Artinya: “Dia memberkahinya” (QS: 41: 10);
Al-Quran banyak sekali memaparkan tentang berkah dan kebaikan-kebaikan Allah di bumi yang tidak dirasakan oleh manusia, tetapi itu sangat penting untuk kelestarian bumi dan keberlangsungan hidup makhluk-makhluk termasuk manusia di atasnya, seperti:
PEREDARAN BUMI PADA POROSNYA:
Ayat-ayat al-Quran yang menegaskan karakter peredaran bumi pada porosnya ini banyak sekali dalam berbagai macam redaksinya yang berbeda-beda. Oleh karena Pengetahuan Allah menyeluruh tanpa batas, maka Dia tidak menyebutkan istilah- istilah seperti; bumi bundar, berputar pada porosnya, beredar mengelilingi matahari dan lain sebagainya secara langsung. Karena hal-hal seperti itu tidak lumrah dan pasti akan ditolak oleh akal sederhana orang Arab pada masa-masa penurunan wahyu saat itu, dimana akan berdampak buruk terhadap dakwah Islam pada tahap permulaannya. 

Kita tidak usah terlalu jauh melihat kebelakang, pada abad-abad pertengahan lalu saja pihak gereja Yunani banyak sekali menyiksa bahkan membunuh para ilmuan-ilmuan mereka seperti Galileo, Copernicus dan lain sebagainya itu karena pendapat mereka bertentangan dengan gereja pada saat itu, mengatakan bahwa: “Bumi ini bukanlah pusat dari alam semesta tetapi hanya merupakan sebuah planet kecil dari milyaran benda-benda langit lainnya yang beredar mengelilingi sebuah sistem yang lebih besar...” 

Maka – atas ilmu-Nya – Allah menggantikan penyebutan-penyebutan tersebut dengan istilah- istilah indah yang sangat logis, untuk memberikan kesempatan kepada mereka membuka nalar dan mempergunakan akal sehatnya memikirkan ciptaan-ciptaan Allah yang nampak pada fenomena-fenomena yang dapat dilihat dan dirasakannya, dengan demikian dakwah baru Islam akan mudah meresap ke dalam sanubari mereka. 


Kelompok ayat-ayat yang akan disebutkan di sini secara otomatis langsung diurutkan di bawah kelompok ayat-ayat “penciptaan langit dan bumi” sebelumnya, sebagai kelompok ayat-ayat al-Quran tertua dalam kajian kita ini. Dan jika ada tema-tema tertentu dari ayat-ayat yang telah disebutkan berulang lagi di sini, maka tema-temanya akan dikaji tanpa harus menuliskan lagi ayat-ayatnya secara utuh, tetapi cukup menyebutkan nomor surah dan ayatnya saja, demi menghindari terlalu banyak pengulangan. Adapun istilah- istilah al-Quran yang mengisyaratkan peredaran bumi pada porosnya, sebagai berikut:
  • Silih Bergantinya Malam dan Siang:
Allah Berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (١٦٤)
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS: 02: 164);
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ (١٩٠)
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS: 03: 190);
إِنَّ فِي اخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ (٦)
Artinya: “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.” (QS: 10: 6);
وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلا تَعْقِلُونَ (٨٠)
Artinya: “dan Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia-lah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS: 23: 80);
وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (٥)
Artinya: “dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS: 45: 5).
Masih dalam konteks pergantian malam dan siang tetapi dalam redaksi lain, Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا (٦٢)
Artinya: “dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS: 25: 62);
وَاللَّيْلِ إِذْ أَدْبَرَ (٣٣) وَالصُّبْحِ إِذَا أَسْفَرَ (٣٤)
Artinya: “dan malam ketika telah berlalu; dan subuh apabila mulai terang.” (QS: 74: 33-34);
وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ (١٧) وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ (١٨)
Artinya: “demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya; dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing,” (QS: 81: 17-18).
  • Membalikkan Malam dan Siang:
Allah Berfirman:
يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لأولِي الأبْصَارِ (٤٤)
Artinya: “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (QS: 24: 44);
  • Memasukkan Malam Ke Dalam Siang:
Allah Berfirman:
تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (٢٧)
Artinya: “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)” (QS: 03: 27);
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (٦١)
Artinya: “yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS: 22: 61);
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (٢٩)
Artinya: “tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: 31: 29);
يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ (١٣)
Artinya: “Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. yang (berbuat) demikian Itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan, dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS: 35: 13);
يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٦)
Artinya: “Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, dan Dia Maha mengetahui segala isi hati.” (QS: 57: 6).
Yaitu; Allah SWT memasukkan separuh belahan bumi yang diselimuti oleh gelap malam secara pelan-pelan ke dalam posisi belahan lain yang disingkap oleh siang dan sebaliknya, hal ini menunjukkan – secara tidak langsung – bahwasanya bumi itu bulat dan beredar pada porosnya mengelilingi matahari, namun isyarat ini disampaikan al-Quran dengan sangat akurat, sempurna dan meliputi segala arti definisi yang susah di bayangkan oleh ahli sastra manapun.
  • Menanggalkan Siang Dari Malam:
Allah Berfirman:
وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ (٣٧)
Artinya: “dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” (QS: 36: 37);
Maksud ayat ini bahwasanya Allah SWT menanggalkan cahaya siang dari bagian-bagian permukaan bumi yang ditutupi oleh malam secara teratur, sebagaimana menanggalkan kulit binatang sembelihan dari seluruh badannya secara perlahan-lahan, dan hal itu tidak akan terjadi kecuali bahwa bumi ini beredar pada porosnya mengelilingi matahari. 

