Minggu, Januari 26, 2020

DINASTI KERAJAAN SUFI MONDIAL

Wilayah Kekuasaan Sufi Di Bumi
By: Med Hatta
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ.

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau. Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. 2: 30).


Prolog
MENURUT pemahaman “ahli Tasawwuf” (Sufi) bahwa ketika Allah SWT memproklamirkan pada Malaikat di langit, sesungguhnya Allah akan menciptakan Khalifah (penguasa) di muka bumi, (Lihat: QS. 2: 30). Maka pada saat itu Allah telah mempersiapkan dua bentuk ke-khalifah-an (dinasti) yang berbeda di bumi yang saling mendukung dan sinergitas satu sama lain untuk memakmurkan kehidupan dimuka bumi. Kedua dinasti tersebut diperankan oleh umat manusia dalam dua dimensi: Pertama, Dinasti Dhahiri (nyata), yang diemban pertama kali oleh nabi Adam as dan dilanjutkan – setelahnya – secara berkala oleh para rasul yang diutus Allah SWT pada umatnya masing-masing, sehingga sampai pada nabi Muhammad SAW yang diutus sebagai Rahmatan lil-‘Alamin.

Kemudian setelah nabi Muhammad SAW – sebagai penutup para rasul – wafat, maka fungsi penerus dinasti (menurut Islam Sunni) berpindah-pindah dari dinasti Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), ke Bani Umayyah, Abbasiyah, dan seterusnya sampai pada pemerintahan bangsa-bangsa dunia yang dipilih secara musyawarah ataupun demokrasi hingga saat ini. Penguasa tertinggi di dalam dinasti ini dikenal Istilah-istilah seperti Rasul/Nabi, Khalifah, Imam, Raja/Ratu, Amir dan Presiden. Dan di antara penguasa dari dinasti ini ada juga yang berkuasa rangkap pada dinasti bentuk kedua, yang akan penulis jelaskan nanti pada waktunya. Oleh karena itu penulis akan mencukupkan pembahasan tentang berntuk dinasti yang pertama ini sampai disini saja, karena hakekatnya kita sudah berjalan dalam sestem ini.


Dinasti Kerajaan Sufi
Kajian kita disini adalah dinasti bentuk yang kedua, yaitu Dinasti Bathini (spiritual), atau dikenal juga sebagai Dinasti Kerajaan Sufi. Dinasti ini sangat diagung-agungkan oleh para pelaku sufi “tradisional” sebagai sebuah kerajaan yang sangat luas kekuasaannya, mengatur segala aturan dan urusan yang berjalan dimuka bumi, dan diluar jangkauan planet bumi (supranatural). Bahkan terkadang mengklaim peranannya dalam Menjaga stabilitas dan menjaga kelangsungan kehidupan di planet bumi lebih besar dari pada dinasti Dhahiri, di alam nyata yang kita kenal sebagai kekuasaan pemerintahan kita sekarang. Serta mengaku wilayah kekuasaannya pun lebih luas dari kekuasaan dinasti Dhahiri kita.

Seperti juga dinasti Dhahiri tradisional, dinasti kerajaan sufi ini juga memiliki sistem, wilayah, pringkat dan perangkap pemerintahan seperti sistem pemerintahan pada dunia nyata yang kita kenal sekarang. Pucuk kekuasaan tertinggi pada dinasti kerajaan sufi adalah Al-Quthub atau Al-Ghauts, kemudian, Aimmah, Autad, Abdal, Nujaba, dan jabatan paling rendah adalah Nuqaba. Dan masing-masing peringkat pemerintahan tersebut memiliki jumlah personel tertentu yang berbeda-beda sesuai wilayah kekuasaannya, serta tidak pernah lebih dan tidak berkurang sampai hari kiamat. Setiap ada jabatan yang lowong karena meninggal akan digantikan oleh pejabat baru dibawahnya atau pejabat baru dari luar lingkup peringkat yang ada sebelumnya. Ada sedikit yang berbeda dari dinasti kerajaan sufi ini yaitu tidak diwariskan secara turun-temurun, tidak melalui musyawarah atau melalui pemilihan demokrasi, tetapi penunjukan langsung dari Allah lewat surat mandat ghaib.

