Selasa, November 13, 2012

MENJADIKAN BUMI TEMPAT BERDIAM YANG IDEAL DENGAN GAYA GRAVITASI TERUKUR:

Serial Tafsir Alquran Lauhil Mahfudz (11)

(Memberkati Bumi II)
Bumi Sebagai Tempat Berdiam
By: Med Hatta
Bumi dan Manusia
Skala bumi dibandingkan dengan ukuran tubuh manusia amat terlampau berbeda jauh sekali, permukaan bumi skalanya mencapai 13000 KM, sedangkan durasinya (pada garis khatulistiwa) mencapai 38000 KM. Maka jika kita menyederhanakan skala bumi sekecil ukuran tubuh manusia, dan kita sederhanakan manusia dengan perbandingan yang sama, maka apa kira-kira yang akan terjadi?

Untuk lebih sederhananya, coba bayangkan diri anda sekarang sebagai bola bumi, maka bagaimana akan nampak manusia dihadapan anda jika ukurannya hanya sekitar 4.12 Millimikron saja, atau tidak akan nampak sama sekali walau dengan mempergunakan teleskop sebesar apapun. Sesungguhnya perbandingan ukuran ini telah menunjukkan kepada kita betapa lemahnya manusia di dalam alam semesta ini, dan ketidak mampuannya mengerjakan proyek yang sangat besar itu, yaitu menjadikan bumi sebagai tempat berdiam yang ideal. 

Dengan demikian nampka jelas keagungan makna firman Allah pada ayat kajian berikut: "atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam”; maka tiada seorang pun yang mampu kecuali penciptanya yang Maha Agung, dan benar firman Allah: “Dan manusia telah diciptakan dengan lemah” (QS. An-Nisa: 28).
Hakikat Gravitasi Bumi:
Allah berfirman:
أَمَّنْ جَعَلَ الأرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٦١)
Terjemah Arti:atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui” (QS. An-Naml: 61); 

Ayat ke-61 dari surah An-Naml ini sangat agung dalam kandungannya, ia turun mempertanyakan kepada segenap pembangkang yang mengingkari nikmat Allah: Siapakah yang menjadikan bumi sebagai tempat tinggal, yaitu tempat yang mereka huni?; siapakah yang menjadikan sungai-sungai itu; yang menjadikan gunung-gunung yang mengokohkannya; dan siapakah yang menjadikan pemisah antara dua laut....? 

Meskipun hakikat-hakikat itu belumlah dirasakan dan diungkapkan secara ilmiah waktu turunnya wahyu, namun Allah SWT telah memerintahkan kepada mereka untuk memikirkan apa yang tersirat dibelakangnya. Bangsa manusia telah mendiami bumi ini semenjak ribuan tahun lalu, sedangkan mereka tidak pernah merasakan gangguan yang berarti, atau mereka merasa tidak nyaman hidup di atas permukaan bumi, namun demikian mereka tidak bisa merasakan nikmat besar dan menghargai bumi itu sebagai tempat tinggal ideal yang telah membuatnya nyaman hidup di atasnya. 

Para pakar sains telah menegaskan bahwa bumi merupakan satu-satunya planet yang memiliki desain sangat ideal untuk hidup tenang di atas permukaannya, ukuran bumi, bloknya, jarak dari matahari, kecepatan edaran pada porosnya dan orbitnya mengelilingi matahari, sangat ideal untuk menjanjikan kehidupan.  Jika semua itu tidak ada keseimbangan, lebih besar sedikit atau lebih kecil sedikit, maka tidak akan menghancurkan semua kehidupan di atas permukaannya. 

Namun, semua itu bisa tercipta dan bumi menjadi tempat hunian yang ideal karena Allah SWT telah meletakkan padanya gaya gravitasi bumi, oleh karena itu planet bumi istimewa karena gaya gravitasinya yang terkontrol untuk melestarikan kehidupan yang layak, seandainya gravitasi bumi berkurang sedikit seperti di bulan, maka manusia akan beterbangan di atas udara, atau prekuensinya lebih besar sedikit seperti di planet mars, maka manusia akan melekat di bumi dan tidak akan mampu untuk bergerak. 

