Rabu, Maret 21, 2018

AWAL RAMADHAN 1439 H. JATUH PADA RABU, 16 MEI 2018 M.

PADA masa awal Islam, para ahl as-sabiquunal awwalun (pendahulu) tidak  ada permasalahan mencolok mengenai awal dan berakhirnya bulan suci Ramadhan, mereka cukup konsukuen kepada ayat Alquran: 

Artinya: "Maka barang siapa di antara kamu melihat bulan maka berpuasalah" (QS: Albaqarah: 185). 


(Lihat: Sambungan)


Jika mereka tidak melihat lahirnya bulan karena berbagai hal seperti tidak nampak atau terselubung awan tebal, maka mereka mengembalikan kepada hadits nabi SAW: "berpuasa-lah dengan melihat bulan dan akhirlah dengan melihat bulan (Syawal), jika kamu tidak melihanya karena terhalang olehmu maka cukupkan bulan Sya'ban 30 hari, atau cukupkan bulan Ramadhan 30 hari". 

Inilah dua pedoman utama umat Islam berkaitan dengan bulan suci Ramadhan. Tidak ada pedoman ketiga .... 

Permasalahan kemudian berkembang sejalan dengan kemajuan sains modern, khususnya setelah penemuan teleskop tercanggih dan observasi besar-besaran ke angkasa luar setelah paruh kedua abad ke-20, maka manusia pun mampu mengawasi benda-benda langit yang sangat jauh termasuk memantau lahir dan matinya hilal (bulan baru). Nah, seberapa besar tingkat akurasi perhitungan hasil teknologi rekayasa ini, dan berapa persen tingkat ketepatannya menghitung dan mengukur perjalanan benda-benda langit? 

Penulis tidak ingin membahas lebih panjang di sini teori bagaimana mereka menghitung dan mempradiksikan lahir dan matinya bulan, dengan mempergunakan teleskop tercanggih mengintai fase-fase bulan dengan ukuran skala derajat tertentu dan angka-angka digital yang panjang seperti halnya memantau janin dalam rahim ibunya dengan alat USG. Fakta mengatakan, hisab atau perhitungan manusia hanyalah sebatas mendekati tingkat ketepatan saja, tidak ada satupun yang benar-benar akurat lebih dari titik 99 %, jauh dari hitungan 100 % atau meragukan.

Lalu, dapatkah hasil teknologi rekayasa (hisab) ini diterapkan dalam urusan beribadah ketaatan kepada Allah SWT seperti menjelankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini? Kongkritnya, prinsif beribadah dalam Islam bukan saja ditentukan oleh derajat ketepatan atau akurasi waktu pelaksanaannya, tetapi yang diutamakan adalah keyakinan hati dan ketenteraman jiwa dalam melaksanakan ibadah tersebut. Tidak boleh ada keragu-raguan dalam menjalankan ibadah sedikitpun. 

Maka perlu ada pedoman jelas yang bukan saja dapat mendeteksi dan memastikan tetapi juga harus meyakinkan hati melalui indra. Bukankah nabi Ibrahim as pernah memohon kepada Allah untuk diperlihatkan secara langsung proses menghidupkan mayat? Ibrahim bukanlah seorang yang tidak beriman, tetapi hanya ingin meyakinkan hatinya saja. Begitu pula nabi Musa as yang memohon melihat Tuhan. Ini suatu bukti bahwa media yang paling akurat untuk meyakinkan hati adalah indra atau penglihatan dengan mata kepala sendiri...

Oleh karena itu, dalam agama terakhir ini Allah mewanti-wanti dan berfirman: "Alif Laam Miim, itulah kitab (Alquran) yang tidak terdapat di dalamnya keraguan sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa" (QS. Albaqarah: 1-2). 

Hal inilah yang akan menjadi kajian kita selanjutnya dalam menafsirkan ayat-ayat puasa ini .....

