Selasa, Desember 02, 2014

PERBANDINGAN SINAR DAN CAHAYA :

*Serial: 99 Inspirasi Dahsyat Dari Perumpamaan-Live AlQuran (34) :

Sinar dan Cahaya
By: Med Hatta
"Pada kajian di atas telah dijelaskan hakikat ilmu fisika Alquran yang sangat tinggi, Allah SWT mengungkapkan fenomena sinar yang fantastis dalam "kata kerja" dengan bahasa yang sangat sempurn. Sebagai implementasi dari penyebutan sinar yang terpancar dari benda dan bintang-bintang langit seperti matahari..."

Allah berfirman :

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لا يُبْصِرُونَ (١٧) صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَرْجِعُونَ (١٨)
Terjemah Arti: "perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat; mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar" (QS. Al-Baqarah: 17-18). 

Ayat fisika ini sejatinya bercerita tentang prilaku buruk orang-orang munafik pada masa rasulullah SAW. Tema itu sangat panjang dan bagi yang ingin mengetahuinya lebih dalam dan rinci sebaiknya kembali kepada ayat-ayat sebelumnya, mulai dari ayat ke (8 - 20) dari surah Al Baqarah, atau berakhir pada firman Allah:

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاء لَهُم مَّشَوْاْ فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُواْ وَلَوْ شَاء اللّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّه عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(20).
Terjemah Arti: "Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu"

Orang Munafik Kehilangan Cahaya:
Gambarkan live kehidupan orang munafik seperti orang yang menyalakan api unggun untuk mencari penerangan, tetapi Allah menghilangkan cahaya api itu sehingga ia tetap berada di dalam kegelapan. Tokoh tafsir dunia Imam Alfakhrurrazi (Tafsir Al Kabir) mempertanyakan persamaan antara kemunafikan dengan orang yang diberikan cahaya lalu diambil kembali cahaya itu sehingga gelap gulita, padahal - menurutnya - orang munafik itu aslinya tidaklah mempunyai cahaya, maka dari manakah sisi persamaannya?

Kemudian Alfakhrurrazi menemukan jawaban dari Imam Assuddi, mengatakan: Bahwa dahulu ketika rasulullah SAW tiba di Madinah maka banyak orang bergabung memeluk Islam, kemudian berbuat kemunafikan setelah itu, maka perumpamaan mereka dengan api yang kehilangan cahaya pada ayat di atas benar dan sangat tepat. Karena keimanan mereka ketika pertama kali memeluk Islam itu adalah meraih cahaya, kemudian munafik setelah itu maka menghilang cahaya dan masuklah mereka dalam kesesatan, dan kesesatan yang paling besar adalah tersesat dari ajaran agama.

Alquran Tentang Sinar dan Cahaya:

Alquran, jika menyebutkan suatu fenomena pasti tuntas dengan segala perincian; detail; ilmiah dan membungkam segala definisi manusia. Alquran selalu memuaskan akal dan jiwa pada segala penjelasannya, berlaku setiap zaman dan setiap tempat. Sesungguhnya ia adalah kitab yang bersumber dari Allah yang Maha Mengetahui. Semua fenomena yang disebutkan di dalam Alquran telah disampaikan dengan benar dan kandungan ilmiah yang sangat tinggi, sehingga sebahagian ayat-ayat sainsnya tidak terungkap kecuali setelah berlalu berabad-abad pasca turun Alquran.

Pada ayat kajian di atas telah mengungkapkan hakikat ilmu fisika Alquran yang sangat tinggi, Allah SWT mengungkapkan fenomena sinar yang fantastis dalam "kata kerja" dengan bahasa yang sangat sempurn. Sebagai implementasi dari penyebutan sinar yang terpancar dari benda dan bintang-bintang langit seperti matahari.