Adapun tokoh-tokoh sufi (Auliyaul Quthub/ Al Ghauts) yang pernah memimpin dinasti kerajaan sufi dari zaman ke zaman, semenjak nabi Adam as sampai kepada nabi Muhammad SWA, diperincikan oleh syeikh Abdul Wahab Assya’rani dalam kitabnya “al Yawaqit wal Jawahir” menukil dari Syeikhnya Assyaikhul Akbar Ibn Arabi jumlahnya ada 25 Quthub, sebagaimana jumlah rasul yang diutus Allah SWT, masing-masing: (Furaq, Mudawi, Kalum, Bakkaa, Murtafi’, Syaffar, Madhi, Mahiq, Aqib, Manhour, Syarid, Shaigh, Muraji’, Thayyar, Salim, Khalifah, Maqsum, Abdel Hay, Raqi, Abdel Wasi’, Bahar, Munshif, Abdel Hadi, Ashlah, dan Abdel Baqi’). (Lihat: Assya’rani, al-Yaqit wal Jawahir: Vol. 2, Hal. 82).

Lebih lanjut Ibn Arabi menegaskan bahwa selain nama-nama Al-Quthub atau Al-Ghauts yang telah disebutkan di atas, ada lagi 4 ahlul Ghauts yaing lain dari unsur rasul dan nabi yang masih hidup sampai sekarang, yang – sementara – diberikan tugas khusus oleh Allah SWT, yaitu: Idris, Ilyas, Isa dan Kheider. Dan mereka berempat akan kembali menjabat posisi Al-Ghauts secara berkala pada waktunya masing-masing.


Perangkat dan Peringkat Dinasti Kerajaan Sufi
Adalah Syeikh Abu Bakar Al Kattani[1], tokoh sufi yang pertama memperkenalkan tata perangkat dan peringkat wilayah kekuasaan sufi (Abad ke-4 H/ 10 M), ia menyusunnya berdasarkan gelar dan tingkatannya, seperti: Nuqaba, Nujaba, Abdal, Akhyar, Omd, Ghouts, dan Suyyahun. Dan ditambahkan oleh Syeikh Abu Thalib Al Makki[2] (akhir abad ke-4 H) dengan Istilah Al Qothub dan Autad.  Kemudian disempurnakan oleh filosof besar dan syeikh sufi Assyeikhul Akbar Muhyidin bin Arabi atau popular Ibn Arabi (Abad ke-7 H), dengan meletakkan garis-garis besar haluan dinasti kerajaan sufi, yang kemudian menjadi undang-undang darasa atau pedoman tetap dinasti kerajaan sufi universal dalam sebuah kitab besar dikenal “Al Futuhatul Makkiyah”.  Kitab tersebut telah dikomentari oleh murid terdekatnya Abdul Wahab Assya’rani dalam “Al Yawaqit wal Jawahir”.

Ibn Arabi membagi peringkat kekuasaan sufi lengkap dengan nama gelar, fungsi, jobdisk, kemampuan, pengangkatan, dan jumlah masing-masing. Mereka ditugaskan mengatur kehidupan makhluk di jagad raya secara berkala sepanjang masa. Personil setiap perangkat tidak bertambah dan berkurang sampai hari kiamat, jika salah satu pejabat yang meninggal maka digantikan oleh pejabat yang lain. Peringkat jabatan di dalam dinasti kerajaan sufi ada 6 (enam), sbb:


1.  Pertama Al-Quthub; atau dikenal juga Al-Ghauts, merupakan tingkatan yang paling tinggi di dalam kerajaan sufi sebagai fungsi “raja” yang mengatur stabilitas kehidupan di permukaan bumi. Dan posisi ini hanya dijabatan oleh 1 (satu) wali saja dalam satu periode, yang masa tugasnya seumur hidup, jika meninggal maka digantikan oleh quthub lain setelahnya melalui surat mandat ghaib. Keunikan Qhutub ini ilmunya sudah mencapai tingkat kasyaf, menyingkap rasahia-rahasia zat ke-Tuhan-an, ia juga memiliki ilmu yang sangat luas dan tidak terbatas tentang sifat-sifat Allah SWT.

