Senin, November 30, 2020

MANAQIB ZIKRA HAUL KE- 24 GURUTTA AMBO DALLE :

Waliyullah Gurutta Ambo Dalle Mempunyai dua Kembaran Indentik Beda Negara : 

By: Med Hatta


Waliyullah adalah laki-laki atau wanita yang sangat mencintai Allah dengan cinta yang sesungguhnya, dan hatinya selalu terpaut pada Allah SWT. Hal tersebut tercermin pada keikhlasannya dalam ketaatan dan ibadah, dan begitu pula pada karakternya dalam menjalani kehidupan di dunia, yang membedakan dirinya sebagai Waliyullah...


Mereka adalah kekasih Allah yang di istimewakan-Nya dari hamba-hamba-Nya, karena keimanan dan ketaqwaannya yang selalu istiqamah dan menyandarkan kepada Allah SWT segala urusannya. Nabi SAW bersabda: 

Artinya: "sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah itu ada hamba tertentu yang membuat para nabi dan syuhada "iri", yaitu suatu kelompok yang saling mencintai karena Allah tanpa (melihat) harta dan nasab, wajah mereka laksana cahaya dari menara cahaya, mereka tidak takut ketika orang-orang ditimpa ketakutan, mereka tidak sedih ketika orang-orang bersedih". 

Lalu Nabi SAW membaca firman Allah: "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (QS. Yunus: 62).

Karakter dan Sifat-sifat utama yang lebih detail tentang kelompok waliyullah ini dapat dilihat di dalam Alquran, khususnya pada surah Al Furqan ayat (63-68); Al-Mukminun (awal); dan surah-surah lain di dalam Alquran. Adapun yang ingin penulis kesankan disini adalah sisi lain dari manusia pilihan tersebut. 

Umumnya mereka para wali Allah itu istimewa karena Allah SWT sendiri yang mengankat kharismanya sehingga setiap orang yang mengenalnya merasa segan dan mengesan kebaikannya, dan Allah menumbuhkan rasa simpati dan kecintaan terhadap diri mereka di dalam sanubari orang-orang yang beriman...

Maka Anregurutta Syeikh Haji Abdurrahman Ambo Dalle termasuk dari salah satu hamba Allah yang memperoleh anugerah kewalian tersebut, yang memiliki semua karakter dan sifat-sifat seperti di sebutkan di atas.

Anregutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle lahir di Ujung e, Sengkang - Kabupaten Wajo tahun 1900, wafat di Makassar pada hari Jum'at, 29 Nopember 1996 dalam usia 96 tahun. Dan hingga kini memasuki tahun ke-24 Zikra Haul wafatnya, tapi kenangan, kebaikan, keikhlasan, pengabdian dan pesan-pesan Beliau serasa tidak pergi bersamanya melainkan masih tetap hidup bersama kami, serta tak mudah melupakannya...

Salah satu hal yang paling berkesan dari Gurutta Ambo Dalle di hati penulis hingga hari ini adalah - masih ingat sekali - ketika di suatu subuh sekitar awal-awal tahun 80-an, Gurutta tiba-tiba masuk ke dalam masjid di persantren Kaballangan, Beliau membawa segepok uang, jumlahnya Rp. 60 juta. Kata Beliau uang tersebut baru saja diterimanya secara gaib dari salah seorang temannya (waliyullah)...

Sebenarnya waktu itu bukan uang dan bantuan gaib nya yang menarik bagi penulis, tapi kalimat "ijab" nya yang penulis dengar secara jelas dari bibir Gurutta dan langsung hafal seketika itu juga. Yaitu saat Gurutta menceritakan kronologi datangnya uang itu, kata beliau bahwa orang yang menyerahkan uang tersebut mengucapkan: (خذ سلفا)....

Ucapan dalam bahasa Arab tersebut di atas sama sekali penulis tidak mengetahui artinya, dan Gurutta juga tidak menjelaskannya ketika itu. Tapi penulis terkesan dan menghafalnya karena - mungkin - menganggap bahwa kalimat tersebut adalah mantra yang dibaca Gurutta untuk mendapat uang secara gaib,,, he he he...

Lama kalimat mantra  tersebut hanya tersimpan sebagai hafalan di kepala saja, hingga pada tahun 1989 penulis berangkat ke Mesir untuk melanjutkan pendidikan. Dan di sana - secara tidak sadar - menemukan tulisan terpasang di atas sebuah Bank berbunyi (البنك السلف) atau Bank peminjaman, barulah saat itu mengerti bahwa ternyata (خذ سلفا) yang dibilang Gurutta beberapa tahun sebelumnya adalah artinya "ambil lah ini sebagai pinjaman"....

Dan ketika itulah penulis langsung berkesimpulan - berdasarkan firasat - bahwa yang memberikan uang kepada Gurutta di Kaballangan dulu itu adalah jenis manusia (bukan jin), dan manusia itu adalah dari orang-orang pilihan Allah dikenal sebagai "Auliyaullah", mereka hidup bersama kita, mempunyai profesi masing-masing, dan tidak sedikit di antara mereka yang kaya, serta saling bantu membantu sesama mereka untuk menegakkan dakwah Islam dengan cara yang mereka kenal, baik bentuknya hiba (bantuan murni) atau pinjaman lunak...

Yang menarik (lagi) dari wali-wali Allah tersebut, di samping sifat-aifat mereka sama dalam ketaqwaan, ketaatan, istiqamah, tidak memiliki rasa takut, tidak bersedih, dan sifat-sifat mulia lainnya seperti disebutkan pada surah Al-Furqan dan Al-Mukminun, mereka juga - tidak sedikit - memiliki ciri-ciri fisik yang benar-benar mirip laksana fotocopy, bahkan bisa disebut sebagai kembar indentik seandainya mereka lahir dari satu rahim ..

