My Buku Kuning Center : TAFSIR AYAT-AYAT AHKAM II

Thursday, January 26, 2012

TAFSIR AYAT-AYAT AHKAM II


(Pertemuan Ke-2)
AHKAM AT-THAHARAH:
(Wudhu, Mandi Junub dan Tayammum)[1]
Oleh: Med HATTA
Mukaddimah:

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبعد!

1. Allah berfirman dalam Surah an-Nisaa’: 43:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا (٤٣)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”

2. Allah berfirman dalam (Surah al-Maaidah: 6):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٦)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bangun hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau habis buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”


Pentingnya Thaharah (Bersuci) dalam Islam:
Setiap pemerhati nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, akan nampak jelas baginya betapa perhatian Islam terhadap kesucian dan kebersihan, bagaimana tidak, Allah SWT sangat menyukai orang-orang yang bersih, dalam surah al-Baqarah (222), Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri”. Sedangkan nabi Muhammad SAW menjadikan kesucian separuh dari iman, sebagaimana dalam hadits diriwayatkan imam Muslim, nabi bersabda: “Kesucian itu separuh dari iman”.

Dua ayat dari dua surah yang berbeda di atas; yaitu ayat ke-43 dari surah an-Nisaa dan ayat ke-43, dan ayat ke-6 dari surah al-Maaidah, semuanya membahas hukum “thaharah” (bersuci) dari ketiga kategorinya: Wudhu’, mandi junub, dan tayammum. Ayat an-Nisaa, oleh ahli tafsir hukum, disebut menyempurnakan dan menegaskan hukum ayat al-Maaidah. Dengan demikian ayat al-Maaidah lebih detail dan rinci dari ayat an-Nisaa, serta lebih kongkrit dari segi menjelaskan hukum. Oleh karena itu, kita akan mendahulukan pembahasan ayat al-Maaidah sebelum membahas ayat an-Nisaa di sini, sebagai berikut:

Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bangun hendak mengerjakan shalat,”

Hubungan Antar Ayat:
Firman Allah: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ) “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bangun hendak mengerjakan shalat”

Ketahuilah bahwasanya Allah SWT membuka surah al-Maaidah ini dengan firman-Nya: (يأيها الذين آمنوا أوفوا بالعقود) Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu”, demikian itu karena telah terjalin perjanjian prasetia antara Tuhan dan hamba, yaitu perjanjian “rububiyah” dan “ubudiyah”. Sebagai manifestasi dari ayat kesaksian, Allah berfirman: “Bukankah Aku sebagai Tuhanmu, hamba menjawab: Ya, kami menyaksikan”. Maka Allah berfirman pada awal al-Maaidah: penuhilah aqad-aqad itu, meminta kepada hamba untuk memenuhi perjanjian “ubudiyah” yang pernah dilafadzkannya agar memperoleh kebahagian di dunia dan akhirat.

Sebagaimana diketahui bahwa kenikmatan di dunia terbatas pada dua hal: Kelezatan pada makanan dan kelezatan pada pernikahan, maka Allah SWT menjelaskan mana yang halal dan yang haram dari makanan-makanan dan hubungan-hubungan pernikahan, lalu ketika kebutuhan kepada makanan lebih tinggi dari pada kebutuhan terhadap pernikahan, dengan demikian, mendahulukan penjelasan makanan atas pernikahan. Ketika Allah telah menjelaskan semua itu, lalu seakan-akan Dia mengatakan: Sesungguhnya Aku telah memenuhi aqad rububiyah yang dibutuhkan di dunia dari manfaat dan kelezatan-kelezatan, maka giliranmu pula di dunia untuk memenuhi aqad ubudiyah.

Selanjutnya, ketika ketaatan paling tinggi setelah iman adalah shalat, dan shalat itu tidak mungkin dikerjakan kecuali harus dengan thaharah, maka pada ayat ke-6 dari al-Maaidah ini menyebutkan syarat-syarat wudhu’... 

Tafsir Ayat Wudhu:
Allah berfirman: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) “Hai orang-orang yang beriman”, yaitu memanggil orang-orang yang beriman saja, karena hanya merekalah yang diharapkan bisa konsukwen melaksanakan hukum-hukum Allah, terutama pada hukum thaharah (bersuci) dengan tiga kategorinya: Wudhu, mandi junub dan tayammum, seperti berikut:

Pembahasan I: Hukum-Hukum Wudhu’
Firman Allah: (إذا قمتم إلى الصلاة) “apabila kamu bangun hendak mengerjakan shalat”: Kata imam al-Qurthubi[2]: Ulama berbeda pendapat dalam memahami maksud firman Allah ini kepada beberapa mazhab:

1) Mazhab pertama: Mengatakan lafadz ini berlaku umum pada setiap kali hendak mengerjakan shalat, baik punya wudhu’ atau tidak punya wudhu’, maka baginya harus mengambil wudhu setiap hendak mengerjakan shalat, dan adalah Ali ra melakukan hal itu sambil membacakan ayat ini, riwayat ini disebutkan oleh Abu Mohammad ad-Darami dalam musnadnya. Sedangkan Ibn Sirin mengatakan: Adalah semua khalifah mengambil wudhu setiap kali hendak mengerjakan shalat.
2) Mazhab kedua: Hukum ayat ini hanya berlaku khusus kepada nabi SAW: Berkata Abdullah bin Handzalah bin Abu ‘Amer al-Ghasil: Bahwasanya nabi SAW telah memerintahkan berwudhu’ setiap kali hendak mengerjaka shalat maka nabi merasakan hal itu sulit, lalu memerintahkan dengan bersiwak dan membebaskannya dari wudhu’ kecuali orang yang berhadats (tidak mempunyai wudhu’).
Kata ‘Alqamah bin al-Faghwaa dari bapaknya – dia adalah salah seorang sahabat, dan pernah menjadi guide rasulullah SAW ketika pergi ke Tabuk: Ayat ini diturunkan sebagai keringanan kepada rasulullah SAW, karena Beliau tidak mengerjakan suatu pekerjaan kecuali harus selalu berwudhu, Beliau tidak mau berbicara dengan siapapun, tidak mau membalas salam dan seterusnya, maka Allah menyampaikannya dengan ayat ini bahwa wudhu’ itu hanya untuk mengerjakan shalat saja bukan untuk semua pekerjaan.
3) Mazhab ketiga: Yang dimaksudkan dengan ayat mengambil wudhu untuk setiap shalat adalah untuk mencari keutamaan, golongan ini menjadikan hal ini sebagai sunnah, dan adalah banyak dari sahabat termasuk Ibn Umar mengambil wudhu setiap kali mereka hendak mengerjakan shalat sebagai mencari keutamaan, dan rasulullah SAW mengerjakan hal seperti itu sampai Beliau menjama’ antara shalat lima waktu pada hari pembebasan kota Makkah dengan satu wudhu’, dimaksudkan memberitahukan kepada umat nabi SAW[3]

Ada pula mazhab lain yang mengatakan: Bahwa fardu mengambil wudhu adalah memang untuk setiap kali shalat (pada awalnya-pen) kemudian dihapuskan pada hari pembebasan kota Makkah. Kata al-Qurthubi: pendapat ini salah oleh dua riwayat berikut:

a) Dari Anas ra mengatakan: Adalah rasulullah SAW mengambil wudhu’ setiap kali hendak mengerjakan shalat, sedangkan umatnya tidak demikian.
b) Hadits Suwaid bin an-Nu’man: Bahwa nabi SAW pernah mengerjakan shalat Ashar di waktu Maghrib dengan satu wudhu, waktu itu di perang khaibar, yaitu tahun ke-6, dan ada mengatakan: Tahun ke-7, sedangkan pembebasan kota Makkah terjadi pada tahun ke-8, dan ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Malik dalam Muwattha’nya, dan dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim.

Maka jelas dari dua hadits ini bahwa kewajiban wudhu untuk setiap kali shalat itu tidak ada sebelum pembebasan kota Makkah. Sebuah hadits dikeluarkan Muslim: Dari Buraidah bin al-Hashib bahwasanya rasulullah SAW mengambil wudhu setiap kali hendak mengerjakan shalat, maka ketika hari pembebasan Makkah Beliau SAW mengerjakan beberapa shalat dengan satu wudhu, dan menyapu kedua khof (sepatu panjang atau kos kaki terbuat dari kulit), lalu Umar ra bertanya: Engkau telah berbuat sesuatu hari ini yang tidak pernah engkau lakukan sebelumnya, maka nabi bersabda: “Saya sengaja melakukannya hai Umar”. Kenapa Umar menanyakan dan meminta penjelasan Beliau? Ada mengatakan bahwa: Umar menanyakannya karena nabi mengerjakan sesuatu berbeda dari kebiasaan Beliau sejak shalatnya di Khaibar, Wallahua’lam[4].

Hadits lain, diriwayatkan oleh at-Tizmizi dari Anas bahwasanya nabi SAW selalu berwudhu setiap kali mengerjakan shalat baik suci atau tidak suci, Hamid berkata: Saya menanyakan kepada Anas: Dan kalian sendiri bagaimana mengerjakannya? Anas menjawab: Kami mengerjakan satu wudhu saja[5]. Telah diriwayatkan pula dari nabi SAW bersabda: “Wudhu di atas wudhu itu cahaya”, maka rasulullah SAW senantiasa memperbaharui wudhu setiap kali hendak mengerjakan shalat. Dan adalah sesorang memberi salam ketika nabi sedang buang hajat dan tidak membalasnya sampai selesai mengambil tayammum baru kemudian nabi membalas salam dan bersabda: “Saya tidak biasa menyebut nama Allah kecuali saya dalam keadaan suci[6].

4) Pendapat lain dari as-Suddi dan Zaid bin Aslam: Arti ayat (إذا قمتم إلى الصلاة) “apabila kamu bangun hendak mengerjakan shalat”, yaitu dari tidur. Dan ayat dalam ta’wil ini menunjukkan adanya penyederhanaan kalimat (taqdim dan ta’khir), opsinya adalah: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bangun hendak mengerjakan shalat dari tidur, atau habis buang air atau menyentuh perempuan - sentuhan ringan -, maka basuhlah. Maka selesailah hukum hadats bagi yang berhadats kecil.
Kemudian menambahkan dari firman Allah: dan jika kamu junub maka mandilah” dan ini adalah hukum yang lain, kemudian Allah menyebutkan untuk kedua hukum sekaligus berfirman: “dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau habis buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih)” [7]

5) Pendapat Jumhur Uluma: Arti ayat apabila kamu bangun hendak mengerjakan shalat sedang kamu dalam keadaan hadats, jadi tidak ada di dalam ayat ini taqdim dan ta’khir, tetapi ayat mengatur hukum bila terdapat air sampai firman Allah: “maka mandilah” dan termasuk di sini bersentuhan ringan dari arti firman Allah “jika kamu dalam keadaan hadats”. Kemudian tokoh pendapat ini menyebut setelah membacakan firman Allah: “dan jika kamu junub maka mandilah”, ini mengatur jika tidak terdapat air dari kedua jenis hukum sekaligus, dan menyentuh perempuan di sini adalah bercinta (ML), dan harus menyebutkan junub hal tidak terdapat air sebagaimana menyebutkan bila terdapat air, Dan ini adalah tafsir imam Syafi’i dan sejawatnya, dan pendapat ini sejalan dengan pendapat-pendapat sahabat, seperti: Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibn Umar, Abu Musa al-Asy’ari, dan lain-lain...
Al-Qurthubi berkomentar: Kedua penafsiran di atas terbaik dalam memahami ayat, wallahua’lam, dan arti apabila kamu bangun - apabila kamu hendak, sebagaimana firman Allah: “Apabila kamu membaca al-Qur’an maka minta berlindunglah”, yaitu apabila kamu hendak, karena wudhu dalam keadaan shalat itu tidak mungkin[8].

