Kamis, Juli 21, 2016

HAWQALA MENDATANGKAN KEBERUNTUNGAN & MENOLAK BENCANA:



Kisah Auf bin Malik  dan HAWQALA
By: My Buku Kuning Center
HAWQALA adalah singkatan popular dari kalimat dzikir (لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ), atau artinya kurang lebih “Tiada daya dan upaya kecuali hanya kekuasaan Allah semata). Ia merupakan bejana berharga dari bejana-bejana mewah Surga, sebagaimana disebut di dalam sebuah Hadits Nabi SAW. Hauqala dibaca oleh umat Islam untuk mengekspresikan kelemahan seorang hamba melakukan segala sesuatu kecuali hanya dengan petunjuk dan bantuan Allah SWT.





Keutamaan HAWQALA sebagai kalimat yang super dahsyat dan mempunyai daya positif menarik manfaat dan menolak mudharat ini didukung oleh berbagai dalil shahih dari nabi Muhammad SAW, salah satu di antaranya adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
"أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أكثروا من قول: لا حول ولا قوة إلا بالله. فإنها كنز من كنوز الجنة".
Artinya: Sesungguhnya nabi SAW bersabda: “Perbanyaklah menyebut “لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ” (Tiada daya dan upaya kecuali hanya kekuasaan Allah semata), karena ia adalah bejana dari bejana-bejana surga”.

Banyak sekali cerita-cerita menakjubkan dari kedahsyatan kalimat HAUQALA di atas, sebut saja misalnya kisah populer dari sahabat Auf bin Malik sebagai berikut:

AUF BIN MALIK:
Nama lengkapnya adalah Auf bin Malik al-Asyja’i  al-Ghathfani – radhiyallahu ‘anhu. Syahid pada Fath Makkah, meriwayatkan dari nabi Muhammad SAW sejumlah Hadits, dan sering dipanggil sebagai Abu Abdurrahman. Ia merupakan salah seorang sahabat besar yang terhormat.

Diriwayatkan bahwa suatu hari Auf bin Malik ra datang kepada yang mulia baginda nabi SAW dan melapor: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Malik putra kami keluar tempo hari bersamamu ke medan perang dan kini semua tentara sudah pulang sedangkan Malik sendiri belum muncul, apa yang harus saya lakukan? Maka Rasulullah SAW bersabda: Ya Auf, perbanyaklah kamu dan istrimu membaca (لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ)…

Kemudian pulanglah Auf ke rumah menemui istrinya yang lagi bersedih karena putra tunggalnya belum ditemukannya. Sang istri bertanya: Solusi apa yang diberikan Rasulullah kepadamu wahai suamiku? Auf menyampaikan kepada istrinya bahwa dirinya dan sang istri dipesan oleh rasulullah agar lebih banyak membaca (لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ), maka istri shalehah yang bersabar itu berucap: Sungguh benar rasulullah SAW.

Selanjutnya duduklah mereka berdua khusyu’ berzikir dan membaca (لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ) sepanjang malam. Keajaiban terjadi ketika menjelang Fajar, mereka mendengar ketukan pintu dan segeralah Auf bangkit membuka pintu. Dan, alangkah surprisenya ketika menyaksikan bahwa yang berdiri dibalik pintu membawa ghanimah itu adalah putra tersayang yang dinanti-nantinya semalaman penuh bersama istrinya.  

Sambil melepas kangen ayahanda Auf bertanya: Kemana saja kah engkau wahai putraku? Malik menjawab: Aku ditangkap oleh musuh dan menyeretku masuk ke dalam tahanan, kedua kaki dan tanganku dibelenggu dengan borgol besi yang sangat kuat. Dan ketika datang malam aku berusaha kabur dari tempat itu tetapi aku tidak sanggup menggerakkan besi-besi borgol itu karena terlalu kuat dan berat di kedua kaki dan tanganku. 

Maka aku pasrah saja… Lalu, tiba-tiba aku merasa bahwa cincin-cincin besi itu sedikit demi sedikit semakin melonggar sehingga aku dapat membebaskan kedua tangan dan kakiku darinya dan kabur serta sampailah aku dihadapanmu sekarang membawa kepala kambing ini sebagai ghanimah dari kaum musyrikin.

Dengan penuh penasaran Auf masih bertanya lagi pada putranya: Bukankah jarak dari tempat musuh kemari amat jauh sekali, bagaimana engkau bisa menempuhnya hanya semalaman saja? Tidak tahulah ayah (kata Malik), yang aku tahu tadi malam itu bahwa aku berhasil keluar dari rantai-rantai belenggu, kabur dan merasa seakan-akan ada Malaikat yang membawaku dengan sayapnya sehingga bumi terasa terlipat pendek maka sampailah aku kemari. 

Maka berpestalah kedua orang tua itu dengan keselamatan putra mereka. Dan pada pagi harinya Auf mengunjungi rasulullah ingin menyampaikan berita gembira itu. Namun, sebelum Auf sempat berkata apa-apa, Rasulullah SAW mendahuluinya bersabda: Berbahagialah wahai sahabat Auf, sesungguhnya Allah telah menunkan sebuah ayat tentang engkau. (Membaca firman Allah yang baru diterimanya): 

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا‏
Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar; Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. Atthalaq: 2-3). 

Dan ketahuilah wahai sahabat Auf (nabi melanjutkan sabdanya) bahwa: Kalimat “لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ” (Tiada daya dan upaya kecuali hanya kekuasaan Allah semata), adalah bejana yang tersipan di bawah Singgasana Allah Yang Maha Pengasih, dan ia adalah penawar bagi 99 masalah, sekecil-kecilnya ialah rasa keprihatinan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!