Selasa, Maret 12, 2013

SIRAH NABAWIYAH VII (PENOLAKAN KAUM MUSYRIK QURAISY):

Materi Sirah Nabawiyah (07)
Untuk Mahasiswa Semester II (2012-2013)
Dakwah Islam Face To Face Dengan Kaum Musyrik Quraisy
Dosen: Med HATTA

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبعد!


Reaksi Bangsa Quraisy Terhadap Da’wah:
Adalah reaksi kaum Quraisy terhadap dakwah Islam pada mulanya hanyalah sebatas bualan dan ejek-ejekan saja, maka apabila Muhammad lewat dihadapan mereka atau melihat dia melaksanakan shalat di Ka’bah mereka meledek sambil mengerdip-ngerdipkan matanya, mentertawakan, dan mengolok-olokknya tapi tidak sampai menyakitinya secara fisik.


Mereka para komunitas Makkah memandang dakwah Muhammad tidak ada bedanya dengan dakwah-dakwah “jempolan” sebelumnya seperti dakwah “Umayyah bin Abusshalt”, dan “Qish bin Sa’idah”, yang hanya akan berlalu saja dan setelah menghilang dengan sendirinya. Mereka tidak mempermasalahkannya selama itu tidak menyentuh tuhan-tuhan (kepercayaan) mereka.

Namun, kenyataan bahwa pengikut-pengikut Muhammad SAW dari hari ke hari semakin meningkat, dan ditambah lagi setelah turun ayat-ayat yang melecehkan berhala-berhala (tuhan-tuhan Quraisy); merendahkan Quraisy bahwa mereka menyembah tuhan-tuhan yang tidak dapat melihat dan mendengar, tidak bisa memberikan manfaat dan mendatangkan mudharat. Serta mencela pola pikir mereka yang tidak bisa membedakan kebenaran dan kesesatan, serta kegelapan dan cahaya...

Maka semenjak dari itulah mereka mulai menyakiti Muhammad SAW dan pengikut-pengikutnya dari orang-orang yang sudah memeluk Islam, dan mereka bersepakat di antara sesama Quraisy agar selalu mengganggu orang-orang Islam agar meninggalkan agama mereka, lalu Abu Thalib bertindak mengawal ketat Muhammad dari gangguan kaum Quraisy.

Orang-orang Quraisy mulai resah karena tidak akan bisa menyentuh Muhammad SAW selama ia selalu dalam pengawasan Abu Thalib, Muhammad mendapatkan perlindungan yang sangat ketat oleh pamannya. Oleh karena itu mereka bersepakat untuk membicarakan perihal Muhammad, maka diutuslah delegasi khusus dari para bangsawan Quraisy untuk berembuk bersama Abu Thalib agar dia bisa membujuk Muhammad menghentikan dakwahnya dan berhenti mencela tuhan-tuhan dan mengumpat agama mereka, serta mencela moyang mereka. Atau Abu Thalib membiarkan saja Muhammad (tidak melindunginya) agar mereka leluasa memperlakukannya sesuai kemauan mereka.

Maka Abu Thalib menanggapi mereka dengan sangat diplomatis,,, Akan tetapi setelah pertemuan itu orang-orang Quraisy menganggap tidak menguntungkan dipihaknya sama sekali, karena Muhammad masih saja bebas berkeliaran, mengumpat tuhan-tuhan mereka dan mencela moyang mereka ,sedangkan Abu Thalib masih saja terus melindunginnya bahkan semakin diketatkan pengawalannya.

Maka delegasi pemuka Quraisy kembali lagi kedua kalinya menemui Abu Thalib, dan menegaskannya bahwa mereka sudah tidak bisa bersabar lagi membiarkan Muhammad mencaci maki moyang mereka dan menghina tuhan-tuhan (agama) mereka, lalu mereka memberikan dua solusi alternatif kepada Abu Thali: Pertama, agar melarang aktifitas dakwah keponakannya (Muhammad); atau pilihan kedua, mengumumkan perang terbuka antar keluarga hingga salah satu kelompok di antara mereka ada yang hancur lebur.

