My Buku Kuning Center : Fenomena Waktu (Siang dan Malam)

Tuesday, June 10, 2008

Fenomena Waktu (Siang dan Malam)

SIMBOL SAINS DI DALAM AL QUR'AN IV:
(KEUNGGULAN SAINS PADA AYAT-AYAT SUMPAH DI DALAM AL QUR'AN)
Oleh: Med HATTA

BAB IV
FENOMENA WAKTU (MALAM DAN SIANG)
Allah SWT Bersumpah:
WAKTU DALAM ISLAM:Allah SWT bersumpah demi waktu diberbagai tempat dalam Al Qur’an, misalnya pada surat Al-Mudatsir Allah bersumpah: (dan demi malam ketika telah berlalu; dan subuh apabila mulai terang). Di surat Al-Fajr: (Dan demi fajar ; dan malam yang sepuluh ; dan demi malam apabila berlalu). Di surat Al-Syamsy: (Demi matahari dan sinarnya di pagi hari; demi siang apabila menampakkannya (matahari); demi malam apabila menutupinya (matahari). Di surat A-llail : (Demi malam apabila menutupi; demi siang apabila telah terang benderang). Di surat Adh-Dhuha: (Demi waktu dhuha; dan malam apabila telah sunyi). Dan di surat Al-Asr Allah bersumpah demi masa (waktu) secara khusus.


Sumpah-sumpah Allah tentang periode waktu di atas menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam Islam. Belum lagi termasuk disini ayat-ayat yang bertema tentang waktu-waktu yang lain di dalam Al Qur’an, seperti ayat yang berkisah tentang harapan orang-orang kafir dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat kelak, mereka sangat apresiasi tentang eksestensi waktu tetapi bukan untuk hal-hal yang di ridhai Allah SWT. Mereka misalnya menginginkan berumur selama seribu tahun untuk mempertahankan kehidupannya yang berlumuran dosa. Sebahagian mereka menganggap hidup yang dijalaninya di dunia hanya sebatas sehari atau dua hari saja. Dan masih banyak lagi tema waktu tersebar diberbagai ayat di dalam Al Qur’an yang tidak termasuk dalam kajian ini.
PASAL 1, PERIODE MALAM

Periode waktu disebutkan di dalam Al Qur’an dengan jumlah yang sangat penomenal dalam berbagai bentuknya, misalnya malam di sebutkan sebanyak 92 kali, siang 57 kali. Sebagaimana juga terdapat kalimat-kalimat seperti as-shubhu, al-ishbah, al-falak dan sejenisnya masuk kategori siang tersebar pada ayat-ayat yang lain. Kemudian kalimat al-yaum juga sering diartikan siang di beberapa tempat di dalam Al Qur’an.

Periode waktu yang lain disebutkan juga secara khusus seperti fajar, waktu dhuha, Ashar, waktu senja. Semua periode waktu telah di sebutkan Al Qur’an secara utuh dan menyeluruh dengan sangat gamblang.

PERGANTIAN MALAM DANG SIANG SECARA TERATUR:Adalah merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT pada pergantian malam dang siang, karena silih bergantinya dua waktu tersebut (siang dan malam) tercipta kehidupan di muka bumi, manusia mengetahui sistem waktu dan menyusun sejarah dari peristiwa-peristiwa penting dari masa ke masa. Tanpa adanya pergantian antara malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang kehidupan diatas permukaan bumi tidak akan berlangsung, manusia tidak pernah merasakan peredaran waktu dan tidak mengenal catatan sejarah dari peristiwa-peristiwa masa lalunya.

Dari pergantian malam dan siang jua diketahui hakikat bahwa bumi yang kita huni ini berbentuk bulat, berputar pada porosnya dan mengorbit matahari secara teratur. Dengan demikian manusia mengetahui tahun, pergantian musim, menentukan bulan, minggu dan hari. Serta pergiliran malam dan siang pada belahan bumi atas belahan yang lain. Hal ini merupakan suatu keharusan untuk melestarikan kehidupan di bumi. Dan tugasnya yang silih berganti secara teratur dengan bentuk yang berbeda-beda akan berlangsung terus-menerus hingga bumi beserta isinya di wariskan oleh Allah SWT.

Dengan pergantian gelap dan terang ini terjadi pendisplaian energi matahari hingga sampai ke bumi, dan selanjutnya membantu mengontrol sirkulasi cuaca panas dan dingin, dan membantu mensuplai sinar matahari ke berbagai pelosok bumi. Dan sebagaimana juga membantu menetralisir berbagai aktifitas baik yang hidup maupun mati seperti misalnya bernapas dan menguap bagi manusia dan hewan, serta berfotosintesis bagi tumbuh-tumbuhan. mengatur fungsi lapisan gas dan udara yang terdapat di bumi, serta menetralisir berbagai aktifitas di bumi seperti sirkulasi air antara bumi dan lapisan paling rendah atmosfer, gerakan angin dan awan, mengatur prekwensi hujan. Dan melindungi atau memelihara segala kekayaan bumi dari cagar alam dan lain-lain.

Disamping dari semua itu tujuan dari pergantian malam yang gelap dan siang yang terang adalah pembagian hari bagi bumi untuk menjaga stabilitas kehidupan sehari-hari, malam misalnya sebagai naungan, ketenteraman, dan peristirahatan, serta untuk menetap, sedangkan siang diciptakan sebagai waktu untuk bekerja keras dan beramal, kita tidak bisa mengatakan bahwa waktu itu hanyalah siang hari yang terus-menerus bermanfaat, atau dia hanyalah malam hari yang terus bermanfaat, akan tetapi kedua-duanya saling berganti satu sama lain, dan pergantian ini adalah hakikat dari kesempurnaan yang saling melengkapi, kita tidak mungkin merasakan betapa berharganya sebuah malam kecuali jika kita telah berada pada siang hari, kita juga tidak akan tahu betapa berharganya siang hari kecuali jika kita telah menjalani malam yang sunyi, akan tetapi nilai dari saling melengkapilah yang memberikan keindahan yang sempurna, dalam kaitan ini Allah berfirman: «Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang sebagai aktifitas» (Q.S : Annaba : 10-11), Allah berfirman : «Dia-Lah (Allah) telah menjadikan kepada-mu malam untuk menetap dan siang untuk beraktifitas yang demikian itu sebagai pertanda bagi orang yang mendengar» (Q.S : Yunus : 67).

Dari sini dipahami bahwa fenomena pergantian malam dan siang merupakan dakwah kepada semua makhluk untuk beriman kepada Allah. Dan dipahami juga bahwa ayat-ayat yang diturunkan tentang pergantian malam dan siang tersebut sungguh sebuah mu’jizat, antara lain kemu’jizatan Al Qur’an ini menceritakannya beberapa fenomena alam raya yang belum dapat dicernah pada zaman turun wahyu, dan pada abad-abad jauh sebelumnya. Ini suatu bukti bahwa Al Qur’an ini bukan hasil karya manusia, akan tetapi wahyu Allah Sang Pencipta Yang tidak mendatangkan sesuatu sia-sia pada diri dan makhluk-Nya. Dan sekaligus bukti kenabian Muhammad SWA dan kebenaran risalah yang dibawanya.

