Sabtu, Januari 02, 2021

MENGENANG 529 TAHUN RUNTUHNYA ANDALUSIA :

PERISTIWA SEPERTI HARI INI (02/01/1492); Raja Muhammad VII Menyerahan Kunci Kota Granada ke Tangan Tentara Salib :

By: Med Hatta

SETIAP tanggal 02 Februari (529 tahun lalu), kita diingatkan nasib pilu bangsa Moreski dan sekaligus mengenang peristiwa pengusiran secara paksa umat Islam dari bumi Spanyol dan benua Eropa. Dicatat di dalam sejarah pada tanggal 02 Januari 1492 (21 Muharram), Ferdinand dan Isabella membawa pasukan besar dari tentara salib menyerang dengan kuat Granada hingga melumpuhkannya dan memaksa Muhammad XII menyerah. Jatuhnya Granada menandai berakhirnya kekuasaan umat Islam di Andalusia - Spanyol. 

Andalusia adalah nama yang disematkan oleh umat Islam atas wilayah Semenanjung Iberia, yaitu terletak di ujung barat daya Eropa (meliputi: Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sedikit Prancis) pada tahun 711 M. Setelah ditaklukan oleh tentara Islam di bawah komando Thariq bin Ziad dan Musa bin Nashir, dan masukkannya pada pemerintahan Khilafah Umawiyyah. Umat Islam menguasai wilayah besar di Eropa tersebut selama 8 Abad, hingga jatuhnya Granada tahun 1492 M.

Umumnya sejarahwan yang menulis peristiwa runtuhnya kerajaan Andalusia selalu terfokus pada kisah seorang tokoh monumental disebut Muhammad Abu Abdellah Alahmar Assaghir (Muhammad VII), yaitu raja Grenada yang paling buntut dari penguasa-penguasa yang pernah memerintah Andalusia sekitar 8 abad lamanya. 

Berbagai sumber meriwayatkan bahwa dia terguling dari tahtanya dan memilih mengasingkan diri ke sebuah daratan tinggi Arraihan yang menatap ke kota Saliba berharap bisa menyeberang ke kota Fez - Maroko dibawah perlindungan penguasa Mariniyinne kala itu. Merataplah dia di sana menangisi kejayaan masa lalunya yang telah hilang, dan daratan tinggi itu kemudian diabadikan sebagai "jejak terakhir Arab" di bumi Andalusia sampai sekarang.

Hikayat Abu Abdellah Assaghir merupakan tokoh yang diselimuti banyak misteri, sebagian kalangan menganggapnya tidak lebih hanya mitos belaka, fiktif tidak pernah ada dalam dunia nyata. Sebagian lagi menganggapnya sebagai kesaktria yang telah berjuang mempertahankan negerinya, kekalahan yang dialami menghadapi tentara salib yang sangat besar adalah wajar. 

Ada juga menganggapnya sebagai pengkhinat menyerahkan kunci kota Grenada kepada raja-raja Katolik dengan suka rela dan tanpa syarat, padahal sebagai raja semestinya berjuang mempertahankan negerinya sampai tetes darah penghabisan. Dan ada pula yang memanggilnya "Azzaghbi" sebagai simbol tokoh yang sial, atau tokoh yang terlahir dengan kutukan. Yang terakhir ini rupanya lebih lengket dengan kepribadiannya dari sifat-sifat yang lain.


Bangsa Maroko yang mengalami masa-masa awal ekspedisi bangsa Andalusia sangat terpengaruh dengan kisah-kisah yang menyertai kedatangan pengungsi bangsa Moreski Andalusia dari laut Zaqqaq masa runtuhnya Grenada dan kisah Ibn Alahmar. Oleh karenanya kalimat Azzaghbi masuk dalam kamus ungkapan sehari-hari yang berarti orang sial.


Tokoh yang dikenal Azzaghbi ini diceritakan naik tahta ketika Andalusia mengalami masa-masa kritis dalam sejarahnya, yaitu pada usia 19 tahun dan Grenada jatuh 10 tahun kemudian maka usianya kala itu baru menginjak 29 tahun. Dia seharusnya bertindak bijaksana dan kuat dalam menata pemerintahan di masa yang paling kritis di alami umat islam di Eropa. Tetapi dia minim pengalaman dan masih sangat muda sehingga harus berakhir tragis. Oleh karena itu orang Spanyol juga menggelarinya "el Chiko" atau si anak kecil...


Ada sebuah ungkapan populer diyakini oleh ahli sejarah ditujukan kepada Abu Abdellah Assaghir (Azzaghbi) bahwa ibundanya, Aicha Al Hurra mendapatinya menangis menatap lurus ke arah Grenada. Lalu sang ibunda berkata pada anaknya: "Menangislah seperti perempuan kecil meratapi singgasanamu yang hilang, tidak bisa mempertahankannya seperti laki-laki perkasa". Kisah Azzaghbi tidak jauh beda dari perjalanan hidupnya sendiri, berbagai misteri yang selalu menyertai dirinya. 


Diceritakan ketika Sultan Maroko mengetahui kedatangan Abu Abdellah di Fez dia ditangkapnya, dicongkel kedua bola matanya dan disita harta bendanya sebagai ganjaran atas pengkhianatannya menyerahkan Grenada ketangan tentara salib. Dia menghabiskan sisa hidupnya dalam keadaan buta dan menjadi pengemis dipinggir jalan. Ada pula menceritakan bahwa dia terjun kemedan perang membantu Sultan Maroko dan tewas disebuah pertempuran disebut perang Wadi el Aswad pada tahun 1536. Serta ada pula versi lain menceritakan bahwa dia meninggal di rumahnya dengan tenang setelah berusia 70 tahun. 


Sedangkan menurut Annassiri dalam bukunya “Al-Istiqsha li Akhbar doual Maghreb al Aqsha”, mengatakan bahwa: Ibn Alahmar datang ke Melilla kemudian dari sana pindah ke kota Fez bersama segenap keluarga dan anak-anaknya ‘menyesali masa lalunya dan menatap masa depan dengan penuh optimis'. 


Annassiri menambahkan: Ibn Alahmar membangun sejumlah istana di kota Fez dengan gaya arsitektur Andalusia dan meninggal di sana serta dimakamkan dalam sebuah mushalla disisi pintu disebut Bab Al-syaaria di kota Fez. Dia meninggalkan beberapa keturunan kemudian dengan perjalanan masa keturunananya punah secara pelan-pelan hingga tidak ditemuakan jejak keturunannanya satu pun sampai sekarang. Wallahu A'lam !


#TAMAT: Trim's semua Komentar Share dan Like !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!