My Buku Kuning Center : TAFSIR AYAT-AYAT AHKAM 3 (HUKUM SHALAT)

Monday, February 20, 2012

TAFSIR AYAT-AYAT AHKAM 3 (HUKUM SHALAT)

 (Pertemuan Ke-3)
MENGERJAKAN SHALAT SEBAGAI IBADAH KETAATAN
Oleh: Med HATTA
Mukaddimah:

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبعد

Allah berfirman dalam Surah al-Baqarah: 238:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Artinya: “peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah dengan khusyu'.”

Allah berfirman dalam Surah an-Nisaa’: 101 - 102:
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا (١٠١) وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا
Artinya: “dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu
Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat, maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit, dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu”.

Pengertian Shalat dan Hikmah di Perintahkannya:
Shalat menurut bahasa adalah do’a. Sedangkan pengertiannya menurut syariat dan terminologi ahli fiqhi adalah: Perkataan dan perbuatan khusus yang dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam. Shalat di dalam Islam merupakan rukun kedua setelah syahadat, perintah pelaksanaannya tertera di dalam al-Qur’an, sunnah dan ijma’.

Hikmah dari perintah shalat dan ibadah-ibadah lainnya adalah,  bisa dipergunakan sebagai media mensyukuri Sang Pemberi nikmat dari nikmat-nikmat yang telah dicurahkan-Nya, sebagaimana juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengaplikasikan  ketaatan, pengabdian dan mengapresiasikan kerendahan dan kehinaan. Dan shalat mengandung semua hal tersebut, maka adalah hikmah yang sangat tinggi bahwa shalat diwajibkan sebagai rasa syukur atas segala nikmat yang amat besar, di antaranya:
  1. Nikmat penciptaan, yaitu Allah SWT telah memuliakan bangsa manusia dengan sebaik-baiknya penciptaan dan bentuk, sehingga tidak ditemukan ada orang yang tidak puas dengan kejadiannya, seabagaimana firman Allah: “dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu” (QS: Al-Mu'min: 46), dan berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS: At-Tin: 4).
  2. Nikmat raga yang paripurna, yaitu dengan nikmat itu manusia dapat melakukan segala aktifitas dengan leluasa.
  3. Nikmat persendihan yang lentur, yaitu manusia dapat mempergunakan segala tubuhnya untuk pekerjaan yang bermacam-macam.
Allah memberikan segala nikmat itu sebagai anugerah yang tak terhingga tanpa ada beban kewajiban terlebih dahulu, maka Allah SWT memerintahkan untuk mempergunakan segala nikmat itu sebagai ketaatan kepada-Nya, karena realisasi dari syukur nikmat adalah mempergunakannya untuk taat kepada Sang Pemberi nikmat. 

Kemudian shalat-lah yang mengumpulkan segala karakter anggota tubuh luar untuk dipergunakan berdiri, ruku’, sujud, duduk, meletakkan kedua tangan pada posisinya dan mengawasi mata. Sebagaimana dapat mempungsikan anggota tubuh yang batin seperti memusatkan hati pada niat, mengunggah rasa untuk takut sambil berharap dan mengkonsentrasikan pikiran dan akal untuk mengagungkan dan membesarkan Allah. Dengan demikian telah mengoptimalkan segala media dan sarana mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya.

Di dalam praktek shalat terpatri karakteristik penyembahan, seperti berdiri dihadapan kekuasaan Allah, merebahkan punggung, meletakkan muka pada tanah, berlutut merendahka diri, memuja kepada Allah dan sebagainya. Dan di dalam shalat juga mencegah pelakunya berbuat maksiat, karena apabila seorang hamba berdiri di hadapan kekuasaan Allah dengan merendah, merasa hina, mengharap karunia Allah dan takut lalai menyembah-Nya dalam lima kali sehari, maka Allah akan mencegahnya berbuat kemaksiatan. Sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar" (QS: Al-'Ankabut: 45).

Oleh karena itu, pada pertemuan ke-3, Mata kuliah Tafsir Ayat-ayat Ahkam ini, penulis hadirkan tiga ayat dari dua surah berbeda di atas, yaitu: Ayat ke-238 dari surah al-baqarah dan ayat ke-101 serta 102 dari surah an-Nisaa’, yang semuanya berbicara tentang hukum-hukum shalat, dengan konsertrasi sebagai berikut:
  • PEMBAHASAN PERTAMA: SHALAT WUSTHA
  1. Tafsir Ayat Shalat Wusthaa:
  2. Kewajiban Menjaga Shalat Lima Waktu
  3. Definisi Shalat Wusthaa
  4. Mendirikan Shalat dengan Khusyu’
  5. Larangan Berbicara di dalam Shalat
  6. Hukum-hukum Berbicara di dalam Shalat
  • PEMBAHASAN KEDUA: SHALAT QASHAR
  1. Wajib Mengerjakan Shalat dalam Berbagai Situasi dan Cara
  2. Sebab Nuzul Ayat
  3. Makna Qashar
  4. Syariat Shalat Qashar dan Hukumnya
  • PEMBAHASAN KETIGA: SHALAT KHAUF
  1. Sebab Nuzul Ayat
  2. Tafsit Ayat Shalat Khauf
  3. Tata Cara Pelaksanaan Shalat Khauf

Demikian coretan materi Tafsir Ayat-ayat Ahkam (Hukum-hukum Shalat) yang disampaikan kepada mahasiswa Semester IV (2011/ 2012), Fakultas Syari’ah Prodi Fiqh dan Ushul Fiqh, Institute of Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah, Kedoya – Jakarta Barat. Bettaufiq...