Fakta Ilmiyah Tentang Perputaran Malam dan Siang:

  1. Memastikan bumi bulat:Sesungguhnya perubahan malam dan siang dibelahan bumi; silih berganti dan saling menyusupi satu sama lain, bolak-balik satu sama lain, susul-menyusul, cahaya siang menutupi kegelapan malam, menampakkan kegelapan malam dengan cahaya siang, malam menciptakan siang dan siang menciptakan malam. Kesemua itu merupakan symbol atas bentuk bumi, kalau bumi tidak bulat pasti fenomena-fenomena tersebut tidak akan terjadi. Dan bukti paling sederhana adalah pergantian malam dan siang.

    Kenyataan ilmiyah yang telah didengungkan oleh Al Qur’an sejak lebih dari 14 abad lalu pada saat manusia masih beranggapan bumi datar, sekalipun sebagian ulama zaman dulu sudah berfikiran maju.

    Banyaknya ayat Al Qur’an diturunkan tentang hakikat fenomena alam ini di jazirah Arab yang – nota bene – saat itu masih diliputi oleh lingkungan badawi yang masih sangat sederhana, mereka sama sekali tidak memperoleh pencerahan ilmiyah dan tidak mengerti tentang alam dan isinya. Dengan demikian dipastikan bahwa Al Qur’an bukanlah hasil karya manusia, tetapi merupakan Kalam Allah Sang Pencipta, Yang telah menciptakan alam raya ini dengan ilmu, hikmah dan Qudrat-Nya. Dia-Lah lebih tahu hasil ciptaan-Nya dari selain-Nya. Bahwa sanya nabi Muhammad SWA memperoleh wahyu, dan diajarkan langsung dari Allah Pencipta langit dan bumi.
  2. Bumi berputar pada porosnya mengorbit matahari:Kalau bumi tidak bulat dan tidak berputar serta beredar mengorbit matahari, maka tidak akan terjadi pergantian malam dan siang. Kenyataan ilmiyah tentang perputaran dan peredaran bumi ini telah dilangsir oleh Al Qur’an secara implisit dengan ungkapan sangat rinci dan ilmiyah. Al Qur’an telah mengungkap kenyataan ilmiyah jauh sebelum capaian sains modern.
  3. Bumi berputar pada porosnya beredar mengorbit matahari lebih cepat ketika awal penciptaan alam dari pada saat sekarang:Kenyataan Ilmiyah yang terakhir ini tidak dicapai sains modern kecuali pada era belakangan dari abad ke-20. Al Qur’an jauh sebelumnya sekitar lebih dari 14 abad lalu telah menegaskan hakikat ini, Allah berfirman: “Sesungguhnya Tuhan-mu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian naik ke ‘Arsy, menutupi malam dengan siang…….” (Q.S: Al-A’raf: 54).

    Siang ditutupi oleh malam disebutkan di dalam Al Qur’an sebanyak 4 kali (Al A’raf 54, Ar-Ra’d 3, Asy-syams 1-4, dan Al-Lail 1-2). Dan hanya sekali saja menyipati “yathlubuhu hatsitsan” (yaitu = cepat), pada ayat 54 dari surah Al-A’raf di atas, karena bercerita tentang awal mula penciptaan langit dan bumi.

    Ilmu pengetahuan tidak pernah mencapai kenyataan ilmiyah ini kecuali di era belakangan ini pada abad ke-20, ketika ilmuawan menyingkap bahwa pergantian malam dan siang pada era-geology tahap pertama berjalan dengan kecepatan yang sangat tinggi, membuat hitungan hari dalam setahun mencapai lebih dari 2000 hari, Sedangkan hitungan malam dan siang secara keseluruhan hanya kurang dari 4 jam.

    Adalah pengurangan kecepatan perputaran bumi pada porosnya sekitar seper-detik pada setiap abad merupakan tanda kekuasaan Allah untuk mempersiapkan bumi menerima kehidupan. Karena bentuk kehidupan – khususnya manusia - tidak akan sanggup berintraksi dengan kecepatan bumi yang sangat tinggi tersebut, Begitu pula dengan pendek atau panjang dari malam dan siang.
  4. Bumi beredar mengorbit matahari:Al Qur’an pada beberapa ayatnya mengibaratkan bumi sebagai malam dan siang, seperti pada ayat: “Dia-Lah (Allah) menciptakan malam dan siang, dan menjadikan matahari dan bulan semuanya beredar pada angkasa” (Q.S: Al-anbiya: 33). Di ayat lain: “Tiada-lah matahari dapat mendahului bulan dan tiada pula malam mendahului siang semuanya beredar pada angkasa” (Q.S: Yasin: 40).

    Demikian karena malam dan siang keduanya ibarat sebagai waktu bukan benda materi, maka waktu harus memiliki sarana. Dan sarana yang pantas disini adalah planet bumi yang separohnya terbagi ke malam dan separoh yang lain ke siang senantiasa bergerak dan silih berganti. Kalau bumi tidak bulat, tidak pula berputar pada porosnya dan beredar mengelilingi matahari, maka tidak terjadi pergantian malam dan siang diatas permukaannya. Tanpa bumi mengorbit matahari, tidak-lah berubah rasi bintang. Jika bumi tidak condong pada putarannya ke lintasan rasi bintang sekitar 66, 5 derajat, maka tidak terjadi pergantian musim.

    Dan seandainya Allah tidak mengetahui keterbatasan manusia dengan kenyataan-kenyataan ini pada masa lampau, niscaya Allah menurunkan ayat tentang hakikat alam dengan bahasa yang lugas dan langsung. Akan tetapi demi menjaga manusia tidak kaget pada masa turunnya wahyu, Allah menyimbolkan perputaran bumi pada porosnya mengorbit matahari dengan kata “sabbaha” (beredar) setiap dari malam dan siang.

    Dan kata “beredar” sendiri tidak dipakai kecuali hanya pada benda materi. Kalimat “as-sabhu” dalam bahasa Arab artinya peredaran cepat bagi benda materi dengan gerakan yang ditimbulkannya sendiri, seperti beredarnya setiap dari bumi, bulan, matahari dan sejenisnya dari benda-benda langit, semua pada rotasinya mengelilingi benda yang lebih besar massanya.
  5. Menjelaskan betapa tipisnya medan siang pada lapisan gas pada belahan bumi yang menghadap matahari:
    Fakta ilmiyah ini tidak dicapai oleh ilmu pengetahuan modern kecuali setelah era astronomi pada paroh terakhir abad ke-20. Al Qur’an telah terlebih dahulu menjelaskan hakikat ilmiyah ini sejak 14 abad lalu, jelas dalam firman Allah: “Dan sebagai pertanda bagi mereka malam menutup siang maka mereka dalam kegelapan” (Q.S: Yasin: 37).