Peringkat quthub adalah derajat manusia yang paling sempurna, kedudukannya tidak terbatas dan dapat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain yang ia inginkan tanpa terikat oleh waktu. Tugas utamanaya adalah mengatur dan memelihara keberlangsungan planet bumi serta menjaga pengikut-pengikutnya. Di antara Khulafaur Rasyidin yang pernah menjabat posis Quthub atau Ghauts disamping menjadi Khalifah Rasulullah SAW di dalam pemerintahan Islam (menurut ibn Arabi) adalah Abu Bakar bin Shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra.

2.  Kedua Aimmah; Terdiri dari 2 (dua) wali sebagai Imam, keduanya bertugas mendampingi Quthub dan selalu menyertai tugas Quthub. Di dalam keprotokoleran istana sufi, salah satu diantaranya duduk disebelah kanan Quthub bertugas mengontrol dunia Malaikat, dan yang satunya lagi berada disebelah kiri sebagai penanggungjawab kelanjutan kerajaan sufi, ia juga disebut “putra mahkota” yang akan menggantikan Quthub jika meninggal dunia.

3.  Ketiga Autad; Jumlah pejabat dalam fungsi ini adalah 4 (empat) wali. Bertugas menjaga keselamatan bumi dari berbagai ancaman keburukan dan kerusakan, dan setiap wali dalam fungsi ini menduduki satu bagian dari empat arah mata angin (Utara, Selatan, Timur dan Barat). Kalau di dalam pemerintahan kita mungkin bisa disebut sebagai Gubernur KDH Tk. I Provensi. Keunikan mereka memiliki ruhaniah ke-Tuhan-an dan penguasaan ilmu yang sangat dalam.

Setiap wali dari empat pejabat Autad ini masing-masing memiliki hubungan emosional dengan empat rasul besar yang pernah diutus Allah; satu diantaranya terkait dengan nabi Adam as, kedua berhubungan dengan nabi Ibrahim as, ketiga berhubungan dengan nabi Isa as, dan yang keempat berhubungan dengan nabi Muhammad SAW.

4.  Keempat Abdal; Jumlah pejabat fungsional pada posisi ini 7 (tujuh) wali. Tugas mereka adalah memelihara 7 benua yang ada di bumi (Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara, Asia, Australia, Eropa, dan Antartika). Setiap wali Abdal mengurusi satu benua yang menjadi wilayah tugasnya, mungkin semacam Bupati KDH Tk. II Kabupaten dalam perangkat pemerintahan yang kita kenal. Disebut Abdal karena memiliki kemampuan merubah dirinya dengan sosok lain yang serupa (menggandakan diri), dan mampu bergerak dari satu tempat ketempat lain dengan sangat cepat seperti siluman. Di antara imam mazhab yang kita kenal pernah menduduki jabatan ini semasa hidupnya (menurut Ibn Arabi) adalah Imam Syafi’i ra.

5.  Kelima Nujaba; Jumlah personil mereka 40 wali. Derajatnya di bawah Abdal, mereka bertugas meringankan beban-beban kemanusiaan. Dan mereka tidak mengalami kenaikan pangkat atau jabatan.

6.  Keenam Nuqaba; Merupakan debut pertama dalam karir ke-sufi-an setelah menyelesaikan pendidikan (suluk) sufi dengan intensifitas tinggi, dan mengamalkan ritual-ritual tasawuf dengan konsukwesn. Jumlah mereka dalam satu zaman 300 orang wali, mereka yang tergabung dalam peringkat ini adalah wali-wali muda yang telah berhasil mengekstrak anonimitas nurani dan menyingkap tabir-tabir rahasia jati diri mereka.







[1]. Abu Bakar Mohamed bin Ali bin Jaafar al-Kattani, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, tokoh tasawwuf sunni, hidup pada abad ke-4 H. Asli Bagdad dan meninggal di Kota Suci Makkah, Tahun 322 H.
[2]. Abu Thalib Mohamed bin Ali bin Athiyah Al Haritsi, wafat di Bagdad tahun 386 H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!