Sabtu, Juni 30, 2012

BOTANI AL-QUR'AN (POHON CEMARA)

HERBAL POHON CEMARA (ATSAL)
Oleh: Med HATTA
Cemara atau Casuarinaceae meliputi sekitar 70 spesies. Sebagian besar suku ini terdapat di Belahan Bumi Selatan, terutama di wilayah tropis, termasuk Indonesia, Malaysia, Australia, dan Kepulauan Pasifik. Al-Qur'an menyebutkan pohon cemara sekali saja sebagai pohon Atsal, sebagaimana dalam firman Allah:

Allah berfirman:
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (١٦)
Artinya: "Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr." (QS: 034: 16)
Fakta Botani Pohon Cemara:
Cemara sendiri merupakan tumbuhan hijau abadi yang sepintas lalu dapat disangka sebagai pinus karena rantingnya yang beruas pada dahan besar kelihatan seperti jarum, dan buahnya mirip gasing kecil. 

Namun kenyataannya tumbuhan ini tidak termasuk Gymnospermae, sehingga mempunyai bunga, baik jantan maupun betina. Bunga betinanya nampak seperti berkas rambut, kecil dan kemerah-merahan. 

Sumber asli: Tulisan ini
Cemara adalah pohon yang sangat artistik untuk penataan sebuah taman. Dibentuk sedemikian rupa dalam gaya seni jepang yang bernama bonsai. Jenis cemara asli Indonesia untuk dibuat bonsai yang paling bagus adalah cemara udang, berasal dari daerah Madura, Jawa Timur.
Cemara Pohon Natal:[1] 
Pohon "Atsal" (Cemara) bagi umat Kristiani, pohon ini sangat istimewa karena merupakan simbol agar kehidupan rohani mereka selalu bertumbuh dan menjadi saksi yang indah bagi orang lain "evergreen". Pohon cemara atau yang lumrah disebut sebagai Pohon Natal, adalah lambang "hidup kekal", sebab – menurut mereka - pada umumnya di musim salju hampir semua pohon rontok daunnya, kecuali pohon cemara selalu hijau. 

Kebiasaan memasang "pohon Natal" sebagai dekorasi dimulai dari Jerman. Pemasangan pohon Natal yang umumnya dari pohon cemara, atau mengadaptasi bentuk pohon cemara, itu dimulai pada abad ke-16 Miladiyah. 

Saat penduduk Jerman menyebar ke berbagai wilayah termasuk Amerika, mereka pun kerap memasang cemara yang tergolong pohon evergreen untuk dekorasi Natal di dalam rumah. Dari catatan yang ada, orang Jerman di Pennsylvania – US memajang pohon Natal untuk pertama kalinya pada tahun 1830-an. 

Pemasangan pohon cemara, baik asli maupun yang terbuat dari plastik, di tengah kota atau di tempat-tempat umum pun menjadi pemandangan biasa menjelang Natal. Salah satu yang terbesar adalah pohon yang ada di Rockefeller Center di 5th Avenue New York - Amerika Serikat.
Legenda Di Balik Pohon Natal (Cemara):
Ada beberapa legenda atau cerita yang beredar di kalangan orang Kristen sendiri mengenai asal mula pohon natal, seperti: 
PERTAMA: Pengalaman "supranatural" Santo Bonifacius:
Menurut sebuah legenda, ada seorang rohaniawan Inggris bernama Santo Bonifacius yang memimpin beberapa gereja di Jerman dan Perancis. Suatu hari dalam perjalanannya dia bertemu dengan sekelompok orang yang akan mempersembahkan seorang anak kepada dewa Thor di sebuah pohon oak

Untuk menghentikan perbuatan jahat mereka, secara ajaib St. Boniface merobohkan pohon oak tersebut dengan pukulan tangannya. Setelah kejadian yang menakjubkan tersebut di tempat pohon oak yang roboh tumbuhlah sebuah pohon cemara.
KEDUA: Martin Luther dan pohon cemaranya:
Cerita lain mengisahkan kejadian saat Martin Luther, tokoh Reformasi Gereja, sedang berjalan-jalan di hutan pada suatu malam. Terkesan dengan keindahan gemerlap jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-cabang pohon cemara di hutan, Martin Luther menebang sebuah pohon cemara kecil dan membawanya pulang pada keluarganya di rumah. Untuk menciptakan gemerlap bintang seperti yang dilihatnya di hutan, Martin Luther memasang lilin-lilin pada tiap cabang pohon cemara tersebut. 

Terlepas dari kebenaran kisah-kisah di atas, hingga hari ini pemasangan Pohon Natal masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan umat Kristen. Bagi orang-orang yang tidak berkenan dengan pohon Natal, mengisahkan bahwa pada zaman dahulu bangsa Romawi menggunakan pohon cemara untuk perayaan "Saturnalia".  

Mereka menghiasinya dengan hiasan-hiasan kecil dan topeng-topeng kecil, karena pada tgl 25 Desember ini adalah hari kelahiran dewa matahari, "Mithras", yang asal mulanya dari Dewa Matahari Iran yang kemudian dipuja di Roma. Demikian pula hari Minggu adalah hari untuk menyembah dewa matahari sesuai dari arti kata "Zondag", Sunday atau Sonntag. 

Perlu diketahui juga bahwa dewa-dewa matahari lainnya, seperti Osiris, dewa matahari orang Mesir, dilahirkan pada tanggal 27 Desember. Demikian pula Dewa matahari Horus dan Apollo lahir pada tanggal 28 Desember. 