    Ayat ini lebih jauh menjelaskan bahwa asli dari alam ini adalah kegelapan, Adapun cahaya siang pada lapisan gas yang mencakupi belahan bumi yang menghadap matahari yang senantiasa bergerak menempati posisi gelap malam dengan terbitnya fajar hanyalah lapisan yang sangat tipis ukuran tebalnya tidak mencapai 200 km diatas permukaan laut. Jika ukuran ketebalan ini dibandingkan dengan jarak antara bumi dan matahari yang mencapai sekitar 150.000.000 km, maka perbandingan hanya sekitar kira-kira 1/ 750.000. Dan jika dibandingkan lagi dengan separoh bagian dari alam raya yang dapat dijangkau pada jarak kira-kira 12 billyun (1000 juta) tahun perjalanan cahaya, maka hilanglah perbandingan ini atau tidak berbanding apa-apa.

    Dari sini tampak jelas betapa tipisnya lapisan yang meliputi cahaya siang, dan ketidak konstannya karena selalu bergerak dari satu titik ke titik lain pada permukaan bumi dengan rotasinya mengorbi matahari. Dan dipahami juga bahwa lapisan cahaya siang yang sangat tipis tersebut terselubung dari kita oleh kegelapan alam angkasa luar, karena lapisan cahaya siang yang terlihat oleh astronomi yaitu matahari pada pertengahan siang sebagai bola biru berlatar hitam pekat.

    Fakta sains yang ditemukan sekitar setengah abad lalu ini menjelaskan perumpamaan Al Qur’an sebagai cahaya siang menutupi kegelapan malam dan alam raya sekaligus seperti kulit tipis binatang menutupi seluruh tubuhnya. Dengan demikian jelas bahwa kegelapan merupakan dasar dari pada alam raya, dan siang hanyalah fenomena bias cahaya yang sangat tipis tidak nampak kecuali pada lapisan paling bawah dari lapisan gas pada belahan bumi yang menghadap matahari. Dan melalui rotasi bumi mengorbit matahari, maka tertuplah siang secara perlahan-lahan oleh kegelapan malam bumi yang kemudian bertema dengan kegelapan langit.
  6. Perhitungan waktu:Perhitungan waktu dapat diketahui melalui faktor-faktor: malam, siang, matahari dan bulan. Sebagaimana di ketahui bahwa tahun hijriyah merupakan tahun matahari/ bulan, karena hitungan tahun ini ditentukan oleh peredaran bumi mengelilingi matahari, setiap sekali edaran mencapai sekitar 365,25 hari. Dan tahun ini terbagi kepada 12 bulan di ketahui melalui perputaran bulan mengelilingi bumi, Sebagaimana bulan juga terbagi pada minggu, hari dan malam di ketahui melalui bulan juga.

  7. Malam bumi menerangi benda-benda langi yang lain :Dari ayat-ayat tentang malam dan siang juga merupakan isyarat bahwa malam bumi - dahulu kala - pada awal penciptaan pernah menerangi beberapa fenomena alam, seperti dalam firman Allah: «Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua simbol kebesaran maka kami unggulkan simbol malam dan menjadikan simbol siang terang agar kamu memperoleh kemulian Tuhan-mu dan mengetahui hitungan tahun dan waktu dan segala sesuatu telah Kami uraikan secara rinci» (Q.S : Al-israa : 12).

    Pencerahan dari ayat ini adalah fenomena waktu senja daerah qutub dan percikan cahanyanya, atau dikenal juga fanorama cahaya qutub atau fajar malam qutub. Yaitu cahaya yang terlihat pada waktu malam di atas langit qutub dan sekitarnya, terbentuk akibat perbenturan sinar alam utama yang memenuhi bagian-bagian terjangkau dari alam raya dalam bentuk benda-benda dasar materi lapisan gas bumi yang dibentuknya dan menimbulkan sinar ekstra alam. Kemudian berbenturan sinar yang bermuatan listrik yang beraneka ragam dengan sabuk sinar dan bentukan dari lapisan gas bumi yang menaburkan muatannya.

    Berikutnya membakar bahan-bahan utama dari materi yang rapih dan sempurna tadi, yang bermuatan tegangan listrik yang sangat tinggi serta bergerak dengan kecepatang menghampiri kecepatan cahaya. Fenomena ini tidak ditemukan kecuali pada tahun 1936. Sinar alam bergerak mengikuti alur magnet bumi yang condong mengarah qutub magnet bumi, maka membentuk lapisan gas bumi kemudian mengobarkannya.

    Hakikat sains mengungkapkan bahwa prangkap-perangkap yang melindungi lapisan gas bumi, seperti Lapisan Troposfer, lapisan ozon, Ionosfer, dan Lapisan magnetosfer tidak terwujud pada awal mula penciptaan bumi. Dengan demikian pancaran sinar alam mencapai pada tingkat yang sangat rendah pada lapisan bumi mengakibatkan pengobarannya di waktu malam pada seluruh pelosok bumi. Akan tetapi setelah terbentuk perangkap-perangkap pelindung tersebut, mulailah kobaran sinar tersebut berkurang pelahan-lahan hingga tidak nampak lagi kecuali hanya pada bagian tertentu saja sekitar daerah dua qutub.

    Ini suatu bukti kebenaran Al Qur’an semenjak lebih dari 1400 tahun lalu telah memproklamirkan bahwa malam bumi pada awal penciptaan telah menerangi beberapa benda-benda langit dengan sinar tidak kurang terangnya dari cahaya fajar ufuk. Wallahua’lam.

    Kajian berikut ini akan menguraikan sepuluh peristiwa-peristiwa malam sebagaimana yang terdapat pada ayat-ayat sumpah di atas, sebagai berikut :

PASAL 2, SEPULUH PERISTIWA-PERISTIWA MALAM BUMI
Allah bersumpah:

Kebanyakan ulama tafsir terdahulu menafsirkan ayat “malam yang Sepuluh” ini sebagai malam Sepuluh zul-hijjah, seperti kata Mujahid, Sudai dan Kalbi dalam buku tafsirnya: “Demi malam yang Sepuluh”: yaitu Sepuluh zul-hijjah. Kecuali Masruq menafsirkan yaitu malam yang Sepuluh yang disebutkan pada qishah nabi Musa as pada ayat “dan Kami genapkannya menjadi Sepuluh” (Q.S: Al-A’raf: 142), dimana merupakan hari-hari afdhal dalam setahun.


Sedangkan riwayat dari Abu Az-Azubair dari Jabir mengatakan bahwa Rasulullah SAW membacakan: “Demi fajar dan malam yang Sepuluh”: yaitu: (Sepuluh Al Adha), karena malam yang sepuluh dengan pengertian ini termasuk di dalamnya hari kurban. Allah mengkhususkannya untuk menjadikan hari wukuf bagi yang tidak wukuf di hari Arafah. Kalimat arabnya dalam bentuk nakirah bukan ma’rifah karena kemuliaanya dari hari-hari yang lain, kalau dia berbentuk ma’rifah tidak akan mencapai derajat semulia yang terdapat dalam bentuk nakirah. Di nakirahkan beberapa hal yang di sumpahkan menunjukkan kemulian tertentu yang tidak terdapat pada selainnya. Wallahua’lam.