Anggota-anggota Wudhu:
Allah berfirman: (الصلاة فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ) “hendak mengerjakan shalat, maka basulah mukamu”, Allah SWT menyebutkan empat anggota wudhu’: Wajib membasuh muka, demikia juga membasuh kedua tangan, wajib menyapu kepala menurut kesepakatan, dan ulama berbeda dalam kasus kedua kaki, penjelasannya menyusul. Allah SWT tidak menyebutkan selain yang empat ini menunjukkan bahwa selain dari pada itu adalah bagian dari adab dan sunnah-sunnah[9].

Adapun keempat anggota wudhu, sebagai berikut:

I. Membasuh Muka (Wajah):
Muka (wajah) menurut bahasa dari kata “al-muawajahah” (bertatap muka), yaitu bagian dari badan yang mempunyai anggota-anggota tertentu, memiliki panjang dan lebar. Kemudian khusus untuk muka (wajah) mempunyai hukum-hukum, sebagai berikut:

a) Ukuran panjang: Dari permukaan dahi sampai kepada ujung dagu, dan lebarnya dari telinga sampai ke telingan yang lain, ini bagi yang tidak memiliki berjenggot (klimis).

b) Bagi yang berjenggot: Jika dagu ditumbuhi oleh bulu-bulu, maka tidak terlepas dari hukum tipis atau lebat, kalau dagu ditumbuhi rambut-rambut tipis, maka harus menyampaikan air kepada kulit dagu.

c) Jika jenggot tebal, maka hukumnya menjadi hukum rambut kepala dan harus diusap-usap jenggot. Kata Ibn Abdelhakam: Mengusap-usap jenggot wajib pada wudhu’ dan mandi. Kata Abu Umar: Diriwayatkan dari nabi SAW bahwasanya Beliau mengusap-usap jenggotnya dalam wudhu dari bagian muka semuanya secara lembut[10].

Sedangkan Ibn Khoweiz membantah dan mengatakan: Bahwa ahli fiqhi sepakat bahwa mengusap-usap jenggot bukanlah wajib dalam wudhu, kecuali sedikit, diriwayatkan dari Sa’id bin Jabier, mengatakan: Apa alasan orang mengusap jenggotnya sebelum tumbuh, karena apabila sudah tumbuh dia tidak mengusapnya, dan apa alasan orang yang tidak berjenggot membasuh dagunya sedangkan tidak membasuhnya bagi orang yang mempunyai jenggot?
 
Kata at-Thahawi: Tayyammum wajib menyapu kulit sebelum ditumbuhi bulu pada muka kemudian selanjutnya hukum itu gugur pada semuanya. Demikian juga wudhu. Kata Abu Umar: Siapa yang menjadikan membasuh jenggot semuanya wajib ia menjadikannya bagian dari muka, karena muka berasal dari kata “al-muwajahah”, sedangkan Allah memerintahkan membasuh muka secara mutlak tidak mengkhususkan orang yang mempunyai jenggot dari yang klimis: Maka wajib membasuhnya dengan dalil al-Qur’an karena jenggot itu menggantikan dari kulit muka.

Al-Qurthubi mengomentari[11]: Pada kasus ini ada beberapa pendapat, Hadits diriwayatka dari nabi SAW bahwa Beliau membasuh jenggotnya[12], maka terjadi beberapa spekulasi, Ibn al-Munzir menceritakan dari Ishaq bahwa orang yang meninggalkan mengusap-usap jenggotnya dengan sengaja maka harus diulang, dan diriwayatkan oleh Tirmizi dari Utsman bin Affan bahwasaya nabi SAW selalu mengusap-usap jenggotnya[13]. Abu Umar berkata: Bagi yang tidak mewajibkan membasuh bagian jenggot maka ia menganggap bahwa asli perintah membasuh kulit, maka wajib membasuh apa yang nampak pada permukaan kulit, dan apa yang ada dibawah jenggot tidak perlu dibasuhnya, dan membasuh permukaan jenggot sebagai ganti dari padanya.

d) Niat[14]: Para jumhur ulama mengharuskan niat pada wudhu’, berdasarkan sabda rasulullah SAW: (إنما الأعمال بتانيات) “sesungguhnya segala perbuatan harus disertai dengan niat”. Kata Bukhari: Termasuk di dalamnya iman, wudhu’, shalat, zakat, haji, puasa, dan hukum-hukum yang lain, dan Allah berfirman: (قل كل يعمل عاى شاكلته) “Katakanlah semuanya bekerja sesuai karakternya”, yakni berdasarkan niatnya.

Dan sabda nabi SAW: “akan tetapi jihad dan niat”, lalu sebagian Syafi’i berkata: Tidak perlu niat, ini adalah pendapat Hanafiyah, mengatakan: Tidak wajib hukumnya niat kecuali pada amalan fardu yang dimaksudkan dan janganlah menjadikan syarat untuk selainnya, adapun yang menjadi syarat untuk shahnya amalan tertentu maka tidak diwajibkan niat padanya yang setara dengan amalan yang diperintahkan itukecuali ada dalil yang menyertainya. Sedangkan thaharah itu syarat, maka orang yang tidak wajib shalat tidak dikenakan fardu thaharah, seperti orang haid dan nifas[15].

Ulama Maliki dan Syafi’i berargumen dengan firman Allah SWT: (إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم) “apabila kamu bangun hendak mengerjakan shalat, maka basulah mukamu”, maka ketika Allah mewajibkan membasuh maka adalah niat telah menjadi syarat pada shahnya perbuatan itu, karena fardu dari sisi Allah haruslah menjadi wajib pada amalan yang diperintahkan Allah dengannya. 

Maka jika dikatakan: Bahwa niat tidak diwajibkan atasnya maka tidak wajib kepada yang dimaksudkannya yaitu mengengerjakan perintah Allah, dan sebagaimana diketahui bahwa orang yang mandi sambil menahan dingin atau hal lain, ia berniat melaksanakan kewajiban. Benarlah hadits: Bahwasanya wudhu itu menghapuskan dosa, jika itu bisa dilakukan tanpa niat maka tidak akan menjadi penghapus, dan Allah berfirman: (وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين) “Dan tidaklah diperintahkan kamu kecuali untuk menyembah Allah ikhlas dalam menjalankan agama-Nya” [16].

II. Membasuh Dua Tangan sampai Kedua Siku:
Firman Allah: (وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ) dan tanganmu sampai dengan siku, orang-orang berbeda dalam membatasi “sampai dengan siku”, maka ada golongan mengatakan: Benar sampai dengan siku, karena setiap kalimat setelah (إلى) apabila sejenis dari kalimat sebelumnya maka termasuk kedalamnya (Sibawiyah[17] dll..)

Ada pula mengatakan tidak termasuk kedua siku pada wajib dibasuh, kedua riwayat ini disandarkan dari Malik, riwayat kedua diprakarsai oleh Asyhab, dan yang pertama oleh kebanyakan ulama dan yang paling shah, sesuai riwayat dari ad-Daraqathni dari Jabir bahwasanya nabi SAW apabila berwudhu Beliau mengedarkan air atas kedua sikunya.

III. Menyapu Kepala:
Firman Allah: (وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ) dan sapulah kepalamu, kalimat (المسح) “menyapu” dipergunakan dalam bahasa Arab pada banyak pengertian, bisa berarti (الجماع) “bercinta”, dikatakan: (مسح الرجل المرأة إذا جامعها) “laki-laki meremas-remas perempuan apabila bercinta dengannya”. Dan (المسح) “memotong”, seperti (مسح الشيئ بالسيف وقطعه به) “dia menyentuh sesuatu dengan pedang dan memotongnya dengannya”, dan lain sebagainya...
 
Dan yang dimaksud (المسح) “menyapu” di sini adalah mengedarkan tangan atas bagian yang disapu secara khusus, dan apabila mempergunakan alat maka berarti memindahkan alat ke tangan dan mengedarkannya kepada bagian-bagian yang disapu, yaitu sesuai yang dimaksudkan firman Allah surah al-Maaidah yang sedang dikaji ini[18].

Adapun (الرأس) “kepala”, adalah sebutan yang telah diketahui manusia secara pasti dan di antaranya adalah muka (wajah), maka ketika Allah SWT menyebutnya sebagai salah satu anggota wudhu dan telah menetapkan muka (wajah) untuk disapu, maka tinggallah sebagian kepala yang harus disapu, seandainya Allah tidak menyebut muka disapu maka wajiblah menyapu semua kepala, termasuk padanya rambut-rambut kepala, kedua mata, hidung dan mulut. 

Imam Malik sebelumnya telah mengisyaratkan kewajiban menyapu kepala dengan keterangan yang disebutkan ini, karena ditanya tentang orang yang meninggalkan membasuh sebagian kepalanya dalam wudhu’ maka menerangkan: Lihatkah kamu apabila seseorang meninggalkan membasuh sebagian mukanya apakah itu dibolehkan?

Lalu Malik menjelaskan seperti dijelaskan di atas bahwa kedua telinga adalah bagian dari kepala, dan hukum keduanya adalah hukum kepala. Berbeda dengan az-Zahri, mengatakan: Kedua telinga bagian daripada muka maka keduanya disapu bersamanya, berbeda juga dengan as-Sya’bi, mengatakan: Saya tidak dapat menerima kalau kedua telinga itu dari muka tetapi keduanya bagian dari kepala, dan ini juga pendapat al-Hassan dan Ishaq... [19]

Hukum-hukum dalam Menyapu Kepala:
A. Para ulama sepakat bahwa siapa yang menyapu kepalanya semuanya maka sangat baik dan telah mengerjakan yang selazimnya. Dan imam Syafi’i berkata: Firman Allah (وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُم) dan sapulah kepalamu, bisa berarti sebagian kepala dan menyapu semuanya, lalu sunnah menunjukkan bahwa membasuh sebagiannya dibolehkan, yaitu bahwasanya nabi SAW menyapu ubun-ubunnya...

B. Jumhur ulama membolehkan membasuh kepala sekali saja sudah cukup, dan imam Syafi’i mengharuskan membasuh kepala tiga kali, berdasarkan riwayat dari Anas, Sa’id bin Jabier, dan ‘Athaa. Sedangkan Ibn Sirin menyapu kepala dua kali. Kata Abu Daud: Hadits-hadits Utsman yang shah semuanya menunjukkan bahwa membasuh kepala hanya sekali: Lalu mereka menyebutkan wudhu tiga kali, sebagian hadits-hadits itu mengatakan menyapu kepalanya dan tidak menyebutkan jumlah. 

C. Selanjutnya, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan dari mana memulai dengan menyapu kepala, sebagai berikut[20]:

1) Imam Malik mengatakan: Dimulai dari bagian depan kepala, kemudian menarik dengan kedua tangannya kebagian belakang kepala, lalu mengembalikan keduanya kebagian depan kepala, sesuai hadits Abdullah bin Zaid dikeluarkan oleh Muslim. Pendapat ini pula dipakai oleh Syafi’i dan Ibn Hanbal.

2) Al-Hassan bin Hay mengatakan: dimulai dari bagian belakan kepala, dari hadits ar-Rabi’ binti Mu’awwiz bin ‘Afraa, yaitu hadits yag berbeda-beda lafadznya. Ada juga memulai dari pertengahan kepala.

Kata al-Qurthubi: Dan yang paling shah dalam kasus ini adalah hadits Abdullah bin Zaid, dia juga membolehkan sebagian kepala saja tetapi dari bagian depannya. Diriwayatkan dari Ibrahim dan as-Sya’bi keduanya berkata: Dari bagian mana saja kepala kamu sapu maka itu sudah boleh. Dan Umar menyapu ubun-ubunny saja.

D. Kesepakatan para ulama bahwa yang paling baik dilakukan adalah menyapu kepala dengan kedua tangan sekaligus, dan membolehkan menyapu dengan satu tangan. Namun, mereka berbeda pada orang yang menyapu kepala dengan satu jari sehingga menyebar bahwa boleh melakukan hanya untuk kepala saja, maka masyhur bahwa hal itu boleh melakukan, yaitu pendapat Sufyan at-Tsauri, berkata: Bahwa menyapu kepala dengan satu jari diperbolehkan. Lalu ada pula mengatakan hal itu tidak boleh, karena bertentangan dengan ketentuan menyapu dan seakan-akan mempermainkan, kecuali hal itu darurat karena sakit maka tetap harus memperhatikan bagian-bagian yang harus disapu. Berkata Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Mohammad: Tidak boleh menyapu kepala dengan kurang dari tiga jari tangan[21].