Maka dari itu, ada aliran-aliran gereja tertentu yang mengharamkan tradisi pohon Natal, sebab mereka menganggap ini sebagai pemujaan dewa matahari. Pemasangan pohon itu dianggap sebagai bentuk penyembahan berhala. Reaksi penolakan itu bahkan awalnya sempat diwarnai keputusan pemerintah Jerman untuk mendenda siapa pun yang memasang pohon cemara sebagai pohon Natal. 

Hal itu mulai berubah, saat gambar Ratu Victoria dari Inggris, Pangeran Albert dari Jerman, dan anak-anaknya dengan latar pohon cemara, diilustrasikan di London News. Karena sosok Victoria yang sangat populer, pemuatan gambar itu di media massa pun membuat pohon cemara menjadi pilihan lazim sebagai pohon Natal.
Tradisi Pohon Cemara:
Setelah masyarakat US mengikuti jejak Inggris menggunakan pohon cemara pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, industri pun semakin berkembang dan merambah ke berbagai negara. Termasuk industri berbagai hiasan pohon Natal seperti bola-bola yang digantung, pernak-pernik Santa Claus, "tinsel" (semacam tali berumbai yang dililitkan ke pohon), dan lainnya. 

Karena penggunaan pohon cemara merupakan tradisi Eropa, ekspresi sukacita yang dilambangkan dengan berbagai dekorasi itu berbeda-beda di setiap negara. Indonesia dan Filipina menjadi negara yang sangat terpengaruh tradisi Eropa itu sampai akhirnya para umat Kristen membeli pohon buatan tapi yang penting berbentuk cemara. 

Di Afrika Selatan keberadaan pohon Natal bukanlah sesuatu yang umum. Sementara masyarakat India, lebih memilih pohon mangga dan pohon pisang.[2]
Pohon Cemara Dan Bunga Mawar:
Ada satu hal yang patut dicontoh dari sifat pohon cemara ini, yang tegar menahan teror, baik teror fisik, ucapan maupun pikiran, dan menjadikannya sesuatu yang sejuk, hangat dan damai

Konon di tengah hutan, bunga mawar menertawakan pohon cemara seraya berkata; "Meskipun anda tumbuh begitu tegap, tetapi anda tidak memiliki keharuman sehingga tidak dapat menarik kumbang dan lebah untuk mendekat." 

Pohon cemara diam saja. Demikianlah bunga mawar di mana-mana menyiarkan dan menggosipkan tampak buruk pohon cemara, sehingga membuat pohon cemara teresolir dan menyendiri di tengah hutan. 

Ketika musim dingin tiba dan salju pun turun begitu lebatnya, bunga mawar yang sombong merana menyesali nasibnya. Demikian pula dengan pohon dan bunga-bunga yang lain. Hanya pohon cemara yang masih tegak berdiri di tengah badai dingin yang menerpa bumi. 

Di tengah malam yang sunyi, pada kedinginan di bawah nol derajat,  ratu salju malam mendekati pohon cemara. Salju berkata: "Setiap tahun saya datang ke bumi ini, selalu melihat kemakmuran dan keramaian di bumi berubah wajah. Hanya gersang dan sunyi senyap yang menyelimuti bumi. Namun, kamulah satu-satunya yang dapat melewati ujian saya dan berdiri tegak hingga dapat menahan segala macam tekanan alam. Begitu pula alam kehidupan dan manusia selalu mengalami perubahan." 

Demikianlah obrolan menarik antara pohon cemara dan ratu salju yang terjadi di tengah malam pada musim dingin. Sedih dan gembira selalu datang silih berganti, hanya dengan keteguhan jiwa dan pikiran, kebahagiaan itu dapat diraihnya. Caci maki dan fitnah tidak dapat menjatuhkan orang yang kuat. 

Di dalam ungkapan Timur sering terdapat kata-kata: "Menengadah ke langit dan membuang ludah," dan "menabur debu dengan angin yang berlawanan." Ini semua mengisahkan kebodohan-kebodohan yang dilakukan seseorang dan pada akhirnya mencelakakan dirinya sendiri. Menghadapi fitnahan dan celaan, hendaknya seseorang berlapang dada bagaikan langit besar yang tak bertepi. 

Cuaca terang dan berawan selalu silih berganti. Belajar bagaikan cermin yang jernih dapat melihat keadaan sebenarnya. 

Bunga mawar hanya merasakan kepuasan dan kecongkakan sejenak, tetapi pohon cemara dapat menghadapi, menerima dan menahan diri dengan tenang dan sabar. 

Ini yang harus kita tiru dari perangai mulia pohon cemara yang tegar menahan serangan, langsung, didepan maupu dari belakang dan menjadikannya sesuatu yang sejuk, hangat dan damai.
Khasiat Herbal Pohon Cemara:
Hasil penelitian terbaru dari beberapa dokter senior melaporkan bahwa: Secara umum herbal buah cemara bermanfaat untuk menguatkan kecerdasan otak, memperlancar makanan di usus, menghilangkan penyakit kuning, menghaluskan kulit, meningkatkan selera makan, menghilangkan dahak, serta menyembuhkan penyakit lambat haid. Rebusan daun pohon sidr dapat membunuh cacing dalam perut, melancarkan BAB dan mencegah masuk angin.

1 komentar:

Salam!