Selasa, Juni 10, 2008

FENOMENA WAKTU (SIANG dan MALAM)

Simbol Sains Di Dalam AlQuran IV.a |
(Keunggulan Sains Pada Ayat-Ayat Sumpah Di Dalam AlQuran)

BAB IV
Fenomena Waktu (Malam dan Siang) 
Oleh: Med HATTA


Allah SWT berfirman : 

كَلَّا وَٱلْقَمَرِ؛ وَٱلَّيْلِ إِذْ أَدْبَرَ؛ وَٱلصُّبْحِ إِذَآ أَسْفَرَ؛ إِنَّهَا لَإِحْدَى ٱلْكُبَرِ

Terjemah Arti: "Tidak! Demi bulan, dan demi malam ketika telah berlalu, dan demi subuh apabila mulai terang, sesungguhnya (Saqar itu) adalah salah satu (bencana) yang sangat besar" (QS. Al-Mudattsir: 32-35);

وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ؛ وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ 

Terjemah Arti: "demi malam apabila telah larut, dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing" (QS. At-Takwir: 17-18); 

فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ؛ وَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ؛    

Terjemah Arti: "Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja, demi malam dan apa yang diselubunginya" (QS. Al-Insyiqaq: 16-17); 

وَٱلْفَجْرِ؛ وَلَيَالٍ عَشْرٍ؛ وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ؛ وَٱلَّيْلِ إِذَا يَسْرِ 

Terjemah Arti: "Demi fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil, demi malam apabila berlalu" (QS. Al-Fajr: 1-4); 

وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا؛ وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا 

Terjemah Arti: "demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya (gelap gulita)" (As-Syams: 3-4); 

وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ؛ وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ

Terjemah Arti: "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), demi siang apabila terang benderang" (QS. Al-Lail: 1-2); 

وَٱلْعَصْرِ؛ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ؛ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ.

Terjemah Arti: "Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran" (QS. Al-'Ashr). 


Waktu Dalam Islam:
Allah SWT bersumpah demi waktu diberbagai tempat dalam Al Qur’an, misalnya pada surat Al-Mudatsir Allah bersumpah: (dan demi malam ketika telah berlalu; dan subuh apabila mulai terang). Di surat Al-Fajr: (Dan demi fajar ; dan malam yang sepuluh ; dan demi malam apabila berlalu). Di surat Al-Syamsy: (Demi matahari dan sinarnya di pagi hari; demi siang apabila menampakkannya (matahari); demi malam apabila menutupinya (matahari). Di surat A-llail : (Demi malam apabila menutupi; demi siang apabila telah terang benderang). Di surat Adh-Dhuha: (Demi waktu dhuha; dan malam apabila telah sunyi). Dan di surat Al-Asr Allah bersumpah demi masa (waktu) secara khusus.

Sumpah-sumpah Allah tentang periode waktu di atas menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam Islam. Belum lagi termasuk disini ayat-ayat yang bertema tentang waktu-waktu yang lain di dalam Al Qur’an, seperti ayat yang berkisah tentang harapan orang-orang kafir dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat kelak, mereka sangat apresiasi tentang eksestensi waktu tetapi bukan untuk hal-hal yang di ridhai Allah SWT. Mereka misalnya menginginkan berumur selama seribu tahun untuk mempertahankan kehidupannya yang berlumuran dosa. Sebahagian mereka menganggap hidup yang dijalaninya di dunia hanya sebatas sehari atau dua hari saja. Dan masih banyak lagi tema waktu tersebar diberbagai ayat di dalam Al Qur’an yang tidak termasuk dalam kajian ini.

