Kamis, Januari 30, 2020

ALHAKIM TIRMIZI WALI PENUTUP?


PENUTUP PARA WALI
By: My Buku Kuning Centre

PADA abad ke-3 Hijriah dunia Tasuwuf dihebohkan sebuah dogma baru yang tidak dikenal sebelumnya, yaitu paham “Penutup Para Wali” atau Wali Penutup (Bahasa Arab: Khatmul Auliya). Penganut Paham ini meyakini bahwa wali-wali yang ditugaskan oleh Allah SWT mengemban amanah ke-wali-an (Auliyaullah) di bumi memiliki periode waktu ditutup atau berakhir, sebagaimana periode kenabian ditutup dengan kedatangan nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul (خاتم الأنبياء والمرسلين) yang diutus oleh Allah SWT kepada umat manusia.



Sufi yang pertama kali memperkenalkan paham wali penutup adalah Abu Abdellah Muhammad bin Ali bin Hasan bin Basyar atau populer dengan panggilan Alhakim Tirmizi. Tokoh sufi ini lahir di kota Tirmiz daerah pesisir Sungai Jihun Uzbekistan, tahun 205 H/ 835 M. Pada masa belia ia sudah menekuni ilmu riwayat dan logika, namun karena bapaknya seorang pakar hadits dan ilmu riwayat hadits sehingga banyak mempengaruhi perkembangan keilmuannya. Ketika berusia 27 tahun ia menfokuskan diri menghafal Alquran dan mentadabburi kandungannya sehingga dikenal luas oleh masyarakat Tirmiz sebagai seorang ulama yang memiliki ilmu yang mendalam.

Sejalan dengan kepopulerannya tersebut ia bergabung dengan ahli tasawuf, sehingga ia menceburkan dirinya sedalam-dalamnya ke alam suluk, riyadhah, dan almuhasabah, maka semenjak dari itu tiada lagi tema yang keluar dari pengajian dan dialog-dialognya kecuali membicarakan tentang pengalaman-pengalaman pribadinya di dalam bertasawuf. Bahkan ia sudah terang-terangan menentang dan menyalahkan ulama-ulama besar zamnnya dalam berbagai persoalan agama. Itulah yang menyebabkan kemudian ia "dipersekusi" habis-habisan oleh kelompok-kelompok ulama hadits, fiqhi, dan bahkan oleh sebagian pelaku tasawuf sendiri. Ia dituduh sebagai pembuat hoaks, ahli bid’ah, dan paling parah ia dituduh mengakui dirinya sebagai nabi.

Namun, kata pakar sejarah penyebab utama persekusi ulama Tirmiz terhadap Alhakim Tirmizi adalah pengakuan atas dirinya sebagai penutup para wali dan menulis kitab (ختم الأولياء) yang merisaukan ulama-ulama zamannya, sehingga ia diusir keluar dari kampung halamannya Tirmiz. Alhakim Tirmizi menjelaskan di dalam kitabnya: “Wali yang dianugerahkan pangkat pemimpin kewalian dan penutup para wali itu, cirinya adalah bahwa ia hidup tidak jauh dari periode kenabian, bahkan hampir sezaman dengan mereka. Kedudukannya berada pada puncak kewalian, ia hanya sendiri pada kepemimpinannya, bekerja memperjuangkan singgasana kewalian, dan kehidupannya bersumber dari usahanya sendiri…

Akibat dari pengusiran dirinya itulah Alhakim Tirmizi bertualang keberbagai kota dan negara, ia meninggalkan Termez di Uzbekistan menuju kota Balakh di wilayah Afganistan, selanjutnya menuju Iraq, Syiria, Madinah Munawwarah, Makkah Mukarramah, Naisabur. Dan menjelang akhir hayatnya Alhakim Tirmizi kembali ke kampung halamannya Tirmiz serta meninggal disana tahun 320 H/ 932 M.

LIHAT:
·         Abdelfattah Barakah, A’lamul Fikril Islami, Ed. I, Egypt Tahun 2004, Hal. 290-293.
·         Khairuddin Azzarkali, Al A’laam, Ed. 15, Bairut, Tahun 2002, Juz 8, Hal. 272.




