My Buku Kuning Center : IBRAHIM AS FILOSOF DAN BAPAK AJARAN TAUHID

Monday, October 01, 2012

IBRAHIM AS FILOSOF DAN BAPAK AJARAN TAUHID

Serial Tafsir Ayat-ayat Haji dan Umrah (08/20)
Menyambut Hari Raya Qurban 1433 H/ 2012 M.

 أَرِنَا مَنَاسِكَنَا
 (Tunjukkanlah (Manasik) Tata Cara Ibadah Kami)
Oleh: Med HATTA
Mukaddimah:
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبعد!
Pasang Surut Perjalanan Agama Samawi:

Agama samawi atau ajaran yang diturunkan Allah bersama nabi Adam as dari langit ke bumi, dalam perjalanannya mengejar missinya untuk membimbing umat manusia kejalan Allah ini, mengalami sejarah panjang yang dramatis dan telah mengarungi gelombang dunia yang pasang surut.

Pasangan manusia pertama Adam dan Hawa memulai kehidupan baru sebagai khalifah Allah di bumi diperkirakan tahun 40.000 SM, atau sekitar abad ke-400 SM lalu, sedangkan umur bumi yang diperkirakan sekarang telah mencapai sekitar 13,7 Milyar tahun. Dan Adam pada waktu itu tidak turun ke bumi ini bersama isterinya saja, tetapi disertai oleh musuh abdinya yaitu ibalis yang terkutuk. 

Maka yang pertama sekali dilakukan oleh bapak dan ibu manusia itu adalah menundukkan bumi yang telah berputar liar selama kurun waktu itu, untuk menjadi tempat hunian yang layak bagi dirinya dan keturunannya, dan sebagai pusat kegiatannya ditempat hunian baru berlokasi disekitar Baitullah di Makkah, sebagaimana firman Allah:
Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi alam semesta” (QS: 03: 96).
Ritual agama yang pertama dilakukan Adam di bumi adalah “tawaf” mengelilingi Baitullah, sebagaimana ritual yang sama dilakukan juga oleh para malaikat di langit mengelilingi Baitulma’mur. Oleh karena itu sebagai tugas mengemban kekhalifaan di bumi, Adam as pertama kali sibuk memakmurkan bumi dan mensosialisasikan kepada anak-anaknya (manusia-manusia generasi pertama), “Manasik” (tata cara) melaksanakan ibadah kepada Allah SWT di bumi. 

Karena tujuan utama diciptakan manusia dan jin hanyalah menyembah kepada Allah SWT, sebagaimana dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
Artinya: “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS: 51: 56)
Setelah khalifah pertama di bumi menyelesaikan tugasnya dalam menyampaikan manasik ajaran langit dan kembali kepada Allah, selanjutnya diwariskan kepada anak cucunya, maka mulailah iblis laknat Allah, rifal Adam di bumi, mengambil kesempatan untuk meneruskan permusuhannya dengan anak-anak Adam sebagaimana telah memusuhi Adam sebelumnya dari surga sampai ke bumi ini. 

Pasca kematian Adam as maka Iblis pun bangkit kembali beraksi menyebarkan bala tentarantanya, dan mereka menggencarkan agresi menyeluruh dengan cara-cara liciknya, maka intrik-intrik dan tipu daya pun berduel head to head dengan kejujuran, keserakahan dengan keikhlashan, dan kebatilan berhadap-hadapan dengan kebenaran. Maka pertempuran sengit yang tidak seimbang dimenangkan oleh tipu daya iblis, karena pasukannya dari bangsa jin amat besar dan memperalat sebagian anak manusia. 

Dunia selanjutnya dikuasai oleh kemungkaran iblis dan pasukan-pasukannya, dan manusia pun tunduk kepadanya, karena ajaran langit yang telah disampaikan oleh Adam sudah dikaburkan dan dipalsukan oleh iblis, menjadilah manusia menyembah kepada iblis dan berpaling dari ajaran langit, maka kemungkaran, keserakahan dan pertumpahan darah sudah menajadi tradisi buruk yang tidak terpisahkan lagi dari kehidupan sehari-hari anak cucu Adam. 