E. Kedua telinga adalah bagian dari kepala menurut Malik, Ahmad, at-Tsauri, Abu hanifah, dan selain mereka, kemudian mereka berbeda pendapat tentang memperbaharui air: 

a) Imam Malik dan Ahmad berpendapat: Kedua telinga disapu dengan air yang baru bukan dari air yang dipakai menyapu kepala, sebagaimana dilakukan oleh Ibn Umar, pendapat ini didukung juga oleh Syafi’i dalam memperbaharui air, dan berkata: Adalah sunnah untuk keduanya bukan bagian dari muka dan kepala, karena kesepakatan ulama pada kasus bahwa tidak dicukur pada apa yang ada atas keduanya dari bulu-bulu ketika haji. Pendapat Abu Tsaur pada kasus ini sama dengan pendapat Syafi’i. 

b) Kata at-Tsauri dan Abu Hanifah: Keduanya disapu bersama dengan kepala dengan satu air, dan diriwayatkan dari kelompok beberapa ulama salaf dari sahabat dan tabi’in seperti pendapat ini. 

c) Kata Daud: Bahwa menyapu kedua telinga adalah baik, dan jika tidak maka tidak apa-apa, karena keduanya tidak ada disebutkan di dalam al-Qur’an[22].

d) Ada pula yang berpendapat: Telinga adalah sebutan dari kepala, dan telah disebutkan oleh banyak hadits shahih dalam kitab an-Nasaai dan Abu Daud serta selain keduanya: Bahwasanya nabi SAW menyapu zahir dan batin kedua telinga, dan Beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam dua telinganya, Pemilik pendapat ini menunjukkan bahwa kedua telinga tidak disebutkan dalam al-Qur’an karena keduanya bukan fardu seperti menyapu muka dan kedua tangan, hanya ditetapkan sebagai sunnah menyapu keduanya dengan sunnah rasul. 

Dan para ahlul ilmi tidak menyukai bagi orang yang berwudhu meninggalkan menyapu kedua telinganya dan memasukkannya sebagai orang yang meninggalkan sunnah dari sunnah-sunnah nabi SAW. Serta ulama tidak menganjurkan mengulang-ulang menyapu telinga kecuali Ishaq yang mengatakan: Bahwa orang yang meninggalkan menyapu kedua telinganya tidak boleh baginya, Ahmad berkata: Bahwa yang meninggalkan menyapu kedua telinga saya harap untuk mengulanginya[23].

F. Dalil-Dalil Tentang Membasuh Telinga:
1. Kedua telinga bagian dari muka, hadits dari nabi SAW bahwasanya beliau berdo’a dalam sujudnya: (سجد وجهي للذي خلقه وصوره وشق سمعه وبصره) “Saya sujudkan mukaku kepada (Allah) yang menciptakannya dan membentuknya, dan melengkapi pendengarannya dan penglihatannya”, maka nabi menambahkan telinga kepada muka menunjukkan keduanya masuk hukum muka. Dan didalam Mushnaf Abu Daud dari hadits Utsman: Maka dia membasu batin dan zahir kedua telinganya sekali, kemudian membasuh kedua kakinya, lalu mengatakan: Mana yang bertanya tentang wudhu? Beginilah saya melihat rasulullah SAW berwudhu.
2. Zahir kedua telinga dibasuh bersama muka, sedangkan batinnya disapu bersama kepala, karena Allah SWT memerintahkan membasuh muka dan memerintahkan menyapu kepala, maka apa yang ada dimukamu dari kedua telinga maka wajib membasuhnya, karena it bagian dari pada muka, dan apa yang tidak berada dimuka maka wajib menyapunya karena itu bagian dari kepala. Pendapat ini bertentangan dengan atsar dari nabi karena Beliau SAW menyapu zahir dan batin kedua telinganya berdasarkan hadits Ali, Utsman, Ibn Abbas, ar-Rabi’, dan selainnya.
3. Kedua telinga bagian dari kepala, sebagaimana sabda nabi SAW dari hadits as-Shanaabahi: “Apabila nabi menyapu kepalanya maka keluar dosa-dosa dari kepalanya sehingga keluar dari kedua telinganya”[24].

IV. Menyapu Kedua Kaki sampai Kedua mata Kaki:
Firman Allah: (وَأَرْجُلَكُمْ) “wa Arjulakum” (dan kakimu), Nafi’, Ibn ‘Amer dan al-Kisai membaca: (وَأَرْجُلَكُمْ) “wa Arjulakum” dengan “nashab” (baris atas), dan riwayat al-Walid bin Muslim dari Nafi’ membaca: (وَأَرْجُلَكُمْ) “wa Arjulukum” dengan “rafa” (baris dhammah) dan ini juga bacaan al-Hassan dan al-A’masy Sulaiman. Sedangkan Ibn Katsir, Abu ‘Amr dan Hamzah membacanya: (وَأَرْجُلَكُمْ) “wa Arjulikum” dengan baris kasrah/ bawah[25]

Hukum-Hukum Menyapu Kedua Kaki:
Dari perbedaan-perbedaan bacaan di atas, berbeda pula para sahabat dan tabi’in mengeluarkan pendapatnya, sebagai berikut[26]

1. Bagi yang membaca dengan “nashab” (baris atas), menjadikannya umum (اغسلوا) dan mendasari pendapatnya bahwa yang fardu dalam kasus kedua kaki adalah membasuh bukan menyapu, dan inilah pendapat jumhur dan mayoritas ulama, yaitu sifat wudhu yang telah diperagakan oleh nabi SAW dengan perkataan dan perbuatannya, Beliau pernah melihat orang-orang berwudhu meninggalkan tumitnya: Nabi mencela dan memanggil dengan suara yang tinggi bersabda: (ويل للأعقاب من النار أسبغوا الوضوء) “Binasalah orang yang berwudhu meninggalkan tumit itu dari neraka, maka basulah pada wudhu”. Kemudian Allah SWT memberi batas kepada kedua mata kaki sebagaimana juga berfirman pada kedua tangan sampai kepada kedua siku menunjukkan atas wajib membasuh keduanya, wallahua’lam

2. Bagi yang membaca dengan bari bawah menjadikan huruf (الباء) sebagai ‘amil, Ibn al-Arabi mengatakan: Para ulama sepakat bahwa yang wajib adalah membasuh keduanya, saya tidak mengetahui ada yang menolak pendapat ini kecuali hanya at-Thabari dari ahli fiqhi Islam, dan ada juga selainnya dari golongan ar-Rafidhah, dan at-thabari sangat getol membaca ayat ini dengan baris di bawah[27].

Al-Qurthubi berkomentar: Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra mengatakan: Wudhu itu membasuh dua anggota dan menyapu dua anggota, dan diriwayatkan pula bahwa adalah al-Hajjaj telah berkhutbah dengan bersemangat dan menguraikan wudhu mengatakan: Basuhlah mukamu dan kedua tanganmu, dan sapulah kepalamu dan kedua kakimu, karena tiada satupun dari anak cucu Adam lebih dekat dari kotorannya dari kedua kakinya, maka basulah batin dan zahir keduanya, lalu Anas bin Malik mendengar dan mengatakan: Maha Benar Allah dan telah berbohong al-Hajjaj. 

Allah berfirman: (وامسحوا برؤوسكم وأرجلكم) “dan sapulah kepalamu dan kedua kakimu”. Berkata: Adalah nabi SAW apabila menyapu kedua kakinya Beliau membasahi keduanya, dan diriwayatkan dari Anas juga mengatakan: Al-Qur’an turun dengan perintah menyapu, sedangkan sunnah memerintahkan dengan membasuh, dan adalah Ikrimah menyapu kedua kakinya dan berkata: Tidak ada perintah pada kedua kaki dibasuh tetapi pada keduanya adalah perintah menyapu, dan ‘Amer as-Sya’bi berkata: Jibril menurunkan al-Qur’an dengan menyapu, tidakah anda melihat bahwa tayammum itu menyapu padanya apa yang dibasuh, dan meniadakan apa yang disapu. 

Kata Qatadah: Allah menfardukan dua yang dibasuh dan dua yang disapu. Sedangkan Ibn Jarir at-Thabari berpendapat: Bahwa yang wajib pada keduanya adalah pilihan antara membasuh dan menyapu, dan menjadikan kedua bacaan sebagai dua riwayat yang sama. An-Nuhas mengatakan: Dan yang paling baik dikatakan pada kasus bahwa menyapu dan membasuh adalah keduanya wajib semua, maka menyapu wajib bagi yang membaca ayat dengan baris bawah, sedangkan membasuh wajib bagi yang membaca dengan baris “nashab” (baris atas), dan kedua bacaan tersebut setara dengan dua ayat. 

Kata Ibn ‘Athiyah: Golongan yang membaca dengan “kasrah” (baris bawah) berpendapat bahwa menyapu kedua kaki adalah membasuh[28].

Kata al-Qurthubi: Menurutku, dan adalah yang paling benar: Bahwa kalimat (المسح) berarti ganda: Bisa berarti menyapu, dan juga berarti membasuh. Kata al-Harawi: Al-Azhari mengatakan kepada kami, Abu Bakar Mohamed bin Utsman bin Sa’id ad-Dari mengatakan kepada kami dari Abu Hatem dari Abu zaid al-Anshari berkata: (المسح) dalam bahasa Arab dapat berarti membasuh dan menyapu... Wallahua’lam.

Firman Allah: (إِلَى الْكَعْبَيْنِ) “Sampai dengan Kedua Mata Kaki”:

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kedua mata kaki, dan jumhur memastikan bahwa keduanya adalah dua tulang yang menonjol pada kedua bagian samping kaki, dan al-Ashma’i menentang pendapat ini dan mengatakan: Bahwa mata kaki itu terdapat pada punggung kaki, ia mengatakannya pada kitab “as-Shahhah”. Dan diriwayatkan dari Ibn al-Qasim, yang juga dikatakan Mohamed bin al-Hassan, berkata Ibn ‘Athiyah: Saya tidak mengetahui ada orang yang menjadikan batasan wudhu sampai kepada bagian ini, tetapi Abdelwahab pada kitab “at-Talqin” menuliskannya dengan kalimat yang didalamnya terdapat percampur-adukan dan leganda fiksi[29]

Imam Syafi’i mengatakan: Saya tidak mengetahui ada orang menentang bahwa kedua mata kaki adalah dua tulang pada persendian betis, kata at-Thabari dari Yunus dari Asyhab dari Malik: Mata kaki adalah yang keduanya menjadi wajib wudhu, yaitu dua tulang yang lengket pada bagian betis, mengapit bagi tumit, dan mata kaki bukanlah berada pada permukaan kaki.

Kata al-Qurthubi mengomentari: Inilah pendapat yang benar dari tinjauan bahasa dan sunnah, karena mata kaki dalam ucapan Arab diambil dari ketinggian dan dari istilah itu juga disebut al-Ka’bah, dan ka’ab bagi wanita apabila telah mekar buah dadanya...[30]

Hukum-Hukum Menyapu Kedua Kaki:
Berkata Ibn Wahab: Menyelah-nyelah jari-jari kaki sangat disukai dan hendaklah melakukan itu juga pada jari-jari tangan, berkata Ibn al-Qasim dari Malik: Barangsiapa yang tidak menyelah-nyelah jari-jari kedua kakinya maka itu tidak dibolehkan atasnya, dan berkata Mohammad bin Khalid dari Ibn al-Qasim dari Malik tentang orang yang berwudhu di sungai hanya menggerak-gerakan kedua kakinya: Sesungguhnya ia tidak dibolehkan sampai mebasuh keduanya dengan kedua tangannya. Lalu Ibn al-Qasim mengatakan: Jika ia sanggup membasuh salah satunya dari kakinya yang lain maka itu boleh. 