Menarik perhatian sejarahwan, bahwa ternyata paham wali penutup tidak berhenti pada masa Alhakim Tirmizi saja, beberapa abad setelahnya muncul beberapa tokoh sufi baru yang juga mengklaim dirinya sebagai penutup para wali, dan diantaranya yang bisa Penulis sebutkan disini adalah: Filosof besar dan syeikh sufi agung Assyaikhul akbar Muhyiddin Ibn Arabi (Abad 7 H); Syeik Ahmad Tijani Fesi (pertengahan awal abad 13 H); dan Muhammad Utsman Almerghani Sudani (pertengahan akhir abad 13 H):


Syeikh Akbar Ibn Arabi (558 - 638 H):
Muhyiddin Mohamed bin Ali bin Mohamed bin Arabi al-Hatami at-Thaai al-Andalusi, seorang tokoh sufi besar bergelar “Syeikh Akbar”. Lahir di Marseille/Murcia – Andalusia (Spanyol: sekarang) pada bulan Ramadhan tahun 558 H/ 1164 M, atau dua tahun sebelum meninggalnya Syaikh Abdelqader al-Jailani. Meninggal di Damascus – Syria tahun 638 H/ 1240 M, dan dimakamkan di lereng Bukit Qasioun.

Tokoh sufi besar ini amat populer sekali sehingga tidak asing di dunia intelektual, terutama dibidang studi pemikiran tasawuf Islam. Penulis tidak ingin menguraikan CV-nya lebih rinci lagi di sini, kecuali bahwa Ibn Arabi adalah salah seorang sufi yang mengklaim dirinya sebagai seorang penutup para wali. Di dalam kitabnya Al Futuhatul Makkiyah ia menjelaskan: “Adapun penutup para wali itu adalah seorang yang berkebangsaan Arab, bahkan seorang Arab yang paling mulia dari sisi nasab dan karakter. Sosok itu sudah ada di masa kita sekarang ini (mengisyaratkan pada dirinya), aku mulai mengetahuinya ketika masih di kota Fes (Maroko) tahun 575 H…” (Al Futuhat Juz 2, Hal. 45).



Pada bagian lain dari kitabnya Al Futuhat ia juga menjelaskan bahwa: “Wali penutup itu hanya satu orang saja sepanjang masa, bahkan satu-satunya yang ada di dunia yang dijadikan oleh Allah sebagai penutup para wali dari umat nabi penutup, serta tidak ada seorang wali-pun dari umat nabi Muhammad yang lebih agung dari dia…” (Al Futuhat Juz 2, Hal. 9).




Syaikh Ahmad Tijani Al Fasi (1150 - 1230 H):
Sidi Abul Abbas Ahmed bin Mohamed bin Al Mokhtar bin Ahmed bin Mohamed bin Salim bin Al lid bin Salim bin Ahmed bin Ahmed bin Ali bin Abdellah bin Al Abbas bin Abdel Jabbar bin Idris bin Ishaq
bin All Zainal Abidin bin Ahmed bin Mohamed bin Hasan Al Mutsanna bin Al Hasan Assebti bin Ali bin Abu Thâlib dan Fathimah Az-Zahra putri Rasulullah SAW.

Syeikh Ahmed Tijani lahir pada 1150 H/ 1735 M di Ain Madi, Ketika berusia enam belas tahun ia kehilangan kedua orang tuanya akibat wabah. Ia belajar Alquran di bawah pengawasan Mohamed Ba'afiyya di Ain Madi dan juga mempelajari ilmu-ilmu syariah khususnya Fiqhi Mazhab Imam Malik. Pada usia muda Ahmed Tijani meninggalkan desanya menuju kota Fes Maroko yang banyak dikunjungi ulama-ulama besar pada zamannya, dan disanalah berkenalan dengan tiga tarekat sufi besar dunia, Qadiriyah, Nasiriyyah, dan tarekat Ahmad al-Habib bin Mohamed. Dan di kota Fez ini pulalah ia pertama kali mendapatkan bisikan ghaib yang mengatakan padanya bahwa ia akan mencapai tingkat kewalian yang tinggi. 




Setelah berpetualangan panjang menuntut ilmu keberbagai negara Islam dan menunaikan haji di kota suci Makkah, Syeikh Ahmad Tijani kembali ke kampung kelahirannya memulai mendirikan tarekatnya yang kemudian dikenal dengan Tarekat ATTIJANIYA. Tarekat ini mulai berkembang dan mendapatkan pengikut di daerah Bousamghoun di wilayah Baidh - Al Jazair. Kemudian pindah ke Fez membangun Zawiyah tempat mengajarkan tarekat, Zawiyah Tijaniyah merupakan salah satu Zawiyah yang mempunyai pengaruh kuat di dunia, dan memiliki pengikut di banyak negara-negara Islam. Seperti Sudan; Sahara Selatan, yang mengembangkan selanjutnya ke Utara Afrika, membentang dari Maroko ke Senegal hingga Mesir. Pengikut Tarekat ini memproklamirkan dirinya sebagai ATTIJANIYA.