Pasal 1 
Periode Malam
Allah berfirman : 

وَٱلَّيْلِ إِذْ أَدْبَرَ
Terjemah Arti: "dan demi malam ketika telah berlalu" (QS. Al-Mudattsir: 33); 

وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ 

Terjemah Arti: "demi malam apabila telah larut" (QS. At-Takwir: 17); 

وَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ 
Terjemah Arti: "demi malam dan apa yang diselubunginya" (QS. Al-Insyiqaq: 17); 

وَٱلَّيْلِ إِذَا يَسْرِ
Terjemah Arti: "demi malam apabila berlalu" (QS. Al-Fajr: 4);

وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا
Terjemah Arti: "demi malam apabila menutupinya (gelap gulita)" (As-Syams: 4); 

وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ
Terjemah Arti: "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)" (QS. Al-Lail: 1-2).

Periode waktu disebutkan di dalam Al Qur’an dengan jumlah yang sangat penomenal dalam berbagai bentuknya, misalnya malam di sebutkan sebanyak 92 kali, siang 57 kali. Sebagaimana juga terdapat kalimat-kalimat seperti as-shubhu, al-ishbah, al-falak dan sejenisnya masuk kategori siang tersebar pada ayat-ayat yang lain. Kemudian kalimat al-yaum juga sering diartikan siang di beberapa tempat di dalam Al Qur’an.

Periode waktu yang lain disebutkan juga secara khusus seperti fajar, waktu dhuha, Ashar, waktu senja. Semua periode waktu telah di sebutkan Al Qur’an secara utuh dan menyeluruh dengan sangat gamblang.

Pergantian Malam dan Siang Secara Teratur:

Adalah merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT pada pergantian malam dang siang, karena silih bergantinya dua waktu tersebut (siang dan malam) tercipta kehidupan di muka bumi, manusia mengetahui sistem waktu dan menyusun sejarah dari peristiwa-peristiwa penting dari masa ke masa. Tanpa adanya pergantian antara malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang kehidupan diatas permukaan bumi tidak akan berlangsung, manusia tidak pernah merasakan peredaran waktu dan tidak mengenal catatan sejarah dari peristiwa-peristiwa masa lalunya.

Dari pergantian malam dan siang jua diketahui hakikat bahwa bumi yang kita huni ini berbentuk bulat, berputar pada porosnya dan mengorbit matahari secara teratur. Dengan demikian manusia mengetahui tahun, pergantian musim, menentukan bulan, minggu dan hari. Serta pergiliran malam dan siang pada belahan bumi atas belahan yang lain. Hal ini merupakan suatu keharusan untuk melestarikan kehidupan di bumi. Dan tugasnya yang silih berganti secara teratur dengan bentuk yang berbeda-beda akan berlangsung terus-menerus hingga bumi beserta isinya di wariskan oleh Allah SWT.

Dengan pergantian gelap dan terang ini terjadi pendisplaian energi matahari hingga sampai ke bumi, dan selanjutnya membantu mengontrol sirkulasi cuaca panas dan dingin, dan membantu mensuplai sinar matahari ke berbagai pelosok bumi. Dan sebagaimana juga membantu menetralisir berbagai aktifitas baik yang hidup maupun mati seperti misalnya bernapas dan menguap bagi manusia dan hewan, serta berfotosintesis bagi tumbuh-tumbuhan. mengatur fungsi lapisan gas dan udara yang terdapat di bumi, serta menetralisir berbagai aktifitas di bumi seperti sirkulasi air antara bumi dan lapisan paling rendah atmosfer, gerakan angin dan awan, mengatur prekwensi hujan. Dan melindungi atau memelihara segala kekayaan bumi dari cagar alam dan lain-lain.