Iblis laknat Allah dan pasukan-pasukannya itu tidak pernah tidur meracuni kehidupan manusia, mereka pro aktif dan inovatif mengekang jiwa demi jiwa anak-anak manusia, dengan bisikan, tipu daya dan cara-cara liciknya yang berpariasi, sehingga tidak ada kegiatan dan aktifitas yang dilakukan oleh manusia kecuali tangan-tangan kotor iblis pasti hadir di sana, mereka praktis menguasai jiwa-jiwa manusia dari berbagai aspeknya, iblis total mengaturnya mulai dari makan, minum dan tidur mereka. 

Maka hukum iblis pun berkuasa di seluruh dunia, ia tidak puas hanya bayangannya saja disembah oleh manusia maka iapun mewujudkan dirinya dalam berbagai bentuk patung dan berhala-berhala dijadikan manusia sebagai tuhan-tuhan mereka. Umat manusia semakin jauh tersesat, maka setiap ada anak cucu Adam yang ikhlas ingin mengembalikan manusia kejalan Allah, pasti iblis tidak diam membujuk saudar-sudaranya yang lain untuk memusuhi, menindas dan bahkan menyuruh membunuhnya dengan cara keji. 

Adalah Idris as, nabi kedua diutus Allah dari anak-anak Adam  untuk memberi petunjuk kepada manusia, namun tidak menuai hasil memuaskan bahkan nabi Idris sendiri memohon perlindungan kepada Allah dari kebiadaban bangsanya yang sesat itu, lalu Allah menyelamatkan dan mengangkatnya ke langit. Sekali lagi iblis meraih kemenangan gemilang untuk meneyesatkan anak cucu Adam dari ajaran langit. 

Inilah harapan hidup satu-satunya iblis laknat Allah yang abadi di dunia, sebagaimana sumpah serapahnya dihadapan Allah Sang Maha Pencipta dalam sebuah kisah panjang direkam utuh di dalam al-Qur’an – yang artinya – Allah berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis, dia tidak termasuk mereka yang bersujud (11);
Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku yang menyuruhmu?”,
Iblis menjawab (dengan sombong – pen): “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” (12);
Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina” (13);
Iblis berkata: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan” (14);  
Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh” (15);
Iblis lalu bersumpah: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus (16);
kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat) (17);
Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir, sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya (18). (QS: 07: 11-18).

Dakwah Agama Samawi (Langit) Periode Kedua:

Fase selanjutnya dunia di kuasai penuh oleh iblis dan pengikut-pengikut setianya dari bangsa jin dan manusia, ajaran agama langit sudah ditinggalkan oleh penganut tradisionalnya. Dan iblis terlaknat sangat puas dengan hasil kerjanya yang sukses, ia berusaha mempengaruhi sebanyak-banyaknya dari anak cucu Adam untuk menemaninya di neraka yang dijanjikan Allah kepadanya dan orang-orang ingkar dari pengikut setia iblis. 


Umat manusia semakin jauh tersesat dan berbuat maksiat oleh bisikan dan tipu daya iblis yang semakin sombong; hukum langit tidak dihiraukan lagi maka hukum setan dan peraturan rimba yang berlaku ditengah-tengah masyarakat; kezaliman dan perbuatan maksiat merajalela di mana-mana; keamanan dan stabilitas di dunia semakin memprihatinkan; nyawa manusia sudah tidak berharga lagi, pertumpahan darah sudah  menjadi hal yang lumrah seperti memukul nyamuk dan cicak di dinding. Dan mencapai puncaknya ketika ketika Allah mengutus Nuh as. 