Dalam perjalanan spritual penulis selama lebih 21 tahun ke beberapa negara Timur-Tengah, penulis menemukan dua orang "kembaran" dan sangat identik dengan Guratta Ambo Dalle di dua negara yang berbeda: Pertama, pada sekitar tahun 1992 saya mengantar sdr. Umar Lamma dan Tarmizi ke kota Zagazig - Mesir, kebetulan keduanya diterima kuliah di kota itu, sebelum berangkat penulis menghubungi seorang teman asli sana namanya Dr. Khalid, yang kemudian menerima Umar dan Miji tinggal di rumahnya dengan gratis...

Rumahnya memang bukan di kota Zaqazig langsung tapi lokasi itu dekat dari kampus Umar dan Miji, nama kampungnya Dundet - Tafahna. Nah, karena Umar dan Miji sudah tinggal di sana maka saya pun semakin sering balak-balik ke kota itu dan sering menginap dan menghabiskan malam-malam kami dengan cafe beldi dan Chicha bersama Khalid dan temannya (baru kenal di sana) namanya Wail.... 

Hingga suatu hari Wail bercerita bahwa di masjid dekat rumahnya ada seorang tua yang oleh warga tidak ada yang mengetahui asal-usulnya, setiap shalat 5 waktu selalu ada di masjid itu, tidak diketahui rumahnya, apa pekerjaannya, dan dia sering memberikan uang seadanya kepada anak-anak dan sudah lama sekali di masjid kampung itu sampai masyarakat sudah lupa sejak kapan dia ada di kampung itu...

Kata Wail, menambahkan, secara fisik perawakan orang tua itu tidak seperti orang Arab umumnya, dia kecil lebih mirip ke asia tapi bahasanya Mesir asli. Karena penasaran, maka kami bertiga datang menunggunya di masjid menjelang waktu shalat Ashar, dan begitu yang tunggu tiba, maka betapa terkejutnya hati ini menyaksikannya, seakan tidak percaya pemandangan yang ada di depan mata.... 

Penulis hanya bisa melafazkan tasbih, subhanallah! kenapa ada dua orang mirip yang sekali dalam semua arti kata, padahal keduanya terlahir dalam lingkungan yang berbeda dan jarak yang memisahkan antara keduanya sangat jauh sekali (Indonesia - Mesir). Usianya kira-kira seumuran, cara berjalannya, senyumnya, suaranya, giginya, dst. Semuanya mirip. Kata penulis waktu itu kepada kedua teman orang Mesir tadi: Seandainya kalian tidak mengatakan bahwa orang tua tersebut sudah bertahun-tahun ada di sini maka saya mengatakan ini adalah guru saya dari Indonesia...

Kedua, penulis dipertemukan dengan orang yang kedua mirip dengan Gurutta Ambo Dalle, yaitu di kampung halaman salah seorang dosen penulis di daerah Qasr el-Kabir - Maroko. Dia yang terakhir ini seperti juga orang tua yang di Mesir, tidak diketahui juga riwayatnya. Dan, masyarakat setempat mengakui kalau orang itu seorang musafir dan sudah lama tinggal di masjid Qasr el-Kabir. Masyarakat memperlakukan sebagai faqih atau wali, dan memang daerah itu terkenal sebagai negeri para wali...

Menarik dari dua orang yang mirip Gurutta Ambo Dalle tersebut, keduanya berbicara dengan bahasa penduduk setempat, makan dengan makanan masyarakat setempat, sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan kalau dia orang asing meskipun tidak diketahui riwayat keluarganya. Namun, ada beberapa hal yang nampak berbeda dari kebiasaan masyarakatnya masing-masing, tetapi justru hal-hal itulah yang menjadi karakteristik khusus yang lebih mendekatkan ketiga orang yang mirip itu semakin identik secara fisik, laku dan rasa. Seakan satu badan di belah tiga...

Ketiga orang yang mirip itu mempunyai ciri  khas untuk mereka bertiga saja, tidak dengan orang lain. Gurutta Ambo Dalle, misalnya, suka memakai lipstick berwarna sehingga bibirnya selalu nampak merah tipis, dan kedua kembarannya yang di Mesir dan Maroko itu juga selalu merah bibirnya. Dan, yang paling menonjol di mata penulis adalah ketiga-tiganya seakan sepakat memilih busana yang berbeda dengan busana umum di negeri masing-masing. 

Kalau yang di Mesir dan yang di Maroko itu keduanya memang memakai jalabah (baju kurung) layaknya orang Arab umum, tapi corak dan motif jalabahnya tidak umum di masyarakatnya. Keduanya menyukai baju jalabah yang bercorak terang dan motif BATIK. Dan inilah yang hampir membuat penulis "gila". Tidak mungkin ini terjadi (batin penulis), karena Gurutta Ambo Dalle juga penghobi memakai Jalabah batik dan coraknya sama dengan milik saudara-saudaranya yang di Mesir dan Maroko tersebut...

Khusus Gurutta Ambo Dalle, meskipun dikatakan bahwa Indonesia adalah negerinya batik tapi sangat langka orang Indonesia yang menjahit jalabah bermotif batik, kecuali hanya Gurutta Ambo Dalle yang hobby memakai jalabah batik...

Dan kedua orang kembarannya yang di Mesir dan di Maroko itu (juga) mau-maunya merepotkan diri menjahit jelabah batik padahal corok batik sangat langka di kampungnya kalau tidak dikatakan tidak ada. Dan khusus di Mesir baju-baju bercorak itu selalu identikan dengan busana perempuan, tidak dipakai oleh kaum Adam. SUBHANALLAH..!

#ZIKRA HAUL KE-24 GURUTTA AMBO DALLE.... Alfatiha,,,, Amin!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!