Saya mengatakan (al-Qurthubi-pen): Yang shahih bahwa tidak dibolehkan pada keduanya kecuali membasuh keduanya seperti bagian kaki yang lain karena itu termasuk bagian kaki, sebagaimana pada jari-jari tangan termasuk bagian dari tangan, serta tidak dianggap dengan melakukan pada jari-jari kedua tangan sedangkan melalaikan pada jari-jari kedua kaki, karena manusia diperintahkan membasuh kaki semuanya seperti juga diperintahkan membasuh tangan semuanya. 

Telah diriwayatkan dari nabi SAW bahwasanya Beliau apabila berwudhu menggosok-gosok jari-jari kedua kakinya dengan jari kelingkingnya, sebagaimana juga diketahui bahwa Beliau SAW membasu kedua kakinya, dan ini menunjukkan keumumam. 

Dan adalah Malik pada akhir hayatnya menggosok-gosok jari-jari kedua kakinya dengan kelingkingnya atau dengan sebagian jari-jarinya sebagai pengamalan hadits yang didengarkannya: Abu Abderrahman al-Habali dari al-Mustaurid bin Syaddad al-Qurasyi berkata: Saya melihat rasulullah SAW berwudhu maka Beliau menyelah-nyelah antara jari-jari kedua kakinya[31]. Berkata Ibn Wahab: Malik mengatakan kepada saya: Sesungguhnya inilah yang paling tepat, dan saya tidak mendengarkannya kecuali baru-baru ini saja. Lalu berkata lagi Ibn Wahab: Dan saya dengar setelah itu ia ditanya tentang menyelah-nyelah jari-jari pada wudhu maka memerintahkan hal itu.

Dan Huzaifah telah meriwayatkan bahwasanya nabi SAW bersabda: Selah-selahlah antara jari-jari maka tidak akan diselah-selahnya api neraka, dan ini adalah sebuah nash tentang ancaman atas orang yang meninggalkan menyelah-nyelah. Maka benarlah apa yang telah kita katakan – kata al-Qurthubi ...[32]

Faedah-Faedah Yang Dapat di Ambil dari Kandungan Ayat wudhu:
1) Runtun antara anggota-anggota wudhu: Yaitu menyertakan bagi orang yang berwudhu pekerjaan demi pekerjaan sampai selesai tanpa ada spasi di antara selah-selahnya, dan tidak memisahkan dengan pekerjaan lain yang bukan bagian dari padanya. Berbeda pendapat para ulama pada masalah ini: Berkata Ibn Abi Salamah dan Ibn Wahab: Yang demikian itu termasuk bagian dari fardu wudhu dalam mengingat dan melupakan, maka barang siapa yang memisahkan antara anggota-anggota wudhunya dengan sengaja atau lupa maka tidak dibolehkannya. Adapun Ibn Abdelhakam mengatakan: Dibolehkannya bagi yang lupa dan sengaja. 

Sedangkan kata Malik pada kitab al-Mudawwanah dan kitab Mohammad: Bahwa hukum runtun dijatuhkan, itu juga pendapat Syafi’i. Berkata Malik dan Ibn al-Qasim: Jika memisahkannya karena sengaja tidak dibolehkan, dan dibolehkan bagi yang lupa, kata Malik pula dari riwayat Ibn Habib: Dibolehkannya pada anggota yang dibasuh, dan tidak dibolehkan pada anggota yang disapu. Kata al-Qurthubi: Dari pendapat-pendapat di atas saya mendasarkan pendapat saya[33]:

a) Pertama: Bahwasanya Allah SWT memerintahkan perintah secara mutlak, mau runtun atau memisah-misahkan, dan yang dimaksudkan adalah membasuh pada setiap anggota-anggota wudhu ketika hendak mengerjakan shalat.
b) Kedua: Wudhu merupakan ibadah yang mempunyai rukun-rukun yang berbeda-beda maka wajib padanya runtun seperti shalat, dan inilah pendapat yang paling benar, wallahua’lam[34].

2) Tertib pada anggota-anggota wudhu: Berbeda pendapat para ulama fiqhi tentang hukum tertib pada anggota-anggota wudhu ini, sebagai berikut:

a. Al-Abhari berpendapat: Tertib itu sunnah, karena kenyataan mazhab membolehkan terbalik pada anggota wudhu bagi orang yang lupa, hanya berbeda pendapat bagi orang yang sengaja; ada yang mengatakan boleh dan harus tertib untuk selanjutnya, kata Abu bakar al-Qadhi dan pengikutnya: Itu tidak boleh karena sia-sia. 

Pendapat inilah dipakai Imam Syafi’i dan para pengikutnya, dan didukung juga Ahmad bin Hanbal, Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam, Ishaq dan Abu Tsaur, serta dipilih pula oleh Abu Mash’ab dan sahabat Malik menyebutnya dalam “Mokhtashar”nya, yang diceritakannya dari ulama Madinah dan Malik termasuk diantaranya, tentang orang yang mendahulukan dalam wudhu kedua tangannya atas mukanya, tidak tertib dalam wudhu sebagaimana susunan ayat, maka harus mengulangi, dan tidak shalat dengan wudhu itu. 

b. Imam Malik dalam berbagai riwayatnya berpendapat, dan yang paling populer mengatakan: Huruf (الواو) pada ayat tidak menunjukkan penyusulan dan tertib, pendapat ini didukung oleh pengikut-pengikutnya, dan terima juga oleh Abu Hanifah dan pengikutnya, at-Tsauri, al-Auza’i, al-Laitsi bin Sa’ad, al-Mazni dan Daud bin Ali.

c. Ilkiya at-Thabari mengatakan kenyataan firman Allah: (فاغسلوا وجوهكم وأيديكم) “maka basulah mukamu dan kedua kakimu”, mengharuskan pemisahan dan tertib sebagaimana pendapat yang shahih dari Mazhab Syafi’i, yang merupakan mazhab mayoritas ulama.

d. Abu Umar mengatakan: Bahwasanya Imam Malik cenderung meneruskan wudhu sebagaimana adanya untuk segera mengerjakan shalat, dan tidak melihat tertib itu wajib atasnya, ini adalah kesimpulan mazhabnya. Ali bin Zaid telah meriwayatkan dari Malik berkata: Barangsiapa yang membasuh kedua tangannya kemudian mukanya, lalu mengingat tertibnya maka mengulangi membasuh kedua tagannya, tetapi jika tidak mengingat hingga shalat maka mengulangi wudhu dan shalat, Ali menyambung: Kemudian Malik berkata setelah itu: Tidak perlu mengulang shalat tetapi mengulang wudhu...

e. Dan yang paling shah pada kasus ini: Bahwa tertib patut pada empat sisi: Pertama, memulai dengan apa yang telah dimulai Allah dengannya, sebagaimana sabda nabi SAW ketika menunaikan haji: “Kami memulai dengan apa yang telah dimulai Allah dengannya”; kedua, kesepakatan ulama salaf yang mereka menjaga tertib; ketiga, mensejajarkan wudhu dan shalat; dan keempat, meneladani rasulullah SAW pada hal itu[35].

3) Wudhu dapat diganti dengan tayammum apabila habis waktu: Pendapat ini hanya dipakai oleh Imam Malik yang mengatakan boleh tayammum pada kasus ini, karena tayammum pada konsepnya untuk memelihara waktu shalat, dan jika tidak demikian maka wajib menunda shalat sampai menemukan air. Adapun mayoritas ulama tidak membolehkan tayammum dalam kasus seperti ini, dengan firman Allah: “lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah”, sedangkan pada kasus ini terdapat air, maka hilang syarat keharusan tayammum, dengan demikian tidak boleh tayammum[36].

4) Menghilangkan najis tidak wajib: Sebagian ulama berargument dengan ayat ini mengatakan bahwa menghilangkan najis hukumnya tidak wajib, karena firman Allah: (إذا قمتم إلى الصلاة)apabila kamu bangun hendak mengerjakan shalat”, ayat ini tidak menyebutkan istinja (menghilangkan najis) tetapi hanya memerintahkan wudhu, jika menghilangkan najis itu wajib maka yang pertama diperintahkan adalah istinja. Ini adalah pendapat Mazhab Abu Hanifah, yaitu riwayat dari Asyhab dari Malik. 

Ibn Wahab berkata dari Malik: Menghilangkan najis wajib pada keadaan ingat dan lupa; dan ini juga pendapat Syafi’i; kata ibn al-Qasim: Wajib menghilangkannya bagi yang ingat tetapi tidak bagi yang lupa; kata Abu Hanifah: Wajib menghilangkannya pada kadar tertentu.

Dan paling shahih pendapat Ibn Wahab: Karena nabi SAW pernah bersabda tentang pemilik dua makam: “Sesungguhnya keduanya benar-benar telah disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar, adapun yang pertema disiksa karena suka menebar gosif, dan yang kedua tidak bersih setiap habis buang air”. Jadi tidak disiksa kecuali hanya meninggalkan wajib, dan tidak ada keterangan dari al-Qur’an, karena Allah SWT hanya menjelaskan dari ayat wudhu sifat-sifat wudhu secara khusus, dan tidak mencakup hukum menghilagkan najis dan yang lainnya[37].

5) Menyapu kedua Sepatu (khof[38]): Ayat ini juga menunjukkan hukum menyapu kedua sepatu khof. Imam Malik pada kasus ini mempunyai tiga riwayat: 

a) Pertama: Tidak membolehkannya secara mutlak, sebagaimana pendapat kelompok Khawarij. Pendapat ini ditolok dan tidak shah.

b) Kedua: Menyapu kedua khof dalam keadaan musafir (bepergian), tidak menyapu bagi yang menetap, karena kebanyakan hadits menganjurkan menyapu dalam keadaan musafir. Dan ada pula hadits tentang sepatu membolehkan menyapu bagi orang yang menetap, hadits dari Huzaifah mengatakan: “Tahukah kamu saya dan rasulullah SAW pernah berjalan, lalu Beliau mengambil sepatu orang dibelakang dinding, maka berlalu sebagaimana dilakukan orang lain pergi buang air maka saya mengawasinya, lalu Beliau memberi isyarat padaku maka saya datang dan berdiri dibelakangnya hingga selesai – menambahkan riwayat – Lalu Beliau berwudhu dan menyapu atas kedua khofnya” [39].

c) Ketiga: Hadits Syarih bin Hanai berkata: Saya mendatangi ‘Aisyah menanyainya tentang menyapu atas kedua khof, maka berkata: Pergilah ke Ibn Abu Thalib lalu tanyailah dia: Karena dia pernah melakukan perjalanan bersama rasulullah SAW, maka kami pun pergi menanyainya dan berkata: Rasulullah SAW menjadikan tiga hari dan tiga malam bagi yang musafir dan sehari-semalam bagi yang menetap. Yaitu menyapu bagi yang musafir dan yang menetap[40].

Hukum-hukum khof yang lain:
A. Menurut Malik disapu atas kedua khof bagi musafir tanpa batasan waktu[41]. Kata Ibn Wahab saya telah mendengarkan Malik berkata: Tidak ada warga kami yang membatasi waktu tentang kasus ini, Abu Daud meriwayatkan dari hadits Ubay bin Imarah bahwa dia bertanya: Ya, rasulullah apakah saya boleh menyapu kedua khof? Bersabda: Ya tentu, bertanya lagi: Seharikah? Bersabda: Sehari, bertanya lagi: Dua hari? Bersabda: Dua hari, bertanya lagi: Tiga hari? Bersabda: Ya sampai engkau kehendaki, pada riwayat lain (Ya, terserah kamu)[42]

B. Menurut Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, an-Nu’man dan at-Thabari: Disapu bagi yang menetap sehari-semalam, dan bagi yang musafir tiga hari-tiga malam, berdasarkan hadits Syarih.