Disamping dari semua itu tujuan dari pergantian malam yang gelap dan siang yang terang adalah pembagian hari bagi bumi untuk menjaga stabilitas kehidupan sehari-hari, malam misalnya sebagai naungan, ketenteraman, dan peristirahatan, serta untuk menetap, sedangkan siang diciptakan sebagai waktu untuk bekerja keras dan beramal, kita tidak bisa mengatakan bahwa waktu itu hanyalah siang hari yang terus-menerus bermanfaat, atau dia hanyalah malam hari yang terus bermanfaat, akan tetapi kedua-duanya saling berganti satu sama lain, dan pergantian ini adalah hakikat dari kesempurnaan yang saling melengkapi, kita tidak mungkin merasakan betapa berharganya sebuah malam kecuali jika kita telah berada pada siang hari, kita juga tidak akan tahu betapa berharganya siang hari kecuali jika kita telah menjalani malam yang sunyi, akan tetapi nilai dari saling melengkapilah yang memberikan keindahan yang sempurna, dalam kaitan ini Allah berfirman: «Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang sebagai aktifitas» (Q.S : Annaba : 10-11), Allah berfirman : «Dia-Lah (Allah) telah menjadikan kepada-mu malam untuk menetap dan siang untuk beraktifitas yang demikian itu sebagai pertanda bagi orang yang mendengar» (Q.S : Yunus : 67).

Dari sini dipahami bahwa fenomena pergantian malam dan siang merupakan dakwah kepada semua makhluk untuk beriman kepada Allah. Dan dipahami juga bahwa ayat-ayat yang diturunkan tentang pergantian malam dan siang tersebut sungguh sebuah mu’jizat, antara lain kemu’jizatan Al Qur’an ini menceritakannya beberapa fenomena alam raya yang belum dapat dicernah pada zaman turun wahyu, dan pada abad-abad jauh sebelumnya. Ini suatu bukti bahwa Al Qur’an ini bukan hasil karya manusia, akan tetapi wahyu Allah Sang Pencipta Yang tidak mendatangkan sesuatu sia-sia pada diri dan makhluk-Nya. Dan sekaligus bukti kenabian Muhammad SWA dan kebenaran risalah yang dibawanya.

Fakta Ilmiyah Tentang Perputaran Malam dan Siang:
  1. Memastikan bumi bulat: Sesungguhnya perubahan malam dan siang dibelahan bumi; silih berganti dan saling menyusupi satu sama lain, bolak-balik satu sama lain, susul-menyusul, cahaya siang menutupi kegelapan malam, menampakkan kegelapan malam dengan cahaya siang, malam menciptakan siang dan siang menciptakan malam. Kesemua itu merupakan symbol atas bentuk bumi, kalau bumi tidak bulat pasti fenomena-fenomena tersebut tidak akan terjadi. Dan bukti paling sederhana adalah pergantian malam dan siang.

    Kenyataan ilmiyah yang telah didengungkan oleh Al Qur’an sejak lebih dari 14 abad lalu pada saat manusia masih beranggapan bumi datar, sekalipun sebagian ulama zaman dulu sudah berfikiran maju.

    Banyaknya ayat Al Qur’an diturunkan tentang hakikat fenomena alam ini di jazirah Arab yang – nota bene – saat itu masih diliputi oleh lingkungan badawi yang masih sangat sederhana, mereka sama sekali tidak memperoleh pencerahan ilmiyah dan tidak mengerti tentang alam dan isinya. Dengan demikian dipastikan bahwa Al Qur’an bukanlah hasil karya manusia, tetapi merupakan Kalam Allah Sang Pencipta, Yang telah menciptakan alam raya ini dengan ilmu, hikmah dan Qudrat-Nya. Dia-Lah lebih tahu hasil ciptaan-Nya dari selain-Nya. Bahwa sanya nabi Muhammad SWA memperoleh wahyu, dan diajarkan langsung dari Allah Pencipta langit dan bumi.
  2. Bumi berputar pada porosnya mengorbit matahari: Kalau bumi tidak bulat dan tidak berputar serta beredar mengorbit matahari, maka tidak akan terjadi pergantian malam dan siang. Kenyataan ilmiyah tentang perputaran dan peredaran bumi ini telah dilangsir oleh Al Qur’an secara implisit dengan ungkapan sangat rinci dan ilmiyah. Al Qur’an telah mengungkap kenyataan ilmiyah jauh sebelum capaian sains modern.
  3. Bumi berputar pada porosnya beredar mengorbit matahari lebih cepat ketika awal penciptaan alam dari pada saat sekarang: Kenyataan Ilmiyah yang terakhir ini tidak dicapai sains modern kecuali pada era belakangan dari abad ke-20. Al Qur’an jauh sebelumnya sekitar lebih dari 14 abad lalu telah menegaskan hakikat ini, Allah berfirman: “Sesungguhnya Tuhan-mu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian naik ke ‘Arsy, menutupi malam dengan siang…….” (Q.S: Al-A’raf: 54).