PEMBAHASAN PERTAMA: SHALAT WUSTHA
Tafsir Ayat Shalat: Kewajiban Menjaga Shalat Lima Waktu:
Allah berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ
Artinya: “peliharalah semua shalat(mu)
Suatu perintah kepada segenap umat Islam, ayat ini memerintahkan agar memelihara semua shalat yang lima waktu : (Maghrib, Isya, Subhu, Dzuhur dan ‘Ashar). yaitu tepat pada waktu-waktu yang telah ditentukannya dan memenuhi segala syarat-syaratnya. 
Definisi Shalat Wusthaa:
Allah berfirman:
وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى
Artinya: “dan (peliharalah) shalat wusthaa
Kalimat (الوسطى) adalah feminim dari (الأوسط), yaitu: “Yang di tengah-tengah”, maka yang berada di tengah-tengah sesuatu itu adalah bagian yang terbaik dan tercantiknya, seperti dalam firman Allah: “dan Kami jadikan kamu umat yang di tengah-tengah (yang terbaik)” (QS: Al-Baqarah: 143).

Allah menyebutkan shalat wusthaa secara terpisah setelah sebelumnya menyebutkannya secara keseluruhan bersama shalat-shalat yang lain, sebagai kemuliaan khusus baginya, seperti dalam contoh pada firman Allah: “Ketika Kami mengambil dari para nabi sumpah-sumpah mereka dan dari kamu (Muhammad) serta dari Nuh” (QS: Al-Ahzab: 7), dan contoh lain dari firman Allah: “Di dalamnya terdapat buah-buahan dan kurma serta delima” (QS: Ar-Rahman: 68).

Kemudian berbeda pendapat para pakar tafsir dalam mendefinisikan shalat wusthaa, al-Qurthubi merangkumnya menjadi 10 pendapat, sebagai berikut:

  1. Shalat Wusthaa adalah Dzuhur, karena berada di tengah-tengah siang dari dua tinjauan: Pertama, bahwasanya siang merupakan pertama setelah fajar, kedua, bahwa dimulai dari Dzuhur karena merupakan shalat yang pertama dikerjakan dalam Islam. Tokoh-tokoh pendapat ini adalah: Zaid bin Tsabit, Sa’id al-Khuderi, Abdullah bin Umar dan Aisyah ra. Dalil yang menyokong pendapat ini adalah perkataan Aisyah dan Hafshah ketika kedua isteri nabi tersebut menulis: “Peliharalah semua shalat (mu) dan shalat Wusthaa serta shalat ‘Ashr”. Dan dalil lain mengatakan: Shalat Dzuhur diapit oleh sebelumnya dua shalat dan sesudahnya dua shalat juga, lalu Imam Malik meriwayatkan dalam kitab Muwatta’-nya dan juga Abu Daud at-Thayalisi dalam Musnadnya dari Zaid bin Tsabit berkata: “Shalat Wusthaa adalah shalat Dzuhur” ….
  2. Shalat Wusthaa adalah shalat ‘Ashr, karena diapit sebelumnya dua shalat siang dan sesudahnya dua shalat malam. Tokoh-tokoh pendapat ini adalah: Ali bin Abu Thalib, Ibn Abbas, Ibn Umar, Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khuderi. Pendapat ini dipilih oleh Abu Hanifah dan pengikutnya, Syafi’i dan mayoritas ahli atsar. Diikuti pula Abdelmalek bin Habib, dikuatkan Ibn al-Arabi dalam kitab Qabasnya dan Ibn ‘Athiyah dalam tafsirnya, mengatakan: Bahwa pendapat ini dikatakan oleh jumhur ulama dan saya juga termasuk di dalamnya, mereka mendasarkan pendapat ini dari hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan selainya, namun saya menyebutkan satu di antaranya dari hadits Ibn Mas’ud mengatakan: “Rasulullah SAW bersabda: “Shalat Wusthaa adalah shalat ‘Ashr” . Lanjut Ibn ‘Athiyah: Kami telah menjelaskan lebih detail dari kitab Qabas, syarah Muwattha’ Malik bin Anas.
  3. Shalat Wusthaa adalah shalat Maghrib, pendapat ini diperkuat oleh Qabishah bin Abu Dzaaib dan kelompoknya, dengan dalil bahwa shalat Maghrib berada di tengah-tengah pada jumlah rakaatnya, tidak lebih sedikit dan tidak lebih banyak serta tidak di qashar dalam perjalanan. Dan juga rasulullah SAW tidak mendahulukan pada waktunya dan tidak menundanya, Maghrib juga diapit oleh dua shalat jahr  dan dua shalat sirr. Kemudian tokoh pendapat ini menukil hadits dari Aisyah ra dari nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seafdhal-afdhalnya shalat adalah shalat Maghreb…”
  4. Shalat Wusthaa adalah shalat Isya, karena berada di antara dua shalat yang tidak di qashar, ia juga datang pada waktu tidur dan disunatkan mengakhirkannya karena sulit mengerjakannya, oleh karena itu ditegaskan dalam ayat agar memeliharanya.
  5. Shalat Wusthaa adalah shalat Subhu, karena diapit sebelumnya dua shalat malam yang di jahar-kan dan sesudahnya dua shalat siang yang di sirr-kan, lalu ketika waktunya juga sudah masuk orang-orang masih tidur. Mengerjakannya sulit pada musim dingin karena menggigil, dan sulit juga mengerjakannya di musim panas karena waktu malam lebih singkat. Tokoh-tokoh yang mengatakan pendapat ini, yaitu: Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Abbas, dituliskan di dalam kitab Muwattha’ sebagai ulasan, dan dikeluarkan juga oleh at-Tirmizi dari Ibn Umar dan Ibn Abbas sebagai komentar . Pendapat ini juga diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, yaitu pendapat Malik dan pengikutnya juga, sebagaimana imam Syafi’i juga condong pada pendapat ini seperti diungkapkan darinya oleh al-Qusyairi, namun mentarjih pendapat Ali yang mengatakan shalat ‘Ashr. Dalil yang diusung pendapat ini adalah firman Allah: “Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'”, menyetir makna ayat, yaitu tidak ada shalat wajib yang disertakan qunut selain shalat shubuh. Abu Rajaa mengatakan: Bahwa pernah Ibn Abbas meng-imami kami shalat shubuh di Bashrah maka ia qunut sebelum ruku’ sambil mengangkat kedua tangannya. Setelah selesai shalat Ibn Abbas berkata: Inilah shalat wusthaa yang telah diperintahkan Allah SWT untuk dikerjakan bersama qunut. Anas juga berkata: Bahwa rasulullah SAW qunut pada shalat shubuh sebelum ruku’...
  6. Shalat wusthaa adalah shalat jum’at, karena dikhususkan untuk berkumpul dan mendengarkan khutbah padanya, serta dijadikan sebagai hari raya. Tokoh pendapat ini adalah Ibn Habib dan Makki al-Andalousi. Muslim meriwayatkan dari Abdullah bahwasanya rasulullah SAW bersabda kepada kelompok yang lalai dari shalat jum’at: “Aku pernah berencana menyuruh orang lain menggantikanku mengimami orang-orang, kemudian aku akan pergi membakar rumah setiap orang yang lalai dari shalat jum’at”.
  7. Shalat wusthaa adalah shalat shubuh dan ‘ashr sekaligus. Pendapat ini dipelopori oleh Syeikh Abu Bakar al-Anbari, dengan dalil hadits rasulullah SAW bersabda: “Silih berganti datang kepada kalian malaikat malam dan malaikat siang”, Dan diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah mengatakan: Pernah kami duduk di sisi rasulullah SAW, tiba-tiba Beliau melihat kepada bulan yang sedang purnama dan bersabda: “Kalian akan melihat Tuhan sebagaimana kalian melihat kepada bulan itu, kalian pasti akan melihat-Nya jika kalian mampu mengerjakan shalat sebelum terbit matahari dan sesudah terbenamnya , yaitu shalat ‘ashr dan fajar”. Kemudian Jarir membacakan ayat: “Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu sebelum terbit matahari dan sesudah terbenamnya”. Lalu  ‘Imarah bin Ruaibah meriwayatkan berkata: Saya pernah mendengarkan rasulullah SAW bersabda: Seseorang tidak akan masuk neraka yang shalat sebelum terbit matahari dan setelah terbenamnya”, yakni shalat fajar dan shubuh. Dan dari ‘Imarah juga rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mengerjakan shalat pada kedua waktu dingin maka akan masuk surga”  .
  8. Shalat wusthaa adalah shalat Isya dan shubuh, berkata Abu Daud ketika sakit menjelang meninggalnya: Dengarkanlah dan sampaikanlah kepada gerasi yang akan datang, peliharalah atas kedua shalat ini – yakni berjama’ah – yaitu shalat Isya dan shubuh, jika kamu mengetahui apa yag ada di dalamnya maka kamu akan mengerjakan keduanya meskipun capai kedua siku dan kedua lututmu, keterangan senada disampaikan juga oleh Umar dan Utsman...
  9. Shalat wusthaa adalah shalat lima waktu secara keseluruhannya, pendapat ini dikatakan oleh Mu’az bin Jabal, dengan dalil firman Allah SWT: “peliharalah semua shalat(mu)”, umum untuk semua shalat wajib dan sunnah, kemudian mengkhususkan shalat wajib lima waktu dengan menyebutkannya.
  10. Shalat wusthaa adalah tidak ditentukan waktunya, adalah pendapat Nafi’ dari Ibn Umar, dan dikatakan pula oleh ar-Rabi’ bin khaitsam, Allah SWT menyembunyikannya pada shalat lima waktu, sebagaimana menyembunyikan lailatul qadr pada bula Ramadhan , begitu juga menyembunyikan waktu pada hari jum’an dan waktu mustab pada tengah malam untuk berdo’a dan qiyamul lail pada kegelapan untuk bermunajat pada alam rahasia. Dalil yang menguatkan pendapat bahwa ia disembunyikan dan tidak ditentukan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya pada abad terakhir, dari al-Barraa bin ‘Azib berkata: Ayat ini turun berbunyi: “Peliharalah semua shalat-mu dan shalat ‘ashr” maka kami telah membacanya seperti itu, lalu Allah menasakhnya maka turun ayat: “Peliharalah semua shalat(mu) dan shalat wusthaa”. Maka seseorang berkata: Ia adalah shalat ‘ashr? Al-Barra menjawab, saya telah menyampaikan kepada kamu proses turun ayat dan bagaimana Allah menasakhnya, maka wallahua’lam setelah ditentukan lalu dinasakh penentuannya dan menjadi samar, maka tercabutlah penentuan itu, wallahua’lam. Pendapat ini dipilih oleh Muslim karena menempatkannya di akhir bab pada kitab shahihnya da telah dikatakan juga oleh lebih dari satu dari para ulama kontemporer. Ini adalah pendapat shahih, Insya Allah, karena sudah banyak sekali pertentangan dalil dan tidak ada satupun yang datat dikuatkan, maka tidak tersisa kecuali harus memelihara semua shalat dan mengerjakannya tepat pada waktu-waktunya serta memenuhi segala syarat-syaratnya, wallahua’lam.
Mendirikan Shalat dengan Khusyu’:
Allah berfirman:
وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Artinya: “Berdirilah untuk Allah dengan khusyu'”.
Maksud ayat adalah berdirilah dalam shalatmu, berbeda pendapat para ulama dalam mendefinisikan kalimat (قانتين) “qanitin”, maka berkata as-Sya’bi: yaitu dengan taat, hal senada dikatakan juga oleh Jabir bin Zaid, ‘Athaa dan Sa’id bin Jabir. Dan berkata ad-Dhahhak: Semua kalimat qunut di dalam al-Qur’an semua bemakna taat, demikian pula dikatakan oleh Abu Sa’id dari nabi SAW bersabda: Bahwasanya setiap pemeluk agama ada suatu hari mereka berdiri dengan durhaka, maka dikatakan bahwa umat ini mereka berdiri untuk Allah dengan taat, berkata Mujahid: Makna  (قانتين) “qanitin”, yaitu khusyu’, dan qunut itu adalah ruku’ berlama-lama, khusyu’, memelihara pandangan dan menjaga anggota tubuh. 