C. Sepakat para ulama menyapu kedua khof atas wudhu, dengan hadits al-Mughirah bin Syu’bah yang mengatakan: “Pernah suatu malam saya dan nabi SAW berjalan-jalan , pada waktu itu saya hendak membuka kedua khofnya maka bersabda: Biarkan saja keduanya karena saya memasukkan keduanya suci dan menyapu keduanya”. 

Pembahasan II: Hukum-Hukum mandi junub
Allah berfirman: (وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا) “dan jika kamu junub”: Para jumhur dari umat telah sepakat bahwa junub itu adalah tidak suci sebab keluar air (mani) atau bertemu kedua khitan. Dan diriwayatkan dari sebagian sahabat bahwa tidak ada mandi kecuali sebab keluar air, dengan sabda rasulullah SAW: “Bahwasanya air itu hanya sebab air” (HR: Muslim), sedangkan hadits Bukhari dari Ubay bin Ka’ab bahwa sanya ia bertanya: “Ya rasulullah, apabila seseorang bercinta dengan isterinya tapi tidak keluar? Bersabda: Harus mandi karena telah menyentuhkan perempuan dari padanya kemudian berwudhu lalu shalat”.

Kata al-Qurthubi: Seperti inilah kesepakatan para ulama dari sahabat dan tabi’in serta ahli fiqhi dari berbagai penjuru, bahwa mandi junub wajib dengan bertemunya dua khitan. Dan memang pernah ada perbedaan pendapat di antara sahabat kemudian mereka kembali kepada riwayat ‘Aisyah dari nabi SAW bersabda: “Apabila duduk di antara cabang-cabangnya yang empat dan menyentuh dua khitan dari padanya maka wajib mandi”. (HR: Muslim). Dan hadits dari Bukhari: “Apabila duduk di antara cabang-cabangnya yang empat kemudian mengusahakannya maka wajib mandi”. (Muslim menambahka: walaupun tidak keluar)[43]

Firman Allah: (فَاطَّهَّرُوا) “maka mandilah”: Memerintahkan mandi dengan air, oleh karena itu Umar dan Ibn Mas’ud menyatakan bahwa junub tidak dibolehkan dengan tayammum, akan tetapi menunda shalat sehingga mendapatkan air. Dan para jumhur dari khalayak menepis pernyataan ini: Bahwa kasus ini hanya bagi yang menemukan air, dan disebutkan juga hukum junub pada kasus tidak ada air dengan firman Allah: (أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ)atau menyentuh perempuan”, dan menyentuh di sini adalah bercinta. Dan benar, Umar dan Ibn Mas’ud keduanya telah kembali kepada pendapat semua orang bahwa junub boleh tayammum...

Selanjutnya dipertegas oleh hadits Imran bin Hushain menjelaskan kasus ini, yaitu: “Sungguh rasulullah SAW melihat seseorang mengasingkan diri tidak ikut shalat bersama orang lain maka nabi bersabda: Wahai fulan apa yang menghalangi kamu untuk shalat bersama mereka? lalu menjawab: Ya rasulullah saya sedang junub dan tidak ada air. Bersabda: Hendaklah kamu memakai tanah yang suci, itu sudah cukup bagimu”[44].

Hukum-hukum lain berhubungan dengan mandi junub:
1. Orang junub tidak boleh masuk mesjid; telah diriwayatkan dari nabi SAW bahwasanya Beliau tidak pernah membiarkan seseorang junub untuk melintasi mesjid dan duduk di dalamnya kecuali Ali bin Abu Thalib ra. Dan diriwayatkan oleh Athiyah al-Aufi dari Abu Sa’id al-Khadari berkata: Nabi telah bersabda: “Tidak pantas bagi seorang muslim untuk junub di dalam mesjid kecuali aku dan Ali”.
Ulama Maliki mengomentari: Kasus tersebut dibolehkan, karena rumah Ali berada di mesjid, sebagaimana juga rumah nabi SAW berada di mesjid, sekalipun kedua rumah tersebut tidak berada persis di dalam mesjid tetapi berdempetan dengan mesjid dan pintu keduanya berada di mesjid maka nabi SAW menjadikannya bagian dari mesjid lalu bersabda: Tidak pantas bagi seorang muslim... seperti hadits di atas. Kata Abdullah bin Umar: Mereka sebenarnya tidak junub di dalam mesjid tetapi junub di rumah masing-masing.

2. Ulama Maliki tidak membolehkan orang junub membaca al-Qur’an kecuali sekedar untuk memohon perlindungan. Telah diriwayatka oleh Musa bin Oqbah dari Nafi’ dari Ibn Umar berkata: Sabda rasulullah SAW: “Hendaklah tidak membaca orang junub dan haid sesuatu apapun dari al-Qur’an” [45]. Dan hadits dari Ali berkata: Adalah rasulullah SAW tidak diam dari membaca al-Qur’an sedikitpun kecuali jika dia sedang junub” [46]. Hadits lain dari Ibn Abbas dari Abdullah bin Rawahah: Bahwasanya rasulullah SAW melarang kepada kita membaca al-Qur’an dalam keadaan junub.

3. Jumhur ulama dan para ahli fiqhi sepakat: Dibolehkan pada mandi junub menyiram dan membasuh saja seluruh anggota badan sekalipun tidak menggosok-gosoknya, berdasarkan hadits Maimunah dan Aisyah menyifati mandi nabi SAW. Dan para imam Mazhab meriwayatkan kedua hadits tersebut mengatakan: Bahwasanya nabi SAW meratakan air pada seluruh tubuhnya, dan itu juga pendapat Muhammad bin Abdulhakam...

4. Membasuh tangan 7 kali dan faraj (kemaluan) 7 kali: Hadits dari Aisyah dan Maimunah: Bahwasanya nabi SAW setiap mandi junub membasuh tangannya tujuh kali dan kemaluannya tujuh kali.

5. Niat sebelum mandi junub: Mazhab Malik mengharuskan niat bagi mandi junub, berdasarkan firman Allah: (فاغسلوا) “maka mandilah”, yaitu perintah berniat dan menyegerakan mandi. Ini adalah pendapat Imam Malik, didukung pula imam Syafi’i, Ishak dan Abu Tsaur. 

Sebagaiman firman Allah: (وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين) “dan tiada diperintahkan kepadamu kecuali menyembah kepada Allah dengan tulus menjalankan agama”: Iklash (tulus) adalah niat dalam mendekatkan diri kepada Allah, dimaksudkannya untuk mengerjakan apa yang telah diperintahkan Allah kepada hamba-Nya yang beriman. Hal ini juga telah ditegaskan nabi SAW dalam sabdanya: “Sesungguhnya segala perbuatan harus dengan niat”, dan mandi junub adalah perbuatan ketaatan.

6. Kadar air dipakai mandi junub: Imam Malik meriwayatkan dari Ibn Syihab dari Urwah bin az-Zubair dari Aisyah ummul mu’minin ra berkata: Bahwasanya rasulullah SAW mandi dari satu wadah yaitu “al-farraqu” untuk madi junub. Kata Ibn Wahab: “al-farraqu” sejenis ukuran terbuat dari kayu, kira-kira setara 5 qisth ukuran Bani Umayyah, atau sekarang kira-kira seukuran ember No. 5 (lima liter). Ini mengisyaratkan tidak berlebih-lebihan mempergunakan air, karena segala yag berlebihan adalah tabsir[47].

Pembahasan III: Hukum-Hukum tayammum[48]
Allah berfirman:
(وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ)
“dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau habis buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”,

Ayat tayammum ini, turun pada Abdurrahman bin ‘Auf yang junub sedang dia dalam keadaan terluka, maka diberi kemudahan baginya untuk mengambil tayammum, kemudian hukum ayat ini menjadi umum untuk semua manusia. Dan dikatakan pula, ayat ini turun disebabkan karena para sahabat tidak mempunyai air pada peperangan “al-Marisie” pada peristiwa itu juga ‘Aisyah ra kehilangan kalungnya.

Hadits dikeluarkan Malik dari riwayat Abdurrahman bin al-Qasim dari bapaknya dari Aisyah berkata: “Telah terjatuh kalung Asma maka nabi SAW memerintahkan orang-orang mencarinya, lalu tiba waktu shalat sedang mereka tidak punya wudhu dan tidak ada air maka mereka shalat tanpa ada wudhu, maka Allah menurunkan ayat tayammum” [49]

Sebab-sebab Tayammum:
1. Karena sakit, firman Allah: (وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى) “dan jika kamu sakit”: Sakit adalah keadaan tubuh yang tidak fit, keluar dari batas keseimbangan tubuh yang normal, sampai kepada demam dan kelumpuhan, yaitu ada dua kategori: Parah atau ringan, maka apabila sakit parah yang dikhawatirkan akan mati karena tersentuh air dingin, atau akan semakin memperparah penyakitnya, atau takut berakibat buruk pada anggota badan tertentu dengan tersentuh dinginnya air, maka bertayammum menurut kesepakatan ulama.

2. Musafir, firman Allah: (أَوْ عَلَى سَفَرٍ) “atau dalam perjalanan”: Diperbolehkan mengambil tayammum jika dalam perjalanan panjang atau pendak ketika tidak ada air, dan tidak disyaratkan hanya untuk batas meng-qashar shalat. Ini adalah pendapat Malik dan jumhur ulama. Sebagian mengatakan: Tidak boleh tayammum kecuali dalam perjalanan yang mengharuskan qashar shalat, sebagian yang lain mensyaratkan harus perjalanan dalam ketaatan, semua ini adalah pendapat lemah. Wallahua’lam[50].

Sepakat para ulama tayammum diperbolehkan bagi yang musafir, sebagaimana dijelaskan di atas, namun berbeda pendapat pada kasus orang yang menetap. Malik dan pengikutnya membolehkan tayammum pada musafir dan yang menetap, ini juga pendapat Abu Hanifah dan Mohammad. Syafi’i berpendapat: Tidak diperbolehkan bagi yang menetap kecuali khawatir akan ketinggalan waktu shalat, sependapat dengan at-Thabari. Imam Syafi’i berkata juga diikuti oleh al-Laitsi dan at-Thabari: Apabila tidak ada air di dalam pemukiman kemudian takut kehabisan waktu shalat, dan juga orang sakit maka boleh bertayammum, kemudian mengulang...

3. Habis buang air, firman Allah: (أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ) “atau habis buang air”: Yaitu orang menetap (mukim) apabila tidak ada air maka bertayammum. 

4. Menyentuh perempuan, firman Allah: (أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ) “atau menyentuh perempuan”: Ubaidah meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud mengatakan: Mencium termasuk bagian menyentuh, maka segala apa yang selain bercinta (ML) live adalah menyentuh, pendapat ini juga dipakai Ibn Umar dan oleh Muhammad bin Yazid, lalu menambahkan: Karena telah disebutkan pada awal ayat apa yang menjadi wajib atas orang yang bercinta (ML) dalam firman Allah: “dan jika kamu junub maka mandilah”, dan Abdullah bin Abbas telah mengomentari: Menyentuh, meraba dan mencium adalah termasuk bercinta, hanya saja Allah SWT mengiaskannya.

Berbeda Pendapat ulama pada hukum ayat ini kepada 5 mazhab:

A. Golongan mengatakan: Menyentuh di sini khusus bersentuhan dengan tangan.

B. Abu Hanifah mengatakan: Menyentuh di sini dikhususkan adalah meraba yaitu bercinta, karena junub wajib mandi sedangkan menyentuh dengan tangan tidak kena hukum itu, bukan suatu hadats dan tiada pula membatalkan wudhu. Maka apabila seseorang mencium isterinya dengan perasaanpun tidak membatalkan wudhunya, berdasarkan hadits diriwayatkan ad-Daraqathni dari Aisyah berkata: Bahwasanya rasulullah SAW mencium sebagian isterinya kemudian keluar shalat tanpa harus mengambil wudhu lagi, Urwah menimpali Aisyah mengatakan: Tidak satupun dicium beliau kecuali kamu, lalu Aisyah tersenyum saja.