    Siang ditutupi oleh malam disebutkan di dalam Al Qur’an sebanyak 4 kali (Al A’raf 54, Ar-Ra’d 3, Asy-syams 1-4, dan Al-Lail 1-2). Dan hanya sekali saja menyipati “yathlubuhu hatsitsan” (yaitu = cepat), pada ayat 54 dari surah Al-A’raf di atas, karena bercerita tentang awal mula penciptaan langit dan bumi.

    Ilmu pengetahuan tidak pernah mencapai kenyataan ilmiyah ini kecuali di era belakangan ini pada abad ke-20, ketika ilmuawan menyingkap bahwa pergantian malam dan siang pada era-geology tahap pertama berjalan dengan kecepatan yang sangat tinggi, membuat hitungan hari dalam setahun mencapai lebih dari 2000 hari, Sedangkan hitungan malam dan siang secara keseluruhan hanya kurang dari 4 jam.

    Adalah pengurangan kecepatan perputaran bumi pada porosnya sekitar seper-detik pada setiap abad merupakan tanda kekuasaan Allah untuk mempersiapkan bumi menerima kehidupan. Karena bentuk kehidupan – khususnya manusia - tidak akan sanggup berintraksi dengan kecepatan bumi yang sangat tinggi tersebut, Begitu pula dengan pendek atau panjang dari malam dan siang.
  4. Bumi beredar mengorbit matahari: AlQuran pada beberapa ayatnya mengibaratkan bumi sebagai malam dan siang, seperti pada ayat: “Dia-Lah (Allah) menciptakan malam dan siang, dan menjadikan matahari dan bulan semuanya beredar pada angkasa” (Q.S: Al-anbiya: 33). Di ayat lain: “Tiada-lah matahari dapat mendahului bulan dan tiada pula malam mendahului siang semuanya beredar pada angkasa” (Q.S: Yasin: 40).

    Demikian karena malam dan siang keduanya ibarat sebagai waktu bukan benda materi, maka waktu harus memiliki sarana. Dan sarana yang pantas disini adalah planet bumi yang separohnya terbagi ke malam dan separoh yang lain ke siang senantiasa bergerak dan silih berganti. Kalau bumi tidak bulat, tidak pula berputar pada porosnya dan beredar mengelilingi matahari, maka tidak terjadi pergantian malam dan siang diatas permukaannya. Tanpa bumi mengorbit matahari, tidak-lah berubah rasi bintang. Jika bumi tidak condong pada putarannya ke lintasan rasi bintang sekitar 66, 5 derajat, maka tidak terjadi pergantian musim.

    Dan seandainya Allah tidak mengetahui keterbatasan manusia dengan kenyataan-kenyataan ini pada masa lampau, niscaya Allah menurunkan ayat tentang hakikat alam dengan bahasa yang lugas dan langsung. Akan tetapi demi menjaga manusia tidak kaget pada masa turunnya wahyu, Allah menyimbolkan perputaran bumi pada porosnya mengorbit matahari dengan kata “sabbaha” (beredar) setiap dari malam dan siang.

    Dan kata “beredar” sendiri tidak dipakai kecuali hanya pada benda materi. Kalimat “as-sabhu” dalam bahasa Arab artinya peredaran cepat bagi benda materi dengan gerakan yang ditimbulkannya sendiri, seperti beredarnya setiap dari bumi, bulan, matahari dan sejenisnya dari benda-benda langit, semua pada rotasinya mengelilingi benda yang lebih besar massanya.
  5. Menjelaskan betapa tipisnya medan siang pada lapisan gas pada belahan bumi yang menghadap matahari:
    Fakta ilmiyah ini tidak dicapai oleh ilmu pengetahuan modern kecuali setelah era astronomi pada paroh terakhir abad ke-20. Al Qur’an telah terlebih dahulu menjelaskan hakikat ilmiyah ini sejak 14 abad lalu, jelas dalam firman Allah: “Dan sebagai pertanda bagi mereka malam menutup siang maka mereka dalam kegelapan” (Q.S: Yasin: 37).