Nuh as diutus Allah menjadi khalifah dan rasul ketiga dari anak-anak Adam sekitar tahun 4000 SM, seperti juga Idris as sebelumnya, iapun mengalami penghinaan, penindasan dan intimidasi-intimidasi dari kaumnya. Meskipun nabi Nuh melancarkan dakwah ajaran langit secara maraton, siang dan malam terus menerus selama 950 tahun, untuk memberikan hidayah kepada manusia, tetapi waktu 950 tahun itu tidak cukup menuntun manusia yang sudah disesatkan oleh iblis selama 36.000 tahun, yaitu rentang waktu antara nabi Nuh dan Adam as. 



Akhirnya Nuh as pasimis bahwa sampai kapan pun bangsa ini tidak ada harapan lagi untuk diselamatkan, dia pun memikirkan bahwa untuk mengembalikan pamor ajaran langit kembali seperti semula pada masa Adam as, maka semua generasi yang ada sekarang ini harus musnah secara selektif, kemudian memulai kembali dakwah dari generasi yang baru. Lalu memohon kepada Allah SWT untuk mendukung idenya tersebut, sebagaimana doanya diabadikan di dalam al-Quran, Allah berfirman:

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لا تَذَرْ عَلَى الأرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا (٢٦) إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلا يَلِدُوا إِلا فَاجِرًا كَفَّارًا (٢٧)

Artinya: “Nuh berdoa: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi; Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma'siat lagi sangat kafir.” (QS: 71: 26-27);

Doa Nuh dikabulkan, lalu Allah mendatangkan bencana kepada mereka berupa banjir besar, yang menenggelamkan bumi seluruhnya beserta isi-isinya termasuk manusia, maka tidak ada yang selamat kecuali sebagian kecil saja dari orang-orang beriman yang ikut di atas perahu Nuh. 


Fase selanjutnya - pasca banjir besar -, Nuh as aktif kembali mendakwahkan ajaran langit periode kedua, untuk sisa-sisa korban banjir besar dan generasi baru selanjutnya, oleh karena itu Nuh as dikenal juga sebagai Bapak kedua manusia, yang bertanggung jawab melanjutkan kelestarian manusia di bumi setelah nyaris musnah akibat banjir besar itu. 