Sedangkan ar-Rabi’ mengatakan: Qunut adalah berdiri lama, demikian pula dikatakan oleh Ibn Umar lalu membacakan firman Allah: “Adapun orang yang qunut sepanjang malam, bersujud dan berdiri” . Lalu rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik shalat adalah qunut berlama-lama”, seperti kata sya’ir: “Qunut untuk Allah memohon kepada Tuhannya.... dan sengaja memisahkan diri dari manusia”.


Larangan Berbicara di dalam Shalat:
Tentu saja semua pendapat di atas adalah benar dan semuanya didukung oleh dalil yang menguatkannya. Namun, yang menarik untuk dicermati adalah pendapat as-Suddi yang mengatakan: (قانتين) “qanitin”, yaitu dengan berdiam, sebagai dalil bahwa ayat ini turun untuk melarang berbicara dalam shalat, dimana hal itu masih dibolehkan pada awal Islam. 

Dan inilah yang kami anggap lebih shah, dengan hadits riwayat Muslim dan selainnya dari Abdullah bin Mas’ud berkata: Pernah kami memberi salam kepada rasulullah SAW sedang Beliau mengerjakan shalat dan menjawab kami, tetapi setelah kami pulang dari negeri an-Najjasyi, kami pun memberi salam lalu Beliau tidak menjawa kami, maka kami bertanya: Wahai rasulullah, kami dulu pernah memberi salam kepadamu dalam keadaan shalat dan engkau menjawab kami? Maka bersabda: Bahwasanya shalat merupakan perbuatan (taat). 

Zaid bin Arqam meriwayatkan dan berkata : Dahulu kami berbicara di dalam shalat, seseorang boleh menyapa temannya yang ada di sampingnya dalam keadaan shalat sampai turun ayat: “Berdirilah untuk Allah dengan khusyu'”, yaitu memerintahkan kepada kami berdiam dan melarang berbicara. Lalu dikatakan: Bahwa asli dari pada qunut menurut bahasa adalah disiplin mengerjakan sesuatu.
Oleh karena asli qunut adalah disiplin pada sesuatu maka bisa dikatakan orang yang disiplin pada sesuatu adalah lama melakukan qunut, demikian juga orang yang lama berdiri, banyak membaca, berdo’a dalam shalat, maka telah memperpanjang kekhusyu’an dan berdiam lama, semua itu dikategorikan pelaku-pelaku qunut.
Hukum-hukum Berbicara di dalam Shalat:
  1. Abu Umar mengatakan: Sepakat semua umat Islam bahwa berbicara dengan sengaja di dalam shalat adalah membatalkan shalat. Hanya saja ada riwayat dari al-Auza’i mengatakan: Barangsiapa berbicara di dalam shalat untuk menyelamatkan jiwa seseorang atau hal-hal lain yang sangat darurat seperti itu maka tidak membatalkan shala, pendapat ini lemah, dengan pertimbangan: Firman Allah: “Berdirilah untuk Allah dengan khusyu'”, kata Zaid bin Arqam: Dahulu kami berbicara di dalam shalat, seseorang boleh menyapa temannya yang ada di sampingnya dalam keadaan shalat sampai turun ayat: “Berdirilah untuk Allah  dengan khusyu'” (Hadits). Dengan demikian, barang siapa terpaksa berbicara karena ingin menyelamatkan jiwa dan harta atau kasus penting semacamnya maka hendaklah mengulangi shalatnya dan tidak meneruskan. Inilah yang kami pandang lebih shahih pada kasus ini, Insya Allah.
  2. Berbeda pendapat para ulama fiqhi tentang berbicara di dalam shalat karena lupa, maka imam Malik, Syafi’i dan pengikut keduanya berpendapat bahwa berbicara di dalam shalat karena lupa tidak membatalkan shalat, kecuali Malik menambahkan: Bahwa sengaja berbicara untuk membenarkan shalat tidak batal, pendapat ini juga dikatakan oleh Rabi’ah dan Ibn al-Qasim.
  3. Sahnoun meriwayatkan dari Ibn al-Qasim dari Malik mengatakan: Apabila sekolompok orang mengikuti seorang imam shalat dua rakaat lalu salam karena lupa maka makmun mengucapkan tasbih (mengingatkan), tetapi tidak menyadarkannya, kemudian seseorang yang ikut shalat dibelakangnya angkat berbira mengatakan: Kamu belum menyempurnakan shalatmu, maka imam berpaling bertanya kepada makmun: Apakah benar yang dikatakan itu? Mereka menjawab benar. Sahnoun berkata: Maka kasus seperti ini adalah sang imam melanjutkan shalatnya dan makmun pun ikut menyempurnakan sisa shalat bersamanya, yang berbicara dan yang tidak berbicara secara sama-sama dan tidak apa-apa bagi mereka. Dan mereka melakukan itu seperti yang pernah terjadi kepada nabi SAW pada peristiwa Zil-yadain .
  4. Abu Hanifah dan pengikutnya begitu juga at-Tsauri berpendapat mengatakan: Bahwa berbicara di dalam shalat adalah membatalkan shalat dalam keadaan apapun, termasuk lupa atau sengaja untuk memperbaiki shalat dan sebagainya... Pendapat ini dikatakan oleh Ibrahim an-Nakhi’i, ‘Athaa, al-Hassan, Hammad bin Abu Sulaiman dan Qatadah. Adapun pengikut Abu Hanifah berdalih bahwa hadits Abu Hurairah tentang peristiwa Zil-yadain tersebut adalah telah di nasakh dengan hadits Ibn Mas’ud dan Zaid bin Arqam...
  5. Imam Syafi’i dan pengikutnya berpendapat: Barang siapa sengaja berbicara sedang ia mengetahu belum sempurna shalat dan berada di dalamnya maka batal shalatnya, tetapi apabila berbicara karena tidak lupa atau menyangka telah menyempurnakan shalatnya sendiri maka ia hanya perlu menyempurnakannya...
  6. Kami cenderung memilih pendapat ketiga yang dikatakan oleh Sahnoun dari pendapat imam Malik yang masyhur, berdasarkan hadits Abu Hurairah tentang peristiwa Zil-yadain, wallahua’lam. 

