Kamis, Juli 30, 2020

KHUTBAH IDUL ADHAH JUM’AT, 10 ZUL HIJJAH 1441 H/ 31 JULI 2020:

Mengambil Hikmah Dari Sisi Keteladanan Nabi Ibrahim As Untuk Memperbaiki Kualitas Kehidupan Pribadi, Keluarga, Masyaraka, Negara dan Bangsa
Disampaikan di Masjid Besar Al-Irsyad Ujung Baru Kota Parepare – Sulawesi Selatan.
Oleh: Med Hatta
KHUTBAH I

اَللهُ أَكْبَرُ  (9)
اَللهُ أَكْبَرُ  كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ، (إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ) أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

صدق الله العظيم وبلغ رسوله النبي الأمين ونحن على ذلك من الشاهدين والشاكرين والحمد لله رب العالمين. سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

Kaum muslimin dan muslimat sidang jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadhirat Allah ‘Azza Wajjalla atas segala rahmat dan nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita sampai saat ini. Alhamdulillahi Rabbil’alamin. Selawat serta salam kita kita haturkan kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW. Allahumma shalli ala sayyidina Muhammadin wa  ala alihi wa shahbihi wasallam.

Pada hari yang penuh kebahagiaan ini, bertepatan dengan sayyidil ayyam pula, umat Islam di seluruh dunia memperingati Hari Raya Idul Adha 10 Zul Hijjah 1441 H. Setiap perayaan hari besar di dalam islam selalu istimewa dan sempurna karena pelaksanaannya dirayakan setelah umat islam selesai menunaikan suatu kewajiban besar yang telah diperintahkan oleh Allah SWT., Idul Fitri dirayakan setelah sempurna melaksanakan perintah ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh, maka Idul Adha-pun dirayakan setelah umat islam menyempurnakan pelaksanaan ibadah haji (wukuf) di Arafah yang berlangsung kemarin.

Bulan Zul Hijjah adalah bulan yang mulia, yaitu Allah SWT memerintahkan di dalamnya pelaksanaan ibadah haji dan berkurban, ia juga merupakan satu dari empat bulan yang telah dimuliakan oleh Allah dari semenjak diciptakan bumi dan langit, Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
Terjemah Arti: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (QS. Attaubah: 36).

Nabi Muhammad SAW menjelaskan ayat ini, bersabda:

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر، الذي بين جمادى وشعبان
Artinya: “Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara bulan-bulan tersebut ada 4 bulan yang haram (berperang di dalamnya), tiga bulan berturut-turut, yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al Muharram, (dan yang terakhir) Rajab Mudhar, yaitu bulan di antara bulan Jumaada dan Sya’ban” (HR. Al Bukhari).

Pada bulan-bulan mulia ini umat islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal-amal kebaikan demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan pada bulan-bulan mulia tersebut umat islam juga dilarang keras melakukan tindak-tindak kekerasan, baik bagi diri sendiri maupun kepada orang lain. Oleh karena itu, pada masa nabi Muhammad SAW ketika memasuki 4 bulan mulia itu maka otomatis dilakukan gencatan senjata. Tidak ada peperangan pada bulan-bulan mulia tersebut.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

Kaum muslimin dan muslimat sidang jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Namun, sedikit disayangkan bahwa selama bulan-bulan mulia tersebut, dan termasuk juga bulan suci Ramadhan yang lalu, umat islam dan bahkan bangsa dunia seluruhnya disibukkan oleh suatu wabah yang menyebar luas keseluruh dunia, yaitu pandemi virus corona (Covid-19), yang telah melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat dunia secara keseluruhan, ekonomi, budaya, sosial, politik, dan bahkan kehidupan beragama-pun ikut terimbas.

Bebepara bulan yang lalu kita semua berharap semoga memasuki bulan Ramadhan pandemi covid-19 sudah berakhir, tapi Allah mentaqdirkan kita memasuki bulan suci Ramadhan disertai penuh oleh virus corona, sehingga amaliyah-amaliyah ramadhan pun kita laksanakan dengan cara istimewa, yaitu shalat tarawih di rumah masing-masing karena menghindari penyebaran covid-19. Kemudian setelah kita kembali berharap semoga pada bulan pelaksanaan ibadah haji – seperti sekarang – covid-19 sudah berhenti penyebarannya, tapi hingga hari ini belum ada tanda-tanda berakhir, bahkan semakin parah.

