Selasa, September 14, 2021

SEJARAH KELAHIRAN KOTA MAKKAH MODERN :

*Mukjizat Dimensi Geografi AlQuran (04)

Kota Makkah Modern Dibangun Oleh Nabi Ibrahim

By: Med Hatta 

"Kata Ibnu Abi Hatim: "Nabi Adam as pertama kali diturunkan di Bumi tiba di Bukit Shafa dan Hawa di Bukit Marwah, Makkah." Meskipun ada juga yang mengatakan bahwa Adam diturunkan di daerah Serendib (Srilanka: sekarang), dan Hawa turun di Jeddah. Lalu keduanya bertemu di Bukit Arafah dekat Makkah. Dimana pun pertama kali keduanya diturunkan di bumi, tapi - pada akhirnya - mereka memulai merajut kehidupan keluarga di Makkah. Karenanya, Makkah disebut tanah tua dan pemukiman manusia pertama di bumi. Adam diperkirakan menghuni Makkah sekitar tahun 5800 SM. Makkah pada awalnya adalah pemukiman kecil yang kering dan dikelilingi dengan pegunungan batu dari berbagai sisinya. Lalu, tanah tua itu kosong dari pemukiman manusia selama ribuan tahun, semenjak terjadi topan besar pada masa nabi Nuh as. Kemudian Makkah dibangun kembali oleh nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail as, sekitar awal milenium ke 2 SM. Ayat kajian berikut bercerita tentang sejarah pembangunan kota Makkah Modern...!"

* Baca; Versi Seluler

Allah berfirman :

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Terjemah Arti: "Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37).

Disebutkan bahwa setelah terjadi azab topan yang memusnahkan orang-orang kafir dari umat nabi Nuh as (3900 – 2900 SM), Makkah menjadi kota mati, tidak dihuni oleh manusia selama berabad-abad. Hingga dibuka kembali pemukiman baru oleh nabi Ibrahim as (1861 – 1686 SM). Semua literatur dalam Islam menjelaskan bahwa nabi Ibrahim sebelumnya adalah berdiam pada sebuah lembah di negeri Syam, namun setelah berusia senja ia dikeruniakan oleh Allah seorang putra diberi nama Ismail dari istri keduanya Hajar. 


Lalu, Allah SWT memerintahkan Ibrahim membawa putranya Ismail besama ibunya Hajar ke tanah haram Allah, daratan pertama di bumi, Makkah. Dan malaikat Jibril turun membawa kendaraan cepat untuk mengantar mereka. Sepenjang perjalanan adalah Ibrahim setiap melewati suatu tempat yang subur ditumbuhi oleh pohon, kurma dan tumbuh-tumbuhan, ia selalu meminta kepada Jibril untuk diberhentikan, tetapi Jibril selalu menjawab teruskan lagi, sehingga sampai ke Makkah dan Jibril menurunkan mereka di posisi Ka'bah, di bawah sebuah pohon yang cukup melindungi Hajar dan Ismail anaknya dari terik matahari. 

Setelah Ibrahim pamit mau kembali lagi ke negeri Syam, Hajar pun bertanya kepadanya - dengan nada protes - mengatakan: Mengapa engkau menempatkan kami di mari yang sunyi dari manusia, tiada air dan tiada tumbuh-tumbuhan? Ibrahim menjawab: Sesungguhnya Allah yang memerintahkan-ku menempatkan kalian di mari." Dan nabi Ibrahim berdo'an, sebagaimana pada ayat kajian, Allah berfirman : 

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ 

Terjemah Arti: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." 


Tidak lama setelah Ibrahim berlalu, dan ketika matahari mulai menanjak naik, bayi Ismail-pun mulai menangis kehausan maka Hajar panik mencari air. Ia pertama naik ke bukit Shafa tapi tidak menemukan air, dan pergi ke bukit Marwah, di sanapun tidak menemukan air. Dengan perasaan panik dan sedikit putus asa sehingga ia tidak terasa telah tujuh kali berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah, tapi ia tetap tidak menemukan air di antara dua tempat tersebut.  