Selanjutnya di sisa dakwahnya pada periode kedua ini, nabi Nuh as melihat perlunya meratakan penakmuran dunia keseluruh pelosok-pelosoknya, dan melebarkan syi’ar ajaran langit ke seluruh penjuru dunia, maka Nuh membagi ketiga orang putranya yang selamat bersamanya dari banjir, ketiga bagian bumi yang subur dan potensial, masing-masing:
  1. HAM: Mengambil wilayah dakwah di bagian barat Jazirah Arab, yang menurunkan bangsa-bangsa: Sudan; Sind; India; Qibti (Mesir dan raja-raja Fir’annya), dan lain-lain....
  2. YAFETH: Mengambil wilayah diseberang kawasan HAM dan lebih jauh lagi, yang menurunkan bangsa-bangsa: Turki dan Eropa sekitarnya; Cina dan bangsa-bangsa belahan timur bumi; dan lain-lain. Baik keturunan Ham maupun Yafeth ini keduanya tidak menurunkan seorang rasul pun dari 25 rasul-rasul yang di utus Allah, kecuali kemungkinan besar hanya mewariskan nabi-nabi penyambung dakwah dan orang-orang shaleh lainya, yang hanya Allah mengetahui sifat dan jumlahnya.
  3. SAM: Dia tidak pergi jauh meninggalkan bapaknya melainkan hanya mengambil wilayah dekat di pesisir selatan Jazirah Arab (Yaman), yang terakhir inilah menurunkan semua rasul-rasul utusan Allah setelah Nuh as. Dia mempunyai dua orang anak yang masing-masing menurunkan bangsa-bangsa besar dunia dan rasul-rasulnya, yaitu:
  • IRAM: Menurunkan dua bangsa besar dari kedua orang putranya:
  1. Aush: Menurunkan bangsa 'ADD yang dipimpin oleh rasulnya yaitu nabi HUUD as, bangsa ini dimusnahkan secara tragis oleh Allah SWT sekitar tahun 2200 SM, karena membuat kerusakan di muka bumi, kemungkaran, maksiat dan menghina rasul utusan Allah.
  2. Ars: Menurunkan bangsa TSAMUD dan rasulnya adalah SHALEH as, bangsa inipun berakhir dengan kemusnahan secara tragis oleh murka Allah pada sekitar tahun 1900 SM, karena pembangkangannya, takabbur, dan membuat kerusakan di muka bumi. Bekas peninggalan kebasaran kedua bangsa terakhir ini (Add dan Tsamud), masih dapat disaksikan sekarang di wilayah bagian selatan Jazirah Arab, antara Saudi Arabia dan Yaman.
  • ARFAKHSHAD: Anak kedua SAM ini dikirim memakmurkan dunia ke bagian timur Jazirah Arab, yaitu sebuah kawasan yang dikenal kemudian dengan Babilonia (Irak). Dan di Babilonia inilah ditakdirkan lahir dua tokoh besar dari keturunan Arfakhshad bin Sam bin Nuh, yang saling berseberangan satu sama lain, yaitu: Raja Namrud dan Nabi Ibrahim as. (Lihat: Silsilah Rasul).
Raja Namrud lahir sekitar tahun 2053 SM, dia salah seorang raja-raja dunia yang sangat terkenal dalam sejarah peradaban manusia, disebut namanya di dalam kitab Taurat – Yahudi sebagai seorang raja perkasa menentang Ketuhanan. Namrud juga merupakan pertama dari empat raja-raja besar dunia yang di abadikan dalam al-Quran, dua di antaranya sebagai simbol kekafiran yaitu Namrud dan Bakhtanshar (Fir'aun periode Musa as), dan dua lainnya sebagai simbol raja-raja muslim yaitu Daud as dan Zulkarnain. Dan Namrud-lah yang pertama memperkenalkan pemakaian mahkota dipasang di atas kepala pada raja-raja dunia, dan dia juga pertama di dunia yang menobatkan dirinya sebagai tuhan, serta membangun Menara Babilonia yang terkenal itu sebagai ketakabburan menantang Tuhan. Kekuasaannya berlangsung lebih kurang 400 tahun. 

Namrud & Bakhtanshar Simbol Raja-Raja Kafir
Pada periode-periode akhir kerajaannya dia bermimpi melihat sebuah bintang bersinar terang di langit yang memudarkan sinar matahari hingga tidak nampak,  oleh tukang ramalnya ditafsirkan sebagai isyarat akan lahirnya seorang bayi yang kelak mengakhiri kekuasaannya. Maka diperintahkanlah semua tentaranya untuk membunuh semua bayi laki-laki yang dilahirkan dari tanggal itu sampai satu tahun ke depan, dan Ibrahim pun lahir pada saat itu juga yang oleh ibunya disembunyikan di sebuah gua jauh di luar kota, lalu satu minggu dari kelahiran Ibrahim dibawah pulang oleh ibunya seakan-akan bayi Ibrahim sudah berumur 2 tahun, sehingga bebas dari pembunuhan tentara Namrud. 

IBRAHIM lahir sekitar tahun 1861 SM, dilahirkan dari keturunan ketiga saudara kandung raja Namrud, mereka berdua bertemu pada kakek keempat Ibrahim bernama Falikh bin Abir bin Shalikh bin Arfakhshad bin Sam bin Nuh, yang tiada lain adalah ayah kandung raja Namrud. 