C. Kata Malik: Menyentuh dengan bercinta wajib tayammum, sedangkan menyentuh dengan tangan wajib tayammum apabila memakai perasaan. Maka apabila menyentuh tanpa syahwat tidak perlu wudhu, ini juga dipakai Ahmad dan Ishaq, yaitu sesuai makna ayat.

D. Kata Ali bin Ziyad: Jika bersentuhan memakai kain tebal tidak apa-apa, tetapi Kalau hanya kain tipis saja maka wajib wudhu.

E. Kata Abdelmalik bin al-Majechoun: Barangsiapa sengaja menjentuh isterinya dengan tangannya bermaksud menggoda maka wajib wudhu, merasa nikmat atau tidak.

Kata Qadhi Abou al-Waled al-Baji mengomentari 5 pendapat di atas: Yang lebih mendekati kebenaran adalah Mazhab Malik dan para pengikutnya, bahwa yang membatalkan wudhu hanya sentuhan yang menimbulkan kegelian (enak) tidak membatalkan selainnya, maka barangsiapa bermaksud mendapatkan keenakan dengan sentuhannya maka wajib wudhu, menikmati atau tidak menikmati. Ini adalah makna hadits al-Utaibah dari riwayat Isa dari Ibn al-Qasim. Adapun kalau hanya sekedar bersentuhan, telah diriwayatkan Ibn nafi’ dari Malik bahwa itu tidak perlu wudhu dan tidak usah mencuci kemaluannya hingga menyentuh pakai perasaan atau keluar madzi. 

Menurut Abu Ishaq barangsiapa bersentuhan maka batal wudhu, dan ini juga salah satu pendapat Malik dalam “Mudawwanah”. Sedangkan menurut Syafi’i: Apabila seseorang menyentuhkan sesuatu dari badannya kebadan perempuan baik itu tangan atau anggota tubuh lain maka batal wudhu dengannya, ini juga pendapat Ibn Mas’ud, Ibn Umar, az-Suhri dan Rabi’ah.

Adapun al-Auza’i: Apabila menyentuh dengan tangan maka batal wudhu, jika menyentuh selain dari tangan tidak batal, dengan firman Allah (فلمسوه بأيديهم) “maka menyentuhnya dengan tangannya”. Maka ini adalah lima mazhab paling kuat mazhab Malik, yaitu diriwayatkan dari Umar dan anaknya Abdullah... Wallahua’lam..

5. Sebab Tayammum yang lain dan yang paling perinsif, firman Allah: (فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً), “lalu kamu tidak mendapatkan air”: Sebab yang tidak didapatkan oleh musafir bersamanya adalah air, yaitu bisa saja tidak punya dalam jumlah banyak atau tidak mencukupi, atau khawatir ditinggal rombongan, atau kehausan atau sejenisnya. Begitu juga kalau air yang ada diperlukan untuk keperluan dalam perjalanan, maka pada kasus ini boleh tayammum.

Pada kasus ini terdapat perbedaan para ulama, apakah mencari air sebagai syarat shahnya tayammum atau tidak? Pada kenyataannya mazhab Malik mensyaratkan mencari air, dan ini pula pendapat Syafi’i. Namun, al-Qadhi Abou Mohamed bin Nasser berpendapat lain mengatakan bahwa itu bukanlah syarat tayammum, yaitu pendapat Abu Hanifah dan diriwayatkan dari Ibn Umar bahwa dia pernah dalam sebuah perjalanan sedang dia sudah separuh perjalanan maka dia tidak mengarah ke air, kata Ishaq tidak perlu mengejar air kecuali bila sudah sampai ketempatnya, dan dia membacakan hadits Ibn Umar. Dan yang lebih shah serta masyhur adalah pendapat pertama yang telah dipilih Malik dalam “Muwattha”, dengan firman Allah: (فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً), “lalu kamu tidak mendapatkan air”, hal ini mengharuskan bahwa tayammum tidak dilakukan kecuali setelah berusaha mencari air.

Apabila sudah dipastikan tidak ada air, maka tidak usah memikirkan akan menemukan air pada waktu dekat, atau berharap akan mendapatkannya, atau berfikir akan keduanya, pada kasus ini terdapat tiga opsi:

a. Pertama: Dibolehkan tayammum dan shalat pada awal waktu: Karena apabila ternyata terlepas dari keutamaan memperoleh air maka lebih baik baginya mengejar keutamaan shalat pada awal waktu.

b. Kedua: Bertayammum pada pertengahan waktu, diceritakan pengikut Malik darinya, lalu menunda shalat dengan harapan meraih keutamaan mencari air tanpa kehilangan keutamaan awal waktu shalat, karena keutamaan awal waktu dapat tercapai dengan pertengahannya karena masih mendekatinya.

c. Ketiga: Menunda shalat hingga mendapatkan air pada akhir waktu, karena keutamaan mencari air lebih tinggi dari keutamaan awal waktu...

Allah berfirman: (فَتَيَمَّمُوا)maka bertayammumlah”: Tayammum yang dikhususkan ayat ini disampaikan secara luas, nabi bersabda: “Kita telah dimuliakan atas orang lain dengan tiga hal, telah dijadikan kepada kita bumi semuanya menjadi mesjid, dan menjadikan tanahnya kepada kita suci...”. Pada pembahasan tayammum ini kita telah menyebutkan sebab turunnya, telah menjelaskan pula sebab-sebab yang membolehkan tayammum dan kita masih akan kembali lagi lebih memperdalam ketika membaca surah an-Nisaa: 43, pada pertemuan berikut, insya Allah...

Pembicaraan kita di sini tentang pengertian tayammum, sifatnya, teknisnya, siapa yang boleh tayammum, syarat-syaratnya, dan sebagainya dari hukum-hukumnya.

Tayammum secara bahasa adalah maksud. Saya bertayammum sesuatu maka saya memaksudkannya, dan saya tayammum tanah maka memaksudkannya. Saya tayammum dengan bidikanku dan panahku yaitu saya memaksudkannya bukan dari yang lain. Kata Ibn as-Sakitte pada firman Allah: (فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا) “maka tayammumlah dengan tanah yang bersih”: Yaitu maksudkanlah hal itu. Kemudian mereka memperluas penggunaan kalimat ini hingga akhirnya menjadi tayammum sebagai menyapu muka dan kedua tangan dengan tanah. Kata Ibn al-Anbari: Telah bertayammum orang itu, Artinya telah menyapukan tanah atas muka dan kedua tangannya.

Tayammum itu lazim bagi setiap muslim yang sudah kena wajib shalat apabila tidak ada air dan telah masuk waktu shalat. Sepakat para ulama bahwa tayammum menghilangkan junub tapi tidak menghilangkan hadats, dan bahwasanya orang tayammum dengan dua sebab itu apabila menemukan air maka Kembali hukum junub sebagaimana kembali berhadats lagi seperti sedia kala, dengan hadits nabi ke Abu Zar: Apabila kamu menemukan air maka basuhkanlah kulitmu...

Firman Allah: (صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ) “dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”: Kreteria tanah tayammum dan anggota-anggota tayammum ini akan kita bahas ketika membaca ayat ke-43 dari surah an-Nisaa nanti, insya Allah...

Hukum-hukum Thaharah Menyempurnakan Ni’mat Allah:
Allah berfirman: (مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ) “Allah tidak hendak menyulitkan kamu”: Yaitu menyusahkan dalam agama, dalilnya firman Allah pada ayat lain: “dan tidaklah dijadikan kepadamu dalam agama dari kesulitan”.

Firman Allah: (وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ) “tetapi Dia hendak membersihkan kamu”: Yaitu dari dosa-dosa sebagaimana telah kita sebutkan dari hadit Abu Harairah dan as-Shanabahi, dan ada pula mengatakan: Membersihkan dari hadats dan junub. Ungkapan lain mengatakan: Agar kamu berhak menyandang predikat orang suci yang telah disandang dengannya oleh ahli taat.

Firman Allah: (وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ) “dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu”: Yaitu dengan memberi kemudahan pada tayammum bagi orang yang sakit dan musafir; dikatakan pula: Ni’mat dengan menjelaskan hukum-hukum syari’at; ada juga mengatakan: Ni’mat dengan diampunkannya dosa-dosa, di dalam khabar dijelaskan: Kesempurnaan ni’mat adalah masuk surga dan bebas dari api neraka.

Firman Allah: (لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ) “supaya kamu bersyukur”: Yaitu agar kamu mensyukiri segala ni’mat-Nya maka kamu menjalankan ketaatan pada-Nya. 

Demikian kita akhiri pembahasan ayat pertama dari ayat thaharah yaitu ayat ke-6 dari surah al-Maaidah, insya Allah, kita akan lanjutkan ayat lain dari surah an-Nisaa: 43 yang akan memperjelas dan menegaskan ayat thaharah di atas, khususnya tayammum....

Ayat Tayammum[51]

Allah berfirman dalam Surah an-Nisaa’: 43:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا (٤٣)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.”

Kamus Ayat Tayammum[52]:
1. (لا تَقْرَبُوا) “janganlah kamu shalat”: Yaitu jangan mendekati sebagai kiasan dari masuk ke dalamnya, atau janganlah kamu memasuki dari mesjid-mesjidnya.
2. (جُنُبًا)dalam keadaan junub”: Dari mengalami junub dengan bercinta (ML) atau keluar mani
3. (عَابِرِي سَبِيلٍ)sekedar berlalu”: menyeberangi jalan yaitu bepergian (musafir)
4. (الْغَائِطِ) “tempat buang air”: Tempat yang rendah dari permukaan bumi seperti wadi, yang dimaksud tempat dipersiapkan untuk membuang hajat (buang air), karena orang-orang dipedalaman terpencil dan sebagian warga perkampungan membuang hajat mereka pada tempat-tempat yangg rendah agar tertutup dari penglihatan orang.
5. (لاَمَسْتُمُ النِّسَاء) “menyentuh perempuan”: Kiasan dari bercinta (ML)
6. (فَتَيَمَّمُواْ) “maka tayammumlah”: maka niatkanlah
7. (صَعِيدًا) “tanah”: yang bersih tanah yang suci. Dan (صَعِيدًا): Permukaan bumi.
8. (عَفُوّاً) “Maha Pema'af”: Yang Mempunyai Sifat Pemaaf dan Dia-lah yang menghapuskan segala kesalahan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
9. (غَفُوراً) “Maha Pengampun”: Yang Mempunyai Pengampunan, sedangkan (المغفرة): Menutupi dosa-dosa dengan tanpa mengadakan perhitungan atasnya. 

Sebab-sebab Turun Ayat[53]:
A. Sebab Turun ayat: (لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ) “janganlah kamu shalat”: Riwayat dari Ali ra berkata: Adalah Abdurrahman bin Auf pernah mengundang kami makan, lalu memberikan kami hidangan dan menuangkan khamar, maka kami pun berpesta khamar, dan masuk waktu shalat, mereka mendorong aku menjadi imam lalu aku membaca: (قل: يا أيها الكافرون، لا أعبد ما تعبدون، ونحن نعبد ما تعبدون) “Katakanlah: hai orang-orang kafir, saya tidak menyembah apa yang kamu sembah, dan kami menyembah apa yang kamu sembah”. Maka Allah menurunkan: (يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكارى حَتَّى تَعْلَمُوا ما تَقُولُونَ) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” [54].
Sedangkan Ibn Jarir meriwayatkan dari Ali bahwa yang imam adalah Abdurrahman, adapun shalat yang dikerjakan adalah Magrib, waktu itu sebelum diharamkan khamar.
B. Sebab Turun ayat: (فَتَيَمَّمُوا) “maka tayammumlah”: Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Malik dari Aisyah ra berkata: Kami telah keluar bersama nabi dalam sebuah perjalanan, hingga kami sampai ke “al-Baid” atau markaz tentara lalu saya merasa telah kehilangan kalung, maka rasulullah SAW pergi mencarinya dan dibantu pula orang-orang yang lain, mereka berada ditempat yang tidak ada air dan mereka pun tidak ada yang bawa air... Maka Allah menurunkan ayat tayammum lalu mereka bertayammum. Maka Asid bin Hadhier, salah seorang komandan pasukan, menyelah: Wah, ini adalah awal berkah dari kamu hai putri Abu Bakar.
Dan dalam riwayat: Semoga Allah memuliakanmu hai Aisyah, tidak terjadi padamu sesuatu yang kamu tidak inginkan kecuali Allah telah menjadikannya kemudahan bagi umat Islam. Selanjutnya Aisyah menambahkan: Lalu nabi mengirimkan tunggangan yang tadinya aku tumpangi, maka kami menemukan kalung itu di balik pelananya[55].