Adapun menurut Ibnu Abbas: Yaitu malam-malam Sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, pendapat ini didukung pula oleh Ad-Dhahhak. Pendapat lain dari Ibnu Abbas termasuk juga Yamman dan At-Thabari: Yaitu malam-malam sepeluh pertama dari bulan Muharram, hari kesepuluhnya disebut ”asyuraa”.

Fakta Sepuluh Malam:Menurut kajian ini, ayat ke-2 dari surah Al Fajr: “Demi malam yang Sepuluh”: Adalah Sepuluh peristiwa-peristiwa malam yang terjadi di bumi tidak termasuk fajar, karena fajar disebutkan secara khusus dalam surah yang sama sebelum menyebutkan malam-malam yang sepuluh ini.

Setelah mencermati Kalimat-kalimat malam yang ada di dalam Al Qur’an, diketahui ada beberapa malam khusus yang secara khusus pula disumpahkan untuk maksud tertentu, malam-malam khusus itu tidak semua malam. Dalam artian tidak terikat dengan malam yang umum kita kenal, malam umum yang kita kenal dan lewati setiap hari merupakan proto-tipe dari malam-malam khusus yang akan penulis kaji berikut. Dia khusus karena menunjukkan peristiwa-peristiwa tertentu yang akan datang, dan umum karena malam perjalanan sejarah semuanya.

Apa saja Sepuluh Peristiwa-peristiwa Malam itu?
Allah SWT Bersumpah:

Fakta mengatakan: Bahwa bumi berputar pada porosnya mengakibatkan terjadinya malam dan siang, yang menyebabkan terjadinya perputaran tersebut karena panas bumi itu sendiri. Dan panas ini tidak akan kekal, bahkan akan berhenti dan mendingin secara pelan-pelan dengan perjalanan waktu dan masa sebagaimana bulan telah mendingin dan tidak berputar lagi pada porosnya. Bumipun akan mengalami nasib yang sama berhenti berputar pada porosnya dengan 2 alasan:
  1. Panas yang terkandung di dalam perut bumi akan habis karena: Aktifitas-aktifitas gunung berapi, banjir besar-besaran, eksploritas minyak dan gas, dll…

  2. Comet-comet dan benda-benda langit lainnya berjatuhan dari angkasa menimpa bumi mengakibatkan permukaannya semakin dingin, maka dengan demikian berhenti pergantian malam dan siang. Lebih parah lagi terjadi malam berkepanjangan tidak didatangi siang sampai kiamat di belahan bumi yang menghadap matahari, dan siang terus-menerus tidak diikuti malam di belahan lain yang membelakangi matahari.
Maha Benar Allah dalam Firman-NYA: “Katakanlah, apakah telah terpikir olehmu jika Allah menjadikan malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan siang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar? “Katakanlah, apakah telah terpikir olehmu jika Allah menjadikan siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam sebagai tempat kamu beristirahat? Maka apakah kamu tidak melihat? (Q.S: Al-Qashash: 71-71).

Dari Fakta tadi dan ayat ke-71/ 72 dari surah Al-Qashash diatas, telah membantu memberikan pencerahan untuk memahami ayat-ayat sumpah diatas, dan sekaligus menguatkan kajian tentang keberadaan sepuluh peristiwa-peristiwa malam seperti pada ayat “Demi malam yang sepeluh”. Diantara sepuluh peristiwa-peristiwa malam tersebut, terdapat 7 pada ketujuh ayat-ayat sumpah diatas, penjelasannya sebagai berikut:

PERTAMA: Malam Berlalu dan Subuh Menyingsing:
Yang dimaksudkan disini Adalah malam yang sangat panjang itu, kalimat “adbara” pada ayat, yaitu telah berlalu dari kamu dan tidak akan pernah kembali lagi selamanya dan digantikan oleh cahaya subuh. Ini merupakan suatu fenomena alam pada periode akhir menjelang kiamat, maka makhluk tidak butuh lagi malam yang telah pergi selamanya.

Setelah malam berlalu dan tidak akan kembali lagi selamanya, maka datanglah subuh, yang dimaksudkan adalah siang terus menerus sampai hari kiamat. Maha Benar Allah dalam Firman-NYA: “Sesungguhnya itu merupakan salah satu tanda-tanda besar (kiamat)”.

Pada periode itu tidak akan nampak pula cahaya matahari kauniyah digantikan oleh matahari ma’rifah, pada saat itu nampak Sorga dengan segala kenikmatannya: “… mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersengatan“ (Q.S: Al-Insan: 13). Adapun kenyataan umum setiap hari bahwa setiap subuh menyingsing, malam pasti berlalu. Wallahua’lam.

KEDUA: MALAM TELAH MENETAP:
Kalimat “idza as-asa”, yaitu apabila posisinya (malam) telah menetap bersamamu dan waktunya terus menerus menemanimu. Seperti dalam legenda Arab tentang seekor serigala yang tidak takut menghadapi anjing sebaliknya tetap pada tempatnya menantang anjing, maka dikatakan serigala “aasa” (menantang). Dengan demikian Kalimat “as-asa” sinonimnya: (tetap – memperlambat – berdiam – selamanya dan menantang).

Malam apabila telah menetap: Pada saat itu malam menghalau siang maka semakin menebal dan gelap serta mengukuhkan posisinya tidak mau bergeser sedikitpun. Dan dalam keadaan biasa setiap hari keadaan seperti ini terjadi menjelang-jelang fajar atau ketika fajar atau mungkin juga sekitar jam 09-10 dari awal malam jika diibaratkan malam itu 12 jam.

Pada peristiwa-peristiwa malam, keadaan ini (malam menetap) terjadi sebagai tanda-tanda dunia akan berakhir (kiamat). Wallahua’lam


KETIGA: MALAM MENUTUPI SIANG:

Kata dasar “al-ghisyyan” pada “wallaili idza yaghsyaa”: Adalah salah satu periode dari periode-periode malam yang terjadi setiap hari, yaitu hari bumi. Dan akan terjadi juga pada peristiwa-peristiwa malam panjang itu, pada saat itu siang ada dan matahari pun diciptakan tetapi malam menutupi memanfaatkan ketidak beradaan keduanya pada bagian lain. Wallahua’lam
KEEMPAT: MALAM TELAH PERGI:

PENDAPAT AHLI TAFSIR:Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa kata “yasrie” pada ayat “wallaili Idza yasar”: yaitu, berlalu dan pergi. Sedangkan Qatadah dan Abu Al-Aliyah menafsirkan: yaitu, datang dan pergi, ada pula riwayat dari Ibrahim: “wallaili idza yasar”, yaitu malam apabila telah bersemayam. Dan Ikrima, Al-Kalbi, Mujahid dan Ka’ab menafsirkan: “Allail”: yaitu malam Muzdalifa secara khusus, karena malam itu berkumpulnya manusia melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Dan ada pula mengatakan: yaitu Lailatulqadr, karena pada malam itu datang rahmat yang berlimpah dan malam dimana dikhususkan untuk memperbanyak pahala. Serta ada ahli tafsir mengatakan malam secara umum.

