Minggu, Juli 04, 2021

FRUSTASI AKIBAT VARIAN COVID-19 :

Utamakan Protokoler Ketaatan 

By: Med Hatta 


ADALAH Imam Ibrahim An-Nakha'i (670 - 717 M), seorang tabi'in shaleh, teolog, dan ahli hukum. Ia bertemu banyak sahabat Nabi, termasuk Anas bin Malik dan Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ra. Ibrahim an-Nakha'i ini seorang yang (maaf) bermata satu (juling), dan ada seorang muridnya lagi bernama Sulaeman bin Mahran yang (juga) mengalami kelainan mata (maaf) jereng. 


Pada suatu hari keduanya berjalan berbarengan di sebuah jalan protokoler kota Kufah - Irak, mereka bermaksud menuju ke masjid. Lalu imam an-Nakha'i berkata: Oya, Sulaeman! Bolehkan kau melewati jalan lain dan aku mengambil jalan lain juga,,, karena aku tidak ingin jika kita berjalan bersamaan dalam jalur ini, orang-orang akan mengejek kita mengatakan: orang juling menuntun orang jereng, maka mereka akan berghibah dan berdosa..?!


Kata Sulaeman yang juling, biarkan sajalah agar kita mendapatkan pahala dan mereka berdosa. Dan, Ibrahim an-Nakha'i menggeleng-gelengkan kepala, mengatakan: Subhanallah! Normalnya kita selamat dan mereka pun selamat itu lebih baik daripada kita yang mendapatkan pahala sedangkan mereka berdosa... Bukankah nabi telah bersabda: "Tidaklah beriman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri" ?!


Kisah di atas tentu bukan kaleng-kaleng, melainkan diceritakan oleh sejarahwan besar Islam Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya "al-Muntazam". Namun, bergeser agak berbeda - sedikit - dari cerita ini, kita - sekarang - sudah hampir dua tahun "tersandra keok" tak berdaya oleh pandemi Corona Virus Disease "Nineteen" (COVID-19)... Berharap tahun '21 ini pandemi itu sudah berlalu... Tapi malah muncul berbagai varian barunya yang - katanya - lebih kejam dari induk tirinya... 

Semua orang sudah mulai frustasi dan kehabisan kreativitas... Semakin lama deposito perlahan makin menipis... Banyak tabungan orang-orang sudah habis... Mereka beralih memakan asset.. Bahkan tidak sedik yang harus ngutang... Jika kurang iman bisa menghalalkan segala cara demi untuk bertahan hidup...!!! 


Namun, sejalan dengan perkembangan pandemi COVID-19 dan varian-variannya, protokoler kesehatan pun tak kalah kreatif menciptakan istilah-istilah varian barunya (pula), mulai dari "Pembatasan Sosial Berskala Besar" (PSPB) hingga paling mutakhir "Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat" (PPKM) Darurat - saat ini. Semuanya demi usaha memutus mata rantai penyebaran virus Corona. 

Meskipun pemberlakuan PPKM Darurat - sekarang - masih terbatas pada beberapa kota dan daerah-daerah tertentu disekitar Pulau Jawa, tapi tidak menutup kemungkinan akan menyebar jauh ke daerah-daerah luas di seluruh Nusantara. Dan nampaknya varian protokoler kesehatan jenis PPKM Darurat yang terakhir ini dirancang untuk membungkam kembali menara-menara mesjid dari suara-suara azan, dan shalat 5 waktu di "rumah aja". Bahkan PPKM Darurat akan merumahkan pula shalat Idul Adha 1442 H. Sebagaimana telah mengharamkan 221.000 calon jama'ah haji RI ke Tanah suci tahun ini, dan pelarangan ibadah penyembelihan hewan kurban karena alasan pemusatan massa...

Mereka tidak mengetahui bahwa protokoler kesehatan yang paling ampuh adalah protokoler ketaatan kepada Allah Yang Maha Pencipta, corona termasuk makhluk dari ciptaan-Nya itu. Dan, sekedar tau bahwa kembali kepada Allah SWT, mentaati hukum-Nya, dan memakmurkan masjid untuk beribadah semua itu adalah protokoler yang dianjurkan untuk menjauhkan diri dari kejahatan makhluk seperti Corona...

Sedangkan penutupan masjid, pasti akan berdampak buruk pada koyaknya kohesi sosial umat Islam dalam jama'ah. Umat Islam akan tercerai-berai dan sendiri-sendiri dirumahnya, tak ada kekuatan melawan dan berikhtiar. Dan itu pasti bukan manhaj Islam yang lurus, Allah berfirman : 

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ 

Terjemah Arti: "Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman" (QS. Ali Imran: 139).

MAKA pilihan yang paling selamat adalah kewajiban agama tidak ternodai sambil tetap berikhtiar untuk mengupayakan keselamatan diri dan orang lain, dan itulah protokoler ketaatan sekaligus kesehatan secara paralel dalam satu waktu... Seperti yang dikatakan oleh Imam Ibrahim An-Nakha'i pada kisah di atas: 

نسلم ويسلمون خير من أن تؤجر ويأثمون 

(Keselamatan kita dan keselamatan orang lain lebih utama daripada kita yang mendapatkan keuntungan sedangkan orang lain berdosa).


Nasehat seorang guru: Apabila kamu sudah merasa sangat lemah... Tak sanggup (lagi) melanjutkan perjuangan... Maka pasrahlah kepada Allah Yang Maha Perkasa... Dan katakan pada-Nya : 

اللهم أخرجني من حولي وقوتي إلى حولك وقوتك. أمين.

(Allahumma akhrijeni min haulii wa quwwatii ilaa haulika wa quwwatika. Amin).


Maksud: "Ya, Allah! Aku sudah tiada daya dan upaya (lagi), maka bebaskanlah diriku dari beban ini, rangkul lah diriku di dalam (tanggungan-Mu) dengan kekuatan dan daya-Mu. Amin". 

Wallahul Musta'an !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!