Pada akhirnya dari bukit Marwah Hajar menengok ke arah bayinya Ismail yang tiba-tiba berhenti menangis, dan iapuan - terperanjat - melihat air mengalir dari bawah kaki bayi Ismail, maka Hajar dengan penuh perasaan girang berlari menuju ke tempat bayinya dan berusaha menggali pasir membendung air tersebut sambil berucap “zam-zam” (menampung), maka mata air tersebut disebut kemudian dengan sumur “Zam-zam”. 

Kemudian berselang beberapa saat selanjutnya, lewatlah kabilah Jurhum disekitar tempat itu, ketika berada di bukit Arafah mereka melihat kerumunan burung-burung beterbangan di atas udara, maka mereka pun bergegas mendekati tempat kerumunan burung-burung tersebut karena mereka meyakini bahwa di sana pasti ada sumber air. 

Maka sampailah mereka di tempat mata air zam-zam dan mereka terkesima melihat ada seorang wanita bersama bayinya duduk di bawah pohon tepat di dekat sumber air itu. Maka kepala suku Jurhum bertanya kepada Hajar: Siapakah anda dan siapakah bayi itu? Hajar menjawab: Saya adalah ibu dari bayi ini, ia anak kandung dari Ibrahim Khalillah yang diperintahkan oleh Tuhannya menempatkan kami di wadi ini. 

Kepala suku bangsa Jurhum memohon izin tinggal bersama mereka di sisi zam-zam, dan tidak lama kemudian Makkah sudah berubah menjadi pemukiman ramai oleh bangsa Jurhum. Selanjutnya, nabi Ismail tumbuh dewasa bersama orang-orang Jurhum dan menikah dengan salah seorang gadis bangsa Jurhum. Maka ketika nabi Ibrahim datang kembali mengunjungi Makkah, negeri itu sudah menjadi kota besar, dan pada saat itulah Allah SWT memerintahkan kepada nabi-Nya, Ibrahim as untuk membangun kembali Ka'bah di tempatnya semula, setelah ditunjukkannya melalui Jibril. Allah berfirman : 

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَٰهِيمَ مَكَانَ ٱلْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِى شَيْـًٔا وَطَهِّرْ بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْقَآئِمِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

Terjemah Arti: "Dan (ingatlah), ketika Kami tunjukkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), "Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud." (QS. Al-Hajj: 26). 


Setelah selesai pembangunan Ka'bah, Allah memerintahkan Khalil-Nya Ibrahim agar menyerukan manusia untuk menunaikan ibadah haji di kota Makkah, Allah berfirman : 

وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Terjemah Arti: "Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh," (QS. Al-Hajj: 27).

Maka nabi Ibrahim dan putranya Ismail menunaikan haji pada tahun itu, dan malaikat Jibril ikut haji bersama mereka sambil mengajarkan kepada mereka manasik haji-nya. Sehingga dari semenjak itu orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru dunia di kota suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji, dan berlangsung hingga saat ini. 

Selama periode-periode awal itu, kota Makkah dipimpin oleh nabi Ismal, dan setelahnya oleh putranya, Nabet bin Ismail bin Ibrahim. Kemudian, kekuasaan terhadap kota Makkah diambil alih oleh bangsa Jurhan dan diperintah bangsa "penumpang" ini selama 300 tahun. Lalu, diambil kembali kekuasaan kota Makkah oleh cucu-cucu Ismail serta dikembangkannya kota Makkah hingga memasuki benteng Ma'rib di Yaman. 

Pada saat itu muncul tokoh 'Amr bin Luhay Al-Khuzza'i melakukan pemberontakan dengan meminta bantuan bangsa Jurhum dan mengambil alih kekuasaan Kota Makkah. Maka Amr bin Luhay inilah yang merubah tradisi ajaran tauhid yang telah diajarkan oleh nabi Ibrahim dan nabi Ismail di bumi Makkah, ia memaksa masyarakat menyembah berhala, maka dari saat itu Baitullah Ka'bah dikotori dengan berhala-berhala disekelingnya. Amr bin Luhay dan keturunannya memerintah kota Makkah selama 300 tahun. 