Sedangkan menurut kajian ini adalah apabila malam telah pergi selamanya meninggalkan waktu terbenam matahari dibelahan bumi yang menghadapinya, sebagai periode lain dari peristiwa-peristiwa malam khusus itu. Pada keadaan umum yang berulang-ulang setiap hari saat seperti ini terjadi kira-kira setelah lewat tengah malam. Wallahua’lam
KELIMA: Malam Yang Sepi:

Arti ayat ke-2 surah Adh-Dhuhaa: “Demi malam apabila telah sunyi”, yaitu apabila telah berdiam dan menetap. Allah Berfirman pada ayat ke-3 surah Al-Falaq: “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita”, Kalimat “al-ghasaq” (gelap gulita) pada ayat terakhir ini adalah malam gelap gulita yang tidak disertai bulan.

Ayat ini menjelaskan bahwa diantara peristiwa-peristiwa malam panjang menjelang kiamat nanti, terjadi suatu malam yang sangat gelap dan amat sepi. Pada kenyataan setiap hari yang sering kita lalui kejadian seperti ini pada awal malam. Wallahua’lam
KEENAM: Malam Menutupi Matahari:
Penjelasan secara rinci ayat tentang fenomena alam diatas dapat dirujuk pada dua ayat yang lain di dalam Al Qur’an, sebagai berikut:

  1. “… Dia (Allah) menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat” (Q.S: Al A’raf: 54).
  2. … Allah menutupkan malam kepada siang” Q.S: Arra’d: 3).
Kata kerja “yaghsyaha” pada ayat ini berasal dari kata dasar “al ghisya” berarti penutup.
Dengan demikian dapat dipahami arti “demi malam apabila menutupinya (siang)” pada ayat-ayat di atas, bahwa Allah SWT menutup dengan kegelapan malam tempat cahaya siang di atas bumi secara berangsur-angsur sehingga menjadi malam, dan menutup dengan cahaya siang tempat gelap malam di atas bumi secara berangsur-angsur sehingga menjadi siang hari. Yang juga merupakan sebuah isyarat halus tentang bentuk bumi yang bulat dan berputar pada porosnya mengelilingi matahari, setiap satu putaran 24 jam, terbagi – dengan selisi sedikit sesuai musim dibelahan bumi tertentu – kepada malam dan siang. Pada kenyataan biasa terjadi setiap hari kira-kira berkisar pukul: 17.00 – 18.00 pada awal malam, pada fase ini ketebalan gelap datang menyelimuti matahari dan menutupinya.

Dan bahwa sesungguhnya keadaan seperti ini juga akan terjadi pada peristiwa-peristiwa malam panjang menjelang kiamat kelak. Wallahua’lam
KETUJUH: Malam Dan Apa Yang Diselubunginya:

Kalimat “asysyafaq” (senja) pada ayat ke-16 surah Al-Insyiqaq: Yaitu periode antara malam dan siang (kita ada kajian khusus tentang ini, menyusul). Dan malam dan apa yang diselubunginya: Yaitu ketika siang telah beranjak pergi selamanya selanjutnya akan diselubungi oleh malam terus menerus sampai hari kiamat. Wallahua’lam
Peristiwa Malam-malam Sepuluh Yang Lain:Ketujuh malam diatas merupakan periode-periode waktu malam yang umum terjadi setiap hari bumi. Dan secara khusus dipahami sebagai cerminan peristiwa-peristiwa malam panjang menjelang kiamat datang.

Dan adapun sisanya tiga peristiwa-peristiwa malam khusus lainnya, disebutkan di dalam Al Qur’an, yaitu: Malam Al Qadr (Lailatulqadr), malam mubarak, dan malam Al Israa. Ketiga malam yang secara khusus tersebut di dalam Al Qur’an terakhir ini tidak datang dalam bentuk sumpah seperti ketujuh malam telah dijelaskan sebelumnya, tetapi mengingat pentingnya malam-malam ini dalam sejarah manusia maka digolongkan dalam sepuluh peristiwa-peristiwa malam “demi malam yang sepuluh”. Penjelasannya sebagai berikut:

KEDELAPAN: MALAM AL QADR (LAILATULQADR):
Allah Berfirman:

Dari konteks 5 ayat dari surah Al Qadr diatas, diketahui bahwa peristiwa malam Al Qadr (Lailatulqadr) itu hanya terjadi sekali dalam setahun dari sejak malam turunnya Al Qur’an kepada nabi Muhammad SAW sampai hari kiamat kelak. Bahwa semalam saja pada peristiwa malam itu Nilai kebaikannya melebihi dari 1000 bulan, atau sekitar 30.416 malam bumi, atau lebih dari 83 tahun bumi.

Sebabnya karena pada peristiwa malam itu Allah mengizinkan semua malaikat yang mengurusi manusia dan bagian kesejahteraan bumi turun dibawah pimpinan malaikat Jibril untuk melaksanakan segala tugasnya. Maka sepanjang malam itu diliputi oleh kedamaian dan kesejahteraan sampai dengan terbit fajar.

Kapan Peristiwa Lailatulqadr?Untuk menyingkap kapan persisnya peristiwa Lailatulqadr, kajian ini akan berusaha maksimal mempelajari beberapa hadits dan pengalaman-pengalaman shahabat nabi tentang peristiwa luar biasa tersebut, serta akan dilengkapi dengan pengalaman pribadi yang cukup menakjubkan, sebagai berikut:
A. Hadits Nabi:
  1. Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya: Dari Ebadah bin Ash-Shamit berkata: Nabi Muhammad SAW keluar untuk memberitahukan kepada kita tentang lailatulqadr tiba-tiba dicegat oleh dua orang muslim, maka Nabi SAW bersabda: “tadinya saya keluar untuk memberitahukan kalian dengan lailatulqadr….” (Hadist).
    Ibn Hajar mengomentari hadits riwayat Imam Bukhari ini: Sabda Nabi SAW “untuk memberitahukan kalian”: yaitu memastikan lailatulqadr.

  2. Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya: Dari Ebadah bin Ash-Shamit mengatakan, Rasulullah SAW bersabda: “… Maka raba-rabalah pada malam kesembilan, ketujuh dan kelima (sepuluh terakhir)”. (Hadits).

    Menurut dalam kamus “Lisan Al-Arab”: Kata kerja “lamasa, al-iltimaas” (raba, meraba-raba) pada hadits; yaitu “ath-thalabu” (mencari), “ath-thalammus” (mencari terus menerus).

  3. Hadits dalam Kitab Shahih Bukhari dari Aisya ra; bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pantaulah Lailatulqadr pada malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan”. (Hadits).

