Selasa, September 28, 2021

MESIR NEGERI PARA NABI - LEBIH UTAMA - SEBELUM FIR'AUN :

*Mukjizat Dimensi Geografi AlQuran (18)

Mesir Negeri Nabi Yusuf dan Musa

By: Med Hatta 

"Disayangkan, para sejarahwan dan arkeolog - entah sengaja 'menyembunyikan' atau tujuan lain - menafikan adanya saksi/jejak sejarah dari para nabi dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa masa lalu - pada umumnya. Meskipun kisah para nabi itu sangat fenomenal dalam kitab-kitab suci, terutama AlQuran. Mereka - Wal'iyadzubillah - bahkan mengklaim bahwa apa yang termaktub dalam AlQuran tentang kisah para nabi itu berbeda dengan apa yang ditulis dalam buku sejarah modern, yang berpedoman pada kesaksian arkeolog dan refrensi-refrensi sejarah lainnya. Tentu itu adalah sebuah kekeliruan metodologi yang fatal, karena - sejatinya - kebenaran mutlak - selamanya - itu berada dalam AlQuran, ia adalah kebenaran yang harus dipedomani, dan semestinya pelurusan studi-studi kesejarahan harus selalu merujuk kepadanya! 5 ayat kajian ini bercerita tentang keberadaan nabi Yusuf dan nabi Musa di Mesir, tapi para arkeolog tidak menemukan jejak sejarah mereka,,, dimanakah istana tempat nabi Yusuf hidup dan menjadi menteri besar di Mesir,,, dimanakah istana Fir'aun yang megah berada di atas sungai Nil tempat bayi Musa dihanyutkan oleh ibunya lalu tumbuh menjadi dewasa di istana itu?? Mengapa arkeolog hanya menemukan tempel, kuburan dan benda-benda kuburan (saja)...?!"

*Baca: Versi Seluler

Allah berfirman :

وَقَالَ ٱلَّذِى ٱشْتَرَىٰهُ مِن مِّصْرَ لِٱمْرَأَتِهِۦٓ أَكْرِمِى مَثْوَىٰهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوْ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدًا ۚ 

Terjemah Arti: "Dan orang dari Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita adopsi dia sebagai anak." (QS. Yusuf: 21).

فَلَمَّا دَخَلُوا۟ عَلَىٰ يُوسُفَ ءَاوَىٰٓ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ٱدْخُلُوا۟ مِصْرَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ

Terjemah Arti: "Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia merangkul (dan menyiapkan tempat untuk) kedua orang tuanya seraya berkata, "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman." (QS. Yusuf: 99).

 ٱهْبِطُوا۟ مِصْرًا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ ۗ 

Terjemah Arti: "Pergilah ke Mesir, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta." (QS. Al-Baqarah: 61).

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَٱجْعَلُوا۟ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۗ 

Terjemah Arti: "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, "Ambillah beberapa rumah di Mesir untuk (tempat tinggal) kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat ibadah dan laksanakanlah salat." (QS. Yunus: 87)

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِى قَوْمِهِۦ قَالَ يَٰقَوْمِ أَلَيْسَ لِى مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ ٱلْأَنْهَٰرُ تَجْرِى مِن تَحْتِىٓ ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Terjemah Arti: "Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, "Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?" (QS. Az-Zukhruf: 51).

Lima ayat kajian di atas, dan masih banyak ayat-ayat AlQuran lainnya yang menceritakan tentang kisah dakwah nabi Yusuf as dan nabi Musa as di Mesir. AlQuran termasuk sangat aktif menyorot sejarah Mesir kuno semenjak dini, dari awal perkembangannya sampai kepada masa kenabian Yusuf dan Musa, bahkan AlQuran lebih tegas memisahhkan sistem pemerintahan Mesir kuno, antara dinasti (sistem) Kerajaan dan dinasti para Fir'aun. 