PEMBAHASAN KEDUA: SHALAT QASHAR
Wajib Mengerjakan Shalat dalam Berbagai Situasi dan Cara:

Allah SWT setelah memerintahkan umat Islam untuk memelihara semua shalat lima waktu, tepat pada waktu-waktu yang telah ditentukan atasnya dan memenuhi segala syarat-syaratnya, sebagaimana pada ayat ke-238 dari surah al-Baqarah di atas, maka pada ayat dari surah an-Nisaa, yaitu ayat-ayat kajian berikut ini, Allah lebih menegaskan pada pelaksanaan shalat dalam berbagai situasinya, dalam kesulitan perjalanan, berjihad di jalan Allah dan dalam situasi menghadapi musuh sekalipun, harus tetap mengerjakan shalat wajib. Dengan qashar dan shalat khauf, sebagaimana dalam firman Allah:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا
Artinya: “dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu”.

Sebab Nuzul Ayat:
Ibn Jarir mengatakan: Al-Mutsannaa bercerita kepada kami, Ishak bercerita kepada kami, Abdullah bin Hasyim bercerita kepada kami, Saif memberitakan dari Abu Rauq, dari Ali ra berkata: Sekelompok orang dari Bani Najjar bertanya kepada rasulullah SAW mengatakan: Wahai rasulullah, apabila kami bepergian di muka bumi, bagaimana kami shalat? Maka Allah SWT menurunka: “dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu)”, kemudian terputus ayat. 

Lalu setelah lewat beberapa waktu kemudian, nabi SAW dalam sebuah peperangan Beliau mengerjakan shalat Dzuhur, maka orang-orang musyrikin mengatakan: Inilah saatnya kita bisa melumpuhkan Muhammad dan pasukannya dari belakang, apakah kalian telah siap?  Maka berkata yang lain dari mereka: Bahwa ada lapisan yang setara mengawal kelompok shalat dari belakang. Maka Allah SWT menurunkan ayat di antara dua shalat: 

jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu; dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu...”  Sampai kepada firman Allah: “Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu”. Maka turun ayat shalat khauf.

Makna Qashar:
Qashar atau meng-qashrah Shalat: Adalah mengurangi dari padanya, sebagaimana diketahui bahwa anggota-anggota shalat itu terdiri dari beberapa rakaat dengan sujud-sujud dan bacaan-bacaannya, maka meng-qashar shalat dapat dipastikan adalah mengurangi dari rakaatnya. Hal ini sudah dijelaskan dari sunnah fi’liyah rasulullah SAW, yaitu Beliau mengerjakan shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat . 

Ayat di atas datang secara mujmal tidak menjelaskan shalat apa saja yang dapat di qashar, lalu hadits-lah yang menjelaskan tentang shalat-shalat yang di qashrah itu adalah: Dzuhur, ‘Ashar dan Isya. Adapun shalat Shubuh tidak dapat di qashrah karena akan menjadi satu rakaat saja dan itu tidak masuk kategori shalat, begitu juga Maghrib tidak di qashrah pula karena akan menjadi genap padahal semestinya Maghrib itu adalah witir (ganjil) nya shalat siang dan tidak menjadi satu rakaat sebagaimana pada shalat shubuh di atas.

Syariat Shalat Qashar dan Hukumnya:
Ayat di atas menunjukkan kepada meng-qashrah shalat yang empat rakaat dalam keadaan bepergian, yaitu tampak jelas dari uslub ayat bahwa ia diturunkan untuk hal itu. Maka dikatakan bahwa meng-qashrah shalat dalam keadaan musafi di syariatkan pada tahun ke-4 Hijriah menurut pendapat yang shahih, karena ada pula yang mengatakan pada bulan Rabiul Akhir tahun ke-2 dan ada juga yang lain mengatakan bahwa 4 hari setelah hijrah...

Para perawih kitab shahih telah meriwayatkan dari Aisyah ra mengatakan: telah di fardukan shalat itu dua rakaat, maka ditetapkan dua rakaat bagi yang musafir dan ditambahkan bagi orang yang menetap, yaitu hadits terang dan jelas, sesuai dengan tujuan ayat: Bahwasanya ketika Allah SWT memerintahkan shalat dua rakaat maka ditetapkanlah seperti adanya, namun ketika shalat Dzuhur, Ashar dan Isya menjadi empat rakaat maka batallah hukum yang tadinya dua rakaat itu. 

Ini terjadi ketika awal hijrah, yaitu memerintahkan kepada orang-orang mengerjakan shalat-shalat itu (yaitu: Dzuhur, ‘Ashar dan Isya) empat rakaat ketika sedang menetap dan ini mayoritas mereka, menggantikan pelaksanaan shalat-shalat tersebut dua rakaat. Lalu ketika mereka berperang, Allah SWT memberikan keringanan dari mereka dan mengizinkan mereka mengerjakan shalat-shalat tersebut dua rakaat-dua rakaat, oleh karena itu Allah berfirman: “maka tidaklah mengapa kamu” dan berfirman: “men-qashar sembahyang (mu)”. 

Adapun kata Aisyah: Ditetapkan shalat musafir, yaitu tidak merubah dari keadaan semula, ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengerjakan shalat itu dengan sempurna ketika sedang musafir setelah hijrah. Dan ini tidak ada pertentangan antara perkataan Aisyah tadi dengan ayat qashar.