Nah, untuk menerapakan fakta sains modern ini kepada kondisi orang-orang munafik disinyalir ayat kajian, kita menemukan bahwasanya ketika menyalakan api di sekitar orang-orang munafik dari benda-benda gelap, maka terpancarlah sinar di atasnya, dan memantul kepadanya lalu tersingkaplah cahaya itu kepada orang-orang yang melihatnya. Kemudian Allah mengambil kembali sinar cahaya yang terpantul dari benda-benda itu, yaitu cahaya yang menerpa mata mereka. Oleh kerena itu Allah mengatakan: "cahaya (yang menyinari) mereka".

Adapun yang ditimbulkan dari api maka itu adalah "sinar", dan yang terpancar kepada benda-benda gelap dan terpantul darinya itu adalah "cahaya". Maka pada ayat kajian ini Allah menjadikan cahaya untuk menyinari gelapnya benda-benda yang tidak memiliki sinar sendiri, karena dialah penyebab langsung pada hilangnya sinar asli (sebelum terpencarnya kepada benda-benda itu dan memantulkan darinya), bukan dia sebab langsung yang menghilangkan kegelapannya.

Sinar tersebut telah ada di dalam ruangan, akan tetapi tidak terpancar kepada benda-benda apapun maka ia tidak memantukan sesuatu, dan sudah barang tentu tidak akan menerangi ruangan. Maka wahyu Allah adalah sinar yang menerangi kegelapan jiwa-jiwa manusia, sebagaimana sinar halus memenuhi lapisan-lapisan udara (untuk bumi) maka teranglah siang, meskipun tidak sinar matahari tidak terpancar kepada benda-benda tertentu di sekitar kita.

Selain ayat kajian di atas yang menyebutkan sinar dalam bentuk "kata kerja", terdapat pula penyebutan sinar dalam bentuk "infinive" yang sempurna pada banyak tempat di dalam Alquran, di antaranya Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ [سورة يونس].
Terjemah Arti: "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu), Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran Nya) kepada orang-orang yang mengetahui" (QS. Yunus: 5).

Begitu juga Allah SWT telah mendefinisikan sinar matahari di banyak tempat di dalam Alquran, seperti: "dan menjadikan matahari sebagai bola pijar". Dan Allah berfirman:

وجعلنا سراجاً وهاجاً (سورة النبأ)،
Terjemah Arti: "dan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari)" (QS. An-Naba: 13);

Yaitu, bahwasanya matahari (bintang terdekat ke bumi) sebagai pelita yang bersibar dan pijar.

Namun, adakalanya menyebutkan cahaya (kebalikan: gelap) untuk mengesankan bahwa sinarlah yang memantul ke benda-benda gelap sehingga dapat mengeluarkan cahaya, seperti bulan. Allah berfirman:

جعل القمر فيهن نوراً
Terjemah Arti: "Menjadikan bulan padanya bercahaya".

Lalu, ada pula Allah SWT berfirman pada surah Al Qashash:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِن جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُم بِضِيَاء أَفَلَا تَسْمَعُونَ [سورة القصص]
Terjemah Arti: "Katakanlah: Terangkanlah kepada Ku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?" (QS. Al-Qashash: 71).

Yaitu isyarat kepada pancaran sinar matahari oleh cahaya siang. Sungguh, Allah telah menamakan risalah Nya yang diturunkan kepada nabi Musa as yaitu Kitab Taurat sebagai cahaya, Allah berfirman: 

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِن بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءكُمْ رَسُولٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقاً كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقاً تَقْتُلُونَ [سورة البقرة].
Terjemah Arti: "Dan sungguh, Kami telah memberikan kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul, dan Kami telah berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus (Jibril). Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunu?" (QS. Al-Baqarah: 87).

Demikian karena risalah Taurat Musa tersebut menjelaskan jalan kebenaran dari jalan batill, serta menerangkan kebaikan dari keburukan sebagaimana cahaya menyingkap jalan keselamatan dari yang sebaliknya (kesesatan). Maka pada ayat ini menunjukkan kalimat cahaya kepada arti yang sebenarnya (sinar). Dan sinar itu berasal dari sumbernya langsung, karena Allah berfirman kepada nabi Musa dengan berkomunikasi langsung tanpa perantara (malaikat pembawa wahyu), sebagaimana laiknya terjadi pada rasul-rasul lainnya.