Bumi kita yang memiliki massa yang sangat terukur menghasilkan gaya gravitasi yang sangat memadai untuk menarik benda-benda di sekitarnya, termasuk makhluk hidup, dan benda-benda yang ada di bumi. Demikian sehingga kita bisa menetap hidup di atars permukaannya, seandainya kita berada di atas permukaan bulan misalnya, maka berat kita aka berkuran 1/6 dari berat kita di bumi. 

Seseorang yang mempunyai berat badan 90 Kg di bumi, akan menjadi 15 Kg saja di bulan. Gaya gravitasi ini juga menarik benda-benda yang ada di luar angkasa, seperti bulan, meteor, dan benda angkasa lainnya, termasuk satelit buatan manusia. 

Kita tidak akan merasakan nikmat gravitasi ini kecuali setelah kita berada di luar lingkup bumi, sebagaimana banyak dikeluhkan oleh banyak astronaut, para astronaut yang pernah pergi ke luar angkasa mereka umumnya mengeluhkan kehidupan tidak seimbang, atau hilangnya gaya tarik, atau tidak adanya kestabilan di atas bumi, berikut dapat dicatat beberapa keluhan mereka, antara lain: 
  1. Mereka menderita banyak penyakit, seperti mual dan darah melambung kebagian atas dalam tubuh bukan turun, dan dengan demikian terjadi pembengkakan wajah, sementara tulang kehilangan bagian dari kalsium. Dan karena itu, yang tinggal di ruang angkasa mendapatkan osteoporosis, bahkan kehilangan massa tulang per tahun, lebih dari 20 persen
  2. Efek dari ketidak stabilan dan tidak adanya gravitasi, maka sistem peredaran darah terganggu dan membentuk sejenis batu-batu dalam ginjal, akan berdampak pada atrofi otot, dan kontraksi usus melambat sehingga menghambat pencernaan makanan. Tekanan darah akan menjadi meningkat, dan lambat laun akan mengganggu ke organ hati, menyebabkan pengaruh dalam fungsi jantung, gangguan-gangguan itu akan berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan setelah kembali ke bumi;
  3. Irama natural tubuh akan bervariasi karena tidak mengalami terbit matahari dan terbenamnya, maka kegelapanlah yang menyelimuti segala sesuatu di ruang angkasa, dan karena itu akan beraneka ragam siklus tubuh dan tidak lagi mampu untuk melakukan sesuatu. Sebagaimana inar kosmik yang mematikan itu akan mempengaruhi dan menyebabkan cedera pada sistem saraf, telah terinfeksi dengan tumor ganas sebagai akibat dari radiasi ini;
  4. Bagi orang yang kehilangan dari gravitasi dan hidup di luar angkasa akan merasa menderita karena kurang tidur, dikarenakan tidak memiliki gravitasi yang membuat kepalanya rileks di tempat tidur saat tidur, ia merasa sedang berenang dalam air, dan karena itu tidak bisa tidur kecuali setelah susah payah. Ini akan melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan ini bisa menjadi virus untuk mengendalikan tubuhnya dan berpotensi untuk mendapatkan penyakit tertentu termasuk kanker;
  5. Masih banyak gangguan akan terjadi pada hati karena akan bekerja lebih keras, oleh karena itu gravitasi bumi membantu jantung untuk memompa darah, dan tidak adanya gravitasi maka hati akan bekerja lebih keras yang akan melemahkan jantung. Bahkan Dr William Evans dari NASA mengatakan bahwa keluar dari bumi adalah mimpi buruk medis” di mana obat-obatan tidak dapat menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh gravitasi nol.
Dengan demikian orang yang hidup di luar angkasa jauh dari gravitasi bumi, dia akan mengalami gangguan buang air karena cairannya tetap tergantung, menempel pada tubuhnya dan tidak turun kebagian bawah, selanjutnya akan mudah terserang oleh berbagai penyakit. Dan para peneliti menegaskan bahwa hidup di ruang angkasa dianggap mati secara batin, maka yang dirasakan oleh para astronaut ketika kembali ke bumi, mereka merasa telah pulang ke rumahnya. 

Oleh karena itu Allah SWT mengutarakan perasaan nyaman ini ketika menyifati bumi seperti ayunan (tempat tidur bayi) yang rileks bagi manusia dan merasa tenang, sebagaiman pada penjelasan di bawah ini... (BERSAMBUNG)...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!