Dari semenjak kecil Ibrahim telah menunjukkan kecerdasannya yang luar biasa, dia tidak puas melihat bangsa Babilonia bersujud dihadapan seorang manusia bernama Namrud, sebagaimana tidak suka menyaksikan kaumnya membawa persembahan dan meminta keberkahan dihadapan berhala-berhala, padahal bapaknya sendiri Azar seorang pemuka agama yang sehari-hari memahat patung untuk disembah bangsa Babilonia. 

Oleh karena itu di usia belianya Ibrahim muda sudah memulai petualangannya mencari Tuhan hakikat, bukan Namrud dan bukan pula berhala-berhala buatan bapaknya, Ibrahim sering beradu argumen bersama bapaknya sendiri. Di ceritakan pada suatu hari Ibrahim memahat sebuah patung yang jauh lebih indah dari pada desain bapaknya, maka Azar pun amat senang melihat Ibrahim dan memperhatikan kecermatan patung putranya itu. 

Namun tiba-tiba Ibrahim menghempaskan patung itu hingga hancur berantakan, melihat peristiwa itu bapaknya pun marah besar kepadanya, lalu Ibrahim berargumen mengatakan: Wahai bapakku, kenapa kita harus berbuat bodoh menyembah sebuah patung yang tidak berdaya itu, ia tidak mampu memberikan manfaat dan mudharat kepada manusia, bahkan untuk menjaga diri sendiri pun ia tidak sanggup? 

Ibrahim muda selain amat cerdes, jago berdiskusi, ia jaga sangat piawai mengambil perhatian orang banyak. Tersebutlah pada suatu kesempatan Ibrahim mengajak sekelompok besar orang mengadakan tour semalam pencarian hakikat: Maka ketika Ibrahim melihat bintang lalu dia menujukkan bahwa inilah Tuhan, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berdalih mengatakan: Saya tidak suka (Tuhan) yang tenggelam. Kemudian melihat bulan terbit dia menunjukkan lagi bahwa inilah Tuhan, tetapi setelah bulan itu terbenam diapun menegaskan keimanannya, bahwa sesungguhnya jika Tuhannya tidak memberinya petunjuk, pastilah dia termasuk orang yang sesat. 

Selanjutnya tatkala dia melihat matahari terbit, sekali lagi dia menunjukkan inilah Tuhan karena ini lebih besar, maka tatkala matahari itupun terbenam pula, dia berseru kepada kaumnya: Itulah semua yang kalian sembah selama ini, sesungguhnya itu adalah perbuatan syirik, maka sembahlah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, niscaya itulah agama yang benar. (Lihat ayat lengkap: QS: 06: 36-39). 

Maka dari retorika filosofis ketuhanan yang kental, Ibrahim muda mendapatkan hidayah dari langit. Dia menemukan Tuhannya yang sebenarnya, yaitu Allah SWT yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini.
Ibrahim Berhadapan Dengan Paman Jaunya Raja Namrud:
Pada suatu ketika di hari perayaan besar bangsa Babilonia, mereka semuanya pergi menuju kesebuah tempat carnafal penyembahan di luar kota, maka tinggallah Ibrahim sendirian di dalam kota karena alasan tidak enak badan, kemudian sepeninggal mereka Ibrahim pun memanjat gedung pusat penyembahan berhala kerajaan Namrud dan menghancurkan semua berhala-berhala yang ada di dalamnya dengan kapak, kecuali dia pertahankan yang paling besarnya saja lalu menggantungkan kapak di leher patung berhala besar itu. 

Setelah Ibrahim menjadi satu-satunya tertuduh sebagai pelaku penistaan berhala, maka dia pun mengembalikan tuduhan itu kepada berhala besar dengan dalih alat bukti masih tergantung di lehernya. Dan orang-orang tercengang mendengarkannya, selanjutnya Ibrahim menimpali: Kalian pasti tidak percaya kalau berhala besar it bisa melakukan apa-apa, oleh karena itu jangan disembah sebab ia tidak bisa berbuat sesuatu menolong anak-anak patungnya, tetapi sembahlah Tuhan yang Maha kuasa atas segala-galanya. 