Selanjutnya, maka Taurat itu adalah sinar cahaya langsung dan bukan hanya sekedar cahaya belaka, atau bukan sinar yang terpantul atas malaikat pembawa wahyu dan diterima oleh nabi Musa. Dan adapun firman Allah:

إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُواْ لِلَّذِينَ هَادُواْ وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُواْ مِن كِتَابِ اللّهِ وَكَانُواْ عَلَيْهِ شُهَدَاء فَلاَ تَخْشَوُاْ النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ [سورة المائدة].
Terjemah Arti: "Sungguh, Kami yang menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Yang dengan Kitab itu para nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat Ku dengan harga murah. Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir" (QS. Al-Maidah: 44).

Lebih jauh ayat menjelaskan keistimewaan kitab Taurat sebelum disampaikan Musa kepada manusia, adapun setelah disosialisasikan kepada manusia maka ia adalah cayaha langsung kepada manusia.

Kata pakar bahasa Arab: Sinar itu lebih khusus dari pada cahaya, dan adalah orang-orang Arab - dahulu - tidak membedakan antara sinar dan cahaya semuanya diartikan sama oleh mereka, dengan artian cahaya yang menyebar kepada benda-benda yang bercaha. Sedangkan jika diperhatikan antara ayat-ayat Alquran yang menjelaskan tentang bintang-bintang dan ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang planet-planet niscaya nampak sangat jelas bahwa sinar adalah khusus untuk bintang-bintang, sedangkan cahaya dikhususkan untuk planet dan satelit-satelit seperti bulan. Dan Alquran telah menjelaskan secara klir perbedaan itu pada banyak ayat.

Maka ketika Allah menyebutkan rasul Nya Muhammad SAW Dia tidak menyifatkannya sebagai sinar, tetapi dengan sifat "nur" (cahaya). Sebagaimana pada ayat ke 45-46 surah Al Ahzab, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (45) وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا [سورة: الأحزاب].
Terjemah Arti: "Wahai nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan; dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin Nya dan sebagai cahaya yang menerangi" (QS. Al-Qashash: 45-46).

Maka adalah nabi SAW sebagai cahaya yang menerangi tetapi ia tidak bersinar dengan dirinya sendiri, akan tetapi diturunkan atasnya wahty (seperti turunnya sinar asli), yang terpantul atas pembawa wahyu Jibril as... Demikianlah dijelaskan oleh fakta ilmia yang amat terperinci ini bahwasanya Alquran itu bukanlah bersumber dari rasulullah, akan tetapi datang dari Allah SWT dengan zat Nya. Kemudian tersimpan di dalam qalbu rasululallah SAW maka memantul dan menerangi alam semesta.

Adalah salah satu hikmah penyebutan kalimat "nur" (cahaya) dalam bentuk tunggal, dan "zulumat" dalam bentuk plural adalah bahwasanya cahaya itu bersumber dari cahaya Allah, yaitu suatu sifat dari sifat-sifat Allah SWT, maka dia disebutkan tunggal sebagaimana Allah Tunggal (Esa) pada semua sifat-sifat Nya.

Sinar (terang) itu pada hakikatnya adalah bias, maka barangsiapa yang mendapatkan sedikit saja darinya niscaya dapat menerangi kepada bagian yang luas. Sedangkan kegelapan bakteri dan penyakit, sedikit darinya dapat berkembang menjadi lebih besar. Dan kegelapan itu banyak sekali seperti kegelapan kebodohan, kegelapan kesesatan, kegelapan kekafiran, kegelapan kesia-siaan dan lain-lain. Berbeda dengan cahaya yang sumbernya hanya satu, maka sedikit saja darinya cukup untuk menerangi jalan bagi orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah SWT kepada iman.

Khusus mengenai tema tentang sinar dan cahaya ini dapat disimpulkan dalam satu ayat Alquran yang oleh ulama disebut sebagai "Ayat Al Misykat" (Sebuah lubang yang tidak tembus). Allah berfirman:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاء وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ ِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [النور].
Terjemah Arti: "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi, perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar, pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dari pohon berkah yang berminyak, (yaitu) tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api, cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu" (QS. An-Nur: 35).