Di mana hal itu tidak dijelaskan dalam buku-buku sejarah modern yang merujuk kepada temuan-temuan arkeologi yang tidak pernah singkron itu; Pada masa nabi Yusuf - misalnya - AlQuran menyebut penguasa Mesir - periode itu - sebagai raja atau sistem kerajaan, sama sekali tidak ada dalam kisah Yusuf as, yang dimuat dalam satu surah penuh dalam AlQuran, yang menyebutkan penguasa Mesir sebagai Fira'uan; seperti, Allah berfirman : 

وَقَالَ ٱلْمَلِكُ إِنِّىٓ أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَٰتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنۢبُلَٰتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَٰتٍ ۖ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَأُ أَفْتُونِى فِى رُءْيَٰىَ إِن كُنتُمْ لِلرُّءْيَا تَعْبُرُونَ

Terjemah Arti: "Dan Raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi." (QS. Yusuf: 43);

وَقَالَ ٱلْمَلِكُ ٱئْتُونِى بِهِۦٓ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِى ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُۥ قَالَ إِنَّكَ ٱلْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

Terjemah Arti: "Dan Raja berkata, "Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku." Ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengan dia, dia (raja) berkata, "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya." (QS. Yusuf: 54);

Berbeda halnya ketika AlQuran menceritakan kisah nabi Musa as, AlQuran menyebut penguasa Mesir - periode itu - sebagai "Fira'uan", bukan raja. Fakta ini disebutkan dalam AlQuran pada lebih dari 60 ayat, di antaranya; Allah berfirman :

وَإِذْ نَجَّيْنَٰكُم مِّنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ ٱلْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِى ذَٰلِكُم بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ

Terjemah Arti: "Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari Fir'aun dan pengikut-pengikut Fir'aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu." (QS. Al-Baqarah: 49);

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِى قَوْمِهِۦ قَالَ يَٰقَوْمِ أَلَيْسَ لِى مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ ٱلْأَنْهَٰرُ تَجْرِى مِن تَحْتِىٓ ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Terjemah Arti: "Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, "Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?" (QS. Az-Zukhruf: 51).

Maka, dari sini saja sudah bisa disimpulkan bahwa sesungguhnya AlQuran telah membagi dua periode pemerintahan yang pernah berkuasa di Mesir kuno, antara dinasti kerajaan dan dinasti Fir'aun. Jadi tidak benar anggapan yang mengatakan bahwa dari 26 atau 30 usrah (dinasti) yang pernah berkuasa di Mesir kuno itu adalah semuanya Fir'aun, tetapi jauh sebelumnya Mesir kuno sudah mengenal beberapa raja-raja "kerajaan absolut". 

Karenanya, pemerintahan Mesir kuno terbagi kepada 2 fase yang berbeda, dan masing-masing mempunyai beberapa dinasti yang turun-temurun, yaitu dinasti raja-raja (kerajaan absolut) dan dinasti para Fira'uan; Pada masa kekuasaan nabi Yusuf as maka yang berlaku pada saat itu adalah dinasti kerajaan, mewarisi dari raja-raja pendiri pertama negari Mesir, dari keturunan Ham bin Nuh, dan keturunan Sam bin Nuh yang datang belakangan di Mesir dari Kan'an (Palestina: sekarang). 

Dinasti kerajaan pertama di Mesir kuno dimulai sekitar tahun 2900 SM (pasca topan), dan menjadikan pusat ibukotanya adalah "Munif" (Memphis: Inggris). Bahkan dinasti kerajaan inilah yang membangung piramid Saqqara di Memphis (raja Djoser: 2630 SM), dan piramid Agung di Giza, oleh raja Khufu (2566 SM). Jadi 3 piramid itu bukan di bangun oleh dinasti Fir'aun. 

Hanya kami tidak bisa memastikan - di sini - apakah dinasti raja-raja Mesir kuno (periode pertama) itu adalah semuanya menganut agama samawi (doktrin tauhid) seperti yang diajarkan oleh Nuh kepada keturunannya, atau tidak. Kecuali yang dapat dipastikan menganut ajaran tahuid adalah pada kekuasaan nabi Yusuf as. Namun, ada satu fakta penting yang mencengankan, bahwa ada beberapa raja agung Mesir kuno yang diketahui berasal dari keturunan nabi Ya'qub as (sebut: Bani Israil), yang mengemban agama Ibrahimi (tauhid), seperti :

1. Amenhotep III (1588 SM - 1551 SM), raja ke 9 dari dinisti 18 (Yayu), pada masa pemerintahannya Mesir mengalami kemajuan di bidang seni, Arsitektur dan Artistik.