Kemudian raja Namrud bertanya: Hai Ibrahim, siapakah Tuhanmu sebenarnya dan apa keistimewaannya dariku? Kata Ibrahim: Tuhanku ialah yang telah memberikan hidup kepada kamu dan akan mematikanmu lagi nanti. Lalu Namrud memerintahkan pengawalnya mendatangkan dua orang tahanan, satu di antaranya terpidana mati dan satunya lagi tahanan sementara waktu, kemudian Namrud membunuh tahanan sementara itu dan membebaskan yang terpidana mati. 

Selanjutnya namrud berseru: Wahai kaumku, lihatlah saya lebih kuasa yang bisa memberi hidup kepada tahanan pidana mati ini, dan telah mematikan yang mestinya masih harus hidup itu. 

Namun, Ibrahim langsung membungkam kesombongan Namrud dengan sebuah komitmen tegas dan tantangan mengatakan: Tuhan-ku menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkannya diufuk barat, kuasakah kamu membalikan keadaannya dengan menerbitkan dari barat dan menenggelamkan di ufuk timur? 

Maka Namrud langsung terdiam sejenak, tetapi dia tidak kehabisan akal berusaha untuk memojokkan Ibrahim dengan sebuah pertanyaan pendek mengatakan: Hai Ibrahim, kalau Tuhan-mu kuasa maka perlihatkanlah kepada kamu bagaimana Dia menghidupkan yang sudah mati? Dan Ibrahim pun – dengan rasa percaya yang amat tinggi – menjawab tantangan itu, mengatakan: Kalau memang begitu keinginanmu, berkumpullah kita besok di sini niscaya saya akan memohon kepada Allah untuk mendemonstrasikan kepada anda bagaimana Dia kuasa menghidupkan yang sudah mati. 

Pada besok harinya, di tempa arena yang sudah ditentukan berkumpul, maka atas perintah Allah SWT, Ibrahim as mengambil 4 ekor burung yang berbeda lalu memotongnya satu persatu, mencincang semua sehalus-halusnya dan mencampur adukkannya satu sama lain layaknya adonan bakso mix terdiri dari 4 jenis daging yang berbeda. Selanjutnya Ibrahim membelah 4 adonan burung itu dan meletakkan 4 bagian adonan burung itu kepada 4 gunung yang berjauhan, setiap gunung diletakkan satu potong adonan. 

Kemudian Ibrahim kembali lagi ke tribun semula sambil memegang kepala 4 ekor burung yang sudah dicincang halus itu, dan berkata: Wahai burung-burung, atas izin Tuhanmu maka bangkitlah dari kematianmu dan kembalilah menemukan kepala masing-masing,  selanjutnya terjadilah sebuah atraksi yang memukau, semua adonan 4 jenis burung dari 4 gunung serentak bergerak membentuk konfigurasi atraktif yang sangat indah di atas udara. 

Semua elemen 4 burung dari 4 adonan memisahkan diri serat demi serat, tulang demi tulang, darah demi darah, daging demi daging, bulu-bulu demi bulu-bulu, dan lain-lain, semua bergerak secara pasti menempel ke komponen masing-masing, lalu terwujudlah 4 ekor burung yang berbeda-beda tanpa kepala di atas udara. Kemudian Ibrahim memetik tangannya sebagai kode, maka terbanglah 4 burung itu menemukan kepala masing-masin di tangan Ibrahim tanpa ada yang tertukar, dan tiada sehelai bulu burung pun menempel ke burung yang lain. Subhanallah! (Lihat ayat lengkapnya: (QS: 02: 260). 