Menurut para sejarahwan bahwa, sesungguhnya perkembangan pesat kota Makkah dari segi politik, ekonomi dan pertumbuhan pembangunan, dimulai sejak pemerintahan Qusay bin Kilab (kakek ke 4 nabi Muhammad SAW). Qusay bin Kilab memimpin kota Makkah sekitar akhir abad ke 4 M; ia memulai mengorganisi semua klan yang ada dalam bangsa Quraisy dalam satu majelis permusyawaratan besar bangsa Quraisy, yang dikenal sebagai "Dar An-Nadwah." 

Menjelang wafatnya, Qusay bin Kilab mendelegasikan urusan pemerintahannya kepada keempat putranya, urusan Masjid Haram dan bagian administrasi pemerintahan diserahkan kepada putra tertuanya Abdu Manaf bin Qusay (kakek ke 3 nabi). Setelah Abdu Manaf bin Qusay wafat maka kekuasaan bangsa Quraisy berpindah ke putranya Hasyim bin Abdu Manaf, lalu diwariskan ke putranya Abdul Mutthalib bin Hasyim (kakek kandung nabi). 

Maka, ialah yang terakhir ini yang menggali kembali sumur Zam-Zam setelah ditimbun selama sekitar 300 tahun - sebelumnya - oleh bangsa Jurhum. Pada masa pemerintahan Abdul Mutthalib bin Hasyim (juga) terjadi tragedi penyerangan terhadap Ka'bah oleh raja Abrahah dari Yaman dengan tentara gajahnya, untuk meruntuhkan Ka'bah, agar peziarah tradisional Ka'bah beralih mendatangi gereja Calis yang dibangunnya di Yaman, setidaknya itulah harapan Abrahah dengan menghancurkan Ka'bah. 

Selain rencananya ingin meruntuhkan Ka'bah, Abrahah dan tentara-tentaranya juga merampas ratusan unta milik penduduk, maka Abdul Mutthalib bin Hasyim mendatangi raja Abrahah di perbatasan kota Makkah, ia meminta Abrahah mengembalikan unta miliknya sebanyak 100 ekor yang dirampas itu, lalu Abrahah bertanya (heran), mengatakan: Mengapa kamu hanya meminta kepada saya mengembalikan 100 unta saja, dan tidak meminta saya untuk menghentikan serangan gajah-gajah saya ke Ka'bah kalian...?! 

Maka Abdul Mutthalib bin Hasyim menjawab dengan ungkapannya yang populer, mengatakan : 

إن للكعبة ربا يحميه فأما الناقة فأنا مالكها

Artinya: "Sesungguhnya bagi Ka'bah ada pemilik-Nya (Allah) yang melindunginya, sedangkan unta-unta itu akulah pemiliknya."

Ajaibnya, setelah tentara Abrahah tiba di hadapan Ka'bah, gajah-gajah yang telah mereka persiapkan untuk mendobrak Ka'bah tidak ada mau bergerak satupun untuk mendekati Ka'bah. Dan, pada saat-saat kritis itulah Allah mengutus burung-burung "ababil" menghujani mereka dengan kerikil-kerikil panas dari neraka, sehingga tentara-tentara Abrahah hancur seperti daun-daun kering yang habis dimakan hama (Lihat: Surah Al-Fil). 

Oleh para sejarahwan mencatat peristiwa itu dengan menyebut sebagai "Tahun Gajah",  serta bertepatan dengan peristiwa itu pula menandai kelahiran penghulu umat manusia, nabi dan rasul penutup untuk semesta alam, nabi besar Muhammad SAW. Wallahul Musta'an !


Kajian Berhubungan : 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!