    Ayat ini lebih jauh menjelaskan bahwa asli dari alam ini adalah kegelapan, Adapun cahaya siang pada lapisan gas yang mencakupi belahan bumi yang menghadap matahari yang senantiasa bergerak menempati posisi gelap malam dengan terbitnya fajar hanyalah lapisan yang sangat tipis ukuran tebalnya tidak mencapai 200 km diatas permukaan laut. Jika ukuran ketebalan ini dibandingkan dengan jarak antara bumi dan matahari yang mencapai sekitar 150.000.000 km, maka perbandingan hanya sekitar kira-kira 1/ 750.000. Dan jika dibandingkan lagi dengan separoh bagian dari alam raya yang dapat dijangkau pada jarak kira-kira 12 billyun (1000 juta) tahun perjalanan cahaya, maka hilanglah perbandingan ini atau tidak berbanding apa-apa.

    Dari sini tampak jelas betapa tipisnya lapisan yang meliputi cahaya siang, dan ketidak konstannya karena selalu bergerak dari satu titik ke titik lain pada permukaan bumi dengan rotasinya mengorbi matahari. Dan dipahami juga bahwa lapisan cahaya siang yang sangat tipis tersebut terselubung dari kita oleh kegelapan alam angkasa luar, karena lapisan cahaya siang yang terlihat oleh astronomi yaitu matahari pada pertengahan siang sebagai bola biru berlatar hitam pekat.

    Fakta sains yang ditemukan sekitar setengah abad lalu ini menjelaskan perumpamaan Al Qur’an sebagai cahaya siang menutupi kegelapan malam dan alam raya sekaligus seperti kulit tipis binatang menutupi seluruh tubuhnya. Dengan demikian jelas bahwa kegelapan merupakan dasar dari pada alam raya, dan siang hanyalah fenomena bias cahaya yang sangat tipis tidak nampak kecuali pada lapisan paling bawah dari lapisan gas pada belahan bumi yang menghadap matahari. Dan melalui rotasi bumi mengorbit matahari, maka tertuplah siang secara perlahan-lahan oleh kegelapan malam bumi yang kemudian bertema dengan kegelapan langit.
  6. Perhitungan waktu: Perhitungan waktu dapat diketahui melalui faktor-faktor: malam, siang, matahari dan bulan. Sebagaimana di ketahui bahwa tahun hijriyah merupakan tahun matahari/ bulan, karena hitungan tahun ini ditentukan oleh peredaran bumi mengelilingi matahari, setiap sekali edaran mencapai sekitar 365,25 hari. Dan tahun ini terbagi kepada 12 bulan di ketahui melalui perputaran bulan mengelilingi bumi, Sebagaimana bulan juga terbagi pada minggu, hari dan malam di ketahui melalui bulan juga.

  7. Malam bumi menerangi benda-benda langi yang lain : Dari ayat-ayat tentang malam dan siang juga merupakan isyarat bahwa malam bumi - dahulu kala - pada awal penciptaan pernah menerangi beberapa fenomena alam, seperti dalam firman Allah: «Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua simbol kebesaran maka kami unggulkan simbol malam dan menjadikan simbol siang terang agar kamu memperoleh kemulian Tuhan-mu dan mengetahui hitungan tahun dan waktu dan segala sesuatu telah Kami uraikan secara rinci» (Q.S : Al-israa : 12).