Selanjutnya, Allah berfirman: “jika kamu takut diserang orang-orang kafir”: Sebagai syarat yang menunjukkan atas dikhususkannya izin meng-qashar dalam keadaan takut dari serangan orang-orang musyrikin terhadap mereka dan menelantarkan shalat mereka. Maka Allah mengizinkan mereka meng-qashrah shalat untuk mengamankann pelaksanaan shalat.

Maka ayat ini khusus kepada shalat qashar ketika dalam keadaan takut, yaitu shalat qashar yang mempunyai kreteria khusus dalam shalat jama’ah, ini adalah pendapat Malik, dengan dalil yang dikeluarkannya di dalam kitab Muwattha’: Bahwasanya ada seseorang dari keluarga Khalid bin Asiid bertanya kepada Abdullah bin Umar mengatakan: Kami menemukan (petunjuk) shalat Khauf dan shalat bagi orang yang menetap (tidak musafir) di dalam al-Qur’an, tetapi kami tidak menemukan (petunjuk) tentang shalat musafir? Kata Ibn Umar: Hai putra saudaraku, sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kita Muhammad SAW dan kita tidak mengetahui apa-apa, kita ini hanya mengerjakan apa yang kita lihat dia kerjakan. 

Ibn Umar di sini menegaskan dan memberikan kesan kepada penanya bahwa shalat musafir itu telah dijelaskan di dalam sunnah rasulullah SAW. Dan demikian pula pendapat Aisyah dan Sa’ad bin Abu Waqqash yang mengatakan bahwa ayat ini khusus untuk shalat Khauf, dan keduanya tetap menyempurnakan shalat ketika sedang musafir .

Dan ta’wil ini sesuai dengan kandungan ayat di atas, maka dengan demikian ditetapkanlah meng-qashar shalat ketika musafir tanpa harus ada ketakutan, begitu juga meng-qashar shalat orang yang menetap dalam keadaan ketakutan ditetapkan di dalam sunnah, salah satu dari kedua hukum itu lebih awal dari yang lain, sebagaimana kata Ibn Umar di atas.

Telah diriwayatkan dari Ya’laa bin Umayyah mengatakan: Saya mengatakan kepada Umar bin al-Khattab: Allah mengatakan dalam firman-Nya: “jika kamu takut”, sekarang ini orang-orang sudah aman. Maka Umar menanggapinya mengatakan: Saya juga tadinya penasaran seperti kamu lalu saya tanyakan kepada rasulullah SAW tentang hal itu, maka Beliau bersabda: “Itu merupakan sedekah yang telah diberikan Allah dengannya kepadamu maka terimalah sedekah Allah itu”.

Dapat dipahami dari sabda rasulullah SAW ini bahwa Beliau menegaskan kepada Umar agar memahami pengkhususan ayat ini kepada shalat qashar karena sebab ketakutan, maka adalah shalat qashar karena ketakutan itu merupakan keringanan untuk mengantisipasi kesulitan. Kemudian sabda nabi SAW: “Itu adalah sedekah…”, sampai akhir hadits, artinya: Bahwa qashrah dalam keadaan musafir tanpa ada ketakutan murni sedekah dari Allah, yaitu keringanan, maka jangan menolak keringanan itu…
PEMBAHASAN KETIGA: SHALAT KHAUF

Allah berfirman:


وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا
Artinya: dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat, maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu
Sebab Nuzul Ayat Shalat Khauf:
Diriwayatkan oleh ad-Daaraqathni dari Abu ‘Ayyash az-Zarqi mengatakan: Kami berada bersama rasulullah SAW di ‘Asfaan untuk menghadapi pasukan orang-orang Musyrikin, yang di antara mereka ada Khalid bin al-Walid. Posisi pasukan mereka berada di antara kami dan kiblat, lalu nabi SAW memimpin kami shalat Dzuhur. Lalu mereka berkata: Inilah saatnya kita dapat menyerang, sekarang tiba waktu shalat yang mereka cintai lebih dari mencintai anak-anak dan jiwa mereka. Maka turun Jibril membawa ayat ini di antara shalat Dzuhur dan ‘Ashar… Pada peristiwa inilah menyebabkan Islamnya Khalid bin al-Walid.


Tafsir Ayat Shalat Khauf:
Allah berirman: “dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka
Ayat ini masih berhubungan erat dengan ayat sebelumnya tentang jihad, Allah SWT telah menjelaskan bahwa shalat tidaklah dipengaruhi oleh kesulitan perjalanan, kesusahan dalm berjihad dan tidak pula dipengaruhi oleh ketegangan menghadapi musuh dalam peperanga, walau demikian di dalamnya terdapat rukhshah, sebagaimana telah dijelaskan di atas…

Sebagaimana ayat ini ditujukan kepada nabi Muhammad SAW dan hukumnya berlaku kepada seluruh pemimpin Islam setelah Beliau sampai hari Kiamat, seperti contoh pada kasus lain, Allah berfirman: “ambillah (Hai Muhammad) dari harta benda mereka sebagai sedekah (zakat)”, pendapat ini disepakati oleh jumhur (mayoritas ulama). 

Kecuali hanya Abu Yusuf dan Ismail bin ‘Aliyah yang menentangnya, keduanya berpendapat: Kita tidak akan pernah lagi mengerjakan shalat Khauf setelah nabi SAW, karena seruan ayat ini hanya dikususkan baginya SAW, dengan firman Allah: “dan apabila kamu (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu)”, dan jika nabi SAW tidak berada di tengah-tengah mereka maka tidak ada hukum itu. Karena nabi SAW bukanlah seperti orang lain dalam kasus ini, yaitu semua orang berharap ikut shalat diimami oleh nabi dan tidak ada satupun yang memiliki kafasitas dan charisma sebesar itu setelahnya. Manusia setelah nabi SAW adalah sama-sama dengan tingkat yang lebih-kurang. Oleh karena itu, orang-orang shalat dengan seorang imam dan yang lain mengikuti imam yang lain pula, tetapi untuk shalat secara serentak dengan satu orang imam itu tidak terjadi…

