My Buku Kuning Center : MENJADIKAN BUMI TEMPAT BERDIAM YANG IDEAL DENGAN GAYA GRAVITASI TERUKUR:

Tuesday, November 13, 2012

MENJADIKAN BUMI TEMPAT BERDIAM YANG IDEAL DENGAN GAYA GRAVITASI TERUKUR:

Serial Tafsir Al-Quran Lauhil Mahfudz (07)

(Memberkati Bumi II)
Menyambut Tahun Baru Hijriah 01 Muharram 1434 H/ Nop. 2012 M. 
 جَعَلَ الأرْضَ قَرَارًا
(Menjadikan Bumi Sebagai Tempat Berdiam)
Oleh: Med HATTA
Mukaddimah:
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبعد!
Bumi dan Manusia:
Skala bumi dibandingkan dengan ukuran tubuh manusia amat terlampau berbeda jauh sekali, permukaan bumi skalanya mencapai 13000 KM, sedangkan durasinya (pada garis khatulistiwa) mencapai 38000 KM. Maka jika kita menyederhanakan skala bumi sekecil ukuran tubuh manusia, dan kita sederhanakan manusia dengan perbandingan yang sama, maka apa kira-kira yang akan terjadi?

Untuk lebih sederhananya, coba bayangkan diri anda sekarang sebagai bola bumi, maka bagaimana akan nampak manusia dihadapan anda jika ukurannya hanya sekitar 4.12 Millimikron saja, atau tidak akan nampak sama sekali walau dengan mempergunakan teleskop sebesar apapun. Sesungguhnya perbandingan ukuran ini telah menunjukkan kepada kita betapa lemahnya manusia di dalam alam semesta ini, dan ketidak mampuannya mengerjakan proyek yang sangat besar itu, yaitu menjadikan bumi sebagai tempat berdiam yang ideal. 

Dengan demikian nampka jelas keagungan makna firman Allah pada ayat kajian di atas: “atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam”; maka tiada seorang pun yang mampu kecuali penciptanya yang Maha Agung, dan benar firman Allah: “Dan manusia telah diciptakan dengan lemah” (QS: 04: 28).
Hakikat Gravitasi Bumi:
Allah berfirman:
أَمَّنْ جَعَلَ الأرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٦١)
Artinya: “atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.” (QS: 27: 61);
Ayat ke-61 dari surah an-Naml ini sangat agung dalam kandungannya, ia turun mempertanyakan kepada segenap pembangkang yang mengingkari nikmat Allah: Siapakah yang menjadikan bumi sebagai tempat tinggal, yaitu tempat yang mereka huni?; siapakah yang menjadikan sungai-sungai itu; yang menjadikan gunung-gunung yang mengokohkannya; dan siapakah yang menjadikan pemisah antara dua laut....? 

Meskipun hakikat-hakikat itu belumlah dirasakan dan diungkapkan secara ilmiah waktu turunnya wahyu, namun Allah SWT telah memerintahkan kepada mereka untuk memikirkan apa yang tersirat dibelakangnya. Bangsa manusia telah mendiami bumi ini semenjak ribuan tahun lalu, sedangkan mereka tidak pernah merasakan gangguan yang berarti, atau mereka merasa tidak nyaman hidup di atas permukaan bumi, namun demikian mereka tidak bisa merasakan nikmat besar dan menghargai bumi itu sebagai tempat tinggal ideal yang telah membuatnya nyaman hidup di atasnya. 

Para pakar sains telah menegaskan bahwa bumi merupakan satu-satunya planet yang memiliki desain sangat ideal untuk hidup tenang di atas permukaannya, ukuran bumi, bloknya, jarak dari matahari, kecepatan edaran pada porosnya dan orbitnya mengelilingi matahari, sangat ideal untuk menjanjikan kehidupan.  Jika semua itu tidak ada keseimbangan, lebih besar sedikit atau lebih kecil sedikit, maka tidak akan menghancurkan semua kehidupan di atas permukaannya. 

Namun, semua itu bisa tercipta dan bumi menjadi tempat hunian yang ideal karena Allah SWT telah meletakkan padanya gaya gravitasi bumi, oleh karena itu planet bumi istimewa karena gaya gravitasinya yang terkontrol untuk melestarikan kehidupan yang layak, seandainya gravitasi bumi berkurang sedikit seperti di bulan, maka manusia akan beterbangan di atas udara, atau prekuensinya lebih besar sedikit seperti di planet mars, maka manusia akan melekat di bumi dan tidak akan mampu untuk bergerak. 