Akibatnya, meskipun pemerintah telah memberlakukan kebijakan “New Normal”, yaitu beradaptasi dengan virus corona namun seperti yang kita lihat sekarang, shalat Idul Adha-pun masih harus diberlakukan ketat protokeler corona, yang semestinya shaf harus dirapatkan sebagaimana perintah nabi Muhammad SAW: “Luruskan dan rapatkan shaf”, tapi karena darurat corona maka shaf harus diberikan jarak satu meter seperti ingin melakukan senam pagi atau tari paco-poco, karena menghindari penyebaran virus corona.

Yang paling memprihantinkan dari dampak negatif covid-19 ini adalah terdapat sekitar 3 juta lebih umat islam diseluruh dunia tidak dapat menunaikan ibadah haji ke tanah suci, dan di antaranya ada 221.000 calon jama’ah haji Indonesia yang gagal diberangkatkan ke Makkah tahun ini, karena upaya menghindari penyebaran covid-19. Meskipun demikian, sebagai umat islam kita harus selalu berbaik sangka pada Allah SWT, kita harus yakin bahwa setiap musibah yang diturunkan-Nya kepada umat islam pasti ada hikmah yang lebih baik dibaliknya.

Hal ini mengingatkan kita pada sebuah kisah insfiratif dari seorang hamba shaleh yang hidup tidak jauh dari masa tabi’in, yaitu Abdullah ibnu Al-Mubarak. Alkisah, suatu musim haji, Ibnu Al Mubarak berniat berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah bersama dengan satu rombongan dari Bagdad – Irak, dan ditengah perjalanan menemui rombongannya untuk berangkat bersama-sama, Ibnu Al-Mubarak diuji oleh Allah dengan memperlihatkan di depan matanya seorang ibu tua sedang mengais-ngais tempat sampah dan mengambil sebuah bangkai dari tempat sampat tersebut. Lalu, Ibnu Al Mubarak menegurnya: Wahai perempuan, apakah kamu ingin memakan bangkai yang haram itu?

Kata perempuan: Iya, apa boleh buat, karena saya ini seorang janda miskin yang ditinggal mati oleh suami bersama 3 anak perempuan kami di rumah, saya tidak bisa bekerja lagi seperti biasa. Jadi, menurut anda apakah kami harus pasrah mati karena kelaparan ataukah berusaha bertahan hidup meskipun harus memakan bangkai ini?

Maka, tanpa pikir panjang, Ibnu Al-Mubarak langsung memberikan tas ditangannya yang berisi sejumlah uang untuk bekal perjalanan dan biaya hidupnya selama menunaikan ibadah haji di tanah suci Makkah kepada ibu tua, dan mengatakan padanya: Ini ada sejumlah uang cukup untuk anda membuat usaha kecil demi menghidupi ketiga anak yatim perempuan di rumah anda. Setelah itu Ibnu Al Mubarak berputar balik ke rumahnya dan membatalkan niatnya berangkat haji, dan dia bersembunyi di rumahnya selama musim haji agar tidak ketahuan oleh tetangganya kalau dirinya batal berangkat haji.

Keajaiban terjadi, setelah pulang para jama’ah haji dari tanah suci, anggota rombongan Ibnu Al Mubarak silih berganti datang bersilaturrahim ke rumahnya, semuanya berterima kasih pada Ibnu Al-Mubarak atas bimbingan yang diberikannya kepada mereka selama melaksanakan prosesi ibadah haji di Makkah, dan mereka juga tidak henti-henti memuji ketekunan Ibnu Al Mubarak dalam beribadah selama di tanah suci. Belum berhenti penasarannya Ibnu Al-Mubarak, hingga tiba malam harinya dia bermimpi bertemu dengan nabi Muhammad SAW, bersabda: “Selamat atasmu wahai Ibnu Al Mubarak, berkat keikhlasan hatimu membantu ibu janda dan anak-anak yatim piatu maka Allah mengutus Malaikat menyerupai wajahmu dan berangkat bersama rombonganmu menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah, dan Allah beserta seluruh malaikat dilangit memberi salam kepadamu serta menganugerahimu pahala “Haji Mabrur”.

Alangkah indahnya seorang hamba dipanggil haji mabrur oleh Allah sebagaimana Ibnu Al Mubarak meskipun secara fisik gagal berangkat ke tanah suci karena kedaruratan yang memaksanya. Oleh karena itu, kita semua berharap semoga saudara-saudara muslim kita yang gagal berangkat ke tanah suci Makkah tahun ini karena darurat menghindari penyebaran virus corona, Allah SWT menggantikan bagi mereka dengan kebaikan-kebaikan yang lebih banyak dan kelak di hari kemudian mereka di panggil haji mabrur oleh Allah dan para malaikatnya. Amin.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

Kaum muslimin dan muslimat sidang jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Setipa kali kita merayakan hari raya Idul Adha, kita senantiasa diingatkan oleh seorang sosok manusia agung yang diutus oleh Allah SWT untuk menjadi Nabi dan Rasul, yaitu Nabi Ibrahim as dan keluarganya. Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad SAW harus mampu mengambil keteladanan darinya, Allah berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
Terjemah Arti: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia” (QS. Al-Mumtahanah: 4).