Kampanye anti Miras al-Qur’an:
Allah berfirman: (لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكارى حَتَّى تَعْلَمُوا ما تَقُولُونَ) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”.

Sesungguhnya ini merupakan serial pengajaran Allah terhadap umat Islam – yang telah meneriman ajaran Islam dari belenggu kejahiliaan – Adalah khamar (minuman keras) telah menjadi salah satu tradisi murni masyarakat jahiliah secara utuh, dan salah satu ciri khas yang fenomenal komunitas ini, Sebagaimana juga telah menjadi fenomena tersendiri bagi seluruh jahiliah semenjak dulu dan sekarang... 

Dan minuman keras (miras) juga telah menjadi fenomena khusus bagi masyarakat Romawi dan Persia, serta tidak disangkal lagi telah menjadi Trade Mark bagi masyarakat bangsa-bangsa Eropa dan Amerika di era kejahiliaan pertamanya! Di Swedia – adalah contoh elit dari elit-elit bangsa jahiliah modern – dulu pada paruh awal abad yang lalu, setiap keluarga di sana meramu bir khusus untuk konsumsi keluarga mereka. sehingga konsumsi bir negeri ini telah mencapai batas rata-rata yang dipradiksi sekitar 20 liter per-kepala. 

Hingga pada akhirnya pemerintah sadar akan bahaya yang akan ditimbulkan oleh fenomena ini dan pengaruh-pengaruh kecanduan, maka pemerintah mengambil kebijakan politik anti miras berupa membatasi konsumsi perorangan dan melarang miras di tempat-tempat umum. Akan tetapi mengalami kegagalan dan semakin lemah sanksi-sanksi hukum sejak tahun-tahun belakangan! Akhirnya dibolehkan miras di restoran-restoran dengan syarat memesan makanan terlebih dahulu, kemudian membolehkan bir pada jumlah tertentu dari tempat-tempat umum, sampai tengah malam saja. Selanjutnya dibebaskan berbagai jenis minuman keras kapan dan dimana saja... Dan, kecanduan pun di kalagan ABG-ABG semakin meningkat..!

Adapun di Amerika, pemerintah federasi Amerika pernah suatu saat berusaha memberantas fenomena ini dan mencetuskan undang-undang pada tahun 1919 dikenal dengan undang-undang”Kekeringan”! Sebagai upaya memberantas miras, karena melarang produksi bahan baku bir! Undang-undang ini sempat berlangsung selama 14 tahun, hingga akhirnya pemerintah terpaksa harus meng-amandemennya pada tahun 1933.

Upaya pemerintah Amerika tidak terbatas hanya membuat UU tersebut, bahkan telah mengerahkan semua sarana dan media-media cetak, radiao, televisi, bioskop dan simposium-simposium skala besar untuk kampanye anti miras. Negara juga telah membelanjakan dana yang cukup besar untuk membiayai kampaye anti bir tersebut yang diperkirakan mencapai nilai USD. 60 juta, belum lagi termasuk biaya penerbitan buku-buku, majalah dan koran-koran yang mencapai 10 Billion examplar. Dan dana promosi dalam menerapkan dan mensosialisasikan UU pelarangan selama 14 tahum yang tidak kurang dari USD. 250 juta. 

Pemerintah juga telah mengeksekusi mati dalam kampanye ini 300 jiwa, menjebloska ke penjara sebanyak 532.335 pelanggar, juga telah mengambil denda mencapai 16 juta dollar, dan merampas barang bukti bernilai sekitar 400 juta dollar... Walaupun telah mengeluarkan biaya dan energi sebesar itu, namun akhirnya terpaksa harus mundur dan mengamandemen UU.

Berbeda dengan Islam, telah berhasil dengan gemilang memberantas fenomena yang telah mendarah daging ditengah-tengah masyarakat jahiliah hanya dengan beberapa ayat al-Qur’an saja. Dan inilah perbedaan dalam mengobati jwa manusia dan sosial kemasyarakatan antara manhaj Allah dan manhaj-manhaj jahiliah dulu dan masa sekarang secara bersamaan.

Tidak perlu terlalu panjang menceritakan betapa telah mendarah dagingnya tradisi minum khamar di tengah-tengah masyarakat Arab jahiliah, ikuti saja riwayat peristiwa-peristiwa yang menyertai tahapan-tahapan pelarangan khamar di dalam masyarakat Islam dan tokoh-tokoh yang telah menjadi aktor utama peristiwa-peristiwa tersebut seperti Umar, Ali, Hamzah, Abdurrahman bin Auf dan tokoh-tokoh sekaliber itu menjadi contoh betapa telah mentradisinya budaya khamar di dalam masyarakat Arab jahiliah. 

Cukup untuk menggambarkan semua ini, Kata Umar ra menceritakan riwayat ke Islamannya: Saya pada masa jahiliah seorang peminum khamar berat, jika saya bertandan ke rumah seorang peminum maka sayapun akan minum. Umar masih tetap minum khamar dalam Islam sampai ketika turun ayat: “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi maka katakanlah di dalamnya terdapat dosa besar dan manfaat kepada manusia, dan dosa keduanya lebih besar dari manfaat keduanya”, kata Umar Allah telah menjelaskan kepada kita penjelasan yang memadai tentang khamar.... 

Dan masih saja Umar minum.... hingga turun ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”. Kata umar: Allah telah memberikan penjelasan yang cukup tentang khamar! Sehingga turun larangan secara terang tentang miras pada firman Allah: “Sesungguhnya Khamar dan judi... apakah kamu berhenti”, kata Umar kami telah berhenti, kami benar-benar berhenti... dan berhenti..

Bagaimana Islam Memberantas Miras?:
Riwayat di atas sudah cukup menunjukkan betapa telah tenggelamnya bangsa Arab jahiliah terhadap miras, maka miras dan judi telah menjadi fenomena yang yang sangat menonjol, keduanya telah merajalela di dalam tradisi masyarakat ini....

Lalu, bagaimana Islam menghadapi fenomena yang sudah akut ini? Apa yang dilakukan untuk memberantas mala petaka ini, yang tidak sanggup diatasi oleh masyarakat yang telah maju, sadar akan bahanya? Apa trik Islam untuk menghentikan kebiasaan lama, yang telah mengakar pada tradisi sosial, sebagaimana juga perhubungan erat dengan kepentingan perekonomian?

Ketahuilah, Islam menerapi semua itu dengan hanya beberapa ayat dari al-Qur’an, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Islam telah memenangkan pertarungan itu tanpa peperangan, tanpa pengorbanan dan tanpa pertumpahan darah... Dan yang ditumpahkan adalah galon-galon khamar yang sudah tidak bernilai lagi dan tidak menjadi kebanggaan lagi dengan meminum khamar bahkan dianggap air yang menjijikkan, yang masih meminumnya pun disebut pemabuk tidak berguna...

Di Makkah – dimana Islam saat itu tidak melembaga dan tidak memiliki kekuasaan... kecuali hanya kekuasaan al-Qur’an – telah turun dalam al-Qur’an Makkah sentilan cepat tentang pandangan Islam terhadap khamar, yang dapat dipahami melalui ibarat, yaitu hanya berupa isyarat saja, Allah berfirman pada surah an-Nahl: 67: “dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik”.
 
Allah meletakkan “minuman yang memabukkan” yaitu minuman memabukkan yang mereka ramu dari buah kurma dan anggur, berhadapan dengan “rezki yang baik”! sebagai signal dari face to face ini bahwa yang memabukka adalah sesuatu dan rezki yang baik juga sesuatu yang lain... Dan hanya merupakan sentuhan dari jauh saja, untuk menggugah perasaan orang muslim yang masih belia.

Namun tradisi mabuk tersebut – dalam pengertian luas – telah mengambil posisi yang dalam pada kebiasaan perorangan, sebagaimana juga telah menjadi tradisi sosial, yang mempunyai dampak ekonomi... Adalah tradisi itu terlalu dalam untuk dipengaruhi padanya oleh sekedar sentuhan kilat yang tidak lagsung ini...

Sedangkan di Madinah dimana Islam telah memproklamirkan negara dan memiliki kekuasaan... walaupun demikian, tidak serta merta mengharamkan khamar dengan power negara dan senjata penguasa, tetapi yang pertama adalah kekuasaan al-Qur’an... Dan Islam al-Qur’an memulai terapinya secara lembut dan ringan, menerapi dengan jiwa kemanusiaan dan situasi sosial... Ia memulai dengan ayat al-Baqarah sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan, yang menunjukkan atas bangkitnya kesadaran dalam nurani muslim terhadap bahaya miras dan judi, Allah berfirman: 

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa besar dan manfaat kepada manusia... Dan dosa pada keduanya lebih besar daripada manfaatnya”.

Ayat ini telah menjadi warning pertama yang mempunyai suara yang cukup lantang pada perasaan dan nurani Islam, menjadi perhatian pada logika fiqhi Islam. Karena konetasinya adalah halal dan haram atau makruh, pilihannya adalah dosa atau manfaat pada satu dan lain hal... Apabila dosa khamar dan judi lebih besar dari manfaat keduanya, maka ini adalah persimpangan jalan. Akan tetapi persoalan tidak sesederhana itu...

Lihat saja Umar ra berkata: “Allah telah menjelaskan kepada kita dengan penjelasan yang cukup tentang khamar”, Umar ini saja sendiri sudah cukup untuk mendapatkan keterangan betapa tradisi khamar telah mengambil posisi yang sangat dalam pada jiwa Arab. Kemudian ditambah lagi dengan peristiwa bersejarah - seperti telah diceritakan pada asbab nuzul di atas – yang melatar belakangi turunnya ayat kajian, Allah berfirma: 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”

Maka konsep pencerahan al-Qur’an yang lembut sudah mulai bekerja, dan ini adalah langkah kedua, antara menjauhi khamar karena dosanya lebih besar daripada manfaatnya dan mengharamkan secara mutlak karena ia adalah kotoran dari perbuatan setan. Maka peranan langkah kedua ini adalah: “Melarang kebiasaan minum miras” atau “menghentikan kecanduan”, hal itu dengan melarang meminum mendekati waktu-waktu shalat. Sedangkan waktu-waktu shalat itu tersebar sepanjang hari, di antaranya ada waktu – yang pavorit para pecandu - tidak cukup untuk dipakai minum, kemudian harus sadar dari mabuk besar, sehingga mereka mengetahui apa yang dikatakan!

Selain itu, ada juga waktu-waktu tertentu untuk mabuk-mabukan, pagi dan sore, kesempatan-kesempatan ini menyonsong dan masuknya waktu-waktu shalat. Nah, disinilah terpatri nurani seorang muslim antara mengerjakan shalat dan menikmati kelezatan minum. Dan tentu nurani ini telah diisi bahwa shalat baginya adalah tonggak kehidupan. Oleh karena itu, Umar ra – siapa yang tidak kenal Umar - berkata: Allah telah menjelaska kepada kita dengan penjelasan yang memadai tentang khamar...

Kemudian setelah waktu berlalu, telah terjadi pula berbagai peristiwa, maka tiba waktu yang tepat – sesuai konsep Islam – untuk memberikan ultimatum yang bersifat final, maka turunlah dua ayat dari surah al-Maaidah (90-91), Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Maka hentikanlah itu”.

Umar berkata: Allah telah menjelaskan kepada kita penjelasan yang sangat memuaskan tentang khamar, kami telah berhenti, kemudian benar-benar berhenti dan berhentilah orang-orang Islam meminum khamar....