Adapun alasan yang dipakai oleh jumhur ulama, yang mendukung pendapat pertama, mengatakan: Kami telah diperintahkan untuk mengikuti dan meneladani nabi SAW dalam berbagai ayat dan hadits, seperti firman Allah: “Maka hendaklah waspada orang-orang yang melanggar perintahnya untuk ditimpa fitnah”, begitupula sabda nabi SAW: “Kerjakanlah shalat sebagaimana kamu melihat saya mengerjakannya”. Maka kita harus mengikutinya secara mutlak, kecuali apabila terdapat dalil yang menunjukkan pengkhususannya… 

Firman Allah: “maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu”, yakni segolongan dari mereka berdiri bersamamu mengerjakan shalat, berfirman: “dan menyandang senjata”, yaitu mereka yang ikut shalat bersamamu. 
Dan firman Allah: “dan menyandang senjata”, yaitu orang-orang yang menghadapi musuh. Allah tidak mengatakan di dalam ayat bahwa hendaklah setiap golongan mengerjakan shalat kecuali hanya satu rakaat saja, akan tetapi diriwayatkan di dalam beberapa hadits bahwa mereka menambahkannya rakat yang lain, sebagaimana akan dijelaskan berikut.....


Tata Cara Pelaksanaan Shalat Khauf:
Berbeda pendapat para ulama tentang permasalahan ini, maka Ibn al-Qasshar mengatakan bahwasanya rarulullah SAW melakukan shalat ini sebanyak 10 kali. Ibn al-Arabi mengatakan: Telah diriwayatkan dari rasulullah SAW bahwasanya Beliau mengertjakan shalat khauf sebanyak 24 kali. Sedangkan imam Ahmad bin Hanbal, pakar hadits dan tergolong piawai dalam ilmu mengurai hadits, mengatakan: Saya tidak melihat ada riwayat tentang shalat khauf kecuali hadits yang sudah ditetapkan, dan semua hadits itu shahih. Maka hadits mana saja yang dipakai orang mengerjakan shalat khauf maka diberi pahala, Insya Allah. Begitu pula di katakan oleh Abu Ja’far at-Thabari.

Adapun tata cara pelaksanaan shalat khauf berdasarkan tokoh-tokoh mazhab dan hadits-hadits yang mereka amalkan, sebagai berikut:

  1. Imam Malik dan semua pengikutnya kecuali Asyhab, mereka mengerjakan shalat khauf berdasarkan hadits Sahal bin Abu Hatsamah yang menceritakannya bahwa shalat khauf adalah: Berdiri seorang imam memimpin shalat diikuti oleh segolongan dari sahabatnya dan satu golongan yang lain menghadapi musuh, lalu imam ruku’ rakaat pertama dan sujud bersama golongan yang mengikutinya kemudian berdiri, maka apabila telah berdiri sejajar, mereka (golongan yang mengikuti) menyempurnakan satu rakaat yang tersisa dan memberi salam kemudian mereka menghambur,  sedangkan imam berdiri kembali dan mereka (yang baru selesai shalat bersama imam) mengambil posisi mengahadapi musuh. Lalu datang golongan yang belum shalat dan bertakbir dibelakang imam, ruku’ rakaat pertama dan sujud, kemudian mereka berdiri menyempurnakan rakaat yang tersisa kemudian memberi salam. Ibn al-Qasim, salah seorang pengikut Malik mengatakan: Adalah Malik melakukan hadits al-Qasim bin Muhammad dari shalih bin khawat. Ibn Qasim mengatakan: Tadinya Malik mengambil hadits Yazid bin Ruman kemudian meninggalkannya. Abu Umar mengatakan: Hadits al-Qasim dan hadits Yazid bin Ruman keduanya berasal dari Shali bin khawat: Kecuali di antara keduanya berbeda pada salam, pada hadits al-Qasim bahwa imam memberi salam pada golongan kedua kemudian melanjutkan berdiri dan menyelesaikan rakaat mereka, sedangkan dalam hadits Yazid bin Ruman imam menunggu selesai golongan kedua dan memberi salam sama-sama. Adapun dalil Malik memilih hadits al-Qasim ia mengkiaskan kepada shalat-shalat yang lain, bahwa imam tidak perlu menunggu siapapun yang ia telah lebih dahulu dari padanya, dan telah menjadi kesepakatan bahwa makmun menyempurnakan apa yang telah tertinggal dari mereka setelah imam memberi salam. Maka Abu Tsaur pada kasus ini sependapat dengan Malik.
  2. Imam Syafi’i memilih Hadits Yazid dan berkata: Hadits Yazin bin Ruma dari Shaleh bin Khawat ini sama seperti hadits-hadits shalat khauf yang sejalan dengan al-Qur’an, maka inilah yang saya pilih. Dan Ahmad condong kepada pendapat yang dipilih Syafi’i ini dan tidak mencela orang melaksanakan riwayat berbeda pada pelaksanaan shalat khauf.
  3. Asyhab, salah seorang pengikut Malik, ia memakai hadits Ibn Umar berkata: Rasulullah SAW mengerjakan shalat khauf bersama salah satu dari dua golongan satu rakaat dan golongan yang lain menghadapi musuh, kemudian golongan pertama bubar mengambil posisi menghadapi musuh, kemudian golongan kedua datang mengikuti nabi shalat satu rakaan dan memberi salam bersama golongan kedua tadi. Lalu secara bergantian golongan pertama menyelesaikan rakaat mereka di susul kemudian golongan kedua menyelesaikan rakaat yang tersisa pula. Kata Ibn Umar: Apabila ketakutan terhadap musuh lebih mencekam maka mengerjakan shalat di atas tunggangan atau berdiri secara acak . Dan pelaksanaan shalat khauf seperti ini dipilih oleh al-Auza’i dan dipilih pula oleh Abu Umar bin Abdelbarr...
  4. Mazhab Ahlu Kufa yang di dalamnya terdapat Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya kecuali Abu Yusuf al-Qadhi Ya’qub, memilih hadits Abdullah bin Mas’ud, dikeluarkan oleh Abu Daud dan ad-Daraquthni mengatakan: Rasulullah SAW mengerjakan shalat khauf dengan membagi pasukannya kepada dua barisan, satu barisan mengikuti nabi SAW shalat dan barisan kedua menghadapi musuh, setelah selesaai satu rakaat barisan pertama dan memberi salam lalu mereka mundur mengambil posisi barisan kedua menghadapi musuh, dan barisan kedua maju mengikuti shalat satu rakaat bersama nabi SAW, kemudian nabi memberi salam bersama barisan kedua. Selanjutnya kembali lagi barisan pertama menyelesaikan satu rakaat shalat mereka, barisan kedua mengambil posisi menghadapi musuh, setelah selesai pasukan pertama memberi salam dan mundur mengambil posisi menghadapi musuh, maka barisan kedua maju lagi menyelesaikan rakaat yang tersisa pula... 
Allah berfirman: “dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata”, ini adalah pesan al-Qur’an untuk senantiasa berjaga-jaga dan selalu menyandang senjata, agar musuh tidak mengambil kesempatan dan melaksanakan tipu dayanya, karena senjata adalah alat yang dipakai seseorang untuk membela dirinya di dalam peperanga...