Penulis sudah menjelaskan tentang ayat ini pada satu kajian khusus sebelumnya. (Lihat: Perumpamaan 01, tentang: Cahaya Allah Seperti Lubang Yang Tidak Tembus). Sebagaimana penulis juga masih menyiapkan kajian-kajian serupa pada waktunya nanti di buku ini, Insya Allah. 

Gelap Gulita Kedalaman Lautan Diliputi Ombak Yang Di Atasnya Omak : 
Menyelam di dalam air dan mengetahui rahasia kedalaman samudera adalah merupakan hasrat manusia semenjak keberadaannya di atas permukaan bumi, akan tetapi manusia secara tabiat tidak memungkinkannya untuk menyelam lebih jauh pada kedalaman beberapa meter tertentu, disebabkan oleh tegangan sangat kuat yang timbul dari massa di atas permukaan laut.

Allah Berfirman:
أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ (النور)
Terjemah Arti: “atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan, gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. An-Nur: 40).

Mekanika Fluida Alquran:

Menyelam di dalam air dan mengetahui rahasia kedalaman samudera adalah merupakan hasrat manusia semenjak keberadaannya di atas permukaan bumi, akan tetapi manusia secara tabiat tidak memungkinkannya untuk menyelam lebih jauh pada kedalaman beberapa meter tertentu, disebabkan oleh tegangan sangat kuat yang timbul dari massa di atas permukaan laut.

Namun belakangan setelah manusia menemukan alat penyelam, mereka pun dapat menjangkau kedalaman laut lebih jauh mencapai ratusan bahkan ribuan meter, dari sejak itulah mulai ditemukan sebuah alam yang berdiri sendiri berada pada kedalaman samudera, tetapi yang terpenting dari semua itu adalah ditemukannya ombak raksasa pada kedalaman dasar lautan, yang jauh lebih dahsyat dari pada ombak-ombak yang dikenal di atas permukaan laut.

Seperti yang kita saksikan ombak tindih menindih di atas permukaan laut, demikian juga ombak-ombak di bawah dasar laut, dan ombak-ombak inilah yang diisyaratkan Alquran dalam ayat kajian di atas. Dan dari ayat kajian di atas pula Alquran memberikan perumpamaan yang sangat sempurna, yaitu Allah SWT mengibaratkan bagi orang kafir yang tidak mendapatkan hidayah seperti orang yang hidup dalam ombak di bawah kedalaman laut, terombang ambing di dalam kegelapan dan tegangan.

Maka Allah menyerupakan kesesatan dengan kegelapan tersebut dan menceritakan tentang ombak pada kedalaman lautan:

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ
Terjemah Arti: “atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula)

Hakikat sains ini tidak diungkapkan oleh ilmuan abad ini, tetapi telah dikabarkan oleh nabi Muhammad SAW dari jaman penyembahan patung dan berhala, dimana pada masa itu tidak dikenal sains kecuali hanya legenda saja, namun kemukjizatan Alquran mampu memberikan informasi yang sangat jauh kepada segala masa, karena ia adalah kitab Allah yang Maha mengetahui.

Gelap Gulita Yang Tindih-Bertindih:

Allah berfirman:

مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ
Terjemah Arti: “di atasnya awan, gelap gulita yang tindih-bertindih”.

Anda apabila mengamati bola bumi dari luar angkasa, pasti akan nampak lautan diselimuti oleh awan yang sangat tebal, seperti yang disaksikan lewat foto satelit angkasa luar. Awan tebal tersebut menutupi sebagian besar dari sinar matahari, dan sisanya dalam kualitas kecil yang menembus ombak-ombak pada permukaan lautan, dan setelah mencapai sekitar 1000 meter ke dalam maka menghilah cahaya secara total pada ombak di bawah kedalaman laut: “gelap gulita yang tindih-bertindih”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!