Namun, raja Namrud tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan dia sudah menganggap Ibrahim sebagai ancaman besar bagi masa depan kerajaannya, karena semakin bertambah banyak pengikutnya dari kelompok bangsawan sampai kepada rakyat-rakyat jelata, maka Namrud pun kembali menyeret Ibrahim kepengadilan dan menjatuhinya pidana mati bakar di dalam api unggung raksasa sampai menjadi debu, dengan tuduhan penistaan terhadap berhala dan tidak tunduk kepada raja Namrud sebagai tuhan nasional yang sah bagi bangsa Babilon. 

Namrud kafir tetaplah berencana, tetapi rencana Allah-lah yang akan berlaku pasti, maka di hari eksekusi bakar atas diri Ibrahim, Allah pun menyelamatkannya secara mukjizat, yatu memerintahkan kepada api untuk menjaganya dengan penuh kehormatan, sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran, Allah berfirman:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (٦٩)
Artinya: “Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS: 21: 69)
Ibrahim Hijarah Ke Palestina:
Higga tiba pada suatu hari yang menegangkan bagi Ibrahim, pasca keselamatannya dari pidana bakar, diapun dihadapkan pada pilihan yang sangat berat, yaitu antara keluar meninggalkan negerinya tercinta, yang telah menganugrahkannya makna hidayah ajaran langit dari Allah SWT, atau bertahan tinggal sambil menyaksikan keluarga dan pengikut-pengikutnya disiksa, dirampas hak-haknya, dan dibunuh satu persatu setiap saat. Maka Ibrahim al-Khalil dengan sangat terpaksa memilih opsi pertama meninggalkan Babilon tanah tumpah darahnya. 

Jadilah Ibrahim as berhijrah membawa perbekalan secukupnya bersama isterinya yang tercinta Sarah dan seorang sepupu yang menjadi pengikut setianya LUTH as, serta beberapa orang pengikut setia yang lain. Setelah Ibrahim dan rombongan melewati perjalanan panjang mencapai sekitar 1000 mil, maka tibalah di sebuah kota yang kemudian disebut dengan kota al-Khalil, yang berada di Palestina sekarang. Nama al-Khalil sendiri merupakan gelar kehormatan yang dipanggilkan Allah kepada “Ibrahim al-Khalil”, yang artinya Ibrahim teman sejati Allah.
Ibrahim Bapak Para Rasul dan Leader Founder Central Ajaran Tauhid:
Perkembanga ajaran langit selanjutnya, setelah mengalami berbagai dinamika pasang surut, yang lebih pas disebut terkubur selama hampir 38,000 tahun, melalu ribuan generasi dan ribuan bangsa, yang hanya pernah disentuh oleh 5 orang rasul pendahulu saja, dan nyaris musnah bersama kenusnahan manusia periode pertama pada masa Nuh as dengan bajir besar, kalau saja tidak digantikan Allah dengan manusia generasi baru periode kedua dari anak-anak Nuh as. 

Maka ajaran langit sebagai agama fitrah manusia ini praktis hanya hidup berkedip-kedip saja ditengah-tengah gelombang frekwensi-frekwensi raksasa kesombongan manusia dibawah pengaruh iblis. Oleh karena itu, ditangan Ibrahim ajaran langit ini harus mengalami reformasi, rekonstruksi dan menata ulang ajaran-ajaranya, serta mengadakan berbagai pembaharuan bagi beberapa pokok-pokok ajarannya yang pernah disempurnakan sebelumnya. 

Kemudian nama ajaran itupun diganti oleh Ibrahim dengan istilah baru yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu ajaran “Hanif” atau kemudian dikenal dengan nama “Agama Tauhid Ibrahimi”. Yang kemudian diwariskannya kepada 19 orang rasul penerus, semuanya dari keturunan Ibrahim, dan berakhir dengan sangat sempurna pada rasul penutup, yaitu Baginda yang mulia rasulullah Muhammad SAW, yaitu keturunan Ibrahim dari garis keturunan putranya yang tercinta nabi Ismail bin Ibrahim as. 