    Pencerahan dari ayat ini adalah fenomena waktu senja daerah qutub dan percikan cahanyanya, atau dikenal juga fanorama cahaya qutub atau fajar malam qutub. Yaitu cahaya yang terlihat pada waktu malam di atas langit qutub dan sekitarnya, terbentuk akibat perbenturan sinar alam utama yang memenuhi bagian-bagian terjangkau dari alam raya dalam bentuk benda-benda dasar materi lapisan gas bumi yang dibentuknya dan menimbulkan sinar ekstra alam. Kemudian berbenturan sinar yang bermuatan listrik yang beraneka ragam dengan sabuk sinar dan bentukan dari lapisan gas bumi yang menaburkan muatannya.

    Berikutnya membakar bahan-bahan utama dari materi yang rapih dan sempurna tadi, yang bermuatan tegangan listrik yang sangat tinggi serta bergerak dengan kecepatang menghampiri kecepatan cahaya. Fenomena ini tidak ditemukan kecuali pada tahun 1936. Sinar alam bergerak mengikuti alur magnet bumi yang condong mengarah qutub magnet bumi, maka membentuk lapisan gas bumi kemudian mengobarkannya.

    Hakikat sains mengungkapkan bahwa prangkap-perangkap yang melindungi lapisan gas bumi, seperti Lapisan Troposfer, lapisan ozon, Ionosfer, dan Lapisan magnetosfer tidak terwujud pada awal mula penciptaan bumi. Dengan demikian pancaran sinar alam mencapai pada tingkat yang sangat rendah pada lapisan bumi mengakibatkan pengobarannya di waktu malam pada seluruh pelosok bumi. Akan tetapi setelah terbentuk perangkap-perangkap pelindung tersebut, mulailah kobaran sinar tersebut berkurang pelahan-lahan hingga tidak nampak lagi kecuali hanya pada bagian tertentu saja sekitar daerah dua qutub.

    Ini suatu bukti kebenaran Al Qur’an semenjak lebih dari 1400 tahun lalu telah memproklamirkan bahwa malam bumi pada awal penciptaan telah menerangi beberapa benda-benda langit dengan sinar tidak kurang terangnya dari cahaya fajar ufuk. Wallahua’lam.

    Kajian berikut ini akan menguraikan sepuluh peristiwa-peristiwa malam sebagaimana yang terdapat pada ayat-ayat sumpah di atas, sebagai berikut : >>>>> Bersambung ...!!! 
    [•Lihat Disini]===>>>

BACA JUGA :

1

SIMBOL SAINS DI DALAM AL QUR'AN (MUKADDIMAH)

2

4O SUMPAH TERDAHSYAT DALAM AL-QURAN

3

BULAN SATELIT BUMI DI DALAM ALQURAN:

4

MATAHARI PUSAT TATA SURYA DI DALAM ALQURAN:

5

BUMI TERHAMPAR DI DALAM ALQURAN:

6

BULAN PURNAMA MEMICU BENCANA ALAM

7

Galaksi Bima Sakti (Matahari - Bulan – Bumi)

8

GEOSCIENCE AL-QUR’AN: AS-SHADA’ (LEMPENGAN BUMI)

9

Bukit Thur Sinai dan Segitiga Bermuda

10

CAHAYA SENJA DAN KIAMAT 2012

11

STRUKTUR LANGIT DALAM AL-QUR'AN

12

Bintang-Bintang di Ruang Angkasa

13

JARINGAN COSMOS (COSMIC WEB) DALAM AL-QUR’AN

14

LAPISAN UDARA (ATMOSFER) DI DALAM ALQURAN:

15

LUBANG HITAM (BLACK HOLES) DALAM AL-QUR’AN

16

Langit dan Sifat-Sifatnya

17

RASI BINTANG DALAM AL-QUR’AN

18

BINTANG SIRIUS DALAM AL-QUR’AN

19

ROTASI BINTANG-BINTANG DALAM AL-QUR’AN

20

BINTANG AT-THAARIQ (PULSARS) DALAM AL-QUR'AN

21

KEKAYAAN ALAM DALAM AL-QUR’AN

22

KHASIAT BUAH TIN DAN ZAITUN DALAM ALQURAN

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!