Firman Allah: “Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus”, yaitu orang-orang kafir berharap dan merasa senang jika kamu lalai membawa senjata agar mereka bisa leluasa melaksanakan tipu daya mereka terhadap kamu. 
Firman Allah: “Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan”, ayat ini dijadikan ulama hukum wajib membawa senjata ketika sedang shalat, kalau tidak maka disunatkan untuk berjaga-jaga. Kemudian Allah memberikan rukhshah untuk meletakkannya apabila hujan, karena ada jenis senjata menjadi berat kalau terkena air hujan, senjata besi juga dikhawatirkan berkarat dan tumpul jika terkena air .

Dikatakan bahwa ayat ini turun pada nabi SAW ketika perang “Bathnu Nakhlah”, dimana kekalahan dipihak orang-orang musyrikin dan harta rampasan dipihak orang-orang Muslimin, pada saat itu cuaca sedang hujan dan nabi SAW keluar melaksanakan hajatnya dengan melepas senjatanya, lalu orang-orang kafir melihat Beliau terpisah dari sahabat-sahabatnya dan dihadanglah oleh Ghautats bin al-Harits yang turun dari puncak gunung, lalu berkata: Siapa yang dapat menolongmu dari saya sekarang? Nabi bersabda: “Allah” (yaitu Allah yang menolong saya), maka Ghaurats mengayunkan pedangnya hendak menghabisi nabi, tiba-tiba jatuh sesuatu menimpa wajahnya dan terjatuh hingga pedang lepas dari tangannya. Maka nabi mengambil pedang itu dan bersabda: “Siapa yang akan menolongmu dari dari saya hai Ghaurats?”, ia berkata: Tidak ada satupun kecuali enkau.

Selanjutnya nabi SAW bersabda: “Bersaksilah kepadaku dengan kebenaran, niscaya saya akan mengembalikan pedangmu”. Ghaurats berkata: Tidak, tetapi saya akan berjanji untuk tidak akan memerangimu lagi setelah ini dan tidak akan membantu orang-orang yang memerangimu. Lalu nabi SAW mengembalikan pedangnya dan turunlah ayat yang memberikan rukhshah (keringanan) untuk meletakkan senjata pada waktu hujan.

Pada saat itu pula Abdurrahman bin Auf jatuh sakit karena luka yang dideritanya, sebagaimana diriwayatkan Bukhari, maka Allah SWT memberikan keringanan pula bagi mereka meletakkan senjata dan senantiasa memantau musuh saat hujan. Seperti dalam Firman Allah: “atau karena kamu memang sakit”.

Firman Allah: “dan siap siagalah kamu”, yaitu tetaplah berjaga-jaga, baik kamu meletakkan senjatamu atau tidak meletakkannya. Ini adalah penegasan agar selalu berjaga-jaga dan waspada dalam keadaan apapun, dan tidak ada menyerah...

Firman Allah: “Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu”.

Selesai pembahasan ahkam as-Shalat dan selanjutnya akan beralih kepada pembahasan ahkam as-Shaum (Puasa), Insya Allah: Al-hamdulillah awwalan wa-ahiran...!

Jakarta, 15 Februari 2012
Med HATTA


Artikel yang berhubungan:
  1. TAFSIR AYAT-AYAT AHKAM I
  2. Tafsir Ayat Ahkam II (Hukum Thaharah) 
  3. PERKEMBANGAN TAFSIR DI INDONESIA 


Post a Comment

歓迎 | Bienvenue | 환영 | Welcome | أهلا وسهلا | добро пожаловать | Bonvenon | 歡迎

{} Thanks For Visiting {}
{} شكرا للزيارة {}
{} Trims Tamu Budiman {}


MyBukuKuning Global Group


KLIK GAMBAR!
Super-Bee
Pop up my Cbox
Optimize for higher ranking FREE – DIY Meta Tags! Brought to you by ineedhits!
Website Traffic

flagcounter

Free counters!

ADVERTISING BUSINESS

My AliExpress



I K L A N | KLIK FOTO


OWNER INFO PENERIMAAN SANTRI BARU

My Buku Kuning Global FB

BOOK FAIR ONLINE 2013

Book Fair Online

KARYA TERAKHIR PENULIS

KARYA TERAKHIR PENULIS
@ Keajaiban Angka dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, Agustus 2010, ISBN: 978-979-1234-77-1 (BESTSELLER)
@ Mukjizat Pengobatan Herbal dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, 2011, ISBN: 978-979-1234-78-8

Islamic Finder




Date Conversion
Gregorian to Hijri Hijri to Gregorian
Day: Month: Year

Google+ Badge

My Buku Kuning Search

Loading