2. Akhenaten (1551 SM-1534 SM), putra dari Amenhotep III, ialah yang melakukan revolusi agama pada pemerintahannya, ia mendeklarasikan "doktrin tauhid", ajaran agama samawi. Dalam gerakannya itu dibantu oleh istrinya, Nefertiti, yang juga keturunan Bani Israil.

3. Tutankhamun (1534 SM - 1524), putra dari Akhenaten, ia mewarisi tahta ayahnya ketika masih berumur 9 tahun dan meninggal usia 19 tahun. Meskipun usianya sangat muda tapi keberadaannya menjadi ikon populer dari peradaban Mesir Kuno.

Adapun gelar "Fir'aun" (Bahasa Mesir kuno: artinya "rumah besar"), yang kemudian penggunaannya berkembang menjadi gelar para penguasa Mesir kuno (periode kedua). Fakta bahwa sebutan Fira'uan tidak dikenal dalam sejerah kekuasaan Mesir kuno sampai akhir Dinasti Kedelapan Belas (1534 SM), di mana sebuah prasasti ditemukan yang tertulis di atasnya pesan yang ditujukan kepada Amenhotep IV (Akhenaten), yang pertama kali menyebut dirinya sebagai Fir'aun penguasa Mesir. 

Keterangan kajian kita ini didukung oleh berbagai referensi penting, selain kitab-kitab tafsir klasik, (juga) bacaan-bacaan lain seperti Encyclopedia Britannica, Ensklopedi Wikipedia (Arab dan Indonesia), serta buku-buku lain yang berbicara tentang sejarah Mesir kuno, dan semua bacaan kita tersebut menjelaskan bahwa istilah fir'aun baru digunakan pada Dinasti kedelapan belas (1534 SM) dan seterusnya. Atau, semua dinasti periode sebelumnya (periode pertama) adalah memakai gelar raja (kerajaan absolut).

Sebagaimana kesepakatan sejarah (juga) bahwa nabi Yusuf as datang di Mesir dan menjadi penguasa (menteri), jauh sebelum Nabi Musa as lahir (sekitar 14 abad), dan Yusuf, saudara-saudaranya putra Ya'qub serta warga Bani Israil lainnya (semuanya) hidup dengan makmur sejahtera di Mesir sepanjang masa-masa kerajaan (periode pertama) itu, hingga mereka diusir paksa keluar dari bumi Mesir bersama dengan nabi Musa as oleh penguasa baru Mesir, yaitu periode dinasti Fir'aun yang membenci dakwah tauhid, masa Fir'aun Mesir Ramses II. 

Lalu, mengapa tidak ditemukan saksi/jejak sejarah kekuasaan nabi Yusuf dan raja-raja (dinasti kerajaan) yang lain di Mesir? Penyebabnya adalah Fir'aun sangat membenci penguasa lama di Mesir termasuk nabi Yusuf, dan doktrin tauhid Bani Israil, maka setelah mereka berhasil mengusirnya keluar dari Mesir lalu semua jejak-jejak mereka yang tertinggal di Mesir dihapus semua oleh penguasa Fir'aun, sebagaimana bangsa Indonesia merobek warna biru pada bendara peninggalan Belanda di seluruh Nusantara. 

Dan, kalau-pun ada sebahagian peninggalan mereka yang disisakan pasti penguasa Fir'aun akan menyimpan rapih (menyembunyikannya) di dalam kuburan-kuburan. Karenanya, tidak heran kalau dari 30 dinasti (baik kerajaan maupun para Fir'aun) yang pernah berkuasa di Mesir kuno, tidak satupun yang ditemukan saksi atau jejak-jejaknya yang berarti, kecuali hanya tempat-tempat peribadatan, kuburan dan benda-benda kuburan lainnya. Kesaksian dan jejak nabi Musa pun mereka harus hapus, karena demi menghilangkan jejak bahwa Fir'aun pernah dikalahkan oleh nabi Musa dan Bani Israil. Adapun mumi Ramses II (Fira'uan-Musa) bisa disaksikan di Museum Cairo sekarang, itu karena Allah yang - sengaja - menyelamatkan jasadnya untuk menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang beriman. Allah berfirman :

فَٱلْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ ءَايَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنْ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ

Terjemah Arti: "Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami." (QS. Yunus: 92).

Wallahul Musta'an ! 


Kajian Berhubungan : 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!