Minggu, Agustus 03, 2014

MENGHINDARI PERPECAHAN TDK PENTING (SUNNI vs SYI'AH):


KEPRIHATINAN TERHADAP UMAT ISLAM

Salah satu keprihatinan bahkan paling menprihatikan dari umat Islam adalah pertikaian klasik antara kaum yang 'mengambil' nama sunni dan kelompok-kelompok syiah yang tiada lain adalah pertentangan politik dan idologi politik, yang sejatinya hanya menguntungkan kelompok-kelompok tertentu saja, tanpa mashlahat umat Islam secara luas.



Padahal Allah sudah mendeklarkan bahwa: "dan seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian umat yang satu (bersatu), akan tetapi Allah menyesatkan yang Ia kehendaki dan memberi petunjuk yg Ia kehendaki..." (QS. Annahal: 93).

Oleh karena itu, hendaklah kita tidak terjebak pada masalah-masalah klasikal seperti khilaf Sunni versus Syi'ah di atas yang tlah 'sukses' melemahkan Islam dan umat Islam hingga hari ini.

Kita memang diwajibkan berdakwah dan berjihad tetapi sebatas menunjuki ke jalan yang benar dan mencegah ke jalan yang sesat saja. Tidak boleh ada pemaksaan apalagi permusuhan karena selebihnya itu adalah wewenang Allah, serahkanlah Allah memberlakukan hukum-Nya kepada orang-orang zalim dan thaghut.

Kemudian sama sekali kita TDK diharapkan menunjuki kepada orang-orang yang kita kehendaki (sayangi) karena nabi Muhammad SAW sendiri sudah pernah ditegur oleh Allah khusus bab itu, Allah berfiman: (sesungguhnya kamu (Muhammad) sama sekali TDK dapat menunjuki orang yang kamu kasihi (pamanmu Abu Thalib), akan Allah akan menunjuki orang yg Dia kehendaki).

#Terakhir, janganlah menjadikan #musuh orang yang #dimusuhi saudaramu dengan berbeda prinsif/ pilihan, karena mashlahatnya pasti berbeda dengan mashlahatmu.***


MENDALAMI PERSELISIHAN SUNNI DAN SYI'AH:
Pertentangan antara Sunni dan Syi'ah, adalah pertentangan klasik antara dua kelompok Islam besar; Ahlussunnah wal-Jama'ah (Sunni) dan Thawaif Syi'ah (Syi'ah). Perselisihan keduanya terfokus kepada beberapa hal yang intinya berunjung kepada politik dan kepentingan kelompok.
Sunni percaya bahwa rasulullah Muhammad SAW wafat tidak menunjuk langsung Khilafah (pemimpin) setelahnya, dan memberikan kebebasan penuh kepada sahabat untuk memilihnya secara syuraa (demokrasi). Oleh karena itu mereka musyawarah mufakat memilih dan mengukuhkan masing-masing: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib, secara berurutan sebagai Khalifah (pemimpin) secara konstitusional setelah nabi Muhammad SAW.
Berbeda dengan Syi'ah yang menganggap bahwa rasulullah SAW telah merekomendasikan suksesi setelahnya kepada Ali bin Abu Thalib. Maka mereka menolak tiga kepemimpinan khalifah sebelumnya dan menggapnya melanggar syariat (inkonstitusional).

Meskipun pada akhirnya terdapat beberapa perbedaan masalah prinsif aqidah dan syari'ah yang turun dari permasalahan dasar; Di dalam aqidah seperti 'ishmah (terjaga dari dosa), ahlussunnah (sunni) percaya bahwa yang ma'shum itu adalah para rasul saja, sedangkan syi'ah menambahkan Ali bin Abu Thalib dan para imam 12 lainnya. Selain itu, adalah menyankut masalah keutamaan sahabat dan sahabat lainnya, ummahatul mukminin, imamah, istighazah dan tawasul.


Adapun perbedaan mereka dibidang syari'ah seperti pembagian harta rampasan perang (seperlima), nikah mut'ah, sujud di atas tanah, meletakkan tangan di atas dada pada shalat, penambahan kalimat azan dan hukum memukul diri sendiri.


Awal perselisihan antara Sunni dan Syi'ah kembali kepada krisis pertama dan terbesar dalam sejarah Islam, yaitu fitnah besar yang mengakibatkan terbunuhnya khalifah Islam ketiga Utsman bin Affan.


Fitnah memilukan ini dan dampak yang diakibatkatnya bermula dari pertikaian-pertikaian tingkat elit, terutama bentrok senjata antara Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat. Di mana mempunyai andil besar dibalik perpecahan ummat Islam.


Berbagai upaya penyelesaian krisis telah diprakarsai oleh sahabat-sahabat terkemuka untuk mengakhiri sengketa antara dua tokoh tersebut, seperti mediasi yang pelopori oleh Abdullah bin Umar yang senantiasa menyerukan kepada para sahabat untuk belaku netral, tidak memihak kepada salah satunya walaupun kenyataannya banyak di antara mereka lebih mendukung Ali dalam sengketa dari pada Mu'awiyah. Nampak sekali bahwa sebab utama awal perpecahan umat Islam adalah murni politik dan kepentingan kekuasaan.

Adapun sejarah duel Syi'ah - Sunni di era modern; adalah revolusi Syi'ah di Iran dan kelompok-kelompok syi'ah di negara-negara Arab turut andil memperlebar jurang perbedaan antara Sunni dan Syi'ah. Sebagaimana perang idiologi pemikiran juga membantu mempertegas perselisihan di atara dua kutub besar Islam tersebut, di mana keduanya saling berebut pengaruh untuk menarik pengikut lebih banyak dan mendominasi suara-suara Islam dunia. Dan yang terakhir ini semakin memperuncing persitegangan antar keduanya.

Hingga perseteruan mereka tidak lagi sebatas politik propaganda tatapi sudah memasuki kebentrok senjata. Misalnya - sangat disayangkan - terjadinya peledakan-peledakan di kota-kota Irak akibat perseteruan dari kelompok-kelompok Sunni seperti Al Qaedah dan belakangan muncul ISIS serta sebagainya dan dengan kelompok-kelompok Syi'ah Shadar.

Selain itu, dan tambah menperparah lagi yaitu perseteruan panjang antara pemerintahan-pemerintahan Sunni dan kelompok-kelompok Hizbullah milik Syi'ah di Libanon, Bahrain dan Kuwait disebabkan karena masing-masing kelompok ingin menancapkan pengaruhnya lebih luas di negara-negara tersebut. Serta ingin merambah wilayah-wilayah negara lebih luas dan termasuk Indonesia merupakan wilayah seksi bagi kubu tersebut. Wallahua'lam!

BERSAMBUNG
 
 
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!