Bumi kita yang memiliki massa yang sangat terukur menghasilkan gaya gravitasi yang sangat memadai untuk menarik benda-benda di sekitarnya, termasuk makhluk hidup, dan benda-benda yang ada di bumi. Demikian sehingga kita bisa menetap hidup di atars permukaannya, seandainya kita berada di atas permukaan bulan misalnya, maka berat kita aka berkuran 1/6 dari berat kita di bumi. 

Seseorang yang mempunyai berat badan 90 Kg di bumi, akan menjadi 15 Kg saja di bulan. Gaya gravitasi ini juga menarik benda-benda yang ada di luar angkasa, seperti bulan, meteor, dan benda angkasa lainnya, termasuk satelit buatan manusia. 

Kita tidak akan merasakan nikmat gravitasi ini kecuali setelah kita berada di luar lingkup bumi, sebagaimana banyak dikeluhkan oleh banyak astronaut, para astronaut yang pernah pergi ke luar angkasa mereka umumnya mengeluhkan kehidupan tidak seimbang, atau hilangnya gaya tarik, atau tidak adanya kestabilan di atas bumi, berikut dapat dicatat beberapa keluhan mereka, antara lain: 
  1. Mereka menderita banyak penyakit, seperti mual dan darah melambung kebagian atas dalam tubuh bukan turun, dan dengan demikian terjadi pembengkakan wajah, sementara tulang kehilangan bagian dari kalsium. Dan karena itu, yang tinggal di ruang angkasa mendapatkan osteoporosis, bahkan kehilangan massa tulang per tahun, lebih dari 20 persen
  2. Efek dari ketidak stabilan dan tidak adanya gravitasi, maka sistem peredaran darah terganggu dan membentuk sejenis batu-batu dalam ginjal, akan berdampak pada atrofi otot, dan kontraksi usus melambat sehingga menghambat pencernaan makanan. Tekanan darah akan menjadi meningkat, dan lambat laun akan mengganggu ke organ hati, menyebabkan pengaruh dalam fungsi jantung, gangguan-gangguan itu akan berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan setelah kembali ke bumi;
  3. Irama natural tubuh akan bervariasi karena tidak mengalami terbit matahari dan terbenamnya, maka kegelapanlah yang menyelimuti segala sesuatu di ruang angkasa, dan karena itu akan beraneka ragam siklus tubuh dan tidak lagi mampu untuk melakukan sesuatu. Sebagaimana inar kosmik yang mematikan itu akan mempengaruhi dan menyebabkan cedera pada sistem saraf, telah terinfeksi dengan tumor ganas sebagai akibat dari radiasi ini;
  4. Bagi orang yang kehilangan dari gravitasi dan hidup di luar angkasa akan merasa menderita karena kurang tidur, dikarenakan tidak memiliki gravitasi yang membuat kepalanya rileks di tempat tidur saat tidur, ia merasa sedang berenang dalam air, dan karena itu tidak bisa tidur kecuali setelah susah payah. Ini akan melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan ini bisa menjadi virus untuk mengendalikan tubuhnya dan berpotensi untuk mendapatkan penyakit tertentu termasuk kanker;
  5. Masih banyak gangguan akan terjadi pada hati karena akan bekerja lebih keras, oleh karena itu gravitasi bumi membantu jantung untuk memompa darah, dan tidak adanya gravitasi maka hati akan bekerja lebih keras yang akan melemahkan jantung. Bahkan Dr William Evans dari NASA mengatakan bahwa keluar dari bumi adalah mimpi buruk medis” di mana obat-obatan tidak dapat menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh gravitasi nol.


Dengan demikian orang yang hidup di luar angkasa jauh dari gravitasi bumi, dia akan mengalami gangguan buang air karena cairannya tetap tergantung, menempel pada tubuhnya dan tidak turun kebagian bawah, selanjutnya akan mudah terserang oleh berbagai penyakit. Dan para peneliti menegaskan bahwa hidup di ruang angkasa dianggap mati secara batin, maka yang dirasakan oleh para astronaut ketika kembali ke bumi, mereka merasa telah pulang ke rumahnya. 

Oleh karena itu Allah SWT mengutarakan perasaan nyaman ini ketika menyifati bumi seperti ayunan (tempat tidur bayi) yang rileks bagi manusia dan merasa tenang, sebagaiman pada penjelasan di bawah ini.