Mendengarkan itu Abu Thalib langsung merinding, ia diperhadapkan antara dua pilihan yang semuanya tidak ada yang menguntungkan, yaitu membiarkan keponakannya Muhammad diperlakukan semena-mena oleh bangsa Quraisy, atau menyetujui ajakan perang yang tidak dapat dipradiksi akibat yang akan ditimbulkan dan ujung pangkalnya.

Oleh karena itu Abu Thalib memanggil Muhammad dan menyampaikan hasil pertemuannya bersama pemuka-pemuka Quraisy, lalu mengatakan kepada Muhammad: “Pertimbagkanlah baik-baik dan janganlah memposisikan driku kepada sesuatu yang tidak sanggup ku-lakukan”. Rasulullah menyangka bahwa pamannya telah melepaskannya dan tidak sanggup melindunginya lagi, maka ia menjawab pamannya:
والله يا عم لو وضعوا الشمس فى يمينى والقمر فى يسارى على ان اترك هذه الامر حتى يظهره الله أو اهلك فيه ما تركته،
“Demi Allah, wahai pamanda, meskipun mereka meletakkan matahari ditangan kanan-ku, dan bulan ditangan kiri-ku, agar aku menghentikan urusan (dakwah) ini, niscaya aku tidak akan menghentikannya hingga ditampakkan (hakikatnya) oleh Allah atau aku celaka karenanya”,
Lalu rasulullah SAW menghambur keluar sambil menangis, maka Abu Thalib pun memanggilnya dan berkata: “Lantutkan wahai keponakanku, dan sampaikanlah apa yang menjadi kewajibanmu, maka demi Allah aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu yang buruk kepadamu”.

Nampaknya bangsa Quraisy tidak mau kehabisan akal, mereka mencoba lagi cara lain yang menurut mereka bisa melunakkan hati Abu Thalib, maka mereka pun memilih seorang pemuda Quraisy yang paling gagah, rupawan, dan yang paling jenius di antara mereka, yaitu “Ammara bin al-Walid”, mereka datang menawarkan pemuda tersebut ke Abu Thalib agar dijadikannya anak, imbalannya adalah agar Abu Thalib menyerahkan Muhammad untuk mereka bunuh, maka Abu Talib – geram – menjawab: “Sungguh buruk sekali sangkaan kalian terhadap saya, apakah denga cara ini kalian ingin memberikan anak itu untuk saya beri dia makan yang enak-enak, lalu kalian meminta saya menyerahkan anak saya untuk kalian bunuh?, demi Allah, hal itu tidak akan terjadi selamanya”..... 



Ketika Quraisy sudah mentok, tidak ada cara lain lagi bagi mereka untuk menghentikan dakwah Muhammad, mereka pun menempuh cara-cara licik, yaitu menteror orang-orang yang sudah masuk Islam dengan memperlakukan kepada mereka berbagai bentuk penyiksaan, menyiram kepala mereka dengan air kotor. Dan setelah Abu Thalib menyaksikan pemandangan yang tidak mengenakan seperti ini, iapun mengumpulkan semua keturunan Bani Hasyim dan Banil Muttalib untuk sama-sama membuat pengawalan ekstra ketat terhadap rasulullah SAW untuk melindunganyi dari gangguan-gangguan Quraisy, dan membantunya menghadapi bangsa Quraisy, maka semuanya (muslim dan kafir) bersedia melakukan pengawalan tersebut kecuali Abu Lahab saja yang menolaknya mentah-mentah karena kesesatannya yang sudah mendalam.



Belum saja berhenti Quraisy ingin menghalangi dakwah Muhammad, kali ini mereka mencoba uslub baru, tidak melalui Abu Thalib lagi tapi mereka menfokuskan kepada rasulullah SAW, sebagai penanggung jawab dakwah langsung. Yaitu mempergunakan uslub licik dengan mengiming-imingi harta dan kedudukan, maka mereka mengutus diplomat ulungnya yaitu Utbah bin Rabi’ah.