    Menurut dalam kamus “Lisan Al-Arab”: Kata dasar “At-taharri” (memantau) pada hadits; yaitu berharap dan bersunggu-sungguh dalam pencarian dan tekun melakukan sesuatu dengan tingkah dan laku.
  4. Sabda Rasulullah SAW: “Carilah Lailatulqadr pada malam dua puluh tiga”. (Kitab Shahih Ibn Khuzeimah dari Abdullah bin Unais r.a.).
  5. Imam Bukhari menuliskan bab khusus dalam Kitab Shahihnya: Pengetahuan Lailatulqadr terhalang oleh cegatan orang, lalu Imam berkata: Telah diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin Al-Mutsanna, oleh Khalid bin Al-Harits, oleh Hamid, oleh Anas, dari Ebadah bin Ash-Shamit ra berkata: Nabi Muhammad SAW keluar untuk memberitahukan kepada kita tentang lailatulqadr tiba-tiba dicegat oleh dua orang muslim, maka Nabi SAW bersaabda: “tadinya saya keluar untuk memberitahukan kalian dengan lailatulqadr tiba-tiba dicegat oleh (fulan dan fulan), maka tergantung (lupa),semoga itu lebih baik bagi kalian maka carilah itu pada Sembilan, tujuh dan lima (sepuluh terakhir) ” (Hadist).
Dari hadits-hadits diatas diketahui bahwa Lailatulqadr bukan hal yang gaib, tetapi bisa dipantau oleh manusia yang menginginkan kemuliaanya.

B. Pengetahuan Shahabat-shahabat Nabi Tentang Lailatulqadr:
  1. Imam Muslim meriwayatkan dalam Kitab Shahihnya : Muhammad bin Abdela’laa telah mencerikan kepada saya, kami diceritakan oleh Al-Mu’tamar, oleh Emarah bin Ghaziyah Al Anshari berkata: Saya telah mendengarkan Muhammad bin Ibrahim menceritakan dari Abu Salamah dari Abu Said Al-Khudri r.a. berkata: Bahwa sanya Rasulullah SAW i’tikaf pada 10 pertama Ramadhan kemudian i’tikaf (lagi) 10 pertengahan di sebuah qubah yang beratap anyaman, lalu Rasulullah menyingkap anyaman tersebut dengan tangannya dan melongokkan kepala di atas qubah seraya berseru kepada orang-orang dan mereka mendengarkannya, bersabda: “Sesungguhnya saya telah i’tikaf pada 10 pertama (Ramadhan) mencari malam itu (Lailatulqadr) dan i’tikaf (lagi) pada 10 pertengahan kemudian saya didatangi (Jibri atau firasat-Red) mengatakan bahwa (Lailatulqadr) datang pada 10 terakhir, maka barangsiapa diantara kalian ingin i’tikaf maka beri’tikaflah ”. (Lanjut Abu Said Al-Khudri): Maka orang-orang pada i’tikaf bersama Rasulullah SAW, dan saya menyaksikan Lailatulqadr pada malam ganjil serta saya bersujud pada paginya diatas lumpur dan genangan air. Kejadian itu pada malam ke-21, Rasulullah SAW Shalat sampai subuh dalam suasana hujan bercucuran menggenangi mesjid, maka nampak lumpur dan genangan air. Nabi keluar dari mesjid setelah shalat subuh dengan bekas lumpur dan basah pada dahi dan ujung hidung beliau. Maka Lailatulqadr adalah malam ke-21 dari 10 terakhir (Ramadhan).
  2. Riwayat dari Imam Muslim, berkata: Said bin Amr bin Sahl bin Ishaq bin Muhammad bin Al-Asy’ats bin Qais Al Kindi dan Ali bin Khasyram keduanya bercerita kepada kami; kami telah diceritakan oleh Abu Dhamrah ia diceritakan oleh Adh-Dhahhak bin Otsman, berkata Ibn Khasyram dari Adh-Dhahhak bin Otsman dari Abu An-Nadher - Maula – Omar bin Obeidillah dari Basr bin Said dari Abdellah bin Unais: Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu saya telah mengetahul Lailatulqadr kemudian lupa, dan saya teringat subuhnya saya bersujud diatas air dan lumpur”. Lanjut (Abdellah bin Unais): Pada waktu itu kami diguyur hujan malam ke-23, maka Rasulullah SAW memimpin kami shalat jama’ah setelah selasai beliau keluar dengan bekas basah dan lumpur pada dahi dan hidung beliau. Abdellah bin Unais berpendapat: Malam ke-23.
  3. Riwayat Muslim dalam Kitab Shahihnya berkata: Muhammad bin Hatem dan Ibn Abu Omar telah bercerita kepada kami, keduanya dari sumber Oyainah, Ibn Hatem menceritakan kami dari Sofyan bin Oyainah dari Abdah dan Ashem bin Abu An-Nujud, kami mendengarkan Zarr bin Hubaisy berkata: Saya telah tanya Ubay bin Ka’ab r.a. bahwa: Adalah saudaramu Ibn Mas’ud telah berkata barang siapa mendapatkan tahun depan hendaklah mencari Lailatulqadr, Dia (Ubay bin Ka’ab) menjawab: Semoga Allah merahmatinya (Ibn Mas’ud), dia sebenarnya tidak ingin mengatakannya kepada orang lain padahal dia sudah tahu kalau itu di bulan Ramadhan, pada 10 terakhir tepatnya malam ke-27...
Menentukan Nama dan Waktu Peristiwa Lailatulqadr:Dari ayat kajian diatas dipastikan bahwa peristiwa Lailatulqadr terjadi pada suatu malam, dan nama malam itu tentunya tidak terlepas dari salah satu dari 7 malam yang kita kenal, yaitu malam-malam: (Sabtu – Ahad – Senin – Selasa – Rabu – Kamis atau Juma’at).

Dan dari keterangan-keterangan hadits diatas semakin menambah pengetahuan kita terhadap peristiwa malam mulia itu dan menggugah hati untuk mendifinisikannya dan mengungkap initial nama malamnya. Dari berbagai riwayat hadits nabi mengisyaratkan pada 10 terakhir bulan Ramadan. Semakin jelas bahwa peristiwa Lailatulqadr terjadi pada suatu malam tertentu, satu nama dan terjadi diantara hitungan ganjil pada 10 terakhir bulan suci Ramadhan. Maka Lailatulqadr terjadi pada malam-malam ke: (21 – 23 – 25 – 27 atau 29)...

Kemudian dari pengalaman-pengalaman para shabat Rasulullah SAW, sebagaimana pada beberapa sampel di atas, diperoleh keterangan lebih rinci bahwa mereka pada umumnya telah mengetahui peristiwa Lailatulqadr dengan pengalaman yang berbeda-beda setiap tahun selama bersama Rasulullah SAW, seperti:
  • Abu Said Al-Khudri r.a; mengetahui malam ke-21 (HR. Muslim)
  • Abdellah ibn Unais r.a; mengetahui malam ke-23 (HR. Muslim)
  • Abdellah ibn Abbas r.a; mengetahui malam ke-23 (HR. Ahmad)
  • Abu Zar r.a; mengetahui malam ke-27 (HR. Ibn Khuzaimah)
  • Ubay ibn Ka’ab r.a; mengetahui malam ke-27 (HR. Muslim).
Ciri-ciri Lailatulqadr?
Keterangan-keterangan diatas lebih jauh merinci Lailatulqadr terjadi pada malam hari, memiliki satu nama tertentu, peristiwanya pada malam-malam ganjil di 10 terakhir Ramadhan. Dan berpindah-pindah diantara malam-malam ganjil. Nah, bagaimana menentukan/ memastikan Peristiwa Lailatulqadr itu…?