Jadwal Semua Ibadah Ketaatan Umat Islam Dikerjakan Serentak Dalam Satu Waktu Di Seluruh Penjuru Dunia:

Allah berfirman:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Artinya: "karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (menyaksikan) bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu". (QS. Albaqarah: 185)

Ayat-ayat hukum di dalam Alquran umumnya digolongkan kepada ayat-ayat "muhkam" (kuat dan jelas), ayat hukum puasa ini adalah "muhkam" bukan "mutasyabih", yaitu arti dan petunjuknya sangat jelas sehingga tidak memerlukan interpretasi lain lagi. Allah memerintahkan berpuasa Ramadhan apabila telah melihat bulan, artinya harus benar-benar melihat bulan. Karena semua perintah ibadah dalam Islam yang berkaitan dengan waktu tertentu selalu berhubungan dengan "Hilal" (lahirnya bulan). Allah firman: 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
Artinya: “mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji...” (QS: 02: 189).

Yaitu hilal (bulan sabit) merupakan waktu-waktu yang telah dibuat untuk manusia menentukan kalendernya termasuk jadwal beribadah seperti puasa, idul fitri dan ibadah haji. Sebagaimana hadits-hadits nabi juga telah menjelaskan secara detail jadwal ibadah-ibadah tersebut, seperti sabda beliau SAW:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته ، فإن غم عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين 
Artinya: "Berpuasalah ketika melihat hilal dan akhirilah puasa ketika melihatnya juga, maka jika terselibung atas kamu (tidak dapat melihat hilal) maka genapkanlah bulan Sya'ban 30 hari" .
                                                                                                                                           
Bilakah Datang Awal Ramadhan Tahun 1439H/2018M?
Tanpa mendahului hari pelaksanaan “Rukyatul Hilal” yang masih sekitar dua bulan lagi dari sekarang, dan ini juga bukan teori “Hisab” versi terbaru, tetapi ini murni pemikiran mutlak yang di dasari atas pengalaman dan penghayatan seorang hamba shaleh selama bertahun-tahun consent mengamati peristiwa besar islam tertentu. Maka ia membuat catatan penting tentang “Jadwal Lailatulqadr” dari tahun ke tahun, dan tentunya dilengkapi dengan awal masuk bulan suci Ramadhan setiap tahun.

Tentu kita tidak akan menguraikan kisah di atas secara rinci di sini karena sangat panjang, dan sudah beberapa kali penulis memuatnya di Blog ini. (Lihat Link: http://my-bukukuning.blogspot.co.id/2012/08/lailatul-qadr-tahun-ini-jatuh-pada.html#more ).

Berdasarkan Jadwal Lailatulqadr tersebut, maka AWAL RAMADHAN 1439 H. akan terjadi serentak seluruh dunia pada RABU Bertepatan dengan 16 Juli 2018 M. Wallahua’lam.


Kajian yang Lalu:
  1. Al-Qur’an MultiInterpretasi Bergema Menggetarkan Sensasi Ilmuan
  2. Al-Qur’an PetunjukYang Universal (Manusia dan Jin)
  3. Al-Qur’an Petunjuk Pergaulan Sosial dan Moral
  4. Al-Qur’an PenawarMujarab dan Rahmat Yang Amat Tinggi
  5. Al-Qur’an PeetunjukKepada Jalan Yang Lebih Lurus (Tauhid)
  6. Qur’an Dalamal-Qur’an (Al-Qur’an Petunjuk Kepada Hukum Syariat)
  7. Bulan Ramadhan Bulan Al-Qur’an
  8. I’tikaf Dalam Mesjid Di Bulan Ramadhan
  9. Kasus-Kasus Pelanggaran Dalam Menjalankan Ibadah Puasa
  10. Imsak Benang Putih dan Benang Hitam Waktu Fajar
  11. Ibadah Puasa Syariat Rahmatan Lil-'Alamin
  12. Takbir Idul Fitri Sarana Mempersatukan Umat
  13. Ru'yatul Hilal & Mencukupkan Bilangan Asli Puasa ramadhan
  14. Sejarah Hisab Dalam Tradisi Ibadah Puasa Umat Islam 
  15. Bulan Ramadhan Di Tetapkan Dengan Menyaksikan Hilal Secara Langsung
  16. Puasa Ramadhan Membatalkan Hukum Puasa Sebelumnya
  17. Awal Ramadhan 1433 H Akan Masuk Pada Malam Sabtu (21/07/'12) 
Artikel yang berhubungan:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!