Berkat seluruh keteladanan yang telah diperankan dengan sempurna oleh Ibrahim di atas, maka Dia dianugrahkan oleh Allah SWT gelar kehormatan disebut “Ibrahim al-Khalil” (teman sejati Allah), disamping itu dia dikenal juga sebagai bapak para rasul, karena menurunkan semua rasul-rasul sesudahnya. Dan gelarannya yang lain adalah “Leader Founder Central Agama Tauhid”.  

Sebagaimana telah dijelaskan pada seri sebelumnya, bahwa Ibrahim-lah bersama putranya Ismail yang bertanggung jawab membangun kembali Baitullah, rumah ibadah pertama diletakkan Allah di bumi, yang pernah hilang selama kurang lebih 38.000 tahun semenjak akhir risalah nabi rasul pertama di bumi Adam as. 

Maka setelah membangun Baitullah ini atas perintah Allah, Ibrahim pun memohon kepada Allah diperagakan tata cara mengoptimalkan Baitullah itu sebagai tempat ibadah manusia di bumi, lalu berdoa sebagaimana pada ayat tema kajian di atas, Allah berfirman:
وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا
Artinya: “dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami”;
Sebagaimana nabi besar Muhammad SAW memproklamirkan kesempurnaan agama Islam, pada saat nabi SAW menyempurnakan rukun haji di padang Arafah pada tahun ke-9 H, maka sebelumnya kakeknya Ibrahim pun memohon kepada Allah diperagakan tata cara pelaksanaan ibadah haji, atau “Manasik Haji”. 

Pembahasan manasik haji ini tidak bisa penulis jelaskan di sini karena sudah cukup panjang materinya, Insya Allah, akan kita kaji tuntas pada seri berikutnya langsung. Terima Kasih!
Bersambung ke: TafsirAyat-Ayat Haji dan Umrah selanjutnya ------ >>>
Materi Sebelumnya:
  1. Pengantar Tafsir Ayat-Ayat Hajidan Umrah
  2. Teladan Dari Kepemimpinan Ibrahim Kepada Tokoh-Tokoh Dunia
  3. Baitullah Magnet Jiwa Manusia & Zona Paling Aman Dimuka Bumi
  4. Ritual Ibadah Ketaatan Ajaran Ibrahim Haji & Shalat
  5. Makkah Negeri Yang Aman Sentosa & Sejahtera
  6. Mukjizat al-QuranTentang Sejarah Peradaban Masa silam
  7. Islam Adalah Warisan DariNabi Ibrahin dan Ismail AS
Materi Yang Berhubungan:
Karya Terakhir Penulis: 
Beli: Di Sini!
Post a Comment

歓迎 | Bienvenue | 환영 | Welcome | أهلا وسهلا | добро пожаловать | Bonvenon | 歡迎

{} Thanks For Visiting {}
{} شكرا للزيارة {}
{} Trims Tamu Budiman {}


MyBukuKuning Global Group


KLIK GAMBAR!
Super-Bee
Pop up my Cbox
Optimize for higher ranking FREE – DIY Meta Tags! Brought to you by ineedhits!
Website Traffic

flagcounter

Free counters!

ADVERTISING BUSINESS

My AliExpress



I K L A N | KLIK FOTO


OWNER INFO PENERIMAAN SANTRI BARU

My Buku Kuning Global FB

BOOK FAIR ONLINE 2013

Book Fair Online

KARYA TERAKHIR PENULIS

KARYA TERAKHIR PENULIS
@ Keajaiban Angka dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, Agustus 2010, ISBN: 978-979-1234-77-1 (BESTSELLER)
@ Mukjizat Pengobatan Herbal dalam al-Qur'an, Mirqat Publishing, Cetakan I, 2011, ISBN: 978-979-1234-78-8

Islamic Finder




Date Conversion
Gregorian to Hijri Hijri to Gregorian
Day: Month: Year

Google+ Badge

My Buku Kuning Search

Loading