Kamis, Juni 03, 2021

IMAM MALIK DAN IMAM SYAFI'I ADU ARGUMEN ? :

Dua Imam Besar Pendiri Mazhab, Imam Malik dan Imam Syafi'i Berselisih Pendapat ? 
By: Med Hatta 

* IMAM MALIK; Malik bin Anas bin Malik bin Amr, al-Imam, Abu Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani, lahir di Madinah pada tahun 711 M dan meninggal pada tahun 795 M. Ia adalah maha guru ilmu fiqhi dan hadits, serta pendiri Mazhab Maliki.

** IMAM SYAFI'I; Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i al-Muththalibi al-Qurasyi, lahir di Ashkelon, Gaza - Palestina pada 28 Agustus 767 M, dan wafat di Fusthat, Mesir pada 20 Januari 820 M. Ia adalah mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi'i.

Imam Malik adalah guru senior dari Imam Syafi'i, tapi - meski demikian - tidaklah selamanya antara guru dan murid itu selalu sejalan. Imam Malik sebagai guru yang bijaksana selalu menuntun murid-muridnya untuk kritis, dan Imam Syafi'i sebagai murid yang genius tidak serta merta selalu harus menelan pendapat gurunya begitu saja...!!!

Maka tersebutlah, dalam satu majelis ilmiah, sang guru Imam Malik mengeluarkan pendapat bahwa: "sesungguhnya rezeki itu bisa datang begitu saja, bahkan cukuplah seseorang bertawakal dengan benar, niscaya Allah akan memberinya rezeki." Ia menyandarkan pendapatnya itu kepada sebuah hadist Rasulullah SAW, bersabda : 

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Artinya: ”Andai kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepadamu sebagaimana Dia memberikan kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Hakim. Dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 310).

Namun, bukanlah Syafi'i kalau tidak kritis, ia - langsung - berdiri memberikan tanggapan yang berbeda terhadap pendapat gurunya itu, mengatakan: ”Mohon maaf wahai imam, seandainya burung itu tidak keluar dari sarangnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” Dalam pertanyaan itu, Imam Syafi'i menyiratkan bahwa untuk mendapatkan rezeki itu butuh usaha dan kerja keras. Rezeki tidak datang sendiri tetapi harus dicari dan didapatkan melalui ikhtiar.

Lalu, majelis ilmiah menjadi riuh, guru dan murid yang dua-duanya adalah pendiri mazhab itu bersikukuh pada pendapatnya masing-masing. Sedangkan murid-murid yang lain terbagi dua, sebagian mendukung pendapat gurunya dan sisanya cenderung pada pendapat Imam Syafi'i. Meskipun demikian diskusi berjalan dengan teratur dan saling menghormati. 

Sampai ditutup majelis, Imam Syafi'i masih saja penasaran, hingga ia memohon izin pada gurunya untuk keluar - sejenak - sekedar berjalan-jalan mencari udara segar di luar pondok, lalu ia bertemu dengan sekelompok petani sedang memanen buah anggur. Imam Syafi'i pun ikut membantu mereka dan mendapatkan beberapa ikat buah anggur sebagai imbalan jasa dari pekerjaannya itu...

Imam Syafi'i amat senang, bukan karena mendapatkan beberapa ikat anggur. Tapi ia merasa telah memperoleh bukti kongkrit yang bisa digunakan sebagai alasan untuk disampaikan kepada Imam Malik jika pendapatnya itu benar. Bahwa rezeki memang harus dicari. 

Dengan bergegas, Imam Syafi'i menemui Imam Malik yang sedang duduk santai di taman depan rumahnya. Imam Syafi'i meletakkan seluruh anggur yang didapatkannya di atas meja gurunya, kemudian mengatakan: “Lihatlah ini guru! Seandainya saya tidak pernah keluar untuk memanen, tentu saja anggur ini tidak akan pernah sampai ke tangan saya.”

Mendengar alasan muridnya yang sangat masuk akal itu, Imam Malik hanya tersenyum-senyum saja,,,, ia mengambil anggur itu dan mencicipinya,,, lalu ia pun berucap pelan: “Memang sehari ini aku tidak keluar pondok,,, tadi hanya mengajar teman-temanmu saja,,, dan sedikit berpikir bahwa alangkah nikmatnya jika hari yang panas seperti ini aku bisa menikmati anggur...! 