Ayat ini sekaligus mengisyaratkan betapa tipisnya lapisan siang pada separuh bagian permukaan bumi yang menghadap ke matahari, yaitu sebuah kenyataan faktual yang tidak dicapai oleh sains modern kecuali setelah revolusi observasi ke angkasa luar pada pertengahan kedua dari abad ke-20 lalu. 

Dimana dipastikan secara ilmiah bahwa durasi ketebalan lapisan siang disekitar bumi tidaklah mencapai 200 kilometer di atas permukaan laut, jika hal itu dibandingkan dengan jarak yang memisahkan antara kita dan matahari, yang membentang sekitar 150.000.000 Km, maka tingkat ketebalan yang ada itu tidak mencapai – sekitar – (1 : 750.000). 

Lalu jika dibandingkan lagi kepada separuh permukaan dari bagian yang terjangkau dari jagat raya kita, yang diperkirakan melampaui dari 10.000.000.000 (10 ribu juta) ukuran tahun cahaya, 9.5 juta juta kilometer, maka semakin jelas kadar ketipisan lapisan siang itu. Dan dari redaksi ayat mukjizat ini juga, yang mengibaratkan lapisan siang yang tipis itu dibandingkan lapisan gelap malam, dengan istilah “menanggalkan” atau melucuti. 

Seperti melucuti kulit binatang sembelihan dari seluruh badannya, hal ini menegaskan bahwasanya kegelapanlah yang merupakan inti dari pada alam semesta, dan cahaya siang yang amat tipis itu hanyalah secercah garis yang melintas saja, yang tidak akan nampak kecuali hanya pada lapisan bawah dunia dari lapisan-lapisan atmosfer bumi di sebagian permukaannya yang menghadap ke matahari.
  • Malam dan Siang beredar;

Allah Berfirman:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (٣٣)

Artinya: “dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS: 21: 33);

لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (٤٠)

Artinya: “tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS: 36: 40);

  • Menutupkan Malam Kepada Siang:

Ayat tentang “menutupkan malam kepada siang” disebutkan dua kali di dalam al-Quran dan dua-duanya sudah kita masukkan pada kelompok ayat-ayat “Penciptaan Langit dan Bumi Dalam Enam Masa” (Lihat: QS: 07: 54); dan kelompok ayat-ayat “Penciptaan Gunung-gunung di Permukaan Bumi” setelahnya langsung (Lihat: QS: 13: 3).  



Namun selain itu ada juga ayat-ayat lain yang senada dengan itu, seperti siang menampakkan matahari dan malam menutupinya, Allah berfirman:
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (١) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا (٢) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلاهَا (٣) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا (٤)

Artinya: “demi matahari dan cahayanya di pagi hari; dan bulan apabila mengiringinya; dan siang apabila menampakkannya; dan malam apabila menutupinya” (QS: 91: 1-4);

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى (١) وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى (٢)

Artinya: “demi malam apabila menutupi (cahaya siang); dan siang apabila terang benderang,” (QS: 92: 1-2);
Maka dengan demikian, semakin jelas maksud dari pada "menutupkan malam kepada siang", bahwasanya Allah SWT menyelimutkan dengan kegelapan malam pada posisi cahaya siang di sebagian permukaan bumi secara bertahap sehingga menjadi malam, dan sebaliknya menutupkan dengan cahaya siang pada posisi kegelapan malam di sebagian permukaan bumi yang lain sehingga menjadi siang. 

Yaitu merupaka sebuah isyarat halus yang menunjukkan bahwa bumi yang kita diami ini berbentuk bulat, dan beredar pada porosnya mengelilingi matahari dalam sekali putaran 24 jam, berbagi - perbedaan tipis - antara malam dan siang. Silih berganti secara berkala menunjukkan kekuasaan mutalak Allah Yang Maha Pencipta, seandainya bumi tidak bulat maka ia tidak bisa beredar mengelilingi porosnya, dan jika tidak beredar pada porosnya mengelilingi matahari, maka tidak akan terjadi malam dan siang. 


Al-Quran pada banyak tempat di dalam ayat-ayatnya mempergunakan penyebutan malam dan siang sebagai initial yang mengisyaratkan kepada planet bumi, sebagaimana juga mengisyaratkan kepada setiap dari malam dan siang secara bergantian. Dan kepada berbagai fenomena-fenomena yang menyertai keduanya, seperti firman Allah yang telah di sebutkan juga di atas (Lihat: QS: 91: 1-4). 