Ciri-ciri Lailatulqadr telah digambarkan oleh Rasulullah SAW secara rinci, sebagai berikut:
  • Lailatulqadr: Malam yang damai, tenang, tiada panas dan tiada dingin, Matahari di pagi harinya lemah merekah”. (HR: Abu Daud dan Al Baihaqi, dikuatkan oleh Syekh Al-Albani sebagai hadits shahih dalam Kitabnya Shahih Al-Jami, no: 5475).
  • Lailatulqadr: malam ke-27 dan 29, Malaikat-malaikat pada malam itu berkumpul di bumi dalam jumlah tidak terjangkau banyaknya”. (HR: Ahmad dari Abu Hurairah dan riwayat Abu Daud dan Ibn Khuzaimah, disebutkan Syekh Al-Albani sebagai hadits “Hasan”, Kitab Shahih Al-Jami, no: 5473).
  • Lailatulqadr: Malam agung, tiada panas dan tiada dingin, tidak ada bintang jatuh dan ciri-ciri harinya matahari tidak bersinar terang”, dikategorikan oleh Syekh Al-Albani sebagai hadits “Hasan”, Kitab Shahih Al-Jami, no: 5472).
Catatan Penting dari Seorang Hamba:Nah, berdasarkan dari keterangan-keterangan diatas dan diperjelas oleh ciri-ciri yang telah digambarkan Rasulullah SAW ini, dengan pertolongan dan inayah Allah SWT, melalui kajian ini penulis berharap dapat mendeksi Peristiwa Lailatulqadr yang mulia itu. Metode kajian ini adalah mendeteksi Peristiwa Lailatulqadr pada malam-malam ganjil dari 10 terakhir bulan suci Ramadan dengan merujuk kepada ciri-ciri yang telah digambarkan oleh Rasulullah SAW, karena kajian ini sangat yakin bahwa hadits-hadits tersebut Fakta nyata – tanpa meragukan – yaitu mengindentifikasikan Peristiwa malam itu dengan mengetahui cuaca pagi dari Lailatulqadr.

Dengan mengetahui suasana pagi dari malam Alqadr, membantu mengidentifikasi Lailatulqadr itu sendiri dan memudahkan merinci tanggal persisnya diantara malam-malam ganjil tersebut.

Dan, Alhamdulillah Rabbil'alamin - secara tidak sengaja - penulis menemukan sebuah catatan penting dari seorang hamba Allah, ia mencatatkan pengalamannya semenjak dari tahun 1419 H/ 1998 M merecord suasana terbitnya matahari pada setiap sepuluh terakhir Ramadhan. Dalam catatan tersebut nampak jelas hanya ada satu pagi saja yang mataharinya bersinar lemah, yaitu paginya malam Selasa pada setiap hitungan ganjil dari 10 terakhir Ramadhan dan berulang setiap tahun. Dan tidak pernah bergeser pagi ini dari pagi Malam Selasa selamanya. Tetapi yang berubah bukan nama malam itu melainkan tanggalnya saja.

Pagi dari malam Selasa yang mataharinya tidak bercahaya tersebut tetap tiada pernah berubah setiap tahunnya semenjak dari: (1419 H, 1420 H, 1421 H, 1422 H, 1423 H, 1424 H, dan Tahun 1425 H). Matahari terbit dengan cahaya lemah hanya pada setiap pagi dari malam Selasa saja, dan berpindah dari hitungan ganjil ke ganjil lain pada sepuluh terakhir Ramadhan (21 – 23 – 25 – 27 dan 29). Dengan perpindahan tanggal-tanggal tersebut, telah menyempurnakan 5 kali perpindahan pada 5 malam-malam ganjil.

Lailatulqadr Hanya Terjadi Pada Malam Selasa Sampai Hari Kiamat:Berikut ini Jadwal Perpindahan Lailatulqadr Pada 11 tahun terakhir dan menjadi pedoman Untuk Tahun-Tahun Berikutnya. Nampak jelas bahwa Lailatulqadr hanya terjadi pada malam Selasa saja setiap 10 terakhir bulan suci Ramadhan, Lihat Jadwal:

Dan dari keterangan diatas didapatkan sebuah kesimpulan baru dan pengetahuan baru untuk pemikiran Islam, sebagai berikut:
  • PERTAMA: Matahari tidak terbit tanpa sinar dan redup kecuali hanya pada pagi dari malam Selasa saja di setiap hitungan ganjil dari 10 terakhir bulan suci Ramadhan.
  • KEDUA: Lailatulqadr terjadi pada malam Selasa dan tidak akan berubah sampai hari kiamat.
  • KETIGA: Bulan suci Ramadhan tidak akan berawal di planet bumi pada malam Jum’at dan tidak juga malam Ahad sampai kiamat.
Dua malam tidak akan diawali masuknya bulan suci Ramadhan Sampai Hari Kiamat:Dari hadits-hadits Rasulullah SAW diketahui bahwa Lailatulqadr tidak akan terjadi kecuali pada malam-malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan suci Ramadhan. Bahwa Lailatulqadr hanya bisa terjadi pada malam Selasa saja sampai hari kiamat. Jika diasumsikan bulan suci Ramadhan masuk pada malam Jum’at, Lailatulqadr terjadi pada malam Selasa tanggal 26 (= genap dari sepuluh terakhir). Hal ini bertentangan dengan Hadits Rasulullah SAW bahwa Lailatulqadr terjadi pada malam ganjil dari 10 terakhir. Dengan demikian bulan Ramadhan tidak akan diawali dengan malam Jum’at sampai hari kiamat.

Begitu juga Jika diasumsikan bulan suci Ramadhan masuk pada malam Ahad, Lailatulqadr terjadi pada malam Selasa tanggal 24 (= genap dari sepuluh terakhir). Hal ini bertentangan dengan Hadits Rasulullah SAW bahwa Lailatulqadr terjadi pada malam ganjil dari 10 terakhir. Dengan demikian bulan Ramadhan tidak akan diawali dengan malam Ahad sampai hari kiamat.

Berikut ini Jadwal Menentukan Lailatulqadr berdasarkan dari malam yang dimulai masuknya Ramadhan dan sekaligus membatalkan awal Ramadhan dimulai pada malam Jum’at dan Ahad:

JADWAL I: Jika Bulan Suci Ramadhan Masuk pada malam Sabtu, Lailatulqadr jatuh pada Malam Selasa tanggal 25 (= ganjil dari sepuluh terakhir):



JADWAL II: Jika bulan suci Ramadhan masuk pada malam Ahad, Lailatulqadr malam Selasa tanggal 24 (= Genap dari sepuluh terakhir).
Hal ini bertentangan dengan Hadits Rasulullah SAW bahwa Lailatulqadr terjadi pada malam ganjil dari 10 terakhir.
Dengan demikian bulan Ramadhan tidak akan diawali dengan malam Ahad sampai hari kiamat:












JADWAL III: Jika Bulan Suci Ramadhan Masuk pada malam Senin, Lailatulqadr jatuh pada Malam Selasa tanggal 23 (ganjil dari sepuluh terakhir):


























JADWAL IV: Jika Bulan Suci Ramadhan Masuk pada malam Selasa, Lailatulqadr jatuh pada Malam Selasa tanggal 29 (ganjil dari sepuluh terakhir).