Dari sekian banyak hal yang harus kita teladani dari Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, serta mengambil hikmah dari pelaksanaan ibadah haji yang sedang berlangsung di tanah suci, di dalam khutbah ini khatib ingin menyampaikan satu sisi saja yang paling menonjol dan dapat menjadi kunci bagi upaya memperbaiki kualitas kehidupan bangsa sehingga mudah-mudahan bisa menyelamatkan kehidupan bangsa ini dari kehancuran, apalagi kita masih terus berjuang untuk mengatasi berbagai persoalan besar yang menghantui kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Keteladanan yang paling menonjol dari kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya, yang sarat dengan ujian dan cobaan dari Allah SWT adalah “husnuddzan” (berbaik sangka kepada Allah SWT), sikap ini merupakan sesuatu yang sangat penting, karena dari sikap inilah kita akan menjalani kehidupan sebagaimana yang ditentukan Allah SWT. Nabi Ibrahim dan keluarganya telah menunjukkan sikap yang sangat positif kepada Allah.

Adalah Nabi Ibrahim as suatu saat diperintahkan oleh Allah SWT untuk memindahkan istrinya Siti Hajar dan putranya Ismail yang masih bayi kala itu ke Makkah, sungguh terasa sangat berat untuk melakukan hal itu, bukan semata-mata karena takut berpisah dengan istri dan anaknya yang tercinta, tapi karena kondisi Makkah pada waktu itu belum terdapat kehidupan, tidak ada manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan bahkan air sekalipun kecuali hanya padang gurun yang kering dan tandus. Peristiwa luar biasa ini diabadikan di dalam Alquran dalam kisah live Nabi Ibrahim as, Allah berfirman:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Terjemah Arti: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Karena sikap berbaik sangka kepada Allah jualah membuat Nabi Ibrahim dan Siti Hajar harus tunduk dan melakukan perintah tersebut, serta yakin bahwa Allah tidak mungkin mempunyai maksud buruk dalam memerintahkan sesuatu. Begitu pula halnya perintah menyembelih putranya Ismail as, dan akibat dari peristiwa terakhir ini Allah menjadikannya tradisi ibadah penting bagi umat Islam, yaitu menyembelih hewan kurban setiap hari raya kurban.

Dari kedua kisah keteladanan Nabi Ibrahim as dan keluarganya di atas telah menyadarkan kepada kita bahwa ketika Allah SWT memerintahkan sesuatu pasti Dia ingin mewujudkan kemaslahatan atau kebaikan-kebaikan yang sangat berarti bagi kemanusiaan, dan ketika Allah melarang akan sesuatu maka Dia ingin mencegah terjadinya mafsadat atau kerusakan-kerusakan yang mengancam umat manusia. Nabi bersabda:

لاَ يَمُوْتَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ تَعَالَى
Artinya: “Janganlah salah seorang dari kalian mati, kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah” (HR. Abu Daud dan Muslim).

Maka apabila seseorang sudah berbaik sangka kepada Allah SWT maka ia optimis bahwa masih ada hari esok yang lebih baik. Ini adalah pelajaran penting yang harus kita teladani dari kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya, karena dari sikap inilah kita akan menjalani kehidupan yang sesungguhnya sebagaimana yang ditentukan Allah SWT.

Dan yang paling penting adalah apabila seorang muslim sudah berbaik sangka kepada Allah SWT, maka apapun yang telah diperintahkan Allah pasti akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan apapun yang dilarang akan ditinggalkannya. Maka inilah yang disebut dengan disiplin dalam syari’ah. Oleh karena itu, seorang muslim harus menunjukkan kedisiplinannya untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syari’at, hukum atau undang-undang dari Allah SWT, baik dalam perkara kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan maupun bangsa serta Negara.

Di dalam prosesi pelaksanaan ibadah haji mendidik umat islam untuk disiplin dalam syari’at, ibadah ini dimulai dengan ihram yang berarti pengharaman, dan diakhiri denga tahallul yang berarti penghalalan. Dari sinilah, seorang muslim apalagi berpredikat haji akan selalu siap meninggalkan sesuatu yang memang diharamkan Allah SWT dan hanya mau menyentuh dan melaksanakan sesuatu jika memang telah dihalalkan oleh Allah SWT.

Sekian. Wallahu A’lam!

KHUTBAH II

اَللهُ أَكْبَرُ (7) 
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!