Sungguh al-Qur’an telah menang, konsep Islam telah berhasil pula, lalu menerapkan kebijaksanaannya – tanpa harus mempergunakan kekuatan... Allahu Akbar!!!

Tafsir Ayat Tayammum:
Firman Allah: (وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا) ”(jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”.

Sebagaimana ayat ini melarang orang-orang yang beriman mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk sehingga mengetahui apa yang diucapkan, seperti dijelaskan di atas, ayat ini juga melarang orang mu’min shalat dalam keadaan junub hingga dia mandi.

Berbeda pendapat dikalangan ulama pada maksud firman Allah: (عَابِرِي سَبِيلٍ) “sekedar berlalu saja”, ada dua pendapat yang masyhur, sebagai berikut:

a. Pertama: Yang dimaksud ayat adalah tidak mendekati mesjid-mesjid, atau duduk di dalamnya bagi orang yang sedang junub, sehingga ia harus mandi, kecuali hanya sekedar lewat sepintas saja. Karena di antara sebagian sahabat ada yang pintu-pintu rumah mereka terbuka ke mesjid nabi SAW, yaitu jalan keluar dan masuk pintu-pintu rumah mereka. Maka pada kasus ini diberi konpensasi hanya sekedar sembari lewat saja kalau sedang junub, tidak dibolehkan berdiam apalagi Shalat di dalam mesjid, kecuali setelah mandi.

b. Kedua: Mengatakan maksud ayat adalah shalat itu sendiri, tidak boleh mengerjakannya bagi orang junub, kecuali setelah mandi, jika dia tidak sedang musafir, maka pada terakhir ini boleh mendatangi mesjid dan shalat di dalamnya, tanpa harus mandi, tetapi mengambil tayammum, sebagai ganti dari mandi dan wudhu sekalian…

Dari kedua Pendapat di atas, nampaknya pendapat pertamalah yang paling jelas dan lebih fokus, karena kasus kedua – adalah kasus musafir – yang juga disebutkan dalam ayat secara terperinci setelah itu. Maka dengan demikian, Tafsir ayat: (عَابِرِي سَبِيلٍ) “melewati”, yaitu bagi orang-orang yang sedang musafir, karena membuat pengulang-ulangan hukum pada satu ayat yang sama adalah hal yang tidak perlu dilakukan olehnya:

Firman Allah: (وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ) “dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan”:

Ayat ini mencakup kasus orang musafir: Apabila seseorang sedang melakukan perjalan atau musafir, lalu terkena hadats besar seperti junub maka wajib mandi, atau hadats kecil maka harus mengambil wudhu, untuk mengerjakan shalat. Hal yang sama terjadi juga bagi orang yang sedang sakit, yaitu terkena hadats besar dan hadats kecil, begitu juga orang yang datang dari tempat buang air yang terkena hadats kecil mengharuskan wudhu. 

Dan termasuk juga pada kasus-kasus ini adalah orang yang menyentuh perempuan. Kasus-kasus ini sudah kita bahas pada ayat al-Maaidah di atas, begitu juga pengertian menyentuh perempuan semua sudah dibahas dengan keterangan yang cukup jelas pada pembahasan ayat al-Maaidah tadi. (Lihat kembali). Adapun yang akan kita jelaskan dan pertegas disini adalah kasus-kasus yang menyebabkan wajib tayammum itu sendiri, dan yang paling penting adalah menjelaskan tata cara melakukan tayammum.

Sebab-sebab yang Mewajibkan Tayammum:
Firman Allah: “kemudian kamu tidak mendapat air”: Semua kasus-kasus yang telah disebutkan di atas ini, baik itu kasus yang mewajibkan mandi atau mewajibkan wudhu untuk mengerjaka shalat, maka hukumnya tidak terlepas dari tiga perkara: Pertama, apabila tidak terdapar air; kedua, apabila ada air tetapi takut mempergunakannya karena alasan tertentu seperti mempunyai riwayat penyakit berbahaya; ketiga, atau air yang ada itu tidak mencukupi kebutuhan lebih dari keperluan mandi dan wudhu. Maka ketiga perkara ini otomatis telah menjadi syarat atau sebab yang mewajibkan tayammum. Ini juga sudah kita bahas sebelumnya. Wallahua’lam.

Firman Allah: “Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)”: yaitu maksudkanlah tanah yang baik lagi suci. Adapun “tanah yang baik”: Yaitu semua jenis dari tanah seperti debu, batu, dinding. Walaupun debu itu dari apa yang ada di atas punggung binatang ternak, atau pada tikar dari partikel-partikel debu yang beterbangan, atau dimana saja disana terdapat debu beterbangan ketika memukulkan kedua tangan dengannya.

Tata Cara Melakukan Tayammum:
Allah berfirman: “sapulah mukamu dan kedua tanganmu”: Dari ayat ini jelas bahwa anggota tayammum hanya ada dua saja, yaitu muka dan kedua tangan, tidak lebih dan tidak kurang. Hal ini berbeda dengan wudhu yang mempunyai anggota empat, seperti yang telah dijelaskan pada ayat wudhu di surah al-Maaidah.

Adapun tata cara tayammum: Bisa melakukan dengan sekali saja meletakkan kedua telapak tangan atas tanah yang suci, kemudian sapukan pada muka, lalu menyapukan langsung pada kedua tangan sampai kedua siku dengan tanah yang sama. Atau melakukan dengan dua kali meletakan telapak tangan atas tanah yang suci, melatakkan pertama untuk menyapu muka, kemudian melatakkan lagi yang kedua untuk menyapu kedua tangan… 

Lalu adapula sebagian ulama yang mensyaratkan menyapu kedua tangan sampai ke siku seperti halnya berwudhu, dan sebagian ulama yang lain mengatakan cukup kedua tangan saja, tidak mesti harus sampai ke siku, karena ayat tayammum tidak menyebutkan sampai ke siku seperti pada ayat wudhu… Penulis tidak ingin menyebutkan perbedaan-perbedaaan masalah fiqhi yang kompleks dibalik kasus ini… Karena agama kita ini cukup mudah, dan di dalam syariat tayammum ini pun sudah tercermin arti kemudahan yang sangat jelas, Allah berfirman menutup ayat tayammum: 

“Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun”: Yaitu penegasan yang mengharuskan dengan kemudahan; lembut atas kelemahan; memaafkan dalam keterbatasan; dan mengampuni pada kekurangan dan kekhilapan… Wallahua’lam.

Cempaka Putih: 17 Januari 2012
Med HATTA


Artikel yang berhubungan:
  1. TAFSIR AYAT-AYAT AHKAM I
  2. TAFSIR AYAT=AYAT AHKAM 3 
  3. PERKEMBANGAN TAFSIR DI INDONESIA 

  1. Materi Pertemuan Minggu Ke-2: Tafsir Ayat-Ayat Ahkam, Semester IV (2011/ 2012), Fakultas Syari’ah Prodi Fiqh dan Ushul Fiqh, Institute of Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah, Kedoya – Jakarta Barat.
  2. Mohamed bin Ahmed al-Anshari al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Darul Fikr.
  3. Lihat: Al-Qurthubi, refrensi sebelumnya.
  4. Idem.
  5. Hadits sanad: Hasan shahih.
  6. HR: Ad-Daraqathni
  7. Kata Al-Qurthubi: Sepakat dengan tafsir ini Muhammad bin Muslimah dari sahabat imam Malik ra dan selainnya.
  8. Lihat: Al-Qurthubi, refrensi sebelumnya.
  9. Idem.
  10. Idem.
  11. Al-Qurthubi: Mengambil dari pendapat Ibn al-Arabi.
  12. HR: At-Tirmizi dll...
  13. Sanad Hasan-shahih.
  14. Lihat: Al-Qurthubi, refrensi sebelumnya.
  15. Idem.
  16. Idem.
  17. (سيبويه), seorang ulama bahasa terkenal, banyak membacanya: “Sibawaih”, tetapi ulama hadits membacanya: “Sibawiyah”, karena “waih” dalam bahasa Persia artinya setan.
  18. Lihat: Al-Qurthubi, refrensi sebelumnya.
  19. Idem.
  20. Idem.
  21. Idem.
  22. Idem..
  23. Idem.
  24. Idem.
  25. Hadits dikeluarkan Malik.
  26. Lihat: Al-Qurthubi, refrensi sebelumnya.
  27. Idem.
  28. Idem.
  29. Idem.
  30. Idem
  31. HR: Malik dari Ibn Wahab dari Ibn Lahi’ah dan al-Laits bin Sa’ad dari Yazid bin ‘Amr al-Ghifari dari Abu Abderrahman al-Habali dari al-Mustaurid bin Syaddad al-Qurasyi.
  32. Lihat: Al-Qurthubi, refrensi sebelumnya.
  33. Idem.
  34. Idem.
  35. Idem
  36. Lihat: Al-Qurthubi, (menafsirkan ayat ke-43 surah an-Niasaa).
  37. Idem.
  38. Al-Khof: Sejenis sepatu kulit panjang yang diikatkan dikaki, lazim dipakai orang musafi, atau lapisan kaki terbuat dari kulit atau bahan lain seperti sintesis yang dipakai sebelum memasang sepatu laksana kos kaki.
  39. HR: Muslim.
  40. Lihat: Al-Qurthubi, (menafsirkan ayat ke-43 surah an-Niasaa).
  41. Pendapat ini juga dipakai oleh al-Laits bin Sa’ad.
  42. Kata Abu Daud: Hadits ini berbeda-beda sanadnya dan tidak kuat.
  43. Lihat: Al-Qurthubi, (menafsirkan ayat ke-43 surah an-Niasaa).
  44. HR: Bukhari.
  45. HR: Ibn Majah.
  46. HR: Ad-Daraqathni dari Sufyan dari Mas’ar, Syu’bah dari Umar bin Murrah dari Abdullah bin Salamah.
  47. Lihat: Al-Qurthubi, (menafsirkan ayat ke-43 surah an-Niasaa).
  48. Idem).
  49. Bukhari, kitab tafsir: (Muhammad telah bercerita kepada kami berkata: Kami diberitahukan Abdah, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, dari Aisyah ra).
  50. Lihat: Al-Qurthubi, (menafsirkan ayat ke-43 surah an-Niasaa).
  51. Lihat: Al-Qurthubi, (menafsirkan ayat ke-43 surah an-Niasaa).
  52. At-Tafsirul Munir fil-Aqidati was-Syari’ati wal-Manhaji, Aisarut Tafasir li Kalamil ‘Aliyil Kabir
  53. Asbabun Nuzul, al-Wahidi, Halaman: 87-88
  54. HR: Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasaai dan al-Hakim.
  55. Asbabun Nuzul, al-Wahidi, Halaman: 87-88
Post a Comment

歓迎 | Bienvenue | 환영 | Welcome | أهلا وسهلا | добро пожаловать | Bonvenon | 歡迎

{} Thanks For Visiting {}
{} شكرا للزيارة {}
{} Trims Tamu Budiman {}


MyBukuKuning Global Group


KLIK GAMBAR!
Super-Bee
Pop up my Cbox
Optimize for higher ranking FREE – DIY Meta Tags! Brought to you by ineedhits!
Website Traffic

flagcounter

Free counters!

ADVERTISING BUSINESS

My AliExpress



I K L A N | KLIK FOTO


OWNER INFO PENERIMAAN SANTRI BARU

My Buku Kuning Global FB

BOOK FAIR ONLINE 2013

Book Fair Online

KARYA TERAKHIR PENULIS

KARYA TERAKHIR PENULIS
@ Keajaiban Angka dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, Agustus 2010, ISBN: 978-979-1234-77-1 (BESTSELLER)
@ Mukjizat Pengobatan Herbal dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, 2011, ISBN: 978-979-1234-78-8

Islamic Finder




Date Conversion
Gregorian to Hijri Hijri to Gregorian
Day: Month: Year

Google+ Badge

My Buku Kuning Search

Loading