JADWAL V: Jika Bulan Suci Ramadhan Masuk pada malam Rabu, Lailatulqadr jatuh pada Malam Selasa tanggal 21(ganjil dari sepuluh terakhir):

























JADWAL VI: Jika Bulan Suci Ramadhan Masuk pada malam Kamis, Lailatulqadr jatuh pada Malam Selasa tanggal 27 (ganjil dari sepuluh terakhir).





JADWAL VII: Jika bulan suci Ramadhan masuk pada malam Jum'at, Lailatulqadr malam Selasa tanggal 26 (= Genap dari sepuluh terakhir).

Hal ini bertentangan dengan Hadits Rasulullah SAW bahwa Lailatulqadr terjadi pada malam ganjil dari 10 terakhir.
Dengan demikian bulan Ramadhan tidak akan diawali dengan malam Ahad sampai hari kiamat.





























KESEMBILAN: MALAM MUBARAK:
Allah Berfirman:



KESEPULUH: MALAM AL ISRAA:
Allah Berfirman:






PASAL 3, PERIODE SIANG
Pada kajian yang lalu telah dijelaskan salah satu periode waktu yang paling fenomenal disebutkan dalam al Qur’an yaitu periode malam. Dan telah dijelaskan bahwa pada pergantian malam dan siang secara rutin merupakan sebuah isyarat eksplisit tentang bentuk bumi yang bulat dan berputar pada porosnya mengelilingi matahari, setiap satu putaran 24 jam, terbagi – dengan selisi sedikit – kepada malam dan siang.

Sebelum beralih kepada kajian baru ini penulis ingin menguraikan arti dua kata kunci yang terdapat pada dua ayat diatas, yaitu: (An-nahar dan Jalla) dari segi bahasanya, kemudian menelusuri penyebutan kalimat annahar di dalam Al Qur’an dimaksudkan untuk mengetahui makna lebih dalam dari kalimat tersebut terseber diberbagai ayat yang saling terkait satu sama yang lain.

“Wannahari idza jalla-ha”:
An-nahar (siang), menurut bahasa adalah lawan dari kalimat “al-Lail” (malam), yaitu setengah dari hari dimana terbit matahari dan bercahaya. Dan dikenal juga sebagai batasan waktu antara terbit matahari dan terbenamnya.

Sedangkan kata kerja (jalla – yajlu – jalaan), berarti jelas dan nampak. Karena kata dasar dari (al juluu) artinya menampakkan hakikat, dan (al jalie), segala sesuatu yang berlawanan dengan tersembunyi.

Kalimat «Annahar» (siang) di dalam Al Qur’an:Al Qur’an menyebutkan kalimat Annahar (siang) lawan dari pada malam sebanyak 57 kali, diantaranya 54 kali dengan lafadz annahar secara langsung, tiga kali dalam bentuk naharan. Dan terdapat pula kalimat-kalimat seperti: (Asshubhu, al Ishbah, bukratan, al falaq, al dhuha), dan sejenisnya yang sering diartikan siang juga atau bagian dari pada siang tersebar dibeberapa ayat dalam Al Qur’an. Sebagaimana terdapt juga kalimat al yaum yang kadang-kadang berarti siang juga.

SIANG MENAMPAKKAN MATAHARI:Pada dua ayat yang akan kita kaji ini Allah SWT bersumpah (Maha Kaya dari segala Sumpah-SumpaNya), dengan siang yang menampakkan matahari, atau memperlihatkannya dengan sangat jelas pada penghuni bumi.

Ini adalah sebuah kenyataan ilmiyah yang tidak dicapai oleh ilmu pengetahuan modern kecuali setelah era astronomi pada paroh terakhir abad ke-20, ketika mereka menemukan bahwa cahaya siang yang benderang tebalnya tidak mencapai 200 km di atas permukaan laut di separoh permukaan bumi yang menghadap ke matahari. Dan bahwa sanya sabuk tipis dari lapisan gas bumi ini bebas dari segala pencemaran, dan ketebalannya semakin berkurang setiap meningkat ketinggian di atas permukaan bumi. Sedangkan ketebalan akan bertambah meliputi semua buih air dan tebaran debu setiap mendekat kepermukaan bumi.

Dengan proses tersebut ditambah dengan tebaran debu membantu menyulut sumbu matahari, dan proses yang terjadi terus-menerus sehingga menampakkan warna putih gemerlap membedakan siang sebagai sumber cahaya yang timbul dari bagian bawah lapisan gas bumi pada separoh bagian yang menghadap ke matahari. Sementara sebagian besar alam semesta yang dapat dijankau diselimuti oleh kegelapan. Matahari nampak setelah melewati cahaya siang sebagai bola biru berlatar hitam pekat.

Oleh karena itu Al Qur’an menyipati annahar (siang) sebagai sumber cahaya pada beberapa ayat, seperti dalam contoh: “(Q.S: An-naml: 86).

Dan menyipati As-shubhu sebagai penerang seperti dalam ayat: (QS: Al Mudatsir: 33). Serta menyipati Annahar sebagai penyingkap matahari seperti pada ayat yang sedang di kaji di atas.

Dari uraian diatas kita dapat mengetahui arti bahwa sianglah yang menampakkan matahari, bukan matahari yang menampakkan siang sebagaimana diyakini manusia sebelum abad ke-20. Maha Besar Allah, telah mengungkapkan kenyataan alam semesta ini sejak lebih dari 14 abad yang lalu, yang tidak dijangkau oleh sains modern kecuali setelah paroh terakhir abad ke-20 lalu.
Post a Comment

歓迎 | Bienvenue | 환영 | Welcome | أهلا وسهلا | добро пожаловать | Bonvenon | 歡迎

{} Thanks For Visiting {}
{} شكرا للزيارة {}
{} Trims Tamu Budiman {}


MyBukuKuning Global Group


KLIK GAMBAR!
Super-Bee
Pop up my Cbox
Optimize for higher ranking FREE – DIY Meta Tags! Brought to you by ineedhits!
Website Traffic

flagcounter

Free counters!

ADVERTISING BUSINESS

My AliExpress



I K L A N | KLIK FOTO


OWNER INFO PENERIMAAN SANTRI BARU

My Buku Kuning Global FB

BOOK FAIR ONLINE 2013

Book Fair Online

KARYA TERAKHIR PENULIS

KARYA TERAKHIR PENULIS
@ Keajaiban Angka dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, Agustus 2010, ISBN: 978-979-1234-77-1 (BESTSELLER)
@ Mukjizat Pengobatan Herbal dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, 2011, ISBN: 978-979-1234-78-8

Islamic Finder




Date Conversion
Gregorian to Hijri Hijri to Gregorian
Day: Month: Year

Google+ Badge

My Buku Kuning Search

Loading