Eh,,, tiba-tiba kamu datang sambil membawa beberapa ikat anggur untukku... Bukankah ini juga menjadi bagian rezeki yang datang tanpa sebab...? Lakukan yang menjadi bagianmu, selebihnya biarkan Allah yang mengurusnya.” 
Imam Syafii langsung tertawa mendengarkan respon gurunya yang (juga) sangat logis itu... Dan, sontak saja kedua guru dan murid tersebut tertawa terbahak-bahak bersama, meski mengambil dua hukum yang berbeda dari hadist yang sama... Dan itulah Rahmat Allah yang luas kepada manusia. 

TENTU ini bukanlah sebuah ajakan untuk bertawakal "mutlak", oleh karena itu, penulis menyertakan pembanding sebuah kisah inspiratif serupa dari seorang sufi, Ibrahim bin Adham (717 - 777 M). 

Alkisah! Pada suatu hari Ibrahim bin Adham memimpin sebuah perjalan dagang dengan membawa rombongan yang besar, ia memang terkenal sebagai saudagar kelas kakap pada masanya. Di tengah perjalanan matanya tertuju pada seekor burung yang jatuh dari udara, nampaknya salah satu sayap burung nahas itu telah patah, maka Ibrahim bin Adham memberhentikan rombongannya, berkata: Demi Allah, aku ingin melihat dengan mataku sendiri siapakah yang akan datang menolong dan memberi makan burung ini, ataukah dia akan mati kelaparan ditempat,,, belum lagi selesai ucapannya tiba-tiba datang seekor burung yang lain meletakkan paruhnya pada paruh burung yang sakit untuk memberi makan temanya...

Demi menyaksikan peristiwa aneh itu, Ibrahim bin Adham langsung takjub. Dan semenjak itulah ia memutuskan untuk meninggalkan semua perdagangannya dan duduk saja di mihrabnya menfokuskan diri beribadah kepada Allah semata, karena telah menyaksikan sendiri betapa Allah Maha pemurah dan rezeki-Nya yang tak terbatas.

Berita tentang mundurnya Ibrahim bin Adham dari dunia bisnis tentu saja membuat heboh pasar global, tak ketinggalan tokoh sufi sejawatnya, As-Syibli harus turun gunung memberikan rasa prihatinnya. As-Syibli bertanya kepada Ibrahim bin Adham tentang perubahan hidupnya yang tidak populer itu, mengatakan: Apakah yang terjadi sehingga kamu meninggalkan bisnismu memilih duduk saja di rumahmu seperti ini ? 

Ibrahim bin Adham menceritakan pengalamannya tentang burung itu. Maka As-Syibli menyampaikan pandangan pribadinya yang masyhur itu, mengatakan : 

يا إبراهيم! لم اخترت أن تكون الطائر الضعيف ولم تختر أن تكون من يطعمه ؟

(Wahai Ibrahim! Mengapa engkau memilih menjadi seekor burung yang lemah dan tidak ingin menjadi orang yang memberikan makanan padanya?)

Spontan tersentak hati Ibrahim bin Adham mendengarkan ucapan yang penuh makna itu, dan seakan-akan ia baru saja mendengar As-Syibli menyampaikan padanya sebuah hadits Rasulullah SAW, bersabda : 

المؤمن القوي خير واحب إلى الله من المؤمن الضعيف 

(Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah dari mukmin yang lemah).

SUBHANALLAH! Sungguh pengetahuan para ulama besar umat tersebut sangat sempurna, saling melengkapi satu sama lain, dan tidak segan menerima pendapat sejawatnya jika hal itu berhubungan dengan syariat. 

KESIMPULAN: 
* Ada rezeki yang datang secara tiba-tiba tanpa sebab, maka itu adalah karunia dari Allah SWT dan nikmat-Nya.

** Ada (juga) rezeki yang tergantung pada sebab yang harus dicari melalui usaha dan kerja keras dengan berbagai ikhtiar yang halal..

Wallahul Musta'an !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!