Bumi Sebagai Ayunan Yang Rileks:
Allah berfirman:
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّى (٥٣)
Artinya: “yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai ayunan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (QS: 20: 53);
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٠)
Artinya: “yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai ayunan (tempat menetap) dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS: 43: 10);
أَلَمْ نَجْعَلِ الأرْضَ مِهَادًا (٦)
Artinya: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai ayunan?” (QS: 78: 6).

Bumi selain dikondisikan sebagai ayunan dan rilaksasi yang nyaman bagi manusia seperti keterangan ayat-ayat di atas, Allah juga di dalam ayat masih menyediakan suatu nikmat yang tidak kalah besar, dimana tidak terdapat di luar angkasa yaitu: “Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk”. 

Yaitu; Allah menciptakan di atas permukaan bumi jalan-jalan dan hal-hal lain berupa petunjuk arah. Adapun manusia di luar angkasa maka dia tidak bisa bepergian kemana-mana, karena diliputi oleh kegelapan yang pekat dari setiap penjuru, yang dapat mengarahkannya hanya daya gravitasi saja. 

Fakta ini dipertegas oleh para pakar astromi mengatakan bahwa manusia tidak bisa bepergian jauh di atas angkasa karena adanya bahaya yang mengancam dari sinar kosmik yang siap membakar setiap tubuh, jika tubuh manusia maka akan membakar sampai kepada bagian paling dalam, dengan demikian maka kematian secara mutlak yang akan mengintai bagi siapa saja yang berusaha menjauh dari bumi. 

Adapun hakikat al-Quran secara tegas Allah menjelaskan dalam firman-Nya:


يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ (٣٣) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٤)
Artinya: “Hai bangsa jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan; Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS: 55: 33-34).

Manusia pertama kali merasakan alias menyingkap dengan nikmat gravitasi baru saja tahun 1961 lalu, ketika seorang astronaut Rusia bernama Gherman Titov mengalami penyakit tertentu, yaitu setelah keluar dari bumi selama 25 jam, tiba-tiba mengalami koma dan mengalami berbagai gangguan pada penglihatan, pendengaran, pemikiran, dan gangguan-gangguan lain dari penyakit syaraf. Kita masih akan kembali membahas gravitasi ini nanti, insya Allah. BERSAMBUNG!


Bersambung: KLIK DI SINI dan baca selanjutnya-- > 
Materi Sebelumnya:
  1.  Menjadikan Bumi Sebagai Hamparan Hakikat Geoscience Al-Quran
  2. Memberkati Bumi Dengan Sarana Kenyamanan
  3. Empat Masa Meletakkan Gunung-Gunung; Memberkati Bumi dan Menfasilitasinya
  4. Dua Masa Menciptakan Bumi dan Empat Masa Menfasilitasinya Layak Huni
  5. Proses Penciptaan Langit dan Bumi Dalam Enam Masa
  6. Tafsir Al-Quran Berdasarkan Periode Penciptaan Alam (Pengantar)
Materi Yang Berhubungan:
Karya Terakhir Penulis:
Beli: Di Sini!
Post a Comment

歓迎 | Bienvenue | 환영 | Welcome | أهلا وسهلا | добро пожаловать | Bonvenon | 歡迎

{} Thanks For Visiting {}
{} شكرا للزيارة {}
{} Trims Tamu Budiman {}


MyBukuKuning Global Group


KLIK GAMBAR!
Super-Bee
Pop up my Cbox
Optimize for higher ranking FREE – DIY Meta Tags! Brought to you by ineedhits!
Website Traffic

flagcounter

Free counters!

ADVERTISING BUSINESS

My AliExpress



I K L A N | KLIK FOTO


OWNER INFO PENERIMAAN SANTRI BARU

My Buku Kuning Global FB

BOOK FAIR ONLINE 2013

Book Fair Online

KARYA TERAKHIR PENULIS

KARYA TERAKHIR PENULIS
@ Keajaiban Angka dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, Agustus 2010, ISBN: 978-979-1234-77-1 (BESTSELLER)
@ Mukjizat Pengobatan Herbal dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, 2011, ISBN: 978-979-1234-78-8

Islamic Finder




Date Conversion
Gregorian to Hijri Hijri to Gregorian
Day: Month: Year

Google+ Badge

My Buku Kuning Search

Loading