Dalam paham wali penutup yang berkembang jauh sebelum Tarekat Attijaniya, Syeikh Ahmed Tijani menantang dan mengingkari semua pengakuan sebagai wali-wali penutup sebelumnya. Jika Alhakim Tirmizi pencetus paham wali penutup di abad ke-3 hijriah, kemudian Ibn Arabi mengaku juga sebagai wali penutup pada abad ke-7 hijriyah, maka Syeikh Ahmed Tijani yang dating pada abad ke-13 hijriyah menghapus semua itu, tidak mengajuinya, bahkan menganggap pengakuan batil. Sebaliknya Ahmed Tijani menobatkan dirinya sebagai penutup para wali yang asli dan autentik satu-satunya yang diamanahkan oleh Allah, serta telah diberitahukan padanya oleh nabi Muhammad SAW dalam alam sadar.

Kata seorang pengikut Attijaniyah, Syeikh Sidi Alhajj Omar Futi Senegali, dalam kitabnya (Arrimah): “Adalah Syeikh kita Ahmed Tijani yang lahir tahun 1150, telah dititahkan oleh nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar, bukan mimpi dalam tidur, untuk mengajarkan pendidikan akhlah secara umum dan mutlak, itu terjadi pada dirinya tahun 1196 H. Saya telah mendengar dari Sidi Mohamed Al Ghali (Lanjut Omar Futi), bahwa Syeikh kita hidup dan berada pada level penutup dan ini bahwa pengakuan sebagai wali penutup sebelumnya itu tidak benar hanya berdasarkan klaim sepihak..


Syeikh Al Khatam Muhammad Utsman Al Mirghani (1208 H/ 1883 M):
Nama lengkapnya Muhammad Usman bin Muhammad Abu Bakar bin Abdullah Al Mirghani yang populer dengan sebutan Al Khatam, dia digelari demikian sebagai isyarat bahwa dia adalah khatam atau penutup para wali, dan dari sini pula nama tarekat Al Khatamiyah diambil. Tarekat ini juga dinamai dengan Mirghaniyah nisbat kepada kakek pendirinya yaitu Abdullah Al Mirghani.

Syeikh Al Khatam lahir di Makkah tahun 1208 H/ 1883 M, dia belajar ilmu-ilmu syar'i kepada ulama-ulamanya, tetapi karena lingkungan keluarga yang memiliki kecenderungan kepada tasawuf maka dia terpengaruh dan cenderung kepadanya, Syeikh Al Khatam pernah mengikuti beberapa terekat: Qadiriyah, Junaidiyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah dan tarekat kakeknya Mirghaniyah. Ia juga berguru pada Syaikh Ahmad bin Idris dan mengambil ajaran-ajaran terekat Idrisiyah. Dari semua tarekat inilah dia membangun tarekatnya Khatamiyah.

Suatu ketika Syeikh Al Khatam diutus oleh Syaikh Muhammad bin Idris untuk menyebarkan tarekat Idrisiyah Syadziliyah ke Sudan, tetapi ia hanya berhasil dalam skala terbatas di utara dan timur Sudan. Lalu, setelah Syaikh Ahmad bin Idris wafat tahun 1253 H/ 1838 M, Syeikh Al Khatam ini bersaing dengan Muhammad bin Ali Assanusi, pendiri gerakan Sanusiyah, memperebutkan kursi penerus Syaikh Ahmad bin Idris, Syeikh Al Khatam berhasil meraih kursi ini dengan dukungan sebagian pengikut Syaikh Ahmad bin Idris, maka dia mendirikan Khatamiyah dengan beberapa cabang di Makkah, Jeddah, Madinah dan Thaif.

Syeikh Al Khatam menulis beberapa kitab dan menyusun beberapa bait syair yang sangat kental dengan aroma sufi dalam bahasa dan kandungannya, di antara kitab-kitabnya Taj Attafsir, Majmu’ah Fath Arrasul, Maulid Nabi yang diberi nama Al Asrar Arrabbaniyah, Annur Albarraq fi Madh Annabi Almisdaq dan lain-lain. Syeikh Al Khatam meninggalkan Makkah setelah dia berselisih dengan para ulamanya dan pindah ke Thaif, disana ia wafat pada 1267 H/ 1853M.


B E R S A M B U N G



BACA JUGA:
4.       IBN ARABI QUOTE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!