Pada ayat ke 1-4 dari surah as-Syams ini Allah bersumpah: Demi siang yang menampakkan matahari, yaitu menyingkapkannya dengan terang sekali kepada penghuni bumi, kenyataan itu tidak diketahui oleh sains modern kecuali setelah era observasi ke luar angkasa pada paruh kedua abad ke-20 lalu, ketika para ilmuan mengungkapkan bahwasanya cahaya siang itu tidak mencapai ketebalannya 200 Km di atas permukaan laut di separuh bagian permukaan bumi yang menghadap ke matahari. 


Dimana sabuk tipis itu dari lapisan-lapisan gas bumi bebas dari berbagai pencemaran, dan ketebalannya itu semakin berkurang setiap bertambah ketinggiannya di atas permukaan bumi, sebaliknya ketebalannya semakin bertambah dan menyerap setiap dari uap dan partikel-partikel debu yang beterbangan setiap mendekat dari permukaan bumi. 

Konsentrasi itu dan ditambah oleh partikel-partikel debu tersebut, membantu memancarkan sinar matahari, dan pantulannya itu senantiasa berulang berkali-kali, sehingga tampak kepada kita berwarna putih cemerlang yang mengeksplor siang menjadi fenomena bercahaya, yang memecahkan media bawah dari lapisan gas bumi pada separuh bagiannya yang menghadap ke matahari. 

Sedangkan kegelapan menyelimuti cosmos yang terjangkau pada mayoritas bagian-bagiannya, dan nampak matahari setelah melewati sinar cahaya siang sebagai bola biru pada media hitam. Maka dari sini kita mengetahui maksud dari “siang menampakkan matahari”, sedangkan orang-orang sampai kepada akhir abad ke-20 masih beranggapan bahwa mataharilah yang menampakkan siang, maka Maha suci Allah yang telah menjelaskan fakta alam semesta dari semenjak lebih 1400 tahun lalu, yang tidak dapat diungkapkan oleh sains kecuali setelah paruh kedua abad ke-20 lalu. 

Demikian pula sumpah-sumpah Allah pada ayat (1-2) dari surah al-Lail yang telah disebutkan pula di atas: “demi malam apabila menutupi (cahaya siang); dan siang apabila terang benderang”; yaitu bersumpah demi malam (malam bumi) yang menutupi separuh permukaan bumi yang jauh dari matahari dengan kegelapan karena ia tidak menghadap ke matahari. 

Dan Allah bersumpah demi siang (siang bumi) yang diterangi padanya matahari atas separuh permukaan bumi yang menghadap matahari, maka ia dipenuhi cahaya siang. Dan dengan silih berganti keduanya maka tercipta kehidupan di atas permukaan bumi, dan manusia bisa mengetahui perjalanan waktu dan tanggal peristiwa-peristiwa penting. 

Maka berkat limpahan kebaikan Allah SWT kepada kita penduduk bumi, maka dipergantikan-Nya setiap dari malam dan siang, hal ini tercermin dari firman Allah SWT:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلا تَسْمَعُونَ (٧١) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلا تُبْصِرُونَ (٧٢) وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٧٣)

Artinya: “Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”; Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”; dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (QS: 28: 71-73).

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (١٠) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (١١)

Artinya: “dan Kami jadikan malam sebagai pakaian; dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,” (QS: 78: 10-11).
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, BERSAMBUNG ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Bersambung: KLIK DI SINI dan baca selanjutnya-- > 
Materi Sebelumnya:
  1.  Empat Masa Meletakkan Gunung-Gunung; Memberkati Bumi dan Menfasilitasinya
  2. Dua Masa Menciptakan Bumi dan Empat Masa Menfasilitasinya Layak Huni
  3. Proses Penciptaan Langit dan Bumi Dalam Enam Masa
  4. Tafsir Al-Quran Berdasarkan Periode Penciptaan Alam (Pengantar)
Materi Yang Berhubungan:
Karya Terakhir Penulis:
Beli: Di Sini!
Post a Comment

歓迎 | Bienvenue | 환영 | Welcome | أهلا وسهلا | добро пожаловать | Bonvenon | 歡迎

{} Thanks For Visiting {}
{} شكرا للزيارة {}
{} Trims Tamu Budiman {}


MyBukuKuning Global Group


KLIK GAMBAR!
Super-Bee
Pop up my Cbox
Optimize for higher ranking FREE – DIY Meta Tags! Brought to you by ineedhits!
Website Traffic

flagcounter

Free counters!

ADVERTISING BUSINESS

My AliExpress



I K L A N | KLIK FOTO


OWNER INFO PENERIMAAN SANTRI BARU

My Buku Kuning Global FB

BOOK FAIR ONLINE 2013

Book Fair Online

KARYA TERAKHIR PENULIS

KARYA TERAKHIR PENULIS
@ Keajaiban Angka dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, Agustus 2010, ISBN: 978-979-1234-77-1 (BESTSELLER)
@ Mukjizat Pengobatan Herbal dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, 2011, ISBN: 978-979-1234-78-8

Islamic Finder




Date Conversion
Gregorian to Hijri Hijri to Gregorian
Day: Month: Year

Google+ Badge

My Buku Kuning Search

Loading