Kamis, Januari 07, 2021

ABU DUJANAH PAHLAWAN YANG TAAT :

Pahlawan Yang Gagah Berani di Medan Perang, Takut Pada Yang Haram ! :

By: Med Hatta


PAHLAWAN yang satu ini selalu tampil dengan gagah berani dihadapan barisan musuh tegap memperlihatkan kekuatan fisik dan ketangkasan berperang nya. Dia adalah sahabat mulia : 

"Abu Dujanah Sammak bin Aus bin Kharsya bin Luzan bin Abdud bin Zaid bin Tsa'labah Al-Anshari ra."


Pada persiapan perang Uhud, nabi Muhammad SAW menawarkan pedangnya kepada para sahabat, bersabda: "Siapakah yang bersedia membawa pedangku ini dengan memberinya haknya?" Para sahabat mundur agak sangsi, maka berdirilah Abu Dujanah ra berkata: Apakah haknya wahai Rasulullah? 

Nabi bersabda: "(Hak pedang ini adalah) kamu memakainya berperang dengan musuh sampai kamu diberikan kemenangan oleh Allah atau kamu mati". Maka tanpa ragu-ragu Abu Dujanah mengambil pedang nabi tersebut dan bersumpah mati dihadapan Rasulullah SAW...


Nabi Muhammad SAW pernah memuji keberanian Abu Dujanah ra, bersabda: "Ketika kami terdesak di perang Uhud aku tidak melihat lagi ada orang di dunia kecuali ada Jibril di sebelah kananku, Thalhah disisi kiriku dan pedang Abu Dujanah tak tampak kecuali hanya lumuran darah". 

Namun, meski Abu Dujanah terkenal gagah berani di medan peperangan, tetapi sehari-hari dia adalah seorang sahabat nabi yang sangat bersahaja, taat pada Allah dan rasul-Nya, serta selalu ikut berjamaah bersama Rasulullah SAW. Kecuali ada sesuatu hal pada dirinya yang janggal di mata nabi SAW, yaitu setiap usai menjalankan salat berjamaah shubuh, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa oleh Nabi Muhammad ketika selesai salat. 


Maka Nabi mencoba meminta klarifikasi padanya, bersabda: “Hai, Abu Dujanah, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu,,, ada apa?”. 


Abu Dujanah pun menjawab, “Anu Rasulullah, saya punya satu alasan,,, rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang tetangga kaya. Nah, di atas pekarangan rumah miliknya itu terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami, setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami. 


Mohon maaf, ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya, anak-anakku sering kelaparan, kurang makan. Aku takut saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, aku bergegas segera pulang sebelum anak-anak terbangun dari tidurnya dan memakannya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya. 


Satu saat (lanjut Abu Dujanah), kami pernah agak terlambat pulang dan menemukan anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuannya, maka aku memasukan jari-jari tangan ke mulutnya dan mengeluarkan apa pun yang ada di mulutnya. Lalu aku katakan padanya: Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak. Anakku lalu menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan. 


Anakku, sampai nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu, seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.” 

Mendengar itu, pandangan mata Nabi Muhammad pun sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya mulai berderai begitu deras. Nabi bersabda: Duduklah Abu Dujanah, urusanmu adalah urusan kami semua. Maka nabi SAW langsung membuat pertemuan khusus bersama para sahabat senior yang umumnya adalah para sahabat tajir. 


Nabi memerintahkan untuk menghadirkan pemilik kurma tetangga Abu Dujanah tersebut, yang kemudian diketahui sebagai seorang munafiq kota Madinah. Dan tanpa basa-basi, Nabi mengatakan padanya setelah dia hadir di persidangan, bersabda: “Bisakah aku membeli pohon kurmamu dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada?”


Lalu, pria yang dikenal munafik ini lantas menjawab dengan tegas, Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan...!!


Maka tiba-tiba Abu Bakar As-Shiddiq ra berkata: Ya, Rasulullah, Aku bersedia membeli pohon kurma milik pria ini dengan sepuluh kali lipat, yang varietasnya tidak ada yang kalah bagus di kota ini. Dan seketika pria munafik berkata kegirangan, “Oke, deal, aku jual dengan penawaran itu. Maka terjadi transaksi yang membahagiakan semua pihak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!