Diplomat Utbah memulai bujukannya kepada rasulullah SAW: “Jika kamu (Muhammad) hanya menginginkan kekayaan saja dari urusanmu ini maka kami akan mengumpulkan semua kekayaan kami untukmu sehingga kamu menjadi orang yang terkaya di antara kami; jika kamu menginginkan kehormatan dengannya maka kami semua akan tunduk kepadamu sehingga kami tidak mengambil keputusan apapun selain persetujuanmu; jika kami mengininkan kekuasaan maka kami akan menjadikanmu raja kepada kami; dan jika kamu ini telah kemasukan sesuatu maka kami akan mendatangkan kepadamu seorang tabib dan mengeluarkan semua kekayaan kami untuk menyembuhkanmu”.

Maka setelah Utbah mengakhiri kalimatnya, rasulullah pun memintanya untuk mendengarkan darinya beberapa ayat dari firman Allah:


حم (١) تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٢) كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (٣)

Artinya: “Haa Miim; diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang; kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS: 041: 1-3).

Ketika Utbah mendengarkan ayat-ayat itu dibacakan oleh rasulullah SAW, ia terdiam saja mendengarkannya hingga rasulullah SAW sampai kepada ayat sujud dan rasulullah SAW bersujud. Dan bersabda: “Apakah kamu mendengarkannya wahai Abul Walid?”, ia menjawab: Ya aku telah mendengarkannya, lalu berkata: Demikian itukah kamu (Muhammad).



Kemudian Utbah pulang kepada Quraisy dengan bungkam seribu bahasa, lalu yang lain saling berkomentar: Abul Walid datang dengan membawa muka tidak seperti waktu dia pergi, lalu mereka mengintrogasinya, katakan apa yang telah terjadi kepadamu? Maka ia mengatakan: “Dia (Muhammad) telah memperdengarkan kepadaku suatu perkataan yang belum pernah aku mendengarkan sebelumnya; ia bukan penyair; bukan seorang dukun; dan bukan penyihir”.


Utbah menyarankan kepada mereka agar tidak mengganggu Muhammad, jika bangsa Arab membunuhnya maka sungguh telah sangat biadab, jika membiarkan dan mengikutinya maka meraka akan menjadi bangsa yang paling berbahagia dengannya, dia akan menjadikan bangsa Arab berkuasa di negerinya sendiri dan membuatnya bangga dengan kemuliannya. Orang-orang Quraisy menuduh Utbah: Demi Allah, sungguh Muhammad telah menyihirmu wahai Abal Walid. Lalu Utbah menjelaskan: Ini adalah pandagan pribadi saya, maka kalian lakukanlah apa yang kalian amggap baik.

Bangsa Quraisy tidak berhasil membujuk rasulullah SAW dengan iming-iming harta dan kekuasaan, sedangkan dakwahnya semakin tersiar dan menyebar, oleh karena itu mereka mempergunakan metode lain dengan meminta mukjizat kepadanya agar mereka mempercayainya. Pada suatu hari mereka berkumpul disekitar Ka’bah dan mengundang nabi Muhammad lalu memintanya agar dia memohon kepada Tuhan-nya supaya meratakan gunung-gunung yang buat sempit kota Makkah; mengalirkan sungai-sungai di atasnya seperti sungai-sungai di Syam dan Iraq; dan meminta agar dihidupkan kembali nenek moyang mereka di antaranya Qushai bin Kilab sehingga mereka bisa menanyainya apakah ajaran yang dibawanya (Muhammad) benar atau batil.

Jika Tuhan-nya Muhammad mengabulkan semua permintaan itu, mereka akan mempercayainya dan mengakuinya sebagai rasul Allah yang diutus kepada mereka. ,,,(BERSAMBUNG | KLIK DI SINI).
Materi Sebelumnya:
  1. Kebutuhan Manusia Terhadap Agama
  2. Pengantar Sirah Nabawiyah
  3. Sirah Nabawiyah II (Periode Makkah I) 
  4. Sirah Nabawiyah III (Karir Nabi Muhammad SAW)  
  5. Sirah Nabawiyah IV (Menikah dengan Khadijah)  
  6. Sirah Nabawiyah V (Periode Makkah II)  
  7. Sirah nabawiyah VI (